Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Mengejutkan


__ADS_3

Sejak mendengar kabar Putra Mahkota telah tewas dan jasadnya dibawa oleh orang-orang yang tidak dikenal, Kasim Cho tak pernah berhenti menangis dan berdoa, berharap keajaiban itu ada. Dia yang tak tahu kejadian sebenarnya hanya bisa menaruh harapan pada takdir yang pilu. Dia terus saja memeluk ranjang sang pewaris tahta yang kosong. Para pelayan yang lain terus saja berduka, hingga suasana istana terlalu pedih untuk disinggahi. Namun, air mata itu gusar lantaran Jung Hyun mendadak datang berhujan-hujanan.


Kasim Cho keluar, berjalan pelan karena sangat bersedih. "Kasim Cho, gantilah pakaian Anda dan ikut denganku sekarang juga. Ada sesuatu yang harus Anda lakukan." Jung Hyun terlihat sangat tergesa-gesa. Sesekali dia melirik segala sisi untuk memastikan tak ada mata-mata. Kasim Cho yang kebingungan hanya bisa mengikuti perintah itu. Dia masuk ke dalam sebuah tandu dengan wajah yang tertutup. Mereka lewat gerbang belakang untuk menghindari kecurigaan. Tandu itu tak terus mengikuti mereka. Mereka turun dan jalan sendiri ke arah hutan.


"Jung Hyun, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Kasim Cho sedikit terisak. "Kita harus bertemu Putra Mahkota." Jawaban Jung Hyun menghadirkan sedikit harapan, hingga Kasim Cho melonjak senang. "Benarkah? Apa tuanku masih hidup?" tanyanya penuh harap.


Tak sadar, perjalanan jauh itu tak membuat mereka penat sedikitpun. Di sebuah gubuk tua, seluruh orang menunggu di muka. Kasim Cho melirik semua orang, termasuk Lee Young yang berdiri tak jauh dari pintu. Tangis Kasim Cho pecah saat melangkah masuk ke dalam gubuk tua itu, melihat sang pewaris tahta sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Yang Mulia ... " Kasim Cho langsung duduk bersimpuh di depan tubuh kaku dan dingin itu, langsung meraih tangan Putra Mahkota ke dalam dekapannya. "Tuan kesayanganku, masih hidup. Bagaimana keadaannya? Apa beliau akan segera sadar?" tanya Kasim Cho penuh harap.


Tabib itu menyeka air matanya yang hampir tumpah. Sangat jelas, harapan itu telah terputus. "Sebenarnya, Putra Mahkota tak bisa lagi diselamatkan. Tapi aku melihat ada reaksi mencurigakan pada tubuhnya saat aku meminumkan herbal." Kasim Cho langsung menoleh padanya. "Kumohon selamatkan Putra Mahkota ... "


"Ceritakan padaku, apa yang telah dikonsumsi Putra Mahkota setiap hari selama lebih dari 10 tahun?" tanya sang tabib. Pertanyaan Tabib Nam membuat mereka semua bertanya-tanya.


"Maksudnya apa Tabib Nam?" tanya Jung Hyun.


"Putra Mahkota, hanya makan sedikit nasi. Beliau tidak mengkonsumsi apapun juga," jawab Kasim Cho mendadak.

__ADS_1


Mereka saling berpandangan, tatkala Tabib Nam memberitahukan fakta mengejutkan. "Sepertinya, dapur istana telah meracuni Putra Mahkota selama lebih dari 10 tahun. Apa beliau sering mengeluarkan darah dari hidungnya?" tanya Tabib Nam.


"Benar." Kasim Cho mengangguk cepat. "Beliau selalu mengeluarkan darah dari hidung setiap kali kelelahan atau banyak pikiran. Tapi tak seorang pun tabib yang mengatakan bahwa beliau sedang sakit," tambah Kasim Cho setelahnya sangat cemas.


"Putra Mahkota telah kekurangan darah sejak lama. Tubuhnya akan semakin melemah setiap hari. Racun yang digunakan istana adalah racun yang membunuhnya pelan-pelan. Dan, tampaknya tidak hanya itu saja yang menyedihkan. Putra Mahkota sepertinya telah terkena ilmu sihir. Ada bekas bulatan hitam di punggungnya. Seseorang telah mengirimkan sihir buruk kepadanya. Hanya saja, keajaiban langit selalu melindungi beliau." Kembali sang tabib menambahkan.


Kasim Cho dan para pemuda kembali menangis tak percaya. Putra Mahkota terlalu banyak menanggung beban pengkhianatan.


"Sebenarnya, ada berita baik dari semua yang telah aku sampaikan. Racun yang dikonsumsi Putra Mahkota dari istana memberikan perlawanan terhadap racun yang menempel pada luka Putra Mahkota. Inilah penyebabnya. Racun yang seharusnya membunuh Putra Mahkota ini malah membantu beliau untuk bertahan sementara waktu. Aku akan mencari cara untuk secepatnya menyadarkan beliau. Beliau harus sadar sebelum 48 jam. Jika tidak, itu artinya tidak ada lagi harapan."


Hasil pemeriksaan tabib terpercaya sangat mengejutkan. Itu artinya, seluruh penghuni istana adalah pengkhianat yang menipu Putra Mahkota.


***


Youra tak ingin melepaskan tahta karena sangat berharap sang suami masih hidup dan kembali. Kabar tentang ditawannya Pangeran Hon menjadi topik utama pertemuan hari itu. Para pejabat dan menteri yang menghadiri rapat tak menyangka Youra mengambil alih tugas memimpin rapat.


"Berikan hormat kalian pada Yang Mulia Ratu Lee!" Youra berjalan dari tengah gerbang aula rapat, tak duduk sampai di singgasana. Dia mengeluarkan sebuah kertas berisi keputusan sepihak yang telah dibuatnya.

__ADS_1


"Istana akan memberikan jaminan seumur hidup kepada pimpinan Delegasi Barat masalah pengairan daerah Barat. Hal ini ditandai dengan penjemputan dan pembebasan Pangeran Hon secara bersyarat. Setelahnya, para menteri tidak berhak ikut campur atas apapun keputusan ratu. Pangeran Hon akan segera ditugaskan untuk menjadi gubernur daerah timur. Keputusan ini mutlak perintah ratu dan tidak dapat diganggu gugat."


"Apa katanya? Mengangkat Pangeran Hon menjadi gubernur? Licik sekali wanita itu! Dia pasti ingin seluruh keluarga kerajaan pergi dari istana ini agar dia berkuasa. Lagi pula, apa kalian yakin dia tengah mengandung?" bisik mereka saling berganti.


Keputusan Youra membuat mereka semua tercengang. Mereka saling melempar protes dan penolakan. Youra tersenyum, hingga semua orang terdiam saat melihat air mata jatuh dari mata indah Lee Youra.


"Siapapun yang membantah perintahku, akan kujatuhkan hukuman mati. Dan satu lagi. Aku akan membongkar seluruh kedok busuk kalian para pria tua yang suka bermalam dengan Gisaeng (wanita penghibur/pe*acur)!" Youra melangkah keluar dari aula pertemuan itu, dadanya sesak sangat sakit. Mereka membopong tubuh lemah itu menuju kediaman.


"Dayang Nari, apa kau sudah mendapat kabar dari Jung Hyun?" Youra menanyakan itu hampir setiap waktu. Dayang Nari menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan harapan kosong yang tak pernah terjawab.


***


Malam itu, Youra mendatangi istana Putra Mahkota yang kosong. Berderaian air mata, menatap bangunan mewah itu. "Aku ingin melihat kamar suamiku." Para pelayan Putra Mahkota mengiringnya masuk ke dalam.


Youra menyentuh ranjang Putra Mahkota yang kosong. Jari-jemari itu terus saja merayap di atas sana. Matanya tertuju pada kumpulan baju Putra Mahkota. Dia mendekat dan memeluk jubah itu satu persatu. Sangat wangi. Sama wanginya dengan tubuh sang suami. Youra menitikkan air mata, tatkala melihat pakaian yang pernah dipakai Putra Mahkota saat malam pertama mereka yang gagal. "Aku ingin bermalam disini. Tolong tinggalkan aku."


Setiap hari, Youra akan memohon pada Kasim Cho untuk membawanya diam-diam melihat Putra Mahkota. Namun, mereka tidak pernah membiarkan Youra pergi dari istana.

__ADS_1


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dulu, saat Putra Mahkota masih ada, dia sama sekali tak pernah mengunjungi suaminya. Tak pernah pula bertanya keadaannya. Youra tak pernah membalas sentuhan manis suaminya. Youra tak pernah mau tahu apapun tentangnya.


Tapi sekarang, aku sangat merindukan.


__ADS_2