
"Tangkap seluruh pelayan pribadi Permaisuri Lee! Terutama Dayang Nari! Bawa dan seret dia ke ruang interogasi!" Ratu Kim mengeluarkan perintah penggeledahan kediaman Youra. Seluruh pelayan yang bekerja di istananya bahkan ditangkap dan dipenjara.
Dayang Nari diseret paksa oleh Ratu Kim menuju halaman Biro Investigasi. Gadis malang itu tak gentar sama sekali. Dia tak menangis atau melakukan perlawanan. Para pengawal mendorong tubuhnya hingga tertunduk di atas tanah. Mereka mengikat kedua tangannya saling bertaut ke atas. Melucutinya dengan cambukan dari pilinan rotan yang kuat.
"Katakan kepadaku, dimana Permaisuri Lee?!" teriak ratu ditonton oleh kerabat dan pejabat istana.
"Aku tidak menarik perkataanku sama sekali. Yang Mulia Ratu Lee akan mengubah takdir negeri yang malang ini." Penuh keyakinan, jawaban itu selalu sama tiada goyah.
"Pukul dia sekali lagi!"
Mereka menepis punggung gadis malang itu dengan 10 kali cambukan hingga darah menembus warna cerah pakaiannya.
"Sekarang aku tanya sekali lagi. Jika kau ingin bebas, katakan kepadaku dimana tuanmu?!" Sekali lagi ratu memaksa.
Dayang Nari merapatkan kedua bibirnya. Mengatup cukup kuat, tak ingin lagi menjawab. Ratu Kim yang geram berjalan cepat ke arahnya. "Buka mulutmu!" Ratu Kim mencapit kedua ujung bibir gadis itu dengan tangannya, memaksanya untuk bersuara. Dengan kokoh pula Dayang Nari menahannya.
"Bawa kemari besi panas!" Ratu meraih besi panas yang baru saja diangkat dari bara api yang menyala. Meletakkan besi panas itu pada paha Dayang Nari, hingga berteriak kesakitan.
"Sekarang jawab, dimana wanita licik itu?!" Sekali lagi Ratu Kim bertanya, sekali lagi pula Dayang Nari tak bersuara.
"Pengawal! Seret wanita ini ke penjara bawah tanah, dan jangan beri dia perapian!"
Para pengawal melepas ikatan yang telah meninggalkan luka pada kedua lengan Dayang Nari. "Ingat Dayang Nari! Jika dalam waktu dekat ini kau tak memberitahukan dimana iblis betina itu, kupastikan kau akan mati mengenaskan!"
Dayang Nari yang tadinya tak memandang wajah ratu, akhirnya melayangkan sorot kebencian itu untuk yang pertama kalinya. Dengan wajah lebam penuh luka dan darah, dia tersenyum mengerikan.
"Langit sudah menghukummu! Kematian bahkan tidak pantas kau terima! Jasadmu akan habis dimakan cacing tanah! Tak ada penyesalan yang tersisa! Bertobatlah kau sebelum kebenaran membuka jalan menuju kematianmu! Kau telah dihukum Ratu Kim!"
Betapa mengerikannya sorot mata itu, hingga seluruh pejabat yang melihatnya merinding ketakutan. Di bawah hitamnya langit, wanita tanpa alas kaki itu telah menciptakan gemuruh yang mengejutkan. Tepat setelah dia mengeluarkan kalimat aneh itu, langit menunjukkan kuasanya. Gemuruh panjang menarik seluruh pandang mata yang saling melemparkan.
__ADS_1
Dayang Nari yang berlumuran darah dibawa paksa oleh para pengawal. Ratu Kim menyentuh dadanya, meremuknya dengan deraian air mata.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Dia ketakutan sendiri. Tubuh lemahnya membawanya terjatuh dari singgasana. Han Ji-Eun yang mendampingi lantas menahan tubuh ratu agar tak semakin tumbang.
***
Youra yang saat itu keluar dari gubuk suaminya, kebingungan melihat bagaimana langit bersuara. Lee Young sedang bolak-balik berkelana di depan gubuk, menunggu berita dari Jung Hyun.
Youra masih canggung pada kakaknya karena kejadian di dalam gubuk tadi. Sengaja berpura-pura tak melihat, agar kakaknya tak sadar dia sudah keluar dari gubuk itu.
"Youra," panggil Young menangkap basah. Youra malu sekali, hingga tak berani menatap kakaknya sendiri. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini penting," sambung sang kakak.
Youra akhirnya memberanikan diri. Mereka sedikit menjauh dari gubuk, guna menjaga privasi. Young duduk di atas tumpukan batu berlumut di belakang gubuk, sementara Youra berdiri di depannya.
"Maaf karena aku sudah membuatmu menderita. Menghilang sangat lama, hingga kau jadi seperti ini." Kalimat pertama yang dikatakan Young membuat Youra terkesiap. Youra mendekati kakaknya, memegangi lengan kakaknya kokoh. "Kakak jangan bicara begitu. Kakaklah satu-satunya alasan yang membuatku kuat cukup lama," balas Youra.
"Youra, apa setelah menikah dengan Putra Mahkota, kau masih menjalin hubungan dengan Guru Jun?"
"Youra, Putra Mahkota sudah mencintaimu sejak lama. Beliau adalah alasan mengapa kita masih hidup sampai sekarang. Jika bukan karena beliau, tidak hanya Ayah dan Ibu, kau dan kakak juga akan mati. Kau tahukan betapa besar dosa bagi seorang istri yang durhaka apalagi berselingkuh dari suaminya?" Young akhirnya lega, bisa menyampaikan seluruh penyesalan itu pada Youra.
Youra meratap. Luka itu digenggamnya kuat. Young memegang kedua pundak adiknya sangat lama, sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Apa tadi itu adalah sungguhan? Aku melihatmu duduk di atas pangkuannya, itu semua bukan karena kau mengasihaninya kan? Kau tidak boleh menyakiti Putra Mahkota lagi. Tabib Nam mengatakan bahwa racun di tubuh Putra Mahkota bisa membunuhnya kapan saja."
Youra sontak risau mendengar perkataan itu, "Tidak, tidak boleh! Kakak jangan bicara seperti itu." Youra mendadak heboh. Young membungkukkan tubuhnya, menembus sorot mata sang adik cemas. "Jawab pertanyaanku dengan jujur ... anak siapa, yang sedang kau kandung?"
Deg Deg
***
Youra kembali ke gubuk setelah selesai berbincang bersama kakaknya. Dia berlari ke dalam gubuk membawa kendi berisi air hangat dan handuk serta beberapa herbal tumbuk, mendapati Putra Mahkota sedang cemberut menatap ke pintu.
__ADS_1
Terlambat. Dia tak sadar sudah terlambat sekali untuk kembali.
Youra malu-malu duduk bersimpuh. Menggeser tubuhnya maju sedikit demi sedikit. "Minta maaflah pada suamimu." Perkataan Putra Mahkota terdengar seperti perintah. Bukan, tepatnya seperti memaksa. "Aa-apa?" Youra kebingungan. Dia lekas menatap mata suaminya, tersentuh karena menyadari kesalahannya. Sejak pagi itu, dia baru kembali lagi sore ini. "Maaf, maafkan aku, Yang Mulia."
Youra berusaha memperbaiki suasana. "Ini aku membawakan air dan handuk. Setelahnya, gantilah pakaian Anda." Youra meletakkan handuk dan air itu di sebelah suaminya.
"Apa harus mati dulu, supaya kau mau menggantikan pakaianku?" jawab Putra Mahkota terus saja menatapnya. Youra gelagapan, tak suka mendengar kalimat itu. Jelas, dia tidak mau kehilangan lagi. "Anda menyebalkan sekali! Anda tidak boleh meninggalkan aku lagi." Youra mendekat pada suaminya. "Sini, aku bantu." Youra menggeser tubuhnya sedikit ke belakang tubuh suaminya.
"Buka pakaianku dari depan. Aku ingin melihat wajah permaisuriku." Kembali Putra Mahkota mengeluarkan titah tidak masuk akalnya. Youra menghela napas, rasanya ingin tertawa tapi entah mengapa dia terus berusaha kelihatan anggun. Youra menuruti seluruh perintah itu tanpa protes lagi. Saat ingin membuka kancing pakaian suaminya, jantungnya berdebar kencang. Otot-otot yang menempel pada bidang gagah suaminya, membuat Youra kembali menutupnya.
Putra Mahkota mengernyitkan dahi, saat Youra memalingkan muka. "Kenapa memalingkan wajah lagi?" lirih Putra Mahkota kecewa. "Bu-bukan begitu, Yang Mulia. Aku hanya ... aku hanya ingin bersin," Youra berkilah mengusir rasa malunya.
Ini bukan pertama kali aku melihatnya. Putra Mahkota, sudah seringkali memperlihatkannya padaku. Kenapa, rasanya sangat malu?
"Kalau begitu tidak perlu berpaling. Bersin lah menghadapku, agar permaisuriku tidak sakit sendiri." Putra Mahkota malah serius menanggapinya. Youra tak habis pikir, punya suami yang ... terlalu menyayanginya. Antara senang dan kasihan, dia ingin sekali mencubit suaminya karena gemas.
Youra membuka pakaian Putra Mahkota. Tampak luka itu kembali berdarah. "Yang Mulia, luka Anda kembali berdarah, aku ingin mengganti pembalutnya, tapi sebaiknya aku panggilkan Tabib Nam dulu, ya?" Risau Youra barlarut-larut. Putra Mahkota menarik tangan Youra yang hendak meninggalkannya. "Hatiku jauh lebih sakit jika kau membuatku marah lagi. Tetaplah di sini, jangan pergi lagi."
Youra akhirnya mengalah. Dia duduk kembali menghadap suaminya. Youra meraih wajah suaminya. Menyentuh mesra wajah itu dengan tangan kanannya. "Kalau begitu berbaringlah terlebih dahulu, Yang Mulia. Aku akan mengganti pembalut lukanya." Putra Mahkota menggapai tangan yang sedang menyentuh wajahnya. "Permaisuriku, melihatmu seperti ini ... aku merasa tidak butuh apa-apa lagi. Aku begitu bahagia." Wajah Putra Mahkota terlihat manja dan memelas. Dia sangat patuh pada Youra, saat Youra memintanya untuk berbaring.
Youra membantunya melepas pembalut luka itu. Sangat terkejut melihat betapa dalamnya luka yang bersarang di perut kiri bagian bawah suaminya. Tak sadar, air mata itu menetes leluasa. "Yang Mulia, pasti sakit sekali ya?" tanya Youra menaruh perhatian yang terkesan sangat dalam. Putra Mahkota meraih pipi bulat Youra, menyeka air matanya. "Melihatmu menangis jauh lebih sakit. Jadi jangan menangis lagi."
Youra mengangguk, tersenyum menanggapinya. Dia membersihkan darah-darah yang menempel, sebelum kembali mengoleskan campuran Binahong dan Talas tumbuk pada luka Putra Mahkota. "Ah.."
"Tahanlah sedikit saja, Suamiku. Ini hanya akan perih sedikit. Dulu, saat kakak sedang sakit ... aku selalu membuatkannya ramuan ini." Youra sangat hati-hati mengoleskannya, takut suaminya kesakitan. Youra kembali menutup luka itu dengan pembalut baru, saat Putra Mahkota kembali duduk bersandar. Malu-malu dia menyapu tubuh suaminya dengan handuk basah. Ragu-ragu menariknya dari pundak hingga ke bawah. "Lee Youra, aku ingin dipeluk."
Youra terpaku.
"Dipeluk seperti tadi. Sekarang." Putra Mahkota sejak tadi terus saja memandanginya.
__ADS_1
"Pakailah baju ini terlebih dahulu, Yang Mulia," jawab Youra terbata. Wajahnya memerah, sangat merona.
"Aku ingin dipeluk seperti ini. Tanpa atasan."