Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kembali Bertemu


__ADS_3

Aku dan air mataku, bertemu di titik terjauh dalam hidup. Saat itu, aku berusaha untuk tidak terjatuh. Tapi, mereka semua seolah mendorongku, hingga aku lupa, aku bangkit untuk siapa.


...----------------...


Suatu hari, Youra memutuskan untuk kembali ke desa bersama Nana dan pamannya.


“Kita harus kembali ke desa. Tidak ada lagi, alasan bagiku untuk menjadi pengecut di kaki gunung ini,” sambil mengepak barang-barang yang akan dibawa, Youra menangis saat hendak mengemas pakaian-pakaian kakaknya.


Saat itu, tak ada lagi yang tertinggal, 


Lee Young putra sulung pensehat negara, seseorang yang terkenal akan visual dan bakat bela dirinya, pemuda yang terkenal sebagai pemuda paling tampan di negeri itu, tewas di tangan orang tak dikenal, di depan mata adiknya sendiri. 


Youra yang menangis tidak menunjukkan ekspresi apapun. Air mata itu hanya terus mengalir di pipinya. Ia kemudian mengambil jubah hitam, yang selalu dipakai sang kakak saat hendak pergi ke biro pendidikan. Ia menggenggam jubah sang kakak erat-erat.


“Akan kutemukan, pembunuh keluargaku". 


… kecuali kebencian.


Youra kemudian mengemas pakaian sang kakak bersama gaun-gaunnya.


“Mulai sekarang, selama di desa, jangan pernah panggil aku Nona lagi terutama di depan orang-orang. Disana, kita adalah keluarga. Mulai saat ini, aku adalah anaknya paman, dan Nana adalah saudariku. Identitas itulah yang akan kita gunakan selamanya".


Nana yang melihat itu, berusaha menahan tangisnya.


“Nona, apa tidak sebaiknya kita tetap disini? Mungkin saja, bahaya itu menunggu di luar sana,” paman Nana berusaha menenangkan Youra yang menangis menahan emosinya.


Youra tetap mengemas seluruh pakaian sang kakak.


“Menetap disini, membuat aku menjadi seorang pengecut. Aku membiarkan kakak menghadapi semua ini sendirian. Kali ini, aku tidak bisa diam lagi". 


Youra menarik dalam napasnya.


“Akan kuhancurkan, sehancur-hancurnya, siapapun mereka,” Youra kembali mengemas pakaian itu dengan deraian air mata.


"Nama apa yang baik untukku, sebagai putri Paman?” tanya Youra pada paman. 


“Youra, tetap Youra,” jawabnya.


Sang paman menangis, dia datang mendekat, lalu memeluk Youra.


“Aku sudah tidak sanggup lagi, Paman,” tangis Your pecah di pelukan sang paman. Hal ini, membuat Nana tak dapat lagi membendung tangisnya dan ikut menangis memeluk Youra.  


**


Beberapa waktu kemudian.


Youra tiba di desa, dan hidup bertiga bersama Nana dan pamannya. Ia tinggal dengan identitas baru sebagai bentuk perlindungan. Tapi pada suatu hari, sang paman jatuh sakit, sehingga tak dapat lagi bekerja. Youra yang setiap hari hanya murung dan menangis menghapus air matanya saat itu juga. Pikirnya, ia tak bisa terus membiarkan Nana bekerja sendiri. 


Meski Nana dan pamannya meminta Youra untuk tetap di rumah saja, tetapi Youra memohon agar dirinya merasa berguna dan punya kesibukan untuk menghilangkan kesedihannya. Dengan berat hati, Nana membiarkan tuannya itu ikut bekerja bersamanya. 

__ADS_1


Mereka bekerja dengan seseorang mengangkat kendi-kendi air ke sebuah kedai makan milik seorang rentenir yang ada di pasar. 


“Nona, biar aku saja yang mengangkatnya, istirahatlah,” bisik Nana pada Youra saat mereka mulai mengangkat kendi-kendi itu.


“Tidak apa-apa, aku sangat menyukai pekerjaan ini,” dengan semangat Youra melanjutkan pekerjaan itu. Nana yang hatinya selalu bersedih, tersenyum sedikit. Setidaknya, ia bisa melihat Youra kembali semangat. 


Namun, suatu hari, saat mereka istirahat, mereka melihat Jun ada disana. Jun berdiri di bawah sebuah pohon di tengah pasar, sedang memandang ke arah mereka. Youra yang terluka hatinya, segera menarik tangan Nana untuk secepatnya pergi dari sana.


“Tunggu!” teriak Jun.


Youra berhenti, Nana kemudian permisi dan meninggalkan mereka berdua.


“Ada apa, Tuan?” tanya Youra.


Jun terus memperhatikannya, ia juga memperhatikan kendi yang dibawa Youra. 


“Kau bekerja dan tinggal di desa?” tanya Jun.


“Sepertinya Tuan Muda salah orang, aku tidak mengenal Tuan. Permisi,” Youra bergegas, tapi Jun menghalanginya.


“Tidak. Aku tidak mungkin salah orang. Aku sangat mengingat wajah-wajah muridku,” bantah Jun.


Youra tidak peduli. Meski begitu, Jun tak menyerah. Jun terus mengikuti Youra.


“Bisakah, kau mendengarkan aku sekali saja?” Jun memohon.


Youra tetap tidak berhenti dan terus berjalan pulang.


Akhirnya Youra berhenti.


“Aku menghargai Anda, karena Anda adalah guruku. Ada apa? Apa yang membuat Anda menemuiku?” tanya Youra sopan.


“Aku telah lama mencarimu,” kata Jun pada Youra.


“Hari itu, saat seharusnya kita bertemu, aku tidak bisa datang karena suatu alasan yang tidak bisa aku jelaskan, tapi di hari kemudian aku selalu menunggumu disana, tapi kau tidak pernah ada,” tambahnya.


Jun tampak sangat menyesal. Wajah lembutnya, membuatnya tampak lebih sempurna dengan raut wajah penyesalan itu.


Youra tidak kuasa menahan raut sedihnya. Jun yang melihat itu, menjadi tambah menyesal.


“Tidak apa-apa, itu tidak masalah,” Youra kemudian kembali beranjak dari tempat itu meninggalkan Jun disana. Jun hanya bisa terdiam di tempat.


Keesokannya, Jun selalu datang untuk menemuinya, tetapi Youra selalu menghindar. 


“Jangan temui aku lagi, aku mohon pada Anda,” pinta Youra sambil membungkuk hormat pada Jun.


Jun yang merasa bersalah semakin merasa bersalah.


“Youra,” panggilnya yang sama sekali tidak diberi respon apapun.

__ADS_1


Youra meninggalkan Jun disana sekali lagi. Tapi, Jun tak pernah menyerah. Jun yang terkenal sangat ceria dan membawa tawa itu selalu datang ke tempat Youra bekerja untuk kembali berbaikan dengannya.


Suatu hari, Jun duduk di kedai tempat Youra bekerja.


“Bibi, buatkan aku satu mie rebus yang lengkap dengan pangsit ayam. Oh iya, aku mau gadis itu yang mengantarkannya untukku,” pinta Jun pada koki, istri pemilik kedai sambil menunjuk Youra yang sibuk bekerja.


Saat itu, karena tidak tahu, Youra menerima pekerjaan itu dan mengantarkannya pada Jun. Namun, saat dia sadar, ia menjadi kesal.


“Kenapa Anda datang lagi?” ketus Youra dengan wajah juteknya.


Jun tersenyum dan mengambil mangkuk itu dengan senang hati.


“Terimakasih Mona Muda. Aku datang sebagai pelanggan dan ingin makan mie rebus disini, apakah itu adalah suatu larangan?” jawab Jun tersenyum sambil menyeruput sendoknya.


Youra yang melihat senyuman Jun, terdiam tak berbuat apa-apa. Rasa yang saling bertolak belakang. Ingin marah, tapi rasa cinta itu lebih kuat dari egonya. Youra tidak bisa terus melihat wajah Jun yang tersenyum seperti itu, tetapi perasaan sedihnya membuatnya merasa kesal.


“Kalau begitu, aku permisi,” pamit Youra sambil kembali membawa nampan.


Jun tersenyum tipis terus memandang Youra dari belakang.  


Setelah selesai makan, Jun mencari Youra kembali, tetapi istri pemilik kedai mengatakan bahwa dia sudah pulang sejak awal. Jun dengan cepat bergegas mencarinya dan alhasil, di jalan ia tidak sengaja bertemu Nana yang tampaknya sedang menunggu.


Saat itu, Nana membungkuk hormat padanya.


“Tuan Muda, sebelumnya aku minta maaf dan tidak bermaksud mencampuri urusan Anda dan Nona”.


Nana memandang sekeliling dengan hati-hati dan memelankan suaranya.


“Apa yang terjadi?” tanya Jun yang sangat khawatir dan tidak tahu apa-apa.


Nana menarik napasnya dalam-dalam.


“Hari itu, Nona menunggu tuan hingga malam tiba, tetapi, tuan tak kunjung datang,” Nana tampak berusaha keras mengatur napasnya yang sesak menahan tangis.


Jun tampak semakin khawatir. 


”Apa, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Jun merasa bersalah.


Nana kembali mencoba untuk bicara.


“Gerombolan orang.. ,” Nana kembali menarik napasnya dalam.


“Gerombolan orang membunuh Tuan Muda Young dan membawa jasadnya. Itu terjadi pada hari itu juga, di tepian danau, di depan mata Nona Youra sendiri,” tambah Nana yang akhirnya menangis tersedu-sedu.


Jun yang baru mendapat kabar ini sangat terkejut dan menjadi lemas tak berdaya. 


“Aku harap, Tuan Muda bisa memahami situasi kami disini. Aku permisi,”.


Nana pergi dengan perasaan yang sangat sedih. Sementara itu, Jun masih disana terbelalak merasa tidak percaya. 

__ADS_1


“Tidak mungkin,” gumamnya. 


__ADS_2