
**
Sementara itu di tempat lain, Youra duduk bersedih di depan rumahnya.
“Nona, apa yang sedang Anda pikirkan?” tanya Nana padanya.
Youra yang terlarut dalam lamunannya segera sadar.
“Aku harus menemui Kak Jun, dan menceritakan semuanya. Aku sangat keterlaluan. Harusnya aku terbuka saja padanya,” kata Youra menyesal.
Youra segera berdiri dan merapikan gaunnya.
“Aku pergi dulu, kau tetaplah di rumah dan jaga paman. Aku akan segera kembali,” Youra segera bergegas meninggalkan Nana.
**
Sebelum pergi menemui Jun, Youra tak sengaja melihat seluruh orang berkumpul di suatu pertunjukan saat melewati pasar. Pertunjukan itu adalah pertunjukan seni tradisional yang melibatkan badut di dalamnya. Orang-orang tampak tertawa mengolok-olok seseorang. Ternyata, pertunjukan itu adalah bentuk aksi protes dan kebencian rakyat terhadap Putra Mahkota. Youra mampir sebentar menyaksikan pertunjukan itu. Kembali teringat olehnya, sang kakak yang tewas. Ia mengeluarkan batu milik Putra Mahkota dan menggenggamnya erat-erat.
“Kau memang pantas mendapatkan kebencian ini, Putra Mahkota bodoh,” gumam Youra tertawa senang melihat penghinaan lewat ujaran kebencian rakyat.
Ara, putri kepala menteri perang juga sedang ada disana bersama pelayannya. Dia melihat keramaian itu dengan rasa tidak nyaman. Saat ia menoleh ke seluruh penonton yang saat itu berkumpul, disana secara tak sengaja dia seperti melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan sahabat kecilnya, Youra, tampak sedang tertawa menyaksikan pertunjukan itu. Ara berusaha mengejar gadis yang mirip Youra itu untuk memastikan apa yang baru saja dia lihat. Namun, dia kehilangan jejaknya karena terhalangi oleh orang yang berlalu lalang, mengingat betapa ramainya orang saat itu.
Youra melangkah pergi dari pertunjukan itu dengan santai, dan tak sengaja menabrak seorang pria yang tampaknya sedang berdua dengan temannya.
“Nona Youra?” sapa laki-laki itu pada Youra, membuat Youra kaget tak percaya.
"Kak Jung Hyung..," batinnya.
Ia sangat terkejut ada seseorang yang mengenalnya. Ia melirik wajah sang pemuda dan ternyata pemuda itu benar-benar Jung Hyun, sahabat kakaknya. Youra yang terkejut spontan menoleh ke arah teman yang ada di sebelah Jung Hyun.
Youra sangat terkejut, karena Jung Hyun sedang berdiri bersama pria dengan wajah tertutup yang berkali-kali membuat keributan di pasar. Dia tak pernah tahu, lelaki yang bersama Jung Hyun itu adalah Putra Mahkota.
Youra membungkuk hormat pada Jung Hyun dan Putra Mahkota.
“Maaf Tuan, aku bukan orang yang Anda cari,” tegas Youra.
Youra yang takut penyamarannya diketahui dengan segera bergegas pergi dari tempat itu. Namun,
__ADS_1
“Jangan pergi”.
Pertemuan yang menjadi awal kesengsaraan yang sesungguhnya,
Putra Mahkota menarik tangan Youra dan menahan pergelangan tangannya.
Putra Mahkota tetap di tempat tak menoleh ke arah Youra yang ditahannya sedikit pun. Sementara, Youra yang terkejut langsung menoleh ke belakang memandangnya.
Menarikku untuk menetap di tempat, entah kenapa.
“Lepaskan aku,” Youra berusaha melepaskan genggaman Putra Mahkota dari tangannya.
“Lepaskan! Dasar kau pria tidak punya sopan santun!” teriak Youra pada Putra Mahkota.
Akhirnya, Putra Mahkota melepaskan tangan Youra.
Saat Youra pergi, barulah Putra Mahkota berbalik badan menoleh ke arahnya. Putra Mahkota terus memandang Youra yang sudah berlari melangkah pergi meninggalkan. Dia tersenyum sendiri, ke arah jalanan yang sepi. Tak berapa lama kemudian, tampak olehhnya beberapa orang berpakaian hitam-hitam sedang mengendap-endap mengejar Youra yang sedang berlari, dari belakang.
Melihat itu, tak tahu entah kenapa, Putra Mahkota dengan segera mengejarnya.
“Putra Mahkota, apa yang Anda lakukan?” Jung Hyun terkejut melihat Putra Mahkota yang tiba-tiba berlari.
Saat itu, lingkungan sangat sepi. Tak tampak orang yang berlalu lalang.
“Berhenti!” teriak Putra Mahkota menghentikan orang-orang mencurigakan itu.
Segera sebagian orang yang mengejar Youra berbalik langsung menyerang Putra Mahkota dan Jung Hyun. Sebagian lagi tetap mengejar Youra cekatan. Saat itu, Jung Hyun langsung melawan orang-orang itu. Sementara, Putra Mahkota berlari mengejar Youra.
Youra yang tidak sadar sedang dikejar menghentikan pelariannya karena hampir kehabisan napas.
Putra Mahkota yang datang mendekat khawatir, melihat orang-orang berpakaian hitam mulai beraksi untuk melakukan sesuatu yang buruk pada Youra, dengan cepat langsung menarik tangan Youra dari samping, hingga tubuh gadis mungil itu masuk dalam pelukannya. Youra sangat terkejut karena dia tidak sadar sedang dikejar oleh orang-orang berjubah hitam itu.
Sambil mendekap Youra dalam pelukannya, Putra Mahkota menodongkan pedang kepada sekelompok orang itu.
”Pergi dari sini. Gadis ini, milikku,” kata Putra Mahkota kepada orang-orang berpakaian serba hitam itu, membuat Youra langsung menatap wajahnya yang tertutup kain.
Orang-orang itu saling berpandangan. Mereka berancang-ancang untuk melakukan penyerang. Namun dengan cekatan, Putra Mahkota memutar tubuh Youra ke belakang tubuhnya.
__ADS_1
“Pergilah dari sini,” bisik Putra Mahkota saat memutar tubuh Youra ke belakang.
Youra tanpa ragu, berlari pergi meninggalkan Putra Mahkota. Putra Mahkota yang ditinggalkan menahan kedipan matanya, karena dia tak habis pikir. Wanita yang dia selamatkan, dengan enteng meninggalkannya tanpa mengucapkan terimakasih.
Putra Mahkota sendirian melawan puluhan orang bersenjata. Sementara Jung Hyun masih kewalahan dengan ramainya orang-orang itu. Anehnya, di tempat itu sangat sepi. Semua orang berkumpul melihat pertunjukan penghinaan terhadap Putra Mahkota.
Jung Hyun terjatuh lantaran dia diserbu dengan brutal oleh orang-orang itu. Satu diantara orang itu melompat hendak memenggal kepala Jung Hyun yang sudah terjatuh tak sempat bangkit untuk melawan. Namun, tiba-tiba Putra Mahkota datang langsung menangkis pedang orang itu, menyelamatkan nyawa Jung Hyun yang hampir saja melayang jika sedetik saja terlambat. Akibatnya, salah satu dari orang itu berhasil melukai lengan Putra Mahkota. Darah bercucuran cukup banyak dari luka Putra Mahkota yang tampaknya sangat besar.
“Yang Mulia, mengapa kau menyelamatkan orang yang sebenarnya sangat membencimu?” gumam Jung Hyun saat matanya tertuju pada tangan Putra Mahkota yang terulur membantunya berdiri.
Saat Jung Hyun berdiri, waktu seolah berjalan lambat. Ia langsung menatap Putra Mahkota yang terluka. Saat itu, Putra Mahkota tidak sadar Jung Hyun sedang terus menatapnya. Dia hanya fokus pada orang-orang berjubah hitam itu.
Melihat lengan Putra Mahkota yang terluka parah, membuat Jung Hyun tertegun pada dirinya. Ia langsung mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk melindungi Putra Mahkota. Tak selang berapa lama, akhirnya puluhan orang itu, tewas di tangan mereka berdua. Putra Mahkota langsung terjatuh kesakitan menahan lengannya yang terluka.
Jung Hyun dengan cemas membopong Putra Mahkota untuk kembali ke istana. Sepanjang perjalanan ia tak berhenti menatap Putra Mahkota.
Sementara itu, Putra Mahkota yang kesakitan, membuka penutup matanya, hingga terlihatlah mata indah sang Putra Mahkota. Apa yang dilihat Jung Hyun membuat Jung Hyun tercengang. Ia tak kuasa untuk melakukan apapun. Hanya terhipnotis oleh pemandangan luar biasa itu.
Mata tajam Putra Mahkota, memiliki lekuk alis yang indah dengan bulu mata yang tebal. Mata itu, sangat indah hingga Jung Hyun hanya bisa terdiam.
“Jung Hyun,” panggil Putra Mahkota.
“Yy-ya Yang Mulia?” jawab Jung Hyun canggung karenanya.
Putra Mahkota tampaknya sedang tersenyum dari balik penutup wajahnya.
“Kau mengenal gadis itu?” tanya Putra Mahkota.
Jung Hyun terdiam. Ia mengingat wajah gadis yang ditanyakan Putra Mahkota itu baik-baik.
“Aku tidak yakin Yang Mulia, tetapi, wajah gadis itu, sangat mirip dengan anak bungsu mendiang penasehat negara, bernama Lee Youra, yang dikabarkan tewas,” jawab Jung Hyun.
Putra Mahkota melepaskan tangan Jung Hyun yang sedang membopongnya.
“Kenapa orang-orang itu mengejarnya? Cari tahu tentang dia dan segera laporkan padaku,” perintah Putra Mahkota.
“Jadi, gadis itu yang anda maksud waktu itu, Yang Mulia?” tanya Jung Hyun.
__ADS_1
Putra Mahkota mengangguk dan terdengar suara kecil tawanya.
“Aku hanya ingin, gadis itu yang menjadi permaisuriku,” jawabnya.