
Kabar tentang Putri Mahkota terdakwa pembunuhan atas suaminya sendiri, dibantah keras oleh istana. Polemik nyata itu masih simpang siur. Akhirnya istana memutuskan untuk menutupi kasus ini agar rakyat tak berpecah belah, menciptakan kubu-kubu baru yang malah akan mempersulit jalannya pemerintahan. Keputusan Youra yang enggan memberikan kesaksian, membuatnya diangkat menjadi tersangka. Meski berkali-kali Youra mengatakan bahwa dia bukan pelakunya, masih saja ada kecurigaan orang-orang terhadapnya. Semua kecurigaan itu dikarenakan keputusan Youra yang pergi meninggalkan kediaman sang suami saat suaminya sekarat waktu itu.
Dendam dan kebencian, mengikat takdir pasangan menyedihkan itu untuk bersatu. Dendam itu terlalu besar, membawa Youra terjerat dalam egonya sendiri. Karena ego tinggi itu dia pergi meninggalkan suaminya saat suaminya hampir saja mati, hingga semua tuduhan jatuh kepadanya. Tak tahu berapa lama dendam itu akan bersarang, Youra tetap tak ingin mengalah sama sekali. Saat matanya mulai terbuka, Youra kembali menutupnya dengan kebencian. Keputusan nyata yang menyedihkan.
***
Selang beberapa lama setelah Putra Mahkota tak sadarkan diri, raja jatuh sakit. Mungkin karena seluruh masalah yang menimpanya. Dia dibantu para pelayan untuk hadir di hari pernikahan Pangeran Yul dan Ara. Sementara itu, istana wanita yang di pimpin ratu memutuskan untuk membawa Youra ke sebuah kuil hari itu juga. Sebagai Putri Mahkota yang dicurigai, Youra diminta untuk membersihkan diri disana.
Youra keluar dari rumah aman dengan gaun mewahnya, seperti biasa. Riasan cantik itu menempel indah di wajah bulatnya, mengantarkannya naik ke atas tandu kehormatan itu menuju kuil.
"Kemana kalian akan membawaku?" tanya Youra tak terima. Para opsir kemudian membungkukkan tubuh mereka. "Maaf Yang Mulia, selama pernikahan Pangeran Yul, kami diperintahkan untuk mengamankan Anda di kuil istana yang berada di bukit."
"Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya Youra dengan raut wajahnya yang memerah.
Para opsir tak dapat berkutik, hingga salah satu diantara mereka mendekati Youra. "Ini adalah perintah raja, Yang Mulia Putri Mahkota. Beliau meminta Anda berkunjung ke kuil untuk mendoakan kesembuhan Putra Mahkota."
"Aku tidak mau. Aku ingin tetap disini," pungkas Youra seketika. Youra keluar dari tandu mewah itu ingin segera pergi. Namun, langkahnya dihentikan oleh seorang pelayan dari istana raja. "Status Anda sebagai terdakwa akan segera dicabut. Anda harus pergi ke kuil, demi keselamatan Anda. Ini perintah dari Yang Mulia Raja."
__ADS_1
Youra menarik napas panjang, sebelum akhirnya kembali ke dalam tandu mewah itu penuh curiga. Statusnya yang belum jelas membuatnya bertanya-tanya, kenapa dia dikirim ke kuil jika memang akan segera dibebaskan dari status tersangka. Namun, Youra tak bisa menolak. Perintah raja adalah mutlak, yang mau tidak mau harus dia laksanakan.
***
(Kediaman Kepala Menteri Perang)
Ara mengatur langkahnya agar lebih anggun dengan pakaian pengantin itu. Kediamannya sudah sangat ramai dikunjungi banyak orang. Mengingat betapa populernya Pangeran Yul membuat Ara tak heran jika kediamannya bisa seramai itu.
"Nona, sebentar lagi Anda resmi menjadi istri Pangeran Yul. Calon suami Anda sudah tiba."
Benar, Pangeran Yul telah tiba. Hati dan wajahnya sangat berbeda. Langkah beratnya itu diseretnya datang ke pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Hatinya terus saja mengutuk. Namun, wajahnya terus saja memancarkan senyuman. Sangat palsu, dan menakutkan.
"Selamat datang menantuku," sapa Kepala Menteri Perang sangat ramah. Begitu bahagia melihat kedatangan calon menantunya itu. Pangeran Yul membalasnya dengan senyum manis, wajahnya sangat tulus.
"Si*lan! Mengapa harus kau yang menjadi mertuaku?!" gerutu Pangeran Yul di balik senyum palsunya.
Ara berdiri jauh dalam kediamannya, mengintip calon suaminya itu dari jauh, tersipu senang. Wajah yang tampan, dengan tubuh gagah yang elegan, membuat Ara benar-benar tidak menyangka. Meski bukan Young, Pangeran Yul tetap luar biasa baginya. Menikah, hidup bahagia, dan punya anak yang lucu. Harapan itu dia susun rapi dalam pikirannya. Kemungkinan-kemungkinan baik dan hari-hari menyenangkan yang akan tiba, membuatnya tidak sabar mengarungi bahtera rumah tangga itu dengan bahagia.
__ADS_1
"Mana mempelai wanitanya?" tanya para tetua yang ada disana. Mereka menoleh ke dalam sana, saat hentakan kaki itu mengantar Ara yang wajahnya ditutupi selendang naik ke pelaminan. Pangeran Yul menundukkan wajahnya, tersenyum manis di depan banyak orang. Tidak menoleh pada calonnya sama sekali.
Hingga prosesi pernikahan itu berakhir resmi, Pangeran Yul tetap tak memandang wajah sang istri. Ara mencoba menyibak sedikit selendangnya, mengintip wajah suami yang ada di hadapannya. Pangeran Yul menyadari ada sebuah tatapan yang sedang menjelajahi wajahnya, membuatnya segera membalas tatapan itu.
Saat itu, dua pasang mata itu saling bertemu, sama-sama membentuk sebuah ikatan. Hanya saja, mereka berdua memilih jalan yang berbeda. Ara tersenyum senang melihat wajah suaminya, tetapi Pangeran Yul mengakhiri senyum palsunya, saat membalas tatapan Ara. Sampai saat itu, Ara tetap saja berpikir baik, tak ternodai oleh pikiran buruk apapun.
Para pelayan membantu Ara untuk berpindah duduk di sebelah suaminya. Membantu mereka berdua untuk saling berdekatan. "Alangkah beruntungnya aku, bisa menjadi permaisuri Anda Pangeranku," sapa Ara ramah sedikit berbisik, di telinga Pangeran Yul.
Pangeran Yul tersenyum, memutar kepala menghadapkannya pada sang istri. Tangannya lantas meraih kepala istrinya itu dengan lembut. Saat itu, orang-orang yang melihatnya sangat bahagia, sekaligus iri pada Ara yang memiliki suami sempurna. Namun, siapa yang tahu, terkadang kesempurnaan yang terlihat oleh mata, menutupi hitamnya hati yang berkabut.
Pangeran Yul mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri, "Betapa menyedihkan, aku harus menikah dengan wanita yang tidak aku sukai," balas Pangeran Yul tersenyum padanya di tengah bisingnya orang.
Ara terbelalak, sangat terluka. Dia terus saja memaksakan diri untuk menganggap semuanya itu hanyalah sebuah kesalahan. Mungkin saja salah dengar karena Pangeran Yul tersenyum manis kepadanya, begitu pikirnya. Ara kembali menatap para tamu undangan, disana ayah dan ibunya sedang tersenyum bahagia. Ada juga sang kakak, Won Bin yang sedang bercengkrama dengan para pemuda. Tak mungkin baginya untuk menangis di depan banyak orang. Tidak, untuk apa menangis, semua akan baik-baik saja.
Ara menahan diri, kembali menoleh pada sang suami. Pangeran Yul masih di sebelahnya. Tersenyum kepada banyak orang yang hadir. Sambil menatapnya, Ara mengernyitkan dahi. Saat ia terus saja menjelajahi senyuman sang suami, dia ikut tersenyum karenanya. Namun, saat dia memperhatikannya lebih, dia menyadari sesuatu yang mengejutkan. Kepalsuan, semua itu hanya kepalsuan.
"Pangeran, apa Anda benar-benar bahagia? Apa yang Anda katakan tadi itu, aku tidak salah dengar?"
__ADS_1