Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jun dan Hidupnya


__ADS_3

Tak ada yang menyangka, meski sebelumnya sempat ditolak oleh para menteri, suara rakyat berhasil membuat mereka akhirnya sepakat untuk setuju.


Jun, yang sempat dikirim pergi dari kota karena kasus yang melibatkannya, dipanggil raja untuk kembali mengisi posisi Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Memang, tidak ada yang secerdas dan secakap dirinya dalam memimpin bidang itu.


Hari itu, Jun berjalan gontai pulang dari istana ke rumah lamanya yang ada di pusat kota. Bosan sekali baginya libur nasional seperti itu.


"Kak Jun!"


Beberapa tahun belakangan ini, gadis itu selalu menganggu ketenangannya. Tiap hari dia akan menunggu Jun pulang, berbicara panjang lebar, atau sekedar menggodanya.


"Gadis ini lagi, gadis ini lagi," batinnya.


"Apa Kakak lelah? Sini biar aku bantu bawa buku-bukunya," tawar gadis itu bersemangat.


Sepertinya percuma untuk menolak. Gadis itu tidak pernah mengalah sama sekali. Akhirnya Jun menerima tawaran itu. "Ini, bawa semuanya." Jun memberikan semua tumpukan buku yang cukup banyak, hingga gadis itu hampir saja terjatuh karena keberatan.


Melihatnya Jun ingin segera membantu, tetapi gadis itu dengan percaya diri menolaknya. "Tidak usah. Ae-Ri bisa mengangkatnya sendiri. Ae-Ri kan gadis serba bisa." Gadis bertubuh mungil itu benar-benar membawakan seluruh barang-barang Jun dengan perasaan senang.


Jun tertawa gemas melihat tingkah lucu gadis agresif yang tergila-gila padanya itu. Sudah hampir 6 tahun gadis itu tidak pernah menyerah menunjukkan cintanya.


Gadis itu berjalan lebih dulu hingga sampai ke kediaman Jun. Nyonya Han duduk dan tertawa melihat tingkah gadis cantik dan imut itu. Dia memang berusia jauh lebih muda dari Jun, hingga dia terkesan manja dan masih kekanak-kanakan. Namun mereka tidak pernah tahu, seberapa dalam dan seriusnya gadis itu mencintai Jun. Setiap hari dia akan datang ke rumah Jun, dan menghabiskan waktu bersama Nyonya Han hingga mereka menjadi sangat akrab.


"Nyonya Han!" Ae-Ri tergesa-gesa mendekati Nyonya Han. Dia meletakkan seluruh tumpukan buku itu di atas kursi bambu yang ada di halaman kediaman Jun.


Dia lantas mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa. Dia memberikan benda itu kepada Nyonya Han. "Apa ini?" tanya Nyonya Han. Jun yang duduk di sana hanya melirik sedikit. Seperti biasa, dia sangat jual mahal pada Ae-Ri meski sudah bisa melupakan Youra.

__ADS_1


"Ini Binyeo (Tusuk konde) milik mendiang ibuku," jawab Ae-Ri. Nyonya Han kebingungan, "Kenapa diberikan kepada orang lain?" tanya Nyonya Han.


Ae-Ri tersenyum, meski wajahnya terlihat bersedih. "Besok aku akan pergi, dan mungkin tidak akan kembali ke kota ini."


Perkataan Ae-Ri membuat Jun langsung menoleh padanya yang sedang berbincang dengan Nyonya Han.


"Pergi?" tanya Nyonya Han menaruh sedih. Bagaimana tidak sedih, gadis itulah satu-satunya orang yang selalu menemani rasa sepinya. Dia baik dan rajin. Dia pandai masak, dan selalu menghibur Nyonya Han dengan tingkah lucunya.


"Iya. Besok aku akan pergi dari kota ini. Untuk itu, aku datang kemari ingin bertemu sekaligus berpamitan dengan Nyonya dan Kak Jun. Oh iya, aku juga punya kenang-kenangan untuk Kak Jun."


Ae-Ri mengeluarkan beberapa kertas kuning emas cantik berukuran sedang. Ada sekitar 6-10 lembar kertas. Dia mendekat pada Jun yang pura-pura tidak tahu.


"Kak Jun! Aku punya hadiah!" semangatnya.


"Ini dia!" Ae-Ri meletakkan kertas cantik itu di sebelah Jun. "Ini kertas mahal yang Ayahku dapatkan saat mengantar para wisatawan kembali ke dermaga. Aku memintanya beberapa lembar untuk Kak Jun. Kak Jun suka menulis dan membaca, jadi pasti butuh kertas yang banyak."


"Oh begitu ya. Baiklah, terimakasih." Jun meraih kertas itu dan berpura-pura cuek saja.


"Aiss! Cuek sekali!" kesal Ae-Ri. Dia beranjak, mulai merapikan tas dan bawaannya.


"Ae-Ri ... tidak bisakah, kau tinggal?" tanya Nyonya Han menahan tangan Ae-Ri. "Aku harus ikut dengan Ayah, Nyonya. Aku sendirian di sini. Sudah lama, aku menunda pernikahan. Ayah sepertinya mulai khawatir padaku." Ae-Ri sedikit tertawa. "Dia akan menjodohkanku dengan seorang pejabat daerah di sana katanya," tambahnya.


Jun kembali menoleh. Mulai menyipitkan mata.


"Bukankah katamu, kau ingin jadi menantuku?" tanya Nyonya Han. Wajah Ae-Ri berubah muram. "Aku memang ingin menjadi menantu Nyonya. Tapi ... sepertinya itu tidak mungkin. Kak Jun tidak menyukaiku. Ayah sudah marah, karena aku terus menunggunya." Ae-Ri menggenggam tangan Nyonya Han. "Semoga Nyonya bisa mendapatkan menantu yang cantik dan baik." Ae-Ri memeluk Nyonya Han.

__ADS_1


"Nona, Tuan sudah menunggu Anda. Bergegaslah!" teriakan pelayan Ae-Ri menambah kesedihan hari itu.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Nyonya. Jagalah diri Anda dengan baik." Ae-Ri mendekat pada Jun. "Kak Jun, Ae-Ri pamit dulu ya. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Eh, tapi aku janji akan mengirimkan undangan jika nanti aku menikah. Kakak juga begitu ya? Jangan lupa." Ae-Ri tersenyum ceria di depan mereka semua. Pergi berlari seperti biasa dengan tingkah lucunya.


Meski sebenarnya ... dia tidak pernah benar-benar bahagia. Dia meninggalkan kediaman Jun dengan air mata.


Tiba-tiba,


"Hei anak kecil! Kau meninggalkan sesuatu!" teriak Jun dari kejauhan.


"Eh?" Ae-Ri spontan berlari kembali ke kediaman Jun.


"Ae-Ri meninggalkan sesuatu?" tanya Ae-Ri pada Jun. Jun mengangguk. "Ya, kau meninggalkan barang berharga," balasnya.


Ae-Ri memutar matanya ke segala sisi, termasuk pada Nyonya Han. "Apa? Di mana?" tanya Ae-Ri terburu.


"Aku," jawab Jun.


Ae-Ri termangu. Dia menatap Jun yang berjalan mendekat padanya. "Bagaimana kau bisa menikah, jika meninggalkan mempelai prianya di sini?"


Mata Ae-Ri membola penuh binar. Matanya berkaca-kaca lantaran sangat bahagia sudah berhasil menyentuh hati Jun yang selama ini telah membeku. Nyonya Han tak menyangka Jun mengatakan itu, hingga dia ikut bersyukur.


Tak perlu pikir panjang bagi Ae-Ri untuk menarik tangan Jun berlari bersamanya bertemu sang ayah. Jun terkejut, tetapi akhirnya tersenyum bahagia setelah menatap tangan mungil yang penuh semangat itu menangis sambil tertawa.


***

__ADS_1


__ADS_2