Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
END (TAMAT)


__ADS_3

Hari ini seperti biasa, tak ada yang menarik bagi Pangeran Hon sama sekali sejak kosongnya kegiatan yang harus dia lakukan.


"Dia pikir aku tidak bisa dapat istri apa? Aku pasti bisa dapat yang lebih dari sekedar ratu negeri ini." Pangeran Hon menggerutu sepanjang jalannya kembali ke kediaman.


(Dua jam sebelumnya)


Di dalam bilik raja, dia menatap datar sang kakak yang sedang tertawa tampak seolah mengolok-olok dirinya yang belum juga menikah.


"Hon, jika ada seorang gadis yang membuatmu tertarik katakanlah padaku. Maka aku akan menikahkanmu dengannya." Raja menuangkan teh bunga ke dalam porselin. Nada menenangkan dari cangkir menjadi musik pertama yang mereka dengar di pagi hari. "Bahkan jika gadis itu tidak menginginkanmu, aku tetap akan membantumu membuatnya sangat menginginkanmu." Raja menyeduh teh hangat itu setelahnya. "Tapi jika kau tidak memilikinya, aku akan menjodohkanmu dengan gadis terbaik," tambah raja.


"Memangnya Kakak pikir tidak ada yang tertarik padaku? Ada lebih dari 200 wanita di negeri ini yang menginginkanku. Siapa yang tidak mau pada seorang pangeran tampan sepertiku? Kurasa hanya gadis bodoh yang tidak menginginkanku." Dengan bangganya, Pangeran Hon sangat angkuh saat menyeduh teh hangat meski dia merasa itu cukup panas di mulutnya.


"Kalau memang begitu, katakan padaku siapa gadis beruntung itu?" Pertanyaan raja membuat Pangeran Hon terpojok. Sampai saat ini, beliau tidak pernah punya kekasih.


"Ayah!" Pangeran Yang Myung, putra raja satu-satunya yang baru saja datang langsung melabuhkan diri di pangkuan sang ayah hingga ayahnya tersedak sampai ke hidung.


Uhuk!


Uhuk!


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Pangeran Hon sembari mengulurkan sapu tangan. Pangeran kecil menatap polos sang ayah. "Ayah kenapa?" tanyanya bingung padahal karena ulahnya sendiri.


"Ayah tidak apa-apa," jawab raja tersenyum dengan wajah memerah. Pasti sakit tersedak seperti itu.


Pangeran Hon menghela napas. "Yang Mulia, ini pasti akibat karena Anda sudah mengejekku." Pangeran Hon malah tertawa cekikikan kemudian.


******


Pangeran Hon menendeng seluruh kerikil yang menghalangi jalannya pulang sambil menggerutu panjang. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita berlari dari kejauhan tampak tergesa-gesa hingga akhirnya, secara tidak sengaja ia menabrak Pangeran Hon. "Tuan tolong selamatkan aku." Wanita itu menggosok-gosok kedua telapak tangannya di depan Pangeran Hon.


Pangeran Hon mengernyitkan dahi. "Ha?" tanyanya bingung.


"Hei!!! Jangan berlari Nona Muda!!!"


Teriakan para lelaki berseragam mulai berhasil menjangkau keberadaan wanita itu. Tanpa pikir panjang, wanita itu menarik tangan Pangeran Hon, dan mengajaknya bersembunyi bersama. Wanita aneh itu, malah menahan Pangeran Hon bersembunyi bersamanya sampai orang-orang itu pergi dari sana.


"Berani sekali kau menyentuh tanganku?!" lugas Pangeran Hon tak percaya ada seorang wanita yang berani memegang tangannya.


Wanita itu seolah tak peduli. Dia masih saja mengintip keluar untuk memastikan keadaan.


"Ssstt! Diamlah." Gadis itu memaksa Pangeran Hon untuk diam.


"Sebenarnya siapa yang kau lihat, ha?!" Pangeran Hon ikut-ikutan mengintip. Terbelalak seketika saat melihat beberapa orang petugas istana.



"Mereka ... ."


"Mereka akan menyeretku ke istana untuk menikah dengan Pangeran Hon. Ini semua karena Ayah. Memangnya kenapa kalau tidak menikah? Pria itu menyebalkan dan membuatku susah. Bagaimana kalau ternyata Pangeran Hon itu mesum, berwajah jelek dan banyak larangan sehingga aku tidak dapat lagi bertemu dengan teman-temanku di ujung desa? Aiss, dia pasti memang jelek dan mesum. Buktinya sampai sekarang dia belum menikah dan malah membuatku kesusahan." Wanita itu menggerutu sendiri, tanpa memandang siapa yang sudah dia libatkan dalam masalahnya. Pangeran Hon akhirnya menarik tangan gadis itu untuk bersembunyi lebih dalam.


"Mesum dan berwajah jelek katamu?"


Gadis itu tersentak. Dia terkunci di tempatnya beberapa lama, sebelum akhirnya membalikkan badan. Mata bulatnya semakin membesar. Lengkap dengan binar-binar cantik di sana, gadis itu terpana oleh pesona tampan Pangeran Hon yang sama sekali tidak dia kenali.


"Wah, tampan sekali."


Gadis itu memandangi penampilan Pangeran Hon yang dilengkapi jubah mewah khas anggota kerajaan. Dan akhirnya tersudutkan saat matanya tak sengaja melihat sebuah lencana menempel di sabuk sang pangeran.


"P - A - N - G - E - R - A - N H - O - N"


Mulutnya tak sengaja mengeja keras nama lelaki yang saat itu berdiri di dekatnya.


"A-Anda ... Anda ... ."

__ADS_1


"Mampus aku!" batinnya.


"Oyy!!!" teriak salah seorang pria yang menyadari kehadiran mereka.


"Siapa kau yang berani membawa Nona Muda pergi?" tanya salah seorang petugas pada Pangeran Hon.


Pangeran Hon menoleh pada gadis yang masih terpana padanya. "Aku Pangeran Hon," jawabnya. Sontak semua orang yang ada di sana membungkuk hormat seraya mengucapkan maaf padanya. Tak lama setelah itu, mereka semua bubar dan pergi.


Pangeran Hon kembali menatap gadis itu. "Kau harus berterimakasih pada pria yang sudah kau hina-hina ini. Setelah lancang menarik tanganku, kau malah menghinaku setelah melibatkan aku dalam masalah. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau sudah berhutang padaku." Pangeran Hon merapikan pakaiannya. Dia kebingungan saat melihat gadis kecil yang sedang mendongak tak henti memandangnya. Pangeran Hon menundukkan tubuhnya untuk kembali melihat keluar sana.


"Kau kira aku mau menikah denganmu? Aku tidak.... ."


CUP!



Wanita aneh itu tiba-tiba saja mendaratkan bibir tepat di pipi sang pangeran.


"Maafkan aku, Yang Mulia."


Gadis itu berlari begitu saja meninggalkan Pangeran Hon yang masih terpaku. Jantungnya berdebar bahkan hingga membuatnya kebingungan.


"Berani sekali gadis lancang itu, men-menciumku." Dia menyapu bekas basah yang masih terasa di pipinya dengan sebuah sapu tangan.


Dia menatap sapu tangan itu, sembari tersenyum tipis. "Lumayan juga," gumamnya sebelum akhirnya kembali menatap ke ujung jalanan.


***


"Aw!" Jung Hwa, putra tunggal Putri Shin dan Jung Hyun terhenyak di atas tanah saat bermain dengan Pangeran Yang Myung.


Youra lantas mengejar putranya. "Apa yang kau lakukan? Kau mendorong saudaramu?" tanya Youra.


"Tidak Yang Mulia. Pangeran Yang Myung tidak sengaja mendorongku." Putra kecil Putri Shin membela Pangeran Yang Myung, meski dia sendiri sedang terisak. "Benarkah?" Youra mencubit pipi putranya. "Ayo minta maaf pada saudaramu," tambah Youra.


"Maafkan aku ya, Jung Hwa."


***


"Terimakasih, Yang Mulia. Anda sudah memanggilku, dan mengizinkan putraku untuk bermain bersama pangeran." Putri Shin membuka kembali percakapan mereka yang sempat terpotong.


"Kakak, Anda tidak boleh berterimakasih. Kita semua adalah keluarga," jawab Youra.


Belum lama mereka kembali berbicara, teriakan dua putra yang sedang bermain menggoyahkan tawa kedua wnaita itu.


"Ayaah!!!" teriak para putra bersahut-sahutan, saat melihat ayah mereka keluar dari lapangan.


Dua putra itu berlari masing-masing kepada sang ayah. Raja lantas menggendong Pangeran Yang Myung, dan Jung Hyun juga menggendong putranya. Mereka berjalan ke arah istri mereka untuk ikut berkumpul.


***


Raja duduk di sebelah Youra, sementara Jung Hyun duduk di sebelah Putri Shin.


"Kakak, kau sedang hamil?" tanya raja membuat semua mereka tersedak.


"Yang Mulia, Anda baru saja tiba sudah bertanya seperti itu." Youra menahan tawanya seketika.


"Kakak terlihat makin cantik dan makin gendut sejak menikah dengan Jung Hyun." Raja menatap Jung Hyun setelahnya. "Kau sangat beruntung mendapatkan kakakku," tambah raja pada Jung Hyun.


"Jadi maksudmu ... dulu aku jelek dan kurus? Begitu?" Putri Shin seolah tak terima. "Bukan, bukan begitu." Raja terlalu polos untuk diajak bercanda. Wajahnya selalu datar dan serius.


"Yang Mulia." Jung Hyun mengulurkan sebuah surat kepada raja. "Ini dari Pangeran Yul. Dia mengirimkan surat untuk Anda."


Raja menarik surat itu tidak sabar dan mulai membacanya.

__ADS_1


Yang Mulia, Saudaraku.


Bagaimana kabarmu dan keluargamu? Kuharap kalian semua dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Pasti sekarang, putramu tumbuh menjadi pangeran kecil yang tampan dan berbakat sepertimu.


Hyeon, maaf karena aku baru mengirimkanmu surat setelah sekian lama pergi. Hari ini aku ingin membagikan kabar membahagiakan. Istriku, Ara telah melahirkan putri kedua kami. Dia sangat cantik dan imut. Setelah kuperhatikan dia mirip sekali dengan kakak kita, Putri Shin. Oh iya, aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan cocok untukku di sini. Kau tidak perlu khawatir lagi soal kehidupanku. Kami sangat bahagia dan berkecukupan di sini. Tentu saja, itu semua berkat dirimu yang masih bermurah hati.


Aku harap kalian tidak akan melupakan kami. Aku berjanji akan datang suatu hari nanti ke ibukota untuk bertemu denganmu. Aku harap, kau tidak akan membenciku. Yah, meski aku tahu kau tidak akan membenciku, tapi ... aku hanya takut kau akan membenciku.


Tolong sampaikan salam dariku untuk semuanya. Dan salam dari istriku untuk Yang Mulia Ratu. Ara sangat merindukannya, dan berharap akan bertemu kembali dengannya suatu hari nanti.


Hyeon, aku menunggu balasanmu. Jika kau tidak membalasnya, maka aku akan menuntutmu setelah mati. Hehehe.


Salam hangat,


Pangeran Yul dan keluarga.


Raja menyeka air matanya dengan rasa bahagia. Sangst bersyukur baginya, meski sudah terpisah oleh ruang dan waktu karena keadaan pilu beberapa tahun silam, kini akhirnya mereka bisa kembali berbaikan meski tak lagi bersama.


Dayang Nari dan Kasim Cho yang berdiri di sudut ruangan menangis haru melihat kebahagiaan tuan mereka setelah sekian lama menderita. Mereka berdua tersenyum bangga karena bisa mendampingi kedua orang paling berpengaruh di negeri itu selama ini.


Saat semuanya sedang menangis haru, tiba-tiba seseorang mengubah suasana.


"Hei Youra! Mengapa kau membuang semua coklat yang kuberikan pada Pangeran Yang Myung?!" teriakan Lee Young dari kejauhan memecah suasana haru menjadi lebih lucu. Baru saja dia datang, Pangeran Yang Myung sudah mengadu padanya.


Nana yang saat itu sedang ikut berjalan di belakang suaminya, hanya bisa menyembunyikan tawa melihat kelakuan suaminya. Lee Young mendekat pada mereka sembari menggenggam erat tangan Nana, hingga gadis itu tersipu malu dan merona.


Lee Young lantas melepaskan genggamannya, tatkala melihat mata raja berkaca-kaca. "Youra, apalagi yang kau lakukan pada suamimu? Kau membuatnya bersedih lagi."


"Yang Mulia, apa adikku kembali melakukan kesalahan?" tanya Young tak tahu apa-apa. Memang selama ini, tak ada yang berani memarahi Youra termasuk suaminya sendiri. Itu karena dia menjadi lebih galak dan sensitif. Namun, Lee Young adalah satu-satunya orang yang berani menceramahinya selama hampir satu jam.


Jung Hyun dan Putri Shin menahan tawa mereka melihat raut wajah Youra yang tampak tidak terima. Youra menggeser duduknya dan menyandarkan kepalanya di pundak raja. "Aku ini wanita lembut dan berhati mulia. Aku mencintai suamiku, sangat. Memangnya seperti kakak, melepaskan genggaman dari Nana karena ingin marah-marah padaku? Isss."


"Tampaknya akan terjadi perang sebentar lagi," bisik Jung Hyun pada Putri Shin, hingga Putri Shin tertawa sendiri. Mereka saling berpegangan tangan dan duduk berdekatan.


Lee Young menatap semua pasangan yang terlihat mesra. Dia menoleh pada Nana yang masih tersipu malu di belakang tubuhnya. "Tidak ingin seperti mereka juga?" tanya Lee Young.


Nana seketika cemberut. Wajahnya urung karena sang suami tidak romantis sama sekali. Namun tiba-tiba Lee Young menggendong Nana dan membawanya turun dari beranda.


"Aku pamit undur diri dulu, Yang Mulia." Lee Young yang baru saja tiba, langsung pergi dari sana.


"Kenapa dia cepat sekali pergi?" tanya raja.


"Itu karena dia malu berlaku manja pada istrinya di depan kita semua," jawab Youra.


Semua orang lantas tertawa serentak.


***


Ada bunga yang bersembunyi di sela dedaunan hijau. Meski semerbak wanginya menerobos masuk hingga menyapa hidung, tak ada yang pernah tertarik sama sekali karena dia tak terlihat. Mereka hanya akan tertarik pada bunga indah yang menggoda di depan mata.


Sama halnya seperti kehidupan. Terkadang orang-orang hanya ingin menilai apa yang terlihat. Dan menilai apa yang ada di depan mata mereka tanpa tahu apa-apa. Terkadang pula, orang-orang hanya ingin memuja yang terlihat luar biasa di depan sana, tanpa tahu ... ada keindahan yang jauh lebih baik dari sekedar bunga yang tampak indah di mata. Ada keindahan yang jauh lebih baik, yang mungkin saja berasal dari apa yang telah mereka hina dan rendahkan.


****


Cinta dan kebencian, mereka adalah satu. Namun, tidak semua cinta berasal dari kebencian, tetapi kebencian selalu berawal dari cinta.


Aku memang membencinya sejak awal. Aku tidak pernah menyukainya sama sekali. Bagaimana mungkin perasaan benci ini berasal dari cinta?


Gampang saja. Saat kita melihat seseorang, tak ada kesan apapun yang datang menyelip masuk ke dalam hati, kecuali kita yang mulai memperhatikan. Perhatian itu terus saja berlabuh padanya, bersarang, menyekat, semakin hari semakin kita perhatikan. Tatkala saat menjumpai sebuah kekurangan, hati yang awalnya kosong dan hampa tiba-tiba saja berubah jadi kebencian. Tapi tahukah kamu, bahwa saat kamu memperhatikan seseorang, saat kamu mulai menghitung-hitung seluruh gerak geriknya, seratus kalipun kamu menolak, semuanya tetap adalah CINTA. Sebuah kesukaan, hobi dan kebiasaan, tetap adalah CINTA.


Namun, bagaimana jika membenci tanpa memulai apa-apa? Baru saja melihatnya sudah langsung membenci.


Itu juga gampang saja. Selain hati yang telah rusak, tak ada lagi yang dapat mewakili.

__ADS_1


...-TAMAT-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2