
Youra menghela napas dengan kasar, melihat apa yang muncul setelah pintu itu dibuka. Sangat tak terduga, Putra Mahkota yang tidak pernah mengunjungi ratu itu akhirnya datang tiba-tiba. Melangkahkan kakinya setelah pintu itu terbuka. Mendapati sang istri yang sedang kesakitan menahan panas di tangannya.
Ratu dengan liciknya mendekati Youra. Berpura-pura ramah. Berpura-pura perhatian. Menarik tangan Youra, menggenggam di sisinya, mengelus tangan yang hampir saja dihancurkannya itu.
"Yang Mulia, lihatlah istrimu ini. Dia menjatuhkan teh hangat, tetapi dengan rendah hati menolak untuk kubantu," ratu mengelak.
Rendah hati? Cih! Bahkan jika kau bukan ratu, aku akan segera menghabisimu.
Putra Mahkota berdiri di pintu bilik itu, diam saja, tak melakukan apapun. Segera setelahnya ratu dan Youra berdiri, memberikan sambutan hormat pada Putra Mahkota. Youra terus saja menundukkan wajahnya, terus menggenggam tangannya yang kesakitan. Putra Mahkota melangkah di hadapan ratu, lalu duduk bersimpuh di sebelah Youra. Jarak itu sangat dekat. Ya, pria itu adalah suaminya dan berhak duduk dimana saja, Youra tak bisa mengusirnya, dan tak dapat memperlihatkan kebencian itu di depan banyak orang. Youra hanya bisa membatu, setelah berulang kali melupakan kejadian semalam.
**
Tercengang, semua orang yang ada disana dibuat tercengang. Tanpa pikir panjang, Putra Mahkota yang baru saja duduk itu langsung menarik tangan Youra yang kesakitan dengan paksa. Dia menggenggam tangan mungil itu, tanpa memandang wajah istrinya.
"Bawakan air dingin," perintah Putra Mahkota pada seorang pelayan. Segera pelayan itu kembali setelah membawakan wadah berisi air pada Putra Mahkota. Dia tak memandang wajah istrinya atau ratu, dan terus saja membiarkan tangan mungil itu dalam genggamannya. Jantung yang berdetak sangat kencang, membuat tangan Youra mungkin saja pucat dan kedinginan. Tapi genggaman hangat sang suami membuatnya berulang kali menahan diri. Dia berusaha melepaskan genggaman sang suami, tetapi tak mungkin baginya menang. Tangan itu sangat kokoh menyentuhnya.
Lirikan ratu berlabuh pada kedua tangan yang menyatu itu, lalu menoleh pada Youra. Putra Mahkota menarik tangan sang istri lebih dekat, setelah itu bersama tangannya, ia membawa tangan sang istri masuk ke dalam wadah berisi air dingin itu.
"Berikan dia perawatan dan kesembuhan secepatnya," kembali sang Putra Mahkota memberikan perintah pada para pelayan.
"Baik Yang Mulia."
Entah kenapa, jantung Youra berdebar semakin tak menentu. Ini bukan cinta, tapi rasa canggung yang berlebih. Aneh saja, setelah kejadian tadi malam dia malah tetap bersikap manis pada Youra.
Ibu Ratu yang menyaksikan sikap manis itu, terbelalak tak percaya. Setelahnya ia bertepuk tangan tak tahu mengapa. "Bukankah ini sangat hebat? Putra Mahkota akhirnya datang menemui ibunya," sapa ratu berpura-pura ramah.
__ADS_1
Putra Mahkota terus saja menatap ibunya, tanpa memandang Youra sama sekali. "Aku datang hanya untuk meminta doamu, agar aku dan istriku bisa selamanya bersama," jawab Putra Mahkota yakin.
Selamanya? Tidak akan.
Putra Mahkota melepaskan genggaman itu, setelah selesai menyapu sisa-sisa air yang menempel di tangan mungil sang istri. Ratu berkedip beberapa kali. Setelahnya dia tertawa terbahak-bahak, mengejutkan Youra dan para pelayan.
"Benar-benar hebat. Menantuku bahkan bisa mengubah putraku dalam semalam." Ratu terus menggelengkan kepalanya, sembari menuangkan teh untuk Putra Mahkota.
"Apa yang telah kau lakukan padanya semalaman? Bukankah semalam adalah malam pertama kalian?" tanya ratu. Tatapan itu terus saja ditujukan ratu pada menantunya, sambil menggigit sepotong kue beras manis. Dia berusaha memancing, mungkin karena mendengar kabar burung soal malam pertama yang hancur itu.
Youra meremas gaunnya. Pertanyaan itu tidak mampu dijawabnya. Mulutnya seolah terkunci rapat, membuatnya tak bisa berbicara, bahkan untuk sekedar mengelak. Dia pelan-pelan menoleh pada suaminya, dengan perasaan yang entahlah. Tiba-tiba,
"Aku rasa, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku undur diri, membawa istriku untuk menemui raja." Putra Mahkota berdiri, diikuti Youra setelahnya. Sang suami tak sedikitpun menoleh pada Youra. Dia keluar begitu saja setelah selesai memberikan salam pada ibunya.
Para pelayan membuka jalan, membiarkan Putra Mahkota bersama istrinya untuk lewat terlebih dahulu. Kini Youra berdiri di belakang tubuh gagah sang suami. Masih saja, dengan aroma wangi dan hawa hangat yang menyertainya.
Mereka terus saja melangkah, tanpa saling berbicara sama sekali. Para pelayan yang mendengar kabar buruk tentang malam pertama mereka, saling mendekat. Berbisik pelan menuangkan pandangan buruk mereka.
“Tidakkah kalian mendengar bahwa Putra Mahkota berteriak di kediamannya? Bukankah malam itu malam pertama mereka? Apa yang terjadi ya?” bisik para pelayan coba menerka-nerka.
**
Saat itu, angin berhembus lembut menemani langkah Youra dan Putra Mahkota. Tubuh gagah itu terus saja melangkah, membiarkan sang istri terus di belakang tubuhnya, tanpa menoleh sama sekali.
Dia terus saja berjalan.
__ADS_1
Tiba-tiba Putra Mahkota menghentikan langkahnya, jauh di depan pintu gerbang istana utama. Melihatnya, Youra terkejut dan ikut berhenti seketika. Pikiran itu terus saja menembus kepada kemungkinan terburuk. Benar, Putra Mahkota membalikkan tubuhnya, segera menatap Youra. Cukup lama, mata indah dan menusuk itu terus saja menatap Youra yang tertunduk canggung.
“Gandeng tanganku.” Perkataan sang suami membuyarkan pikiran Youra yang berkecamuk. Dia tetap mempertahankan diri untuk menjunjung ego itu. Tak boleh menatap wajah suaminya, itu saja.
“Aku bilang, gandeng tanganku,” kata Putra Mahkota sekali lagi.
“Tidak akan,” jawab Youra lantang. Segera ia berjalan melewati sang suami dengan percaya diri, tapi..
SREETT!!
Putra Mahkota menarik tangan Youra, membawa tubuh mungil itu masuk dalam dekapannya. Para pelayannya sangat terkejut, segera mereka memalingkan muka untuk tak melihat momen manis itu. Tangan kekar itu menarik tubuh Youra lebih dekat, segera melingkarkannya di punggung sang istri. Youra berusaha mendorong tubuh itu untuk tak semakin dekat dengannya. “Lepaskan Aku!” bentak Youra berusaha lepas.
Putra Mahkota yang terus saja menundukkan pandangannya pada sang istri, tak kenal kalah. Kini jarak mereka sudah tak ada, Putra Mahkota menahan tubuh mungil itu dalam pelukannya. Mereka saling berhadapan, dengan tangan kanan Putra Mahkota yang melingkar kokoh di belakang tubuhnya.
“Aku bilang gandeng tanganku!” paksa Putra Mahkota. Youra yang tak berani menatap mata suaminya terus saja melotot ke depan. Napasnya sesak, ingin sekali rasanya untuk mendorong tubuh suaminya itu. Jun, kekasih yang sangat dia cintai bahkan tidak pernah memaksanya untuk melakukan hal menjijikkan itu, membuat kemarahan itu meraup seluruh isi otaknya.
Bren*sek!!
Youra melepaskan napasnya pelan. Meliriklah dia sedikit ke arah lain di luar pelukan sang suami. Melihat ada banyak pelayan disana, memaksa Youra untuk bersikap hormat dan patuh. Youra meraih tangan kekar yang melingkar di pinggangnya dengan manis.
Putra Mahkota tampak sangat pasrah ketika tangan itu menyentuhnya. Sentuhan itu tampak langsung menyudahi kemarahannya, ia seketika menjadi sangat tenang. Segera Youra membawa lengan itu masuk dalam genggamannya. Terpaksa, hanya sampai di depan raja saja.
Menjijikkan! Jika bukan karena dendam, tak sudi bagiku bersentuhan denganmu!
Sangat damai, Putra Mahkota terus saja menatap tangan mungil yang kini sedang menggandengnya.
__ADS_1