Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Siapa pemuda itu?


__ADS_3

Pertemuan Jun dan Putra Mahkota mencuri perhatian Kasim Cho yang berjaga. Melihat dan menduga, ada sesuatu yang membuatnya semakin curiga. Jun adalah guru yang diangkat langsung oleh raja dan sekarang diangkat sebagai Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atas perintah Putra Mahkota. Namun, tampaknya semua tak berjalan dengan mulus dan mudah. Tatapan itu, menyebrangi lautan kebencian yang dalam. Guru Jun, sangat jelas membenci Putra Mahkota.


Kasim Cho mendekat sesaat setelah Jun pergi dari istana sang pewaris tahta. "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Kasim Cho. Putra Mahkota termangu, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Putra Mahkota keluar untuk berdiri di balkon istananya. Tegak disana memandang istana permaisurinya. Wajah Putra Mahkota yang pucat memunculkan sudut-sudut senyum yang manis. Begitu bersemangat dan menjadi lebih sehat. Tak peduli Jun mengatakan apa tadi, yang jelas dia begitu bahagia hari itu.


"Kasim Cho," panggil Putra Mahkota sambil tersenyum. Kasim Cho mendekat, "Ya, Yang Mulia?" Kasim Cho merespon dengan sangat gembira. "Kirimkan seluruh bunga tercantik ke kediaman permaisuriku." Dengan semangat Kasim Cho berlari keluar untuk memenuhi perintah.


***


Youra yang baru saja tiba dalam biliknya, duduk di tepi ranjang. Melamun sangat lama sembari menyentuh dadanya.


Apa ini?


Begitu sesak baginya untuk menerima semuanya kenyataan yang terjadi. Hingga air mata yang membanjiri pelupuk itu tumpah sendiri. Tangisnya makin mencuat tatkala mengingat apa yang sudah dia lalui. Semakin lama semakin bersedih. Youra memukul dadanya berkali-kali, hingga Dayang Nari menjadi sangat khawatir.


"Yang Mulia, hamba mohon jangan menangis lagi." Dayang Nari menatap wajah cantik itu, ikut menangis. Dia kesal kepada sikap Youra yang egois, tetapi sangat iba melihatnya terombang-ambing. Siapa yang tidak sakit jika harus kehilangan semua keluarga dengan cara yang paling tidak adil? Anak bungsu satu-satunya, tertinggal dan masuk ke kandang musuh sendirian. Tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa saudara dan keluarga. Mereka lebih mengutamakan tahta daripada cinta. Berlomba-lomba melewati misi itu dengan cara yang salah. Kenyataan memang selalu berbeda. Tak semuanya indah dan sama.


Youra merangkak di atas ranjangnya. Meraba-raba alas ranjang itu untuk mencari sesuatu dengan berlinangan air mata. Di bawah tumpukan kapuk lembut itu dia meraih sebuah batu berharga, lencana milik sang pewaris tahta. Tanda pengenal sekaligus lambang pangkat sang suami yang sah secara hukum membuatnya ingin sekali berteriak.


"Dayang Nari, sebenarnya siapa dia?" tanya Youra putus asa. Dia bersandar di atas ranjang, menggenggam erat lencana milik suaminya. "Dia memaksaku menjadi permaisurinya, apa itu karena merasa bersalah?" lirih Youra setelahnya.


"Aku sangat membencinya," tambah Youra kembali terisak. Dayang Nari tak bisa berkata-kata. Youra tak pernah bercerita tentang mengapa dia selalu bersedih. Hanya saja, kemampuan bisa meramal yang dimilikinya, membantunya untuk mengerti keadaan.


"Dayang Nari, apa Guru Jun sudah pulang dari istana Putra Mahkota?" tanya Youra sembari menghapus air matanya. Dayang Nari mengangguk, menunjukkan bahwa Jun sudah kembali sejak tadi. Youra bernapas lega. Takut terjadi sesuatu yang buruk. Entah takut terjadi sesuatu yang buruk pada Jun, atau mungkin pada suaminya, Putra Mahkota. Yang jelas, untuk saat itu dia sedikit tenang.

__ADS_1


Kejadian pagi itu membayangi Youra kemana-mana. Sulit baginya untuk diam sebentar. Putra Mahkota memperlakukan dan membelainya mesra lagi lembut. Terkadang membuat Youra tersenyum tipis. Wajah tampan, dengan tatapan menggoda yang kharismatik tak pernah bisa Youra lupakan. Seluruh perkataan Putra Mahkota sangat manis dan romantis. Namun, ada hal yang menggantung di hati Youra. Perasaan tidak nyaman yang entah kenapa. Merasa bersalah pada Jun, atau merasa bersalah karena tidak membalas belaian lembut suaminya dan hanya terpaku. Berkali-kali Yorua mencoba untuk memikirkan apa yang membuat hatinya tidak nyaman, tetapi hingga malam menjelangpun ia tak tahu mengapa.


***


Malam gelap yang sangat tidak terduga. Jung Hyun dan Jun bertemu di sebuah kedai elit tak jauh dari istana. Wewangian arak dan aroma tubuh wanita menghiasi pertemuan mereka. Banyak pejabat dan bangsawan yang bertemu kumpul di tempat itu. Mereka, Jung Hyun dan Jun berpandangan cukup lama hingga menjadi aneh ketika Jun mulai tertawa terbahak-bahak. Dia berjalan ke arah Jung Hyun sempoyongan. Benar, tampaknya Jun mabuk berat. "Hei, mengapa kau ada di tempat ini?" tanya Jun sangat arogan.


Jung Hyun mengernyitkan dahi. Pemandangan langka yang mungkin tidak pernah terjadi sebelumnya. "Seharusnya, aku yang bertanya. Sebagai orang besar yang sangat dihormati, mengapa Anda ada di tempat seperti ini?" balas Jung Hyun tak menyangka.


Jun kembali tertawa. Kali ini lebih tidak masuk akal lagi. Wajah kharismatiknya tidak seperti biasa. Pria berwawasan tinggi itu tampaknya habis menangis. Jun sendirian, meminum arak tanpa seorang wanitapun yang diperbolehkannya untuk mendekat. "Aku ini manusia. Aku bisa berjalan kemana saja sesuka hatiku," jawab Jun lugas tanpa berpikir.


Jung Hyun menyentuh pundak Jun yang hampir saja tumbang. "Anda mabuk berat. Apa yang terjadi sehingga Anda jadi menyedihkan seperti ini, Tuan?" tanya Jung Hyun menaruh simpati.


"Kau, kau pengawal Si Bodoh dan pengecut itu kan? Hahaha! Bukankah kau datang juga untuk menyingkirkannya?" Jung Hyun terperanjat. Segera membekap mulut Jun dengan tangannya. Jung Hyun memeriksa seluruh keadaan di sekitar mereka. Membantu Jun untuk kembali ke kediaman.


Jun terhenyak ke tanah. Dia kelihatan begitu kacau dan menderita. "Jika kau ingin membunuhnya, mengapa tidak pernah kau lakukan?" tanya Jun setelah beberapa kali muntah.


Jung Hyun tak dapat menjawab. Kenyataan itu memang benar. Dia datang ke istana untuk membunuh Putra Mahkota. Namun, dia tak pernah bisa melakukannya. Semua rencana yang dia susun malah semakin kacau dan berantakan. Bukan karena Putri Shin, tapi karena hatinya terus saja menolak untuk mengkhianati sang pewaris tahta.


"Kau tahu ada berapa banyak kebahagiaan yang tercipta jika kau melakukannya?" tanya pemuda tak sadarkan diri itu. Jung Hyun ikut duduk di sebelah Jun, meneliti tiap sudut langit yang gelap. "Aku selalu ingin melakukannya, tetapi hatiku berkali-kali menolaknya. Terkadang aku berpikir, Putra Mahkota tidak seperti yang kita ketahui. Dia sangat hangat dan jujur." Jung Hyun mengeluarkan isi pikiran itu, mengingat Jun sedang mabuk dan tak mungkin mengenangnya.


"Pria terkutuk itu sudah merebut kekasihku." Jawaban Jun menggambarkan betapa sangat terluka dan menderitanya dia. Secara tidak langsung, Jung Hyun tercengang hebat. Terkesiap begitu lama tak menyangka. Dia menyentuh pundak Jun hampir saja tumbang di tanah. "Aa-apa?" tanya Jung Hyun meyakinkan.


Jun tertawa. Sempoyongan putus asa. "Dia hanya tidak tahu, istrinya akan segera membunuhnya," tambah Jun sekali lagi.

__ADS_1


Bola mata itu memperlebar jangkauannya. Meraih sudut-sudut pintu yang yang masih terbuka untuk memperbaiki kenyataan. Namun, semuanya malah merajam. Takdir dan kebencian yang menyadarkan Jung Hyun atas gengsi dan balas dendam. Dia tersentak, makin terhenyak duduk di atas tanah.


Menyadari kenyataan yang sangat mengerikan. Tidak hanya hampir seluruh penghuni istana, atau hanya seluruh rakyat. Bahkan, pengawal pribadi dan istrinya juga berniat untuk menyingkirkan. Jung Hyun terpaku, menyadari betapa malangnya nasib sang pewaris tahta. Saat ini, beliau hidup di bawah kebencian banyak orang. Dan hanya terus berpura-pura kuat.


Malam itu, setelah Jung Hyun mengantar Jun kembali ke kediaman. Ia bergegas menuju kediaman lama Youra untuk mencari fakta yang lebih akurat. Namun, saat dia berada di perjalanan, sesuatu yang tak terduga terjadi.


Brukkk!!


Jung Hyun yang panik berselisih dengan seseorang berpakaian serba hitam. Jung Hyun menabrak pemuda itu hingga hampir saja dia terjatuh. Pemuda yang bertubuh tinggi, menutupi wajahnya dengan kain hitam. Membawa beberapa anak panah di punggungnya. Topi caping menutupi kepala pemuda itu, memperlihatkan sedikit dahinya yang punya bekas luka. Jung Hyun yang awalnya biasa saja, terperanjat.


Menyadari betapa anehnya pakaian pemuda itu. Pemuda itu tampak terburu-buru pergi dari suatu tempat. Jung Hyun menengadah, menoleh pada sudut jalan yang menampilkan indahnya bangunan istana.


Ini tidak beres.


Jung Hyun berbalik cepat sebelum pemuda itu berlalu jauh.


"Tunggu!" teriak Jung Hyun sembari berlari mengejar. Pemuda itu hanya melirik sedikit lalu berlari cepat melompati beberapa pagar rumah warga, tak meninggalkan jejak. Sangat hebat, dan gesit.


...****************...


Note : Terimakasih kepada pembaca yang sudah rajin mampir, memberikan like, vote dan komen. Author senang dan bersyukur sekali. Maaf karena author tidak dapat membalas semua kebaikan kalian. Semoga semuanya panjang umur, sehat selalu, dan rezekinya berlimpah. Aamiin 💞💞💞.


Jujur, dukungan dari kakak semua para readers dan author novel kece lain yang rajin mampir adalah penyemangat author sendiri untuk meneruskan cerita yang tidak ada apa-apanya ini. Mohon maaf jika ceritanya kurang menarik. Namun, author harap kalian tetap datang untuk memberikan dukungan. Insyaa Allah Author akan memperbaiki jalan cerita dan melakukan perbaikan lainnya. Sekali lagi terima kasih semuanya. Tunggu episode menarik selanjutnya ya. 😊💞💞

__ADS_1


__ADS_2