
“Yang Mulia, kumohon berhentilah!” teriak salah seorang pelayan kepada Youra yang bergegas keluar meninggalkan istana. Youra terus saja menyeret gaun kumuhnya. Penyamaran yang sedang dilakukannya benar-benar berbahaya. Bermodalkan gaun salah seorang pelayan, Youra bergegas keluar dari istana menutup kepala dan wajahnya.
Dayang Nari dengan wajah cemasnya hanya bisa mengikuti langkah Youra yang terburu-buru keluar. “Kalian, jika ada yang bertanya dimana istri Putra Mahkota, katakan kepadanya bahwa Yang Mulia sedang tidak enak badan dan tidak bisa diganggu. Apa kalian mengerti?” Dayang Nari terpaksa meminta para pelayan untuk berbohong.
“Baik, Dayang Nari,” jawab mereka gugup. Segera Dayang Nari berlari mengejar Youra yang sudah berjalan menuju gerbang istana belakang, lewat bersama para pelayan lain agar tak ada yang curiga. Dibantu oleh salah seorang opsir, Youra akhirnya bisa keluar dari istana, melewati gerbang yang mengarah ke lapangan pacu kuda.
“Yang Mulia, Anda tidak bisa melakukan ini. Kumohon mari kembali ke istana,” bujuk Dayang Nari ketakutan. Youra tak mau tahu, ia hanya terus saja berjalan menarik tangan pelayannya itu ikut bersamanya. Sebelum akhirnya menjauh, Youra menoleh sebentar ke arah lapangan pacu kuda itu.
“Apa Putra Mahkota ada di tempat itu?” tanya Youra sambil menoleh ke arah lapangan pacu kuda. “Tidak Yang Mulia, saat ini Putra Mahkota sedang dalam pemulihan,” jawab Dayang Nari sedikit sesak. Youra tersenyum, kembali beranjak dengan semangat.
“Yang Mulia, Anda sebenarnya mau kemana?” tanya Dayang Nari celingak-celinguk ke segala sisi, takut penyamaran Youra terbongkar. Youra berhenti di depan sebuah toko obat tutup yang cukup jauh dari istana. Dia sedikit menjijit untuk mengintip ke dalam toko obat itu.
“Tunggulah disini. Ada yang harus aku lakukan,” pinta Youra pada Dayang Nari terburu-buru menyelinap masuk ke dalam toko obat itu. Tak bisa melakukan apapun, Dayang Nari terpaksa mematuhi perintah tuannya itu untuk menunggu. Dengan penuh kecurigaan Dayang Nari terus saja memperhatikan gerak-gerik Youra.
Disana, di dalam toko itu, Youra berhati-hati untuk tak menarik perhatian orang lain. Ada seorang pria bertubuh jangkung yang tampaknya sudah berumur keluar mengendap-endap bertemu Youra. “Nona, ini yang terbaik dari negeri seberang. Hanya satu tetes saja sudah bisa menghilangkan nyawa seseorang,” kata pria jangkung itu yakin.
Youra cepat-cepat meraih botol berisi cairan itu. Dia tak berhenti menoleh ke segala sisi, segera mengeluarkan keping-keping emas untuk membayarnya. Dayang Nari yang melihat itu mengucurkan keringat dingin, mencoba mengubur segala hal yang mengusik pikiran baiknya. Youra bergegas keluar, setelah menyimpan botol itu dalam kantungnya. Menghampiri Dayang Nari yang terbelalak ketakutan.
“Ayo,” ajak Youra segera melangkah cepat. Dayang Nari masih di tempat, meremas gaunnya dengan rasa kekhawatiran. “Yang Mulia…” panggilnya menghentikan langkah Youra.
“Aa-apa, transaksi apa, yang baru saja Anda lakukan?” tanya Dayang Nari terbata-bata.
Sebelum membalikkan badannya, Youra tersenyum tipis. Ia segera menoleh pada pelayannya itu, “Bukan apa-apa,” jawabnya santai.
__ADS_1
“Racun. Yang Mulia, siapa yang ingin Anda lenyapkan?” gumam sang dayang dengan jantung yang berdebar cukup kencang.
Youra terburu-buru berjalan dengan wajah tertutupnya, diikuti oleh Dayang Nari yang saat itu sedang bergulat dengan pikiran buruknya. Mereka berbelok, menuju kediaman Nana dan pamannya. Saat hendak melangkahkan kaki di kediaman Nana, tampak seorang pria tak asing sedang duduk disana, membawa beberapa macam bahan makanan.
“Kak Jun?” langkah Youra terhenti seketika, menapaki tempat yang menyakitkan untuknya. Setelah meninggalkan Jun tanpa berpamitan, kini mereka kembali bertemu dengan cara yang menyedihkan. Nana yang saat itu baru saja keluar dari kediaman sedang mengangkat goni beras kecil, terperanjat hingga goni itu jatuh dari tangannya.
“Nona Youra?” panggil Nana tak percaya. Segera setelahnya Jun yang terkejut berbalik ke belakang, mendapati kekasihnya itu sedang terdiam kaku di depan kediaman bersama pelayannya.
Nana spontan berlari, memeluk Youra yang hanya bisa meneteskan air mata. “Nona, bagaimana kabar Anda"’ tanya Nana menangis bahagia. Jun masih disana, segera menundukkan kepala dan pandangannya.
“Aku baik, bagaimana kabarmu dan paman?" balas Youra. “Aku dan paman baik-baik saja Nona,” jawab Nana. Nana menggenggam tangan Youra, dan menariknya untuk duduk di kursi halaman mereka.
Dayang Nari ikut mendekat, segera menoleh pada Jun yang saat itu hanya bisa diam di tempat. “Ini pelayan baruku, Dayang Nari,” Youra memperkenalkan sang pelayan pada Nana. “Tolong jaga Nona Youra baik-baik,” sapa Nana hangat. Dayang Nari hanya diam saja, hatinya berkecamuk. Melihat di tempat itu ada pria yang dicintai oleh majikannya, membuat pikiran itu lebih buruk dari biasanya.
“Senang bertemu Anda Yang Mulia, tapi mohon maaf, sebagai wanita istana tidak seharusnya Anda meninggalkan kediaman Anda.” Perkataan Jun yang sangat menyakitkan bagi Youra, menampar hebat hatinya. Sebelum Jun melangkah lebih jauh, Youra lekas memanggilnya.
“Kak Jun,” panggilnya lembut. Jun ingin berbalik, tetapi keyakinannya sangat kuat untuk tak menoleh sama sekali. Bagaimanapun juga, gadis itu sudah menjadi milik orang lain, dia tak boleh gegabah. Langkah itu terus saja diseret Jun hingga ke depan pagar kediaman.
“Aku tidak pernah berbohong, soal janjiku.” Perkataan Youra ini menciptakan magnet yang nyata bagi Jun. Sebelum pergi, ia akhirnya menoleh pada Youra, dan meninggalkan senyuman tipis sebagai tanda percaya.
Senyuman Jun, bagai hantaman batu yang keras bagi Dayang Nari. Di ujung tempat itu, ia langsung saja menatap lekat Jun dan Youra yang saat itu saling tersenyum.
“Itu cinta. Cinta yang berbahaya,” gumam Dayang Nari terjatuh lemah ke tanah.
__ADS_1
Youra melihat sang pelayan terjatuh, segera mendekati dan membantunya berdiri. “Dayangku, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya Youra khawatir. Dayang Nari yang jiwanya tertampar, menyentuh tangan Youra dan menatapnya lekat. “Yang Mulia, kita harus kembali ke istana. Hamba takut, Yang Mulia Putra Mahkota tahu, Anda kabur dari istana.” Tatapan Dayang Nari sangat meyakinkan.
“Nona, yang dikatakan Dayang Nari itu benar. kembalilah secepatnya ke istana,” tambah Nana. Youra segera memandang langit yang tiba-tiba saja berubah gelap. Ia menarik dalam napasnya, segera berlari dari kediaman Nana secepatnya untuk kembali. “Aku harus kembali, jagalah dirimu baik-baik,” pamit Youra.
**
Di lapangan pacu kuda, masih seperti sebelumnya, orang-orang masih dihebohkan soal Pangeran Yul yang berkali-kali menjadi pemenang. Pangeran Yul turun dari kudanya, segera memberikan hormat kepada para penonton. Saat itulah, tanpa disengaja, Pangeran Yul menoleh pada Ara yang sedang menatapnya. Pangeran Yul tersenyum, tak tahu pada siapa. Yang jelas, Ara ikut tersenyum karenanya.
“Ara, langit berubah gelap, ayo kita pulang,” sang ibu menarik tangan Ara hingga ia kembali terbangun dari khayalnya.
Ara berjalan bersama bayangan senyum sang pangeran, tak menyadari bahwa saat itu, dia dan Youra saling berselisish di jalan yang sama. Dan pada saat itu pula, seorang gadis yang sedang berlari pulang terhenti karenanya.
“Istri Putra Mahkota?”
Hong Jin-Yi, dia melihat Youra di luar istana.
**
Setelah berganti pakaian, Youra bergegas kembali ke kediamannya bersama para pelayan. Tak ada rasa takut atau perasaan merasa bersalah, Youra terus saja berjalan santai menuju kediamannya. Namun, langkah santai itu berbuah penasaran, saat mendapati ada banyak pelayan di depan biliknya yang sedang menunduk ketakutan. Youra mengernyitkan dahi, setelah melihat pintu biliknya terbuka. Ia cepat-cepat melangkah untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Hingga salah seorang dayang mendekatinya.
“Yy-yang, Yang Mulia, Ibu Ratu ada di dalam.”
DEG
__ADS_1