Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Bintang Yang Terang


__ADS_3

Jun menghela napas. Dia tersenyum meski saat ini orang-orang mulai menghujatnya. Tetap saja melanjutkan cerita hatinya.


"Saat itu, aku sangat bahagia karena akan segera melamarnya. Aku tidak bisa tidur sepanjang malam hanya karena memikirkan apa yang harus aku katakan saat hendak melamarnya. Tapi, aku melihat orang-orang berlarian menuju kaki gunung tempat dimana wanita yang kucintai tinggal, dan aku mengejarnya. Aku sangat bodoh bermain pedang." Jun menyeka air mata dan keringatnya.


"Aku kalah dan tumbang. Aku pingsan dan tersadar di dalam kediaman yang sangat kukenal setelah beberapa lama." Dia memejamkan mata, sebelum kembali membukanya.


HENING


"Aku ... jatuh cinta, pada ratu negeri ini."


APA?!


"Huuuuuuu!!!!!" Semua orang meneriaki Jun yang tidak tahu malu.


Pengakuan Jun benar-benar diluar dugaan. Perdana Menteri Han yang tersulut emosi hendak mendatangi putranya karena geram. Namun, dia berusaha keras untuk tidak melakukan tindakan.


"Jun! Jangan gila kau, ya?!" Hanya itu yang bisa dia katakan pada putranya.


"Tapi aku sadar, takdir tak bisa kuubah dengan tangan kotorku. Ayahku, Perdana Menteri Han ..."


Semua orang mulai memandangi Perdana Menteri Han. Saat itu Perdana Menteri Han hendak melaju ke depan, tetapi pengawal ketat menahannya.


Takdir paling dekat yang telah lama aku nanti ...


"Ayahku, adalah orang yang sudah membunuh keluarga wanita yang sangat aku cintai, atas perintah mendiang Yang Mulia Raja."


Ternyata ada di depanku selama ini.


DEG


DEG


DEG


Youra terhantam keras hingga dia menangis dengan rasa sakit.


Raja langsung turun, dan benar-benar berdiri di depan Jun. "Apa?" sambung raja tak percaya.


"Mendiang Yang Mulia Raja meminta Ayahku membunuh Penasehat Negara dan keluarganya, karena mengira bahwa Penasehat Negara akan membocorkan rahasia kelam istana suatu hari nanti. Ayahku, sudah memfitnah keluarga Tuan Lee yang tidak berdosa."

__ADS_1


Kenyataan ternyata lebih pahit. Siapa yang sangka, bahwa dalang kematian keluarga Tuan Lee adalah raja sendiri. Mendiang ayah kandung raja baru negeri ini.


"Jun!!!!!!"


"Perdana Menteri Han ... Ayahku, adalah orang yang sudah bekerja sama dengan musuh untuk membunuh Anda. Ayah membayar orang-orang untuk melenyapkan semua yang dia anggap menghalangi jalan karirnya. Ayah ... dia, Ayahku ... meminta Kepala Menteri Perang menyingkirkan Lee Young dan menjanjikan pangkat sebagai ucapan terima kasih. Namun, Ayah tidak pernah menepati janjinya."


Perkataan Jun langsung ditutupnya dengan bersujud di kaki raja. "Aku mengundurkan diri dari jabatan yang tidak pantas aku dapatkan. Mohon hukumlah aku, Yang Mulia."


Raja yang disesak oleh amarah tak memandang sang guru sama sekali. "Guru Jun, berikanlah pembelaan pada dirimu, agar aku tidak membunuhmu!" kata raja putus asa.


Jun yang sedang bersujud menggeleng. "Tidak, Yang Mulia. Tidak ada," jawabnya.


"Tangkap Guru Jun dan Perdana Menteri Han!" teriak raja sangat marah.


Seluruh opsir mulai bergerak menyergap Perdana Menteri Han, sebagaian mereka sudah menyeret Jun beranjak dari sana.


Perdana Menteri Han terus saja melayangkan penolakan. "Yang Mulia, putraku tadi sudah gila. Semua itu tidak mungkin. Anda sangat tahu, aku lah satu-satunya pejabat lama yang masih bertahan bersama 4 orang raja selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah mengkhianati siapapun," bela Perdana Menteri Han.


"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengarnya!"


"Yang Mulia, bagaimana bisa Anda mendengarkan ucapan dari satu saksi seperti ini?" bantah Perdana Menteri Han.


Perdana menteri yang sedang bersujud lantas duduk, menoleh pada pelayan itu. Seorang pelayan, yang dulu sering mengantarkan makanan saat Jun bertamu di rumah ayahnya.


"Siapa kau?" tanya raja.


"Aku adalah salah satu pelayan Perdana Menteri Han, yang sebenarnya merupakan pelayan pribadi Tuan Muda Jun sebelum beliau memutuskan untuk tinggal bersama ibunya. Aku menjadi saksi dan mendengar para menteri membicarakan soal ini di kediaman Perdana Menteri Han selama bertahun-tahun."


Kesaksian pelayan itu, diikuti oleh para petugas yang berhasil membawa masuk barang bukti berupa kertas transaksi ilegal, daftar prajurit bayaran, dan beberapa orang pekerja yang bekerja untuk Perdana Menteri Han.


Pelayan itu tiba-tiba saja bersujud. "Tapi aku mohon kepada Anda, tolong ampuni Tuan Muda Jun. Semua yang dayang tadi katakan itu benar. Dia ... bintang yang terang. Bintang yang berhasil mengubah takdir ini. Tuan Muda Jun, dulunya adalah anak yang suci dan tidak berdosa."


"Di kediaman Perdana Menteri Han, dia meringkuk memohon di kaki ayahnya. Dia memohon pada sang ayah, agar berhenti berbuat jahat, agar tidak melenyapkan gadis yang dia cintai juga. Saat itu, Perdana Menteri Han menyanggupi, dan meminta Tuan Muda Jun untuk tidak menemui gadis itu, jika dia ingin gadis itu tetap hidup. Itulah, alasan Tuan Muda tidak datang saat hendak melamar gadis yang dicintainya itu."


"Karena seorang pengkhianat akan dihukum mati bersama keluarganya, Tuan Muda Jun menahan diri dan rela menanggung dosa itu sendirian. Beliau tidak ingin ibunya ikut dihukum karena sang ibu tidak tahu apa-apa. Beliau menahan diri, agar putra putri raja tidak ikut terbunuh karena raja negeri ini sudah melakukan pengkhianatan terhadap negerinya sendiri."


"Beliau juga, yang sudah mencabut seluruh isi ramalan tentang malapetaka yang dibawa atas kelahiran Putra Mahkota disetiap kali sang ayah menyuruh orang menempelkan kertas itu dimana-mana. Hingga pada akhirnya, Perdana Menteri Han mengetahui kelakuan putranya, dan mengancam putranya."


Pelayan itu bersimpuh tulus. "Beliau bilang, beliau membenci Putra Mahkota karena sudah merebut cintanya. Tapi secara tidak langsung ... beliau terus menyelamatkan Anda dan negeri ini. Beliau terus menyelamatkan Yang Mulia Ratu negeri ini."

__ADS_1


Perdana Menteri Han terpojokkan. Dia menangis haru, memutar kembali bayangan lama tentang putranya yang suci dan tulus. Dulu, Jun sangat hormat dan menyayanginya. Dia selalu pulang dengan ceria. Setiap kali keluar dari istana, beliau akan bercerita panjang lebar. Namun, semua itu berubah ... setelah Jun secara tidak sengaja memergoki banyak dosa para penghuni istana yang dia tanggung sendirian.


"Ayah! Bolehkah aku bertemu Putra Mahkota?"


"Bukankah Anda yang sudah membuangku?"


"Sejak saat itu, aku bukan putra Anda lagi. Semuanya, sudah berakhir sejak lama."


"Aku akan membawa Youra pergi dari sini. Tidak akan kubiarkan, kalian menyakitinya."


"Bukankah aku adalah putramu ... Ayah?"


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak pernah, menginginkan istana."


Perdana Menteri Han terhenyak ke atas tanah, memandang balik ke arah kosong yang telah lama lenyap. Para pengawal kembali mengangkat tubuhnya.


Semua pejabat dan rakyat saling berteriak. Lebih ribut dari biasanya. "Yang Mulia!!!! Hukuman mati sudah jatuh untuk Perdana Menteri Han!!! Buktinya terlalu banyak!"


Raja yang menangis menoleh pada Youra yang sedang menangis tersedu-sedu. Raja kembali berjalan, lantas berteriak. "Seret semua pelaku yang terlibat!!!" Seluruh opsir langsung berlari menyergap para menteri yang terlibat. Lebih dari separuh menteri itu telah melakukan pengkhianatan terberat.


Perdana Menteri Han masih terpaku di bawah sana. "Perdana Menteri Han! Apa lagi yang kau tutupi setelah semua bukti ini?!" teriak raja.


Perdana Menteri Han berdiri dari simpuhnya. "Yang Mulia, aku tidak akan memberikan pembelaan. Tapi ..."


Semua orang makin berteriak karena Perdana Menteri Han tampaknya ingin bernegosiasi. "Tapi Putraku ...Putraku Jun ..." Menetes air mata Perdana Menteri Han. "Kasihan sekali dia, Yang Mulia. Dia kehilangan segalanya termasuk cinta. Mohon kasihanilah dia, Yang Mulia." Entah kenapa, pria paruh baya itu sama sekali tak terlihat mengkhawatirkan hidupnya.


"Tidak, Yang Mulia!!! Seret Tuan Muda Jun juga!!! Jika beliau memang baik, mengapa tidak berterus terang lebih awal?!!!" teriak hampir semua orang.


"Benar, Yang Mulia!! Ayah dan anak itu pasti telah bersekongkol!!"


Seluruh amukan tertuju pada para pengkhianat. Raja lantas berjongkok di depan ratu yang sedang menangis. "Maafkan, aku. Maafkan aku, Sayangku. Ternyata, keluargaku ... aku menyerahkan seluruh hukuman untuk kasus kematian Penasehat Negara kepadamu," kata raja. Youra menghapus air matanya, lantas menyentuh wajah sang suami. "Suamiku, aku menyerahkan seluruh keputusan ini padamu. Pasti sangat berat bagi Anda atas semua fakta yang menyakitkan ini. Berlakulah adil."


"Aku ... aku sudah ikhlas." Youra dan raja saling menangis di atas singgasana.


Persidangan itu berakhir dramatis. Tak ada suara sama sekali sejak hari itu, menunggu hari berikutnya untuk mendengar keputusan raja dan para menteri atas hukuman yang tepat untuk para terdakwa.


Youra dan raja tak bertemu sua. Istana raja tertutup, hingga Youra takut mengganggunya. Perasaan Youra sangat tidak nyaman, karena sang suami tampaknya tak ingin berjumpa dengan siapapun. Langit penuh air mata. Sejak persidangan, hujan turun hampir setiap hari. Semuanya berakhir dengan tragis.


***

__ADS_1


__ADS_2