
Para pelayan memakaikan gaun terindah dan terbaik untuk Youra. Youra tak henti-hentinya berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedih itu. Dia sangat keras menahan air matanya untuk tak menjatuhkan harga dirinya. "Yang Mulia, Anda yakin akan datang?" tanya Dayang Nari. Tak ada jawaban, selain wajah Youra yang memperlihatkan kesedihan. Dayang Nari menyembunyikan senyumnya setelah melihat raut wajah itu. Bukankah seharusnya Youra senang? Mengapa dia malah menangis?
"Apakah Anda telah jatuh cinta, Yang Mulia?"
Youra mengangkat wajahnya, membusungkan dada, memasang wajah angkuh menuju istana ratu.
***
"Selamat datang, Yang Mulia Putri Mahkota."
Gerbang utama istana ratu dibuka lebar. Semua orang membungkukkan tubuh mereka memberi hormat. Mereka, seluruh penghuni istana ratu itu tercengang setelah kembali berdiri tegak. Ini pertama kalinya, Youra menggunakan gaun resminya sebagai istri Putra Mahkota. Sangat elegan. Gaun merah dengan motif naga emas itu sangat cocok melekat di tubuh indahnya. Dia benar-benar datang sebagai calon ratu negeri ini.
"Benar-benar tidak kusangka. Calon ratu ini akhirnya datang juga. Senang melihatmu disini, menantuku," sapa ratu. Tetap dengan sandiwaranya. Memperlihatkan betapa baik dan ramahnya dia di depan banyak orang.
"Senang bertemu Anda, Yang Mulia Ratu." Suara Youra bergetar, seperti sudah tak lagi kuasa. Dua gadis calon selir itu menoleh padanya, kebingungan. Pandangan itu menjadi buyar, lantaran seorang tabib datang mendekat.
"Kau selalu saja menolak pemeriksaan. Ini adalah kesempatan baik untuk memeriksa kesehatanmu." Ratu berusaha mempermalukan Youra di depan dua gadis itu.
Napasnya sesak menahan amarah, tetapi tetap mengalah untuk menjaga nama baiknya. Youra akhirnya memberikan tangan itu pada tabib istana ratu, mempersilakan mereka memeriksa. "Bagaimana?" tanya ratu.
Para tabib saling berpandangan. "Benar Yang Mulia. Putri Mahkota belum melayani suaminya. Beliau masih perawan." Ratu tertawa senang, dia merasa sudah menjadi pemenang. Dua gadis itu langsung menatap Youra, mengernyitkan dahi mereka tak percaya.
"Sudah puas Anda mempermalukan aku?" tanya Youra santai tak berkedip, terus saja melotot pada ratu.
Ratu tak menggubris, beliau malah menyandarkan tubuhnya di kursi mewah itu. "Sudah tahukan kalian seperti apa Putri Mahkota negeri ini?" tanya ratu pada kedua gadis yang sedang tercengang itu.
"Menurut kalian, dia yang memang tidak melayani suaminya, atau Putra Mahkota negeri ini yang menyimpang?" tanya ratu sebelum menggigit sepotong apel.
"Bagaimanapun keadaan Putra Mahkota, hamba akan melayaninya sepenuh hati, Yang Mulia," Hong Jin-Yi, dia tersenyum menjawabnya, tampak sangat tulus dan penuh kasih. Hal itu menyesakkan dada Youra. Dia mengepal gaun mewah itu di genggamannya.
"Bagaimana menurutmu, Nona Han?" tanya ratu pada Han Ji-Eun. "Hamba pikir, Putra Mahkota adalah lelaki sempurna yang tidak mungkin melenceng dari ajaran, Yang Mulia," jawab Han Ji-Eun.
__ADS_1
"Jadi maksudmu, Putri Mahkota yang tidak melayani suaminya?" tanya ratu sekali lagi. Han Ji-Eun rersenyum, "Sepertinya begitu, Yang Mulia."
"Tutup mulutmu wanita rendahan!" bantah Youra sangat emosi, melotot pada Han Ji-Eun. Para dayang ratu mendekat, menahan tubuh Youra yang bergetar. Dia sudah seperti singa betina yang akan segera menyerang.
Hong Jin-Yi terus saja menatapnya, sangat lama. Sementara Han Ji-Eun masih dengan senyum tipisnya yang penuh kehinaan. Ratu tertawa terbahak-bahak, menggeleng pelan. "Kalian ternyata benar-benar jatuh cinta pada Putra Mahkota."
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?!" Youra membentak para pelayan ratu yang menyentuh tubuhnya. "Wanita licik sepertimu tidak pantas menjadi ratu negeri ini!" teriak Youra tepat di depan wajah ratu.
Ratu tak ambil pusing, dia tak memperdulikan Youra mau berteriak atau sedang melayangkan sumpah serapah. Ratu menggapai kertas mewah yang sudah ditanda tangani oleh raja. Membukanya sambil menatap Youra dengan angkuh.
"Sayang sekali, aku hanya akan menunjuk satu diantara kalian. Bersediakah kalian berbesar hati?" tanya ratu kepada para gadis itu. Mereka berdua tersenyum, menyanggupi perkataan itu.
"Baik, Yang Mulia."
Ratu menarik napas, kembali melirik Youra yang sedang mengamuk berusaha melepaskan diri. "Baiklah. Berdasarkan pertimbangan istana, berdasarkan kualitas, kuantitas, dan tidak mengenyampingkan adat istiadat leluhur, serta mendengarkan nasihat petunjuk para tetua berbudi, istana resmi menunjuk HAN JI-EUN, putri Perdana Menteri Han, sebagai selir utama untuk Putra Mahkota. Pernikahan akan dilangsungkan secepatnya, tanpa harus menunggu waktu lebih lama." Ratu menutup kembali kertas itu, seringainya menghiasi pertemuan itu.
Han Ji-Eun tercengang, matanya membulat besar menunjukkan rasa senang yang begitu hebat. Sedangkan Hong Jin-Yi merasa sangat kecewa. Di dunia ini, tak ada harapan lain baginya selain menjadi istri Putra Mahkota, yang sudah digilainya sejak kecil.
"Tidak perlu khawatir. Berkat keputusan istana, kau bisa saja menjadi istri Putra Mahkota suatu hari nanti," tambah ratu kembali melirik Youra setelahnya.
***
Pertemuan hari itu berjalan menegangkan. Youra akhirnya dilepas oleh para dayang. Hong Jin-Yi diantar keluar oleh para pelayan, sementara ratu bergegas pergi kembali ke biliknya.
Han Ji-Eun yang terpilih masih di dalam ruang pertemuan itu bersama Youra. Mereka diberi waktu untuk berbincang. Seperti kasus sebelumnya, setiap wanita yang akan menjadi istri baru, akan mendengarkan nasihat dan meminta restu keberkahan dari istri pertama.
"Licik sekali kau rupanya." Begitu Youra menyapa. Sangat emosi dan tertekan.
Han Ji-Eun tersenyum angkuh, dia benar-benar tak segan menatap Youra dengan cara yang sangat tidak sopan. "Anda cemburu?" tanya Han Ji-Eun tersenyum tipis. "Jangan pernah menyebutku sebagai wanita rendahana lagi," lanjut Han Ji-Eun. "Karena Anda jauh lebih rendah dari sampah yang membusuk di negeri ini," tambahnya menyilangkan tangan di dada.
Youra yang geram langsung bangkit dari duduknya, lekas menarik lancang rambut wanita yang akan menjadi selir suaminya itu. "Tutup mulut lancangmu wanita rendahan! Kau pikir siapa kau yang bisa berbicara kasar kepadaku? Ha?!"
__ADS_1
Han Ji-Eun kesakitan, tetapi dia malah tertawa saat Youra semakin keras menarik rambutnya. "Aku yang akan jadi ratu di negeri ini. Aku akan memberikan keturunan untuk Putra Mahkota. Tidak hanya satu, aku akan memberikannya banyak anak." Han Ji-Eun tak mau kalah, semakin saja melawan.
"Aku tidak akan membiarkanmu ... menyentuh apa yang sudah menjadi milikku!" Youra semakin menarik rambut Han Ji-Eun, hingga kepala gadis itu sangat condong ke belakang.
"Kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan kakakku?!" balas Han Ji-Eun semakin melonjak. Akhirnya Youra melepaskan genggaman itu, dia tertawa menahan rasa gerammya. "Jangan banyak bicara kau ..."
"Kau selalu berkirim surat dengan kakakku, merencanakan pembalasan dendam, dan ingin menyingkirkan suami sendiri. Kau pikir aku tidak tahu? Aku bisa menyingkirkanmu dengan mudah," tambah Han Ji-Eun mematahkan kalimat Youra. Youra terpelongo, tak menyangka gadis itu mengetahui segalanya.
"Kau hanya akan jadi selir hina di istana ini," timpal Youra terus sajab beradu mulut.
"Hahaha! Sudah berapa dekade, selirlah yang akhirnya menjadi ratu di istana ini." Han Ji-Eun merapikan rambutnya yang kusut dan berdiri menatap Youra lekat. "Bahkan ratu yang kau benci selama ini, dia sudah menyingkirkan Ratu Kim asli, ibu kandung Putra Mahkota," bisiknya. Setelahnya Han Ji-Eun keluar dari istana ratu.
DEG!
Youra tak pernah tahu akan hal itu. Dia terus saja terpaku dengan tatapan kosong yang mengantarnya keluar dari istana ratu. Fakta itu lebih menyakitkan dari apa yang dia pikirkan. Kenyataan bahwa Putra Mahkota benar-benar sendirian adalah hal yang menyakitkan untuknya.
Akibatnya, Youra ingin segera pergi dari sana, meredakan rasa sakit hatinya. Namun, langkahnya kembali dicegah oleh Hong Jin-Yi yang saat itu sedang berdiri tegak dengan air mata yang menggenang dipelupuknya. Dia membungkukkan tubuhnya kepada Youra cukup lama, sebelum akhirnya kembali berdiri tegak untuk menyampaikan beberapa kalimat yang malah semakin menampar Youra sangat keras.
"Aku menghormati Anda sebagai Putri Mahkota negeri ini. Aku sangat senang saat hasil keputusan mengatakan bahwa Anda yang terpilih menjadi istri Putra Mahkota saat itu. Bukan gadis angkuh seperti Nona Han. Di mataku, Anda adalah sosok luar biasa yang bisa memberikan cinta dan kasih untuk Putra Mahkota. Yang akan membantu dan menemani Putra Mahkota dengan baik," jelas Hong Jin-Yi. Ada penekanan di ujung nadanya, dia sedang berupaya menahan tangis.
Hong Jin-Yi mendekat beberapa langkah, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. "Tapi ternyata aku salah. Anda bahkan lebih buruk dari kenyataan yang ada. Aku terus saja mencari tahu kabar tentang Putra Mahkota. Aku terluka saat mendengar kabar bahwa beliau sakit, tetapi aku menjadi lebih sakit saat tahu Anda malah pergi meninggalkannya. Aku tidak mempercayai seluruh berita yang mengatakan keburukan Anda. Namun, kenyataan ini semakin meyakinkanku." Hong Jin-Yi kembali membungkukkan tubuhnya penuh hormat. "Maafkan aku, Yang Mulia. Sejujurnya, bukan hanya Nona Han, aku juga sangat mencintai Putra Mahkota. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi mengalah. Kepada Anda, atau kepada wanita licik seperti Nona Han."
Hong Jin-Yi kembali menegakkan tubuhnya, "Aku hanya berharap ... suatu hari nanti, aku akan kembali ditunjuk menjadi istri beliau. Aku akan merebut hati Yang Mulia Putra Mahkota. Aku akan memberikan cinta, yang tidak pernah dia dapatkan."
Hong Jin-Yi berlalu, kemudian masuk ke dalam tandu mewah yang sudah menunggunya. Meninggalkan Youra yang sesak hingga terhenyak ke tanah.
"Yang Mulia!" para pelayan langsung mengejar Youra. Memapah tubuhnya untuk kembali bangkit.
...****************...
Note : Mungkin ada beberapa dari para reader yang tidak suka dengan adanya kehadiran karakter selir dalam kisah ini. Untuk itu Author mau mengucapkan mohon maaf atas ketidaknyamanan itu. Hehehe, sekedar info, episode dengan kehadiran selir ini yang paling author pribadi tunggu sih. Kenapa? Karena dengan hadirnya si selir licik ini, diharapkan mampu mematahkan ego tinggi nya Youra supaya sadar tentang apa yang sebenarnya sangat berharga. Oleh karena itu, Author harap kalian tetap terus sabar mengikuti kisah ini sampai selesai. Terima kasih atas dukungannya 💜💜
__ADS_1