
Menjadi seorang pemimpin adalah sesuatu yang sulit. Terutama saat hendak mengambil keputusan, karena ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Selain opsi yang bagus untuk meningkatkan kualitas negara, tetapi juga harus memperhatikan kesinambungan antara tujuan dan keinginan rakyat.
Raja Baek Sam, berusaha menjadi raja yang baik untuk negeri yang ia pimpin. Kenyataan pahit yang harus dia terima, dia pikir tak lain adalah adanya pertentangan dengan putranya sendiri. Padahal kenyataan lebih buruk dari itu. Raja Baek Sam tidak sadar, bahwa yang harus dia lawan adalah dirinya sendiri, istananya sendiri.
Suatu hari, sang raja akhirnya mengumumkan keputusan, tentang siapa yang lebih dahulu menikah antara Putri Shin anak pertamanya, atau Putra Mahkota, calon pemimpin negera. Saat itu, hampir seluruh rakyat melakukan penolakan terhadap kepimpinan Putra Mahkota, dan memaksa raja untuk melengserkan putranya yang dikenal tidak bermoral itu, dan menggantinya dengan salah satu pangeran. Namun, sampai saat itu, raja tak juga menerima petisi itu, dan lebih memilih untuk dibenci rakyatnya sendiri ketimbang harus menurunkan putranya.
Keputusan besar raja ini, mengakibatkan banyak polemik yang menimbulkan konsekuensi tersendiri. Untuk menghilangkan keraguan rakyat terhadap kredibilitas Putra Mahkota, raja akhirnya membuat keputusan yang ditolak mentah-mentah oleh putranya itu.
**
“Putra Mahkota, hamba mohon, tahanlah sedikit saja kemarahan Anda,” pinta Kasim Cho sambil berjalan cepat mengikuti Putra Mahkota yang membawa emosinya menuju kediaman raja.
Para dayang dan kasim ikut berjalan mengiringi langkah Putra Mahkota yang tampak sangat marah. Di tengah perjalanan menuju kediaman raja, tidak sengaja dia bertemu para menteri yang sedang berlalu lalang disana.
Semua menteri itu membungkuk hormat padanya.
“Senang bertemu Anda Yang Mulia,” sapa mereka serentak.
Kebencian, akan terus menjadi kebencian.
Putra Mahkota, dengan pakaian mewahnya, tersenyum di balik penutup wajahnya.
Bahkan di balik tirai penghalang.
“Senang bertemu kalian semua,” balasnya ramah.
Semuanya terlihat jelas oleh yang dibenci.
“Apa Anda akan segera menemui raja, Yang Mulia?” tanya para menteri.
“Ya. Aku ingin bertemu ayahku, karena sudah lama aku tidak bertengkar dengannya,” jawab Putra Mahkota santai.
Para menteri yang mendengar itu saling berpandangan heran. Lantaran, sikap Putra Mahkota sama sekali tak berubah. Masih dengan sifatnya yang terlihat angkuh dan sombong.
Putra Mahkota maju satu langkah ke hadapan para menteri. Saat itu, Jung Hyun baru saja tiba dan langsung sigap berdiri tegap di belakang Putra Mahkota.
“Selamat bersenang-senang, pria-pria tua kesayangan raja,” tambah Putra Mahkota dengan suara beratnya yang santai dan elegan.
Putra Mahkota meninggalkan para menteri yang sakit hati atas perkataannya. Jung Hyun yang tak bisa berbuat apa-apa hanya pergi mengikuti Putra Mahkota ke kediaman raja setelah membungkuk hormat kepada para menteri.
__ADS_1
“Lihatlah putranya yang tidak sopan itu! Kepada orang tua saja dia sangat kurang ajar. Bagaimana bisa orang seperti dia menjadi pemimpin negeri ini?” kata salah seorang menteri.
Sedangkan saat itu perdana menteri hanya bisa diam saja dengan wajah yang berkerut. Mereka benar-benar tidak menyangka, Putra Mahkota bahkan berani menemui raja hanya untuk menentang perintahnya.
**
“Yang Mulia, Putra Mahkota ada disini,” lapor penjaga pintu bilik Raja Baek Sam.
“Biarkan dia masuk”.
Putra Mahkota masuk sendiri menghadap sang ayah, meninggalkan para pelayannya di depan kediaman raja.
“Bagaimana kabar Anda, Ayahanda?” tanya Putra Mahkota sesaat setelah membungkuk hormat pada raja.
“Aku baik. Kau tidak pernah menemuiku seperti ini sebelumnya, pasti ada hal yang ingin kau bantah dariku,” balas raja yang seolah tahu maksud Putra Mahkota.
Putra Mahkota yang mendengar jawaban sang ayah, wajahnya berubah urung.
Beberapa detik kemudian, keheningan terhempas oleh satu pernyataan yang keluar dari mulut Putra Mahkota.
“Aku tidak akan menikah,” kata Putra Mahkota dengan tatapan yakin.
“Apa katamu?” tanya raja sangat terkejut.
Raja sangat geram. Ia berdiri dan mendekati putranya.
“Betapa memalukannya dirimu. Kau menentang semua aturan kerajaan, dan sekarang kau bilang tidak mau menikah. Apa kau sudah gila?” tanya raja melotot sejengkal dari wajah putranya.
Putra Mahkota tertawa kecil dan memutar pandangannya ke arah lain.
“Siapa yang mau menikah dengan pria sepertiku? Akan lebih baik, jika aku tidak menikah,” Putra Mahkota membuat sang ayah semakin marah.
Raja menarik kerah baju sang anak.
“Bodoh yang kau miliki, bukankah harusnya sudah mati?! Selain sebagai seorang pria, kau juga seorang pemimpin, kau harus menikah dan punya keturunan! Lihat sudah berapa usiamu! Apa kau ingin rakyat terus menghinamu? Mereka akan menduga bahwa kau seorang pria dengan seksualitas yang menyimpang! Keburukanmu akan membuat mereka semakin membenciku!” teriak raja dengan mata melototnya yang memerah.
“Bukankah mereka juga sudah menduga ini sebelumnya? Jika aku punya seksualitas menyimpang apa itu sangat penting? Aku ini pria yang suka bermain wanita, apa kau tidak tahu?” Putra Mahkota bersikap santai di hadapan sang ayah yang murka.
Raja sudah tak kuasa menahan amarahnya, hingga sang raja menampar pipi putranya itu. Para pelayan Putra Mahkota yang mendengar keributan itu sangat cemas.
__ADS_1
Sementara itu, Putra Mahkota membatu di tempat.
“Mau tidak mau, istana ratu akan segera mencarikan kandidat istri untukmu. Wanita yang dipilih adalah wanita keturunan bangsawan murni paling cantik, paling pintar, paling bijaksana, yang berkualitas, yang siap mendampingi dan juga mengubah perangi busukmu ini! Dan kau harus tahu, pernikahan ini tidak memerlukan persetujuan darimu. Istana lah yang akan melakukan seleksi ketat. Itu artinya, kau juga tidak perlu jatuh cinta pada wanita yang terpilih. Dan satu lagi!”.
Raja menggenggam kerah jubah putranya dengan tangan yang bergetar.
“Jika kau mau, aku bisa memilihkan bahkan 100 wanita terbaik di negeri ini untuk menjadi istrimu. Dan satupun diantara mereka, tidak akan ada yang menolaknya. Jadi jangan pernah berpikir, untuk tidak memiliki keturunan,” raja melepas genggamannya.
“Aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan istana,” balas anaknya.
Mendengar itu, raja tertawa keras menyeramkan, hingga seluruh pelayan yang berdiri di depan biliknya ketakutan.
“Memangnya kau punya wanita yang kau cintai? Apa yang kau tahu soal cinta? Hidupmu hanya terus berselimut kebencian,” jawab raja dengan wajah yang memerah.
Putra Mahkota tersenyum.
“Kau benar, aku tidak butuh cinta. Aku hanya ingin orang yang tunduk dan patuh padaku”.
Putra Mahkota membungkuk dan pergi meninggalkan kamar raja.
Saat itu, Jung Hyun melihat wajah Putra Mahkota yang tampak menyedihkan. Kasim Cho bersama seluruh pelayan Putra Mahkota, terus berjalan cepat mengikuti langkah Putra Mahkota.
“Yang Mulia, kenapa Anda berbohong pada raja?” batin Kasim Cho sambil memandang wajah Putra Mahkota yang terus saja berjalan menuju kediamannya.
Di dalam biliknya, Kasim Cho datang membawakan teh dengan aroma penenang untuk Putra Mahkota. Saat itu, dia melihat Putra Mahkota sedang memegang sebuah keramik cantik berbentuk kendi. Putra Mahkota terus saja melamun memandang keramik cantik itu.
“Yang Mulia, hamba pikir, apa yang dikatakan raja itu benar. Sudah saatnya, Anda menikah dan punya keturunan, agar rakyat tak lagi meragukan Anda. Semua ini, bukan hanya demi rakyat, tapi juga demi Anda dan Putri Shin. Putri Shin sudah menunda pernikahannya dulu karena persaingan politik, dan sekarang dia hanya akan menikah setelah Anda menikah,” jelas Kasim Cho.
Mendengar pernyataan Kasim Cho, Jung Hyun yang juga ada disana spontan memandang wajah Kasim Cho dengan perasaan hancurnya. Sebab, gadis yang dia cintai akan segera dinikahkan.
Sementara itu, Putra Mahkota diam saja terus memandangi keramik cantik itu tanpa memberikan respon apapun.
Kasim Cho kebingungan melihat keramik cantik yang dipegang Putra Mahkota.
“Yang Mulia, apa Anda punya wanita pilihan sendiri?” tanya Kasim Cho.
Putra Mahkota melepaskan pandangannya dari keramik cantik itu. Ia segera menoleh pada sang kasim.
“Aku tidak butuh cinta, kau tahu itu?” jawab Putra Mahkota.
__ADS_1
Kasim Cho memandang Putra Mahkota dengan tatapan yang sendu.
“Yang Mulia, kumohon, berhentilah,” gumam Kasim Cho iba.