Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Ujian Mendadak


__ADS_3

Mendengar seorang pemuda yang berani berbicara pada Yang Mulia dengan lantang seperti itu, orang-orang seakan tidak terima. Mereka terkejut dan menganggap pemuda itu sangat tidak sopan.


“Siapa pemuda kurang ajar itu? Dia benar-benar tidak tahu diri. Di hari penting seperti ini, ia bahkan datang terlambat. Sekarang dengan lantang dia berani meminta raja untuk menghentikan pertunjukan,” kata salah seorang menteri berbisik pada yang lain.


“Benar-benar tidak tahu malu. Tunggu sebentar, kita tidak pernah melihat anak itu sebelumnya kan?” tanya menteri lain. 


“Benar, kita tidak tahu siapa dia dan berasal dari keluarga mana dia,” tambah yang lain.


Para menteri terus bergosip. Namun mereka berhanti saat mereka menyadari bahwa salah seorang pengawal raja sedang menatap tajam ke arah mereka.  


Namun, siapa sangka, raja yang dikira akan murka malah tersenyum bangga. 


“Baik, hentikan semua itu,” perintah raja tanpa bertanya pada sang pemuda.


Mendengar itu, para pejabat yang hadir disana terkejut. 


Ujian Mendadak


Raja berjalan pelan sedikit lebih dekat menuju para pemuda yang dikumpulkan itu. Sementara itu, Won Bin yang masih dengan dendamnya pun kembali pada barisannya, begitupula dengan Young. Dengan tangan yang terluka Young berjalan dan kembali pada barisannya.


Tiba-tiba seorang opsir berlari ke arah raja membawa kertas berukuran besar, di ikuti oleh opsir lain yang berlarian membagikan kertas kepada para pemuda. Setiap pemuda diberikan tiga kertas. 


“Aku yakin, kalian pasti sudah belajar di rumah sebelum melangkahkan kaki ke istana ini. Untuk itu, silahkan jawab pertanyaan yang diberikan ini,” perintah raja membuat para pemuda terheran-heran.


Ada dua pertanyaan terlampir pada kertas itu, yang jawabannya ditulis dalam satu kertas untuk satu soal. Kini para pemuda itu diberi waktu satu jam untuk masing-masing dari dua soal pertama. Para pemuda yang terheran-heran itu hanya bisa saling berpandangan heran. Ada tiga kertas yang diberikan, tapi mengapa hanya ada dua pertanyaan saja.


Kini mereka mulai menulis nama mereka pada ujung kertas masing-masing. Satu persatu dari mereka mulai menjawab pertanyaan itu, tidak sedikit dari mereka bahkan sudah ada yang mulai mengumpulkan kertas jawabannya.


Young dan Won Bin yang tangannya terluka segera di obati oleh tabib istana. Mereka dipisahkan dari barisan, dituntun dan dibawa masuk ke ruang perawatan. Mereka diberikan hak istimewa untuk menjawab pertanyaan meski sedang dalam perawatan. 


Semua pemuda akhirnya menyelesaikan 2 soal pertama. Mereka berbondong-bondong mengumpulkan jawaban mereka. Namun, ada seorang pemuda yang duduk pada barisan paling belakang hanya terus memandangi kertasnya. Pemuda itu diam saja, tampak tidak menggebu-gebu.


**


Tiba-tiba saat yang bersamaan, 


“Hei siapa disana?!” teriak seorang opsir menunjuk celah-celah dinding istana. 

__ADS_1


Para gadis belia yang memiliki akses untuk mengintip itu terkejut, segera lari berhamburan. Begitu pula dengan para dayang istana dan pelayan para pejabat, mereka berlari dan bersikap seolah-olah tidak mengetahui apapun.


Tetapi, Putri Shin tidak sadar bahwa opsir itu melihatnya. Menangkap tatapannya yang sedang tersihir oleh sebuah pesona. Ia masih saja terus memperhatikan pemuda pada barisan belakang itu.


“Hei!” seorang opsir kembali berteriak ke arahnya.


Sontak seluruh pemuda, para pejabat, dan raja memandang ke arah yang opsir itu tunjuk. Termasuk pemuda yang sedang ia perhatikan.


Kini, mata mereka saling bertemu. 


Aku melihat cahaya dalam kegelapan. 


Pemuda itu, kini sedang memandangnya dari jauh. 


Cahayanya yang terang terpancar hingga menusuk jiwa yang hampa.


Pemuda yang masih memegang kertas ujiannya, pemuda yang sejak tadi ia pandangi, kini benar-benar sedang menatapnya. 


Melihat betapa terangnya bulan hari itu..


Putri Shin, ia terpana. Tanpa sadar, pelayannya datang menarik tangan Putri Shin agar raja tak melihatnya. Meruntuhkan seluruh angan dan lamunan panjangnya.


Meski jiwa tercabik-cabik oleh waktu yang menakutkan, bulan yang terang itu..


Sambil berlari, Putri Shin pergi dari sana. Sesekali ia memandang balik ke belakang.


Ia tidak peduli, apakah orang-orang masih melihat ke arahnya. Tetapi yang terpenting, saat ia menoleh lagi ke belakang, ternyata pemuda yang ia pandangi itu masih tetap memandang ke arahnya.


Bulan itu…


Saat berlari, ia mengangkat sedikit gaunnya. Ia merasa waktu berjalan lambat. 


“Aku bahkan tidak melihat wajahnya dengan jelas,” gerutunya.


Ia hanya terus berusaha mengingat wajah pemuda itu. Menyusun semua sisa-sisa ingatannya soal wajah pemuda itu.


“Manis sekali,” ucapnya lembut.

__ADS_1


Seirama dengan angin yang berhembus, dia berlari dan tersenyum bersamaan.


Mengapa sinarnya begitu terang?  


**


Kembali kepada para pemuda, setelah mereka mengumpulkan kertas jawaban, mereka kembali pada barisan mereka masing-masing. Mereka heran, mengapa hanya ada dua pertanyaan. Apakah satu kertas kosong ini untuk disimpan dan dibawa pulang atau akan ada soal lain?


Yang benar saja, seorang opsir kini berdiri di hadapan mereka sambil memegang sebuah kertas indah dengan motif bunga-bunga yang wanginya tercium hingga barisan paling belakang. Di atas kertas itu kini ada satu buah pertanyaan, yang telah dicap dengan cap kenegaraan, yang memiliki arti mutlak tulisan raja. 


Semua pemuda itu, mereka terpelongo. Begitu pula dengan para pejabat. Bagaimana mungkin, satu buah soal yang sederhana, yang bahkan bisa dijawab oleh anak kecil tak terpelajar menjadi sebuah topik yang harus diangkat ke dalam kertas kehormatan itu. 


“Kalian diberi waktu 1 jam untuk istirahat dan memikirkan jawabannya. Kalian boleh kemana saja. Namun setelah itu, kalian harus kembali, menulisnya pada kertas kosong itu, dan mengumpulkannya. Seluruh hasil ujian akan diumumkan sore ini, jadi tidak ada yang boleh terlambat," perintah raja yang disampaikan oleh opsir itu.


Para pemuda itu hanya bisa saling berpandangan. Mencoba percaya diri menjawab soal terakhir dari raja.


“Mengapa harus istirahat dulu? Kita bisa menjawab ini segera. Aku benar-benar sangat penasaran dengan hasil ujianku," bincang para pemuda itu. 


Para pemuda itu akhirnya meninggalkan tempat. Ada yang pulang ke rumah atau berjalan di tempat-tempat lain, ada yang tetap pada tempatnya, dan ada yang hanya sekedar jalan-jalan di istana.  


Won Bin yang berada dalam satu ruangan dengan Young mendekatinya. 


“Seorang pengecut tidak pantas di tempatkan di istana,” ucapnya berbisik pada Young.


Young yang mendengar itu tersenyum, menggelitik dengan tatapannya yang tajam. Ia yang sambil memegang kertas jawabannya itu berdiri dari tempatnya berbaring. 


Ia mendekatkan tubuhnya pada Won Bin. Tampak senyum tipis dari sudut bibir indahnya.


“Kebodohan tidak pernah diterima di istana,” balas Young sembari merapikan jubahnya dan pergi dari tempat itu.


Won Bin terdiam di tempat. Ia mengepal tangannya erat menahan emosi. Ia menatap kepergian Young dari tempat itu. 


#YoungPov


Tetaplah seperti itu semampumu. Kita tak pernah tahu, apa yang tersimpan disana. Aku tahu, kau sangat membenciku. Namun jauh dalam sana, aku berharap lebih padamu. Kau belajar bersamaku, dan merangkul pundakku. Kita akan tertawa bersama dan berlatih bersama. 


Aku akan bertahan disini demi ayahku. Dan kau tetaplah disana, bertahan demi ayahmu. Aku disini dengan tugasku, dan kau disana dengan tugasmu. Bertahanlah disana semampumu. Meski takdir menghantar kita saling menghunuskan pedang, aku tidak akan membencimu. 

__ADS_1


Jadi, sebelum aku berhenti berharap, tolong tetaplah seperti itu semaumu, dan jangan maju lagi. Agar aku tidak berfikir untuk membenci, hingga kita saling melukai.


__ADS_2