Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kematian yang Tercinta


__ADS_3

Akhirnya Youra memutuskan pulang sendiri tanpa kakaknya.


Youra yang dengan polosnya saat itu hanya terus berjalan tanpa mengetahui apapun. Dia melangkah ke rumah dengan perasaan berkecamuk, mencoba tenang mengumpulkan seluruh harapannya menjadi satu karena sedikit lagi akan sampai. Pikirnya, semua akan baik-baik saja setelah dia tidur dan bangun kembali di pagi esok. 


Kupikir, semua akan baik-baik saja.


Youra mengusap air matanya, membawa senyuman seperti biasa agar orang tuanya tidak khawatir. 


Kupikir, semuanya akan indah.


Youra yang memutuskan untuk pulang tanpa kakaknya berjalan sendirian melewati jalan pulang seperti biasanya. Namun, malam itu sangat aneh. Tidak terlihat siapapun ada di jalan yang ia lewati. Jalanan saat itu, benar-benar sangat sepi. 


Kenyataannya, 


Tidak ada seorangpun yang terlihat kecuali beberapa rumah warga yang sudah hancur berantakan. Youra ketakutan.


Akhirnya, dia hanya terus berjalan tanpa memandang balik ke belakang. Namun, kenyataan tak demikian. Ternyata, rasa takut yang dikira akan hilang, malah menjadi trauma di kemudian hari setelah melihat ada banyak darah berceceran di jalanan yang kosong dan sepi. 


Aku ketakutan..


Terputar kembali di kepalanya, pakaian kakaknya yang penuh bercak darah, kalimat Ara yang menyatakan nyawa kakaknya terancam, wajah ayahnya yang panik, senyum ibunya, semuanya teraduk menjadi satu hingga napasnya sesak.


Youra yang mencoba berpikir semua akan baik-baik saja menyeret kakinya yang lemah sampai ke rumah. 


Pikirnya, dia akan berlindung bersama ibu dan ayahnya ketika tiba dirumah.


Youra akhirnya, saat itu sudah sampai di depan rumahnya. Dia, yang selama ini pulang membawa tawa, hari itu terhenti di depan gerbang rumahnya tak berkedip. 


Dengan jelas masih teringat olehku,


Napasnya sesak. Ia tidak kuat berdiri. Sangat lemah, membuat jantungnya hampir saja berhenti berdetak.


Dengan jelas aku melihat darah ada dimana-mana. 


Dengan kakinya yang lemah ia terjatuh begitu saja di depan gerbang rumahnya meneteskan air mata. 


Mereka semua yang selalu melayani keluargaku, aku melihat jasad mereka dimana-mana. 


Youra memegang dadanya yang sakit. 


Senyum mereka, tawa dan canda mereka…


Jauh di lorong rumahnya, dengan jelas dia melihat darah berlimpahan, menyucur deras dari tubuh ayahnya.  


 Ayah…


Youra ingin melangkah, tetapi semua terhenti. Seseorang tampak menyeret jasad seorang wanita yang sangat familiar bagi Youra.


Yang menyayangiku..


Yang membelai dan menyisir rambutku..


Dia, yang tersenyum setiap kali aku pulang.


Yang memelukku saat aku ketakutan..


Jasad itu diseret tanpa iba menuju halaman rumah Youra oleh orang-orang bertopeng yang tidak dikenal. Salah satu dari orang itu, tampak memakai pakaian yang ia kenal.


Ibu…


Youra yang terdiam tak dapat berkata-kata dengan air mata mengalir deras di pipinya. Ia jantungnya terus saja berdetak kencang, berharap segera berhenti saja.


Mengapa..


Youra dengan jelas dapat melihat, wanita yang tergeletak tak bernyawa itu, adalah ibu yang telah merawat dan menyayanginya selama ini. 


Mengapa, kalian berbohong padaku?


Youra yang tidak tahan tersungkur ke batu tidak sadar telah melukai kepalanya sendiri.


Katanya, akan selalu bersamaku.

__ADS_1


Youra melihat dengan jelas beberapa orang juga menyeret tubuh sang ayah yang berlimpahan darah, sudah tak bernyawa.


Katanya akan selalu menemaniku.


Melihat itu, Youra memukul keras dadanya.


Tapi nyatanya, sakit sekali…


Ia mencoba berdiri mengambil sebuah batu hendak menyerang orang-orang itu.


Kalian yang berbicara soal cinta, malah menipuku.


Dengan sempoyongan, Youra yang sudah tidak kuat dengan deraian air mata berdiri melemparkan batu ke arah orang-orang itu. Namun, karena lemah, lemparannya tidak sampai tujuan. Batu itu jatuh duluan sebelum ia mengayunkannya.


Teganya kalian..


Meninggalkan aku dengan hati yang luka parah.


Youra hendak kembali menyerang, tetapi dia malah terjatuh lemah.


Gelap sekali…


Youra mencoba untuk bangun dan berpegang pada tembok pagarnya. Ia berusaha maju untuk menyerang orang itu semampunya.


Saat ia melangkah, tiba-tiba seseorang menariknya dan membekap mulutnya.


Kakak…


Seseorang itu menarik tubuhnya yang lemah menjauh.


Tolong aku…


**


Ibu selalu berkata, bahwa cintanya akan terus mengalir dan hidup di dalam jiwa anak-anaknya, itu artinya, dia tidak akan pergi. 


Dia bilang tidak akan meninggalkan aku.


Menyiapkan makanan untukku..


Mencium dahiku…


Tersenyum padaku…


Semuanya..


Dia selalu bercerita, bahwa suatu hari nanti, dia akan mengajakku datang ke istana, mengajari aku berdansa, membuatkan pakaian baru untukku, membuatkan sup ayam makan malam, tertawa bersama ayah, melindungiku. Tapi nyatanya, dia berbohong padaku.


Ayahku yang katanya akan melindungiku, 


Yang katanya akan pulang membawakan roti gandum..


Yang menggendongku kala aku tertidur menunggunya..


Yang mengusap kepalaku..


Yang tertawa karena tingkahku,


Ingkar janji dan pergi meninggalkanku.


Saat itu, kupikir hidupku sudah berakhir. Rasanya, aku ingin mati saja. 


Aku yang masih hidup kenapa tidak bisa berbuat apa-apa?


Kenapa aku tidak pulang lebih awal?


Aku ingin ikut dengan mereka saja. Tetapi,


“Youra, tenangkan dirimu”.


Aku yang tidak sadarkan diri, mendengar jelas suara itu.

__ADS_1


“Ayo bertahanlah!". 


Seseorang yang sangat menyayangiku…


“Kakak? Apa itu kau?" jawab Youra lemah dengan mata setengah terbuka. Kini ia bersandar pada tubuh sang kakak yang wajahnya tertutup kain hitam.


“Iya, ini kakak”.


Kakakku yang kuat, yang hatinya beku, tidak pernah menangis di depanku.


“Jangan bersuara ya, nanti mereka mendengarnya,” perintah Young.


“Kakak, Ibu dan Ayah… Ibu dan Ayah, tolong selamatkan mereka,” pinta Youra yang berusaha mengembalikan kesadarannya, merintih menangis.


“Youra tenanglah, jangan menangis. Mereka bisa mendengar kita. Ayo pergi dari sini".


Aku yang bodoh,


“Tidak, aku mau ayah dan ibu ikut bersama kita!” teriak Youra menangis terisak-isak.


“Hei! Siapa disana?!".


Orang-orang bertopeng itu mendengar mereka dan hendak mengejar. Young membekap mulut sang adik dan menggendong sang adik di punggungnya.


Seharusnya aku tidak menyusahkan kakakku.


Young berlari membawa adiknya yang lemah.


“Tenanglah, demi Ayah dan Ibu, kita berdua harus selamat".


Young berlari sekuat tenaga. 


“Semuanya akan baik-baik saja,” jelas Young.


Orang-orang yang bertopeng itu mengejar mereka dan menembakkan panah ke arah mereka. 


Aku mendengar suara tangis kakakku saat berlari.


Menyadari itu, Young yang hebat, dengan naluri tajamnya, langsung memutar tubuhnya, sehingga panah yang seharusnya melesat ke tubuh sang adik malah mengenai lengan atasnya.


Tetapi, kebodohanku malah membuatnya terluka. 


Setelah menemui tempat untuk beristirahat sebentar, ia berhenti sejenak di balik batu besar untuk memastikan adiknya baik-baik saja.


“Youra apa kau baik-baik saja?” tanya sang kakak sambil memeriksa adiknya. 


“Hmm,” angguk Youra yang tidak tahan ingin menangis keras membekap mulutnya sendiri. 


Wajah Youra sangat mengiba. Deraian air mata terus mengalir di pipinya, membuat Young tak kuasa melihatnya. Dia, dengan wajah sedih yang parah, berusaha keras menahan tangisannya. Dia membekas mulutnya, meredam suara isaknya.


Young mengintip sedikit, dia melihat orang-orang yang masih mengejarnya. Segera ia menutup wajah sang adik dengan sapu tangannya. Ia membuka jubahnya.


“Pakai ini, ayo. Tutup kepalamu,” perintah Young, sebelum akhirnya ia kembali menggendong sang adik di punggungnya. 


Youra yang sedang digendong kakaknya terdiam, ia melihat lengan kakaknya terluka parah. Membuat keinginannya menangis keras menjadi-jadi.


“Kakak, kau terluka,” panik Youra membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tak terdengar.


“Tenanglah, itu akan baik-baik saja. Pegang bahu Kakak erat-erat".


Youra menutup luka sang kakak dengan tangannya untuk menghentikan pendarahan. Dia memeluk pundak sang kakak erat-erat dan Young lanjut berlari sekuat tenaga setelahnya.


Saat itu aku sadar, 


Kakakku yang dingin sikapnya,


Yang kukira beku hatinya,


Di balik wajah dan ketegarannya, yang kupikir semuanya baik-baik saja, hari itu aku sadar, ada luka yang telah lama bersarang. Ada luka yang dia simpan erat-erat, demi aku yang bodoh ini.


**

__ADS_1


 


__ADS_2