
"Apa? Bisa kau ulang?" Jung Hyun melemas, hingga opsir itu terlepas dan pergi meninggalkannya. Seorang opsir lain yang mengantar Putri Shin waktu itu datang mendekat.
"Putri Shin bunuh diri di dalam biliknya."
Tepat selepas opsir itu berkata, tiba-tiba saja senyum Putri Shin seolah melintas di depan wajahnya.
"Kumohon, jangan menolak kedatanganku lagi. Aku sangat merindukanmu."
Seluruh sendi itu seolah menyepit tiap sudut tulang yang saling menopang. Membuatnya tak kuat berdiri hingga terjatuh lemah. "Tidak mungkin." Jung Hyun menggeleng cepat. Air mata sudah bersiap terjun dari pelupuknya. "Tidak mungkin. Baru saja dia datang menemuiku. Kau bercanda?"
Wajah opsir itu tak dapat berbohong. Wajahnya mengerut, menyatu bersama raut sedih penuh duka. "Aku tidak berbohong, Tuan. Putri Shin ... mengakhiri hidupnya."
Entah apa lagi yang harus diraihnya. Dunia seolah ikut runtuh menimpa tubuhnya. Dia tak sadarkan diri meski matanya tetap terbuka. Pikiran kacau itu memaksanya untuk keluar dari sana. Sebentar saja, asal bisa mendengar kabar soal wanitanya.
***
Mata itu terjaga hingga pagi. Dia sibuk menggoyangkan tubuhnya dengan buaian larut air mata. Berharap mendapat kabar, tetapi hingga pagi menjelang tak ada kabar yang terdengar.
Seorang wanita dengan wajah tertutup berdiri tepat di depan sel. Jung Hyun menyadari siapa yang ada dibaliknya. Ia merangkak menyisiri pintu sel. Meratap pada sang wanita yang sedang sesenggukan. Wanita itu membuka penutup kepalanya, ditemani oleh para opsir yang ikut menundukkan muka.
"Kurasa ... Anda sudah mengetahui apa yang terjadi." Wanita itu bersimpuh di depan Jung Hyun yang dibatasi sel. Dia mengulurkan sebuah sabuk lama. "Ini ... "
"Ini sabuk Anda, yang telah lama disimpan Putri Shin. Aku kembalikan." Wanita itu melemparkan sabuk Jung Hyun melalui sela sel. Dia hendak beranjak dari sana. "Tunggu! Kumohon, beritahu aku bagaimana kabarnya. Kumohon." Jung Hyun bergelimang air mata.
Wanita itu kembali berbalik badan. "Bukankah Anda yang telah mengusirnya? Saat ini sudah tidak ada lagi yang perlu Anda ketahui. Semuanya sudah berakhir." Wanita itu menatap kosong, dengan air mata yang terus menerus jatuh.
__ADS_1
"Aku menyesal, membiarkan tuanku jatuh cinta kepada Anda. Padahal, dia sedang mengandung anak Anda." Wanita itu malah terisak-isak setelahnya.
"Apa? Aku tidak mengerti. Tolong jelaskan kepadaku." Jung Hyun menggenggam kedua tiang yang saling bertaut dengan kedua tangannya.
Wanita itu mendekat, memelankan suara. "Jika saja Anda tahu, bagaimana dia mencintai Anda ... Anda pasti akan menghargai setiap usahanya. Putri Shin selalu disiksa Tuan Ha Sun. Banyak bekas luka di tubuhnya. Dia tidak pernah bermalam dengan Tuan Ha Sun. Itu artinya, dia sedang mengandung anak Anda. Hanya itu, yang bisa aku sampaikan. Kurasa Anda tidak perlu mendengar apapun lagi tentang dirinya." Wanita itu berhasil menggoreskan segaris luka di hati Jung Hyun. Segores luka yang dalamnya tiada terkira.
"Anakku?" Jung Hyun sekali lagi terbelalak sakit. Dia memukul-mukul dinding hingga tangannya terluka parah. Kasim Cho melihat pemandangan itu mulai menaruh curiga. Tatapannya menembus hingga ke sela-sela sel yang berjajar rapi.
Pelan-pelan Kasim Cho mengerti, lalu bergumam takut saat mulai menyadari. "Apa dia ... tidak, tidak mungkin."
Dosa. Jung Hyun dan Putri Shin telah melakukan dosa yang berbahaya untuk negeri mereka. Zina adalah ancaman besar untuk negeri bagi semua orang saat itu. Mereka percaya, malapetaka akan tiba jika saja ada rakyat yang memiliki keuasaan berbuat dosa.
...****************...
"Ini." Young mengulurkan sebuah gaun mewah ala bangsawan kepada Nana, pelayannya. Nana terkesiap saat melihat gaun itu. Dia bahkan tak berani bermimpi untuk memakai pakaian seperti itu.
"Mana mungkin ... mana mungkin aku berani, Tuan." Nana menggeleng cepat. "Kau sudah berani membantah Tuanmu?" Young membungkukkan tubuhnya untuk menatap wajah sang pelayan yang terus saja menunduk.
Jantung Nana berdegup hebat. Dia merasa Young marah kepadanya. "Ampuni aku, Tuan Muda. Aku akan memakainya."
"Baiklah. Jangan lupa, pakailah riasan wajah juga. Hari ini kita akan pergi ke pasar. Itu artinya kita harus menyamar. Jalinlah rambutmu dan berdandanlah seperti seorang gadis bangsawan. Kau mengerti?" tanya Young sembari menyembunyikan senyumnya. Dia tahu Nana takut akan kemarahannya.
Setelah beberapa waktu menunggu, tak lama setelah itu sang paman tiba di rumah. "Tuan Muda Young, selamat pagi." Sang paman melihat bagaimana Young sedang menggunakan pakaian khas yang biasa dipakai oleh para bangsawan. "Anda ingin pergi kemana, Tuan Muda?" tanya pamannya Nana.
"Aku ... "
__ADS_1
Suara pintu kediaman mereka berderit nyaring menghentikan pembicaraan mereka. Sepasang kaki keluar dari pintu, menjajaki satu persatu anak tangga rumah panggung itu. Gadis itu malu-malu mendekati Young dengan kepala dan wajah yang masih tertutup.
"Nana?" tanya paman, sesaat setelah dia memperhatikan gadis itu baik-baik.
Young berdiri dari duduknya, dia menatap lama gadis yang baru pertama kali memakai pakaian mewah. Tubuhnya sangat gagah saat berada di depan gadis yang tingginya sama seperti Youra. Setinggi dadanya saja.
"Bukalah."
Perlahan-lahan Nana membuka penutup kepala dan wajahnya. Saat penutup kepala itu jatuh ke atas bahunya, dia langsung menatap Young yang saat itu berdiri tepat di hadapannya.
Sang paman terpesona. Ini pertama kalinya dia melihat Nana berpenampilan layaknya seorang gadis. Dengan gaun mewah yang cukup mengembang di bagian bawah, wajah dengan riasan tipis dan pemerah bibir ringan yang menambah keelokan wajah itu membuat Nana sangat malu berhadapan dengan tuannya. Rambutnya dikepang satu, dengan pita bunga pada sudut keningnya.
Young tampak terkesima. Dia bahkan tak berkedip atau mengatakan apapun saat gadis itu membuka penutup kepalanya. "Tuan Muda ... apakah ini tidak berlebihan?" tanya Nana canggung, kembali menundukkan wajahnya.
"Tidak. Ini sangat cantik." Jawaban Yooung membuat Nana kembali mendongak menatapnya.
Karena Young juga sedang menatapnya, Nana menjadi merasa bersalah. Dalam hukum yang mengatur soal perbudakan, seorang budak dilarang keras menatap mata majikannya.
Young mengalihkan muka, menoleh pada paman yang terpaku oleh pesona. "Nana ... kau cantik sekali." Paman memeluk Nana hingga menitikkan air mata. "Aku tidak menyangka, kau bisa secantik ini saat berbalut gaun indah. Maafkan Paman, karena tidak bisa membelikanmu pakaian yang layak."
"Tidak Paman, bagiku ... kehadiran Paman jauh lebih berharga dari apapun."
Young tersenyum memperhatikan keluarga kecil itu. "Aku yang akan membelikannya gaun-gaun baru, Paman. Aku pamit dulu. Ayo, Nana."
Nana yang canggung menoleh pada pamannya. Dia tersenyum sumringah mengisyaratkan betapa bahagianya dia saat itu, karena dapat berjalan bersama seorang pria mahal yang selama ini hanya menjadi mimpi baginya.
__ADS_1
"Tuan Muda ... apa aku benar-benar cantik?" gumam Nana, saat matanya curi-curi pandang pada tubuh tegap yang sedang berjalan pelan.