Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Perdana Menteri Han dan Jun


__ADS_3

Sekretaris Negara mulai membacakan hasil keputusan.


"Tuan Han, atau yang biasa kita kenal sebagai Perdana Menteri Han, adalah salah satu dari 4 pejabat senior yang menjabat bersama empat orang raja turun-temurun. Beliau merupakan orang kepercayaan raja dengan kinerja yang tidak pernah mengecewakan! Namun, secara tiba-tiba beliau berubah menjadi seseorang yang lebih keji daripada iblis. Beliau bekerja sama dengan para pemberontak, merencanakan pemberontakan untuk melengserkan Putra Mahkota yang kini telah menjadi raja! Mengirimkan sihir agar beliau sakit-sakitan! Membunuh banyak rakyat tidak bersalah, membuat sebuah kelompok yang ditugaskan sebagai pembunuh bayaran! Penggunaan identitas palsu, memfitnah keluarga mendiang Tuan Lee--Penasehat Negara--hingga akhirnya membunuhnya dengan siasat perampokan! Dalang dibalik pembunuhan yang terjadi pada Tuan Muda Lee Young!"


" ... memasang jebakan untuk Putra Mahkota bersama beberapa orang yang berasal dari negeri musuh, mencuri gandum dari gudang istana, dan meletakkan tanda tangan palsu di atas petisi penguatan hukum negara! Semua tindakan tersebut termasuk korupsi dan pencemaran nama baik yang masuk dalam kategori pengkhianatan berat, membuat istana secara sepakat selain seluruh hukuman yang disebutkan sebelumnya yaitu baik mencabut gelar, status, dan denda yang harus dia bayarkan dua kali lipat dalam tempo 3 bulan, maka istana juga mutlak menjatuhkan hukuman mati yang telah disetujui oleh Yang Mulia Raja!"


"Dan untuk Han Ji-Eun, putri bungsu Perdana Menteri Han yang merupakan selir raja satu-satunya, terbukti telah terlibat dalam beberapa kasus dalam istana berhasil diungkap oleh Yang Mulia Ratu beberapa waktu yang lalu! Maka istana secara sepakat akan mengirimkannya jauh dari negeri ini sebagai seorang budak sebagai hukuman! Itu artinya, seluruh hak dan kewajiban sebagai seorang bangsawan dicabut, tak punya hak lagi untuk kembali ke negeri ini!"


TOK! TOK!


Setelah suara palu berbunyi, tak ada suara sama sekali. Mereka semua mengheningkan cipta sendiri. Perdana Menteri Han tak bersuara, dia diam saja tanpa mengatakan apapun. Bahkan dia juga tak menangis sama sekali.


Jun yang saat itu berada di dekatnya, hanya bisa menoleh pada sang ayah, menjatuhkan air mata. Bagaimanapun juga, ayah yang sangat dibencinya itu dulu sering menggendongnya ke istana. Perdana Menteri Han dulunya adalah ayah yang baik hati. Ayah yang hidup sederhana bersama anak dan istrinya. Dia selalu pulang ke rumah membawa cerita-cerita baik untuk Jun dan ibunya. Sayang sekali, kekuasaan membutakan mata hatinya untuk lebih berkuasa dan semakin berkuasa. Pada akhirnya, keserakahan itu yang mengakhiri hidupnya.


Sekretasi Negara menyeka air matanya. Dia mendekat pada Perdana Menteri Han, mengulurkan tangannya. "Teman?"


Perdana Menteri Han menatap tangan itu cukup lama, sebelum akhirnya menggapai tangan itu lalu memeluknya.


Tangis mereka mengudara hingga ke langit. Orang-orang jadi ikut bersedih. Dulunya, saat mereka masih muda ... Sekretaris Negara, Perdana Menteri Han, dan mendiang Penasehat Negara adalah tiga serangkai yang tak pernah berpisah. Masuk ke istana sebagai pegawai baru yang masih berada di posisi terbawah. Mereka pulang bersama, dan tinggal di kamar yang sama. Bercerita soal gadis-gadis dan memiliki kekasih dalam waktu yang sama.


Mengulang kembali memori saat dulu mereka pernah bolos bekerja. Mereka tertawa sepanjang hari di belakang istana menikmati makan siang karena Perdana Menteri Han sedang berulang tahun. Namun, semua itu berakhir begitu saja setelah mereka diangkat menjadi orang-orang penting yang saling bersaing merebut hati raja. Mereka menjadi teman yang dingin dan tak lagi pernah berkumpul. Sekretaris Negara dan Penasehat Negara masih sejalan, tetapi Perdana Menteri Han hanya sibuk dengan dirinya. Hidup yang malang.


***


Pembacaan keputusan itu mengundang banyak air mata. Termasuk Youra yang bahkan hanya melihatnya dari kejauhan.


Sekretaris Negara kembali meraih sebuah kertas terakhir yang membuatnya terisak tak kuasa. Melihat Sekretaris Negara yang menangis di tengah-tengah lapangan, membuat semua orang termasuk raja ikut menangis. Istana benar-benar telah kehilangan orang-orang yang telah lama mengabdi.


"Selanjutnya ... untuk Tuan Muda Jun, atau yang dikenal sebagai Guru Jun." Sekali lagi Sekretaris Negara menyeka air matanya, tampak sangat tidak kuasa membacakan hasil keputusan itu.


"Untuk Guru Jun, pemuda yang sangat terkenal akan kepandaian, kepintaran, serta kebijaksanaan membuatnya terpilih sebagai orang yang paling diteladani di negeri ini selama bertahun-tahun. Namun, hari ini ... akibat kesalahan terbesarnya yang ikut menyembunyikan dosa sang ayah--Perdana Menteri Han--selama bertahun-tahun lamanya, tanpa mempertimbangkan apapun tindakannya dianggap sebagai tindakan pemberontakan ... selain pencabutan gelar, status, dan jabatan serta seluruh fasilitas kekuasaan, kejahatannya juga membuatnya dijatuhkan hukum mati atau minimal kurungan seumur hidup!"

__ADS_1


Bergetar Sekretaris Negara membacakan hasil keputusan menyedihkan itu. Meski semua orang tahu dia sangat baik, tetapi hukum tetaplah hukum.


Raja turun dari singgasana saat Jun segera dibawa keluar oleh para opsir. "Tunggu!"


Para opsir dan Jun yang sedang diikat ikut berhenti. Mereka semua berbalik dan menunduk hormat di hadapan raja.


"Aku ingin bertanya satu hal untuk yang terakhir kali padanya," kata raja membuat semua orang terkejut tak menyangka. Termasuk Youra yang dari tadi sibuk menitikkan air mata.


Raja melangkah lebih dekat dengan Jun.


"Apa Anda masih ... mencintai istriku?"


DEG


DEG


DEG


Entah kenapa raja menanyakan hal menegangkan itu di hadapan banyak orang. Youra langsung terperanjat dan berdiri tegak dari duduknya. Perasaannya kalut bercampur sedih.


Tanpa ragu dan takut, Jun membungkukkan tubuhnya.


"Ya, hamba masih mencintai Yang Mulia Ratu Lee, Yang Mulia."


Semua orang terpelanting oleh kalimat lantang Jun yang tak kenal takut. Youra tertusuk oleh keadaan yang mengharukan.


"Apa?!!!!"


"Apa aku tidak salah dengar?!"


"Sudah tidak ada gunanya lagi dia berbohong, dia juga akan mati setelah ini."

__ADS_1


Sebagian warga terperanjat tak percaya. Sebagian lainnya menangis karena kasihan. Jangankan cinta, pemuda malang itu bahkan harus mati sebelum dia menikah.


Raja mengangguk. "Baik," jawabnya.


"Guru Jun, dengan kekuasaan yang aku miliki ... Anda dibebaskan!" teriak raja.


Teriakan itu menggema di langit. Semua air mata tumpah seketika meski dari tadi mereka sibuk menahannnya. Tak ada yang terdengar selain isak tangis orang-orang. Youra bahkan terhenyak kembali.


Raja kembali ke atas singgasana. "Yang Mulia, mengapa Anda membebaskan Guru Jun?" tanya Sekretaris Negara yang juga ikut menangis.


Raja menarik panjang napasnya. "Beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda hebat diangkat oleh Ayah sebagai guru untukku."


"Aku bisa melihat kebencian di matanya. Aku bisa melihat rasa tidak nyaman itu pada dirinya. Namun ... ." Raja mengusap kedua matanya yang buram oleh tumpukan air mata.


"Namun, dia tidak pernah sekalipun menyakitiku. Dia berdiri di depanku, duduk di hadapanku dengan rasa hormat, meski aku sudah merebut wanita yang dia cintai."


"Dia tersenyum kepadaku meski nilaiku tak pernah baik. Dan sekalipun, dia tidak pernah mengajarkan aku tentang kebencian. Selalu menasihati aku jika aku bersalah."


"Dia bisa membunuhku kapan saja, tetapi dia tidak pernah melakukannya. Padahal ... dia salah satu orang yang selalu berada di dekatku. Dia mencintai istriku, tetapi tidak pernah berusaha untuk mengambil paksanya dariku, atau membawanya kabur secara paksa dari istana. Dia menuangkan teh hangat miliknya di atas cangkirku karena curiga pada teh yang disajikan oleh para pelayan."


"Dia membenciku, tetapi tidak pernah mengajarkan kebencian. Apapun yang saat ini kalian lihat pada diriku ... semuanya murni adalah ilmu dan ajaran darinya."


Raja membungkukkan tubuhnya, membuat semua orang semakin menangis haru. "Sampai kapanpun, Anda tetap guru yang berjasa dalam hidupku. Anda menyelamatkan negeri ini dari kebencian. Anda menyelamatkan aku dari kebencian."


Semua orang menangis haru. Pernyataan raja secara resmi akhirnya disetujui oleh semua pejabat yang berwenang. Namun, Jun tetap dihukum meski hukuman itu berkurang.


"Aku akan mengirim Anda pergi dari pusat kota. Jabatan Anda sebagai seorang Kepala Menteri secara resmi akan dicabut. Namun, Anda masih memiliki hak untuk bekerja dan memperoleh hidup lebih layak di tempat lain." Raja menyentuh pundak Jun. "Lupakan lah permaisuriku, dan bangunlah sebuah keluarga. Kesetiaanmu dan kepintaranmu akan selalu berguna untuk negeri ini."


Jun akhirnya bersujud di kaki raja. "Terimakasih atas kebaikan hati Anda, Yang Mulia." Jun kembali berdiri. Setelahnya, ia menoleh pada Youra, lalu tersenyum dari kejauhan sembari membungkukkan tubuhnya. Youra ikut terharu, dan ikut menundukkan sedikit kepalanya sebagai penghormatan terakhir.


Itulah, terakhir kalinya aku bertemu Kak Jun. Terimakasih Kak Jun, semua jasa dan kebaikan tidak akan pernah aku lupakan.

__ADS_1


Akhirnya pertemuan hari itu berakhir. Besok pagi, raja akan kembali mengumumkan hukuman yang tepat untuk ratu.


***


__ADS_2