Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Bisakah Aku Melihatmu Lagi?


__ADS_3

"Apapun yang menyebabkan kematiannya, Andalah yang sudah membunuhnya."


...****************...


Dulu, aku hidup penuh cinta dan kasih. Aku menghiasi seluruh kisah kecil itu dengan tawa dan empati.


Ayahku ...


Ibuku ...


Kakakku ....


Bahagia ... penuh suka cita. Melewati sudut terkecil jauh disana, bertemankan mereka yang penuh cinta.


Aku ... telah kehilangan diriku, Lee Youra yang dulu.


Saat tembakan itu bersarang di hatiku, segala cinta itu berubah jadi kebencian tak bermata. Aku menjadi buta ...


Kukira, aku lah yang menderita.


Kukira, aku lah yang hidup penuh luka. Sendirian, bermandikan air mata.


Nyatanya ... aku salah. Aku tak pernah benar-benar menderita. Aku tak pernah benar-benar sendirian dan merana. Bintang yang terus saja membanjiri aku yang bodoh ini dengan cinta.


Akulah ... yang menciptakan luka. Aku dan kebodohanku, memaksa kematian itu merenggut segalanya.


Putra Mahkota, suamiku ... Jika saja langit tak mempertemukan kita, akankah Anda mencariku agar kita bertemu?


Sekali lagi saja ...


Bisakah aku melihatmu lagi?


Ada yang belum pernah aku katakan, sesuatu yang selama ini aku ragukan.


Suamiku ...


Aku mencintaimu.


...****************...

__ADS_1


(Tiga jam sebelumnya)


"Putra Mahkota ... " Kasim Cho dan seluruh pelayan Putra Mahkota menangis terisak. Mereka semua menghadap Putra Mahkota atas perintahnya. Tak ada yang sanggup dikatakan, selain buliran air mata yang menjadi jawaban.


"Sekali ini saja, hamba memohon pada Anda agar Anda tidak pergi." Kasim Cho menyentuh ujung jubah mewah itu. Wajahnya bengkak, menangis semalaman tidak cukup meredakan rasa pilu itu. "Yang Mulia, Anda boleh keluar istana, Anda boleh jalan-jalan atau terlalu banyak makan kue beras seperti dulu. Hamba tidak akan melarang Anda lagi, asalkan Anda tetap disini. Yang Mulia, Anda ingat saat dulu Anda masih belia? Anda meminta hamba untuk mempertemukan Anda dengan Tuan Muda Lee Young saat sedang di istana, tetapi tidak jadi karena Anda melihat adik kecilnya menjemput beliau, adiknya yang sekarang sudah menjadi permaisuri Anda? Saat itu, Anda tersenyum setiap hari. Sebenarnya, hamba sudah tahu Anda berbohong soal jalan-jalan keluar istana. Hamba tahu Anda jatuh cinta padanya. Anda ingin melihatnya kembali."


"Yang Mulia, Maafkan hamba karena selalu mencuri kue beras Anda. Memakannya diam-diam agar Anda tidak terlalu sering memakannya. Anda tidak pernah menegurku, meski Anda mengetahuinya. Mulai sekarang, hamba tidak akan mencuri kue beras kesukaan Anda itu lagi. Tapi hamba mohon, tetaplah di istana." Kasim Cho tak henti-hentinya membujuk Putra Mahkota. Menahan jubah itu untuk tak segera beranjak.


Putra Mahkota menyentuh tangan Kasim Cho, menggenggamnya cukup lama. "Terima kasih, karena sudah jadi pelayan yang sangat setia. Tanpamu, aku benar-benar kesepian di istana ini. Kasim Cho, jangan berkata seperti itu, apa kau meragukan kemampuanku?" tanya Putra Mahkota lembut penuh makna.


"Yang Mulia ... " Seluruh tangis itu bersahut-sahutan, selepas Putra Mahkota beranjak dari kediamannya hendak menemui Yang Mulia Raja.


***


Pintu kamar mewah itu dibuka, Putra Mahkota menginjakkan kaki di bilik mewah ayahnya. Raja yang sedang terbaring lemah, wajahnya terus saja dialiri derasnya air mata.


"Ayah, bagaimana kabarmu?" Putra Mahkota tak menangis sama sekali. Dia terlihat sangat tegar dan berani.


Raja yang tak dapat menolehkan wajahnya karena sakit keras, tatapannya hanya lurus ke langit-langit kediaman. Raja meraih tangan sang putra untuk yang pertama kali dia lakukan. Selama ini, dia terus saja marah kepada putranya itu, meski putranya itu tak tahu apa-apa. Melimpahkan semua kesalahan kepada putranya dan memaksakan seluruh kehendaknya. Tak sekalipun mau mendengarkan.


"Putraku ... " lirih raja begitu sulit.


"Mengapa, kau tidak membenciku?" Raja menggenggam tangan penuh luka itu sangat erat.


Saking sedihnya, raja bahkan tak sanggup untuk menghela napas.


"Anakku, maukah kau memaafkan ayahmu ini?"


Susah payah raja berbicara, akibat sakit dan sesak yang ia derita. Menyadari akan kesalahan fatal yang telah dia lakukan. Yang perlahan-lahan menghancurkan segalanya. Dia menolak seluruh ramalan, sedang dia sendiri mempercayainya. Dia membenci putra yang sebenarnya sangat menyayanginya. Dia tak pernah tahu, seberapa lama anak itu menderita. Tak pernah pula menyangka, anak yang hidup menderita itu tak pernah merasakan cinta dan hidup sakit-sakitan.


Putra Mahkota membalas genggaman sang ayah. Ini pertama kalinya, raja memanggilnya "anakku" sembari menitikkan air mata. "Aku tidak pernah membenci Ayah. Aku merindukan Ayah." Sangat lantang putranya menjawab, tak menunjukkan sedikitpun keraguan.


Putra Mahkota bersimpuh, tepat di sebelah ayahnya. "Senang rasanya, ayah memanggilku seperti itu. Ini pertama kalinya, aku mendengarnya." Putra Mahkota menyapu air mata sang ayah dengan jempolnya. "Jangan menyesali apapun juga. Ayah tetaplah kuat. Aku akan menyelamatkan negeri ini, semampu yang aku bisa. Aku sudah berjanji di makam ibuku." Putra Mahkota menggosok-gosok tangan sang ayah yang sedang dihantui penyesalan terdalam, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan istana.


***


(Kembali pada episode sebelumnya)


"Baik. Aku menerimanya."

__ADS_1


Seluruh yang ada disana tertawa terbahak-bahak, seolah tahu seberapa besar peluang kemenangan mereka. Putra Mahkota menundukkan wajahnya, sudah tahu tentang arti tawa mereka. Pria paruh baya itu melirik tangan pucat Putra Mahkota yang penuh luka, sedang mencari celah untuk melakukan kecurangan. "Tampaknya calon raja negeri ini sedang sakit. Apa Anda sedang sakit, Yang Mulia?" tanya pria paruh baya itu penuh sindiran. Belum lagi Putra Mahkota menjawab, seorang pemuda datang mendekat, membisikkan sebuah info menyedihkan kepada pria paruh baya itu.


Putra Mahkota memandangi mereka, terkejut saat pria itu bertepuk tangan. "Luar biasa, ternyata kita tidak sedang menghadap calon raja. Kita sudah menghadap raja negeri ini."


"Apa maksudmu?" tanya Putra Mahkota kebingungan. "Yang Mulia Raja, sudah mangkat."


(Mangkat \= Meninggal Dunia)


Wajah Putra Mahkota berubah seketika, tatkala mendengar berita kematian sang ayah yang menghancurkan harapannya.


"Hei semuanya berdirilah, berikan hormat kalian kepada raja negeri ini!" Pria paruh baya itu berdiri, diikuti oleh seluruh orang yang ada disana. Membungkuk hormat pada Yang Mulia Putra Mahkota, yang otomatis akan dinobatkan menjadi raja negeri ini. Putra Mahkota hanya bisa membatu, menundukkan wajah sedihnya selama beberapa detik.


"Karena Anda tidak memiliki keturunan, jika Anda mati maka tahta akan jatuh kepada adik Anda. Siapa yang Anda inginkan menjadi pemimpin negeri ini? Pangeran Yul atau Pangeran Hon?"


Perkataan pria paruh baya itu sama sekali tidak ditanggapi oleh Putra Mahkota yang sedang hancur. Putra Mahkota mengepal erat tangannya, menyimpan seluruh energi kemarahan itu ke dalam sana.


***


Ara menyusuri anak tangga, mendekatlah dia pada sang suami yang hendak meninggalkan kediaman. Air mata itu bercucuran jatuh ke tanah. Ara menyentuh perutnya, mendekap erat bayi itu seolah sedang berada dalam hangat tubuhnya. Pangeran Yul sudah melangkah, tapi kedua tangan indah sang istri menahan lengannya.


"Suamiku, tetaplah di rumah." Sesenggukan Ara memperlihatkan tangis itu untuk pertama kalinya di hadapan sang suami. Pangeran Yul berbalik, melihat tangis itu pada wajah istrinya.


"Pikirkanlah bayi yang ada di dalam perutku, Suamiku." Ara menaruh harapan itu jauh di dalam sana.


Pangeran Yul menundukkan setengah tubuhnya. "Ini kesempatanku untuk mendapatkan posisi itu," sanggah Pangeran Yul, sembari melepaskan lengannya.


"Aku tidak menginginkan Anda yang seperti itu. Aku tidak membutuhkan kekayaan Anda." Ara terus saja menitikkan air mata.


"Aku tidak peduli, tentang apa yang kau inginkan."


"Sudikah Anda, menjadikan bayi Anda, sebagai anak dari seorang pengkhianat?" terus saja Ara berupaya menahan pergi sang suami.


Ara menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di kaki Pangeran Yul. "Pikirkan lah aku, sekali saja. Lupakan tentang semuanya, dan mari hidup bahagia bersama bayi kita. Tidak masalah, jika harus miskin dan menderita. Asal bersama Anda, aku akan sangat bahagia." Ara menyentuh kaki itu, menahannya untuk tetap tinggal.


"Ara!" Pangeran Yul menarik paksa kakinya melangkah menjauh. Ara tersungkur, mencoba kembali bangkit membawa perutnya yang sakit itu untuk berdiri.


"Pangeran Yul ... tidakkah terasa oleh Anda, betapa aku sangat mencintai Anda? Pangeranku, hanya ada satu yang akan tetap hidup setelah ini, dan aku tidak ingin Anda atau Putra Mahkota mati sia-sia." Ara tertatih-tatih mendekati sang suami yang langkahnya terhenti.


"Suamiku, sadarlah ... Anda tidak pernah menderita. Anda lah yang memiliki segalanya. Tapi Putra Mahkota, dia tidak punya apa-apa. Tidakkah Anda sadar akan hal itu? Raja, ratu, rakyat, dan istri yang mencintai Anda ... tidakkah cukup bagi Anda? Putra Mahkota tidak punya apa-apa, Pangeranku. Tidak ada cinta ibu, tidak ada cinta ayah, tidak juga dicintai oleh istrinya, tidak ada siapapun yang mencintainya, bahkan rakyat sekalipun. Tegakah Anda merebut satu hal berharga itu darinya? Tegakah Anda, membunuh adik yang tidak pernah membenci Anda?"

__ADS_1


"Dia tidak bodoh, Pangeranku. Dia pasti tahu dia akan mati pada pertemuan itu. Tapi dia datang, dia datang, Suamiku. Memberikan hak itu kepada Anda secara tak langsung. Jika Anda tidak kasihan kepada aku dan bayi Anda, tidakkah Anda kasihan kepadanya? Bukalah mata Anda, apa pernah Anda melihat dia bahagia? Permaisurinya, bahkan ingin membunuhnya, ratu ingin membunuhnya, dan saudaranya ingin membunuhnya. Mengapa, mengapa semuanya harus seperti itu? Aku tidak bisa melihat banyak penderitaan lagi, Suamiku. Aku tidak bisa membenci Youra dan melenyapkannya seperti yang Anda inginkan. Jika Anda tetap ingin melakukannya, bunuhlah aku dan bayi Anda lebih dahulu."


Cinta dan harapan, semuanya terikat pada pedang yang sama. Menjadi pertemuan singkat yang penuh deraian air mata. Mereka tidak melihat segalanya, hanya berkaca pada ambisi dan dendam. Pada akhirnya, mereka lah yang menyesal.


__ADS_2