Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Salah Paham


__ADS_3

Kasim Cho membawa surat perintah dari istana ratu. Surat itu ditulis secara formal dan langsung dibubuhi tanda tangan oleh raja secara sah. Putra Mahkota yang saat itu tengah bersiap-siap untuk ke lapangan berlatih sedang menatap wajahnya yang tampan melalui cermin, hendak memasang penutup wajah.


"Yang Mulia, ini ada surat perintah dari istana ratu." Kasim Cho menyerahkan surat istimewa itu dengan penuh hormat. Putra Mahkota mengernyitkan dahinya kebingungan. Surat itu terkesan tiba-tiba hingga menimbulkan rasa curiga di benaknya. Putra Mahkota meraih kertas itu terburu-buru, segera membukanya.


"Penunjukan selir?" Putra Mahkota menghempaskan surat itu ke atas meja tak terima. Dia duduk di atas bangku di dalam biliknya. "Aku sudah melakukan penolakan, mengapa ayah malah menurunkan surat perintah yang sah. Antar aku menemui ratu." Putra Mahkota keluar dengan pakaian berlatihnya, bergegas menemui sang ratu.


***


"Yang Mulia, Putra Mahkota ada disini. Ingin berjumpa dengan Anda."


"Sudah kuduga," jawab ratu tersenyum bangga.


Ratu merapikan pakaiannya, lalu berjalan gontai menemui Putra Mahkota. "Wah ... mengejutkan sekali, Putra Mahkota yang selama ini jarang mengunjungi ibunya datang dengan pakaian mewah yang gagah ini. Ada apa, Putraku?" sapa ratu sok ramah. Memperlihatkan wajah polosnya yang seolah tak tahu apa-apa.


"Apa maksud Anda tentang penunjukan selir untukku? Sudah kukatakan aku tidak membutuhkan wanita lain." Putra Mahkota tak duduk sama sekali. Dia tetap berdiri di depan ratu yang tengah menghidangkan sedikit cemilan dan minuman wangi.


"Tenanglah, duduklah dulu. Jangan marah-marah dulu padaku." Dengan santai dan bangga, ratu menuangkan air jahe hangat khas koki istana ke dalam keramik cantik istimewa yang dia suguhkan untuk Putra Mahkota.


"Aku menolak titah ini. Mohon tarik kembali," balas Putra Mahkota sembari membungkukkan tubuhnya.


"Putra Mahkota, kenapa kau lucu sekali? Bukankah semakin banyak istri itu akan semakin baik dan menyenangkan?" Ratu menepis semua perkataan Putra Mahkota secepat kilat.


"Sayang sekali, aku tidak membutuhkannya, Yang Mulia." Putra Mahkota masih mempertahankan keinginannya untuk tidak menambah istri.


"Apa yang kau khawatirkan? Kau pikir permaisurimu akan cemburu dan menolak?Bukan hanya aku dan raja, Putri Mahkota juga sudah menyetujuinya." Ratu menyilang kakinya, menegakkan tubuhnya lebih anggun dan berwibawa.


Putra Mahkota membatu. Dia bahkan tak dapat berkedip setelah mendengar kenyataan menyakitkan itu. Pikirannya terbang menerawang cukup jauh. Beragam acak mengerubungi hatinya yang kecewa. Merana. Tak ada kata lain yang tertoreh dalam hatinya selain rasa kecewa yang begitu dalam.

__ADS_1


"Apa?" lirih Putra Mahkota kecewa. Manik matanya menunjukkan rasa sakit itu. Mungkin ada beberapa tetes air yang siap turun dari pelupuknya.


Ratu tersenyum, memperkuat keyakinannya untuk mendapatkan semua yang dia inginkan. "Apa aku perlu mengulanginya?" tanya ratu angkuh.


Tak perlu pikir panjang, wajah para pelayan Putra Mahkota dapat melihat wajah kecewa penuh amarah itu dari sang pewaris tahta. Putra Mahkota melangkah keluar meninggalkan istana ratu. Kemarahan itu segera dia bawa ke kediaman permaisurinya.


Youra saat itu baru saja akan keluar. Pakaiannya sangat rapi, penuh kemewahan yang menggambarkan betapa berkuasanya dia sebagai istri Putra Mahkota. Youra tersenyum manis di depan kaca, menyentuh Binyeo (tusuk konde) yang diberikan Putra Mahkota pada hari mereka menikah, menggambarkan bahwa dia adalah istri sah Putra Mahkota. Namun ...


Brukkk!


Semua pelayan berhamburan keluar dari bilik Youra. Youra berbalik cepat, "Yang Mulia?" Suara Youra sangat pelan. Dia benar-benar terkejut. "Yang Mulia, bukankah Anda akan berlatih ke lapangan?"


Putra Mahkota tak mengatakan apapun. Dia mendorong tubuh Youra hingga terpojok ke dinding. Putra Mahkota membuka penutup wajahnya, menatap Youra lekat. Kali ini, tatapannya benar-benar berbeda. Dia sangat marah. Youra terkepung oleh kedua lengan kokoh yang menjebaknya di dalam. "Lee Youra, kenapa kau kejam sekali?" Napas Putra Mahkota tak teratur. Dia tak terkendali.


"Yang Mulia apa yang ... "


"Yang Mulia, aku ... "


Belum lagi Youra selesai berbicara, Putra Mahkota langsung membungkam bibir Youra dengan bibir mahalnya yang berharga. Dia menggerayangi bibir Youra penuh emosi, tak begitu lama. Kembali ia mengangkat bibir itu secepatnya.


"Kau jahat sekali, sayang." Putra Mahkota menitikkan setetes air mata dari kedua matanya, mengatakan hal itu cukup lembut di bibir Youra. Dia mengecup kembali bibir itu, menariknya menuju dahi sang istri. Putra Mahkota mencium dahi Youra sambil memejamkan mata.


"Kau benar-benar tidak menginginkanku. Baiklah, aku akan menikah lagi seperti yang kau inginkan." Putra Mahkota kembali mengecup dahi istrinya, lalu beranjak dari kediaman Youra.


Youra terpaku sangat lama. Saat kesadaran itu mulai mendapatkan tempat, dia berlari mengejar sang suami sampai pintu gerbang istananya. Sayang sekali, Putra Mahkota sudah tak lagi terlihat.


Dayang Nari mengetahui segalanya. Dia menahan tubuh Youra yang lemah. "Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya Dayang Nari menatap wajah pucat itu berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Youra menghapus air matanya. Para pelayan mengantarnya kembali menuju kediaman. "Tidak jadi jalan-jalan, Yang Mulia?" Youra menggeleng pelan, "Tidak. Aku merasa tidak enak badan."


"Yang Mulia, Anda bisa mengubah segalanya. Mengapa Anda tidak terus mengejarnya?" batin Dayang Nari kecewa.


***


Di lapangan, Putra Mahkota terus melepaskan panahnya tidak henti. Terus saja hingga panah itu memenuhi bantalan target, penuh emosi. Tak sedikit pun berhenti. "Yang Mulia, tenangkan diri Anda." Jung Hyun dan seluruh opsir yang berlatih kebingungan.


"Yang Mulia, tangan Anda bisa terluka." Kembali Jung Hyun membujuk, melihat tangan sang pewaris tahta telah terluka. "Yang Mulia?" panggil Jung Hyun.


"Mana anak panahnya?!" teriak Putra Mahkota marah-marah saat panah itu habis. "Aku tanya, mana anak panahnya?!"


Jung Hyun menyentuh tangan yang terluka itu. "Yang Mulia. Mohon tenangkan diri Anda." Jung Hyun menatap sendu sang pewaris tahta. Putra Mahkota akhirnya mengalah. Dia melengos pergi menuju kediamannya, tak memperdulikan apapun yang ada di depannya.


***


"Han Ji-Eun, putri Perdana Menteri Han sekaligus adik Guru Jun, Kepala Menteri Pendidikan dan Keuangan, serta Hong Jin-Yi, putri tunggal Sekretaris Negara adalah dua nama yang akan dipilih ratu untuk dijadikan selir bagi Putra Mahkota." Pengumuman mendadak itu mengejutkan banyak menteri. Mereka saling tersenyum satu sama lain.


Berita ini tak membutuhkan waktu lama untuk segera sampai di telinga rakyat. Hong Jin-Yi tersenyum senang di dalam kediamannya. Tak henti-hentinya dia membayangkan Putra Mahkota menjadi suaminya. Sejak awal, dia memang sudah jatuh cinta pada sang pewaris tahta. "Nona, aku sangat senang melihat Anda sebahagia ini." Pelayan pribadi Jin-Yi memoleskan serbuk merah muda itu di pipi Jin-Yi yang ceria.


Hari ini, kedua calon selir itu dijemput oleh tandu kehormatan untuk mendengar keputusan ratu secara langsung. Dua tandu istimewa itu menghadirkan dua wanita paling populer dan paling cantik di negeri itu. Hong Jin-Yi dan Han Ji-Eun, atau yang biasa disebut Nona Hong dan Nona Han telah sampai di istana. Nona Hong tersenyum manis, membungkukkan tubuhnya pada Nona Han. Namun, rasa hormat itu tak mendapatkan balasan. Han Ji-Eun melengos saja masuk ke istana ratu.


"Selamat datang dua nona kebanggaan negeri," sapa dayang pribadi ratu. Ratu tersenyum menyambut kedua wanita itu dengan rasa senangnya.


Mereka cukup canggung, hingga tak terdengar suara apapun. Masih menunggu kedatangan Youra yang belum juga tiba. "Aku akan membacakan hasil keputusan ini setelah Putri Mahkota tiba. Kalian juga memerlukan restu darinya sebagai istri pertama." Ratu tertawa bangga jauh di dalam sana. Sedikit lagi, menyingkirkan Youra akan menjadi kemungkinan yang nyata.


***

__ADS_1


__ADS_2