Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Jangan Mencoba Menghindariku Lagi


__ADS_3

Kasim Cho membukakan pintu bilik Putra Mahkota untuk Jung Hyun yang baru saja tiba.


“Yang Mulia, gadis yang ada maksud hari itu, aku sudah mencari informasi tentangnya,” kata Jung Hyun ragu-ragu di hadapan Putra Mahkota yang sedang membaca buku.


Mendengar perkataan Jung Hyun, Putra Mahkota dengan semangat menyingkirkan buku-buku itu dari hadapannya.


“Katakan,” perintah Putra Mahkota.


Jung Hyun tampak enggan karena terdiam cukup lama.


“Haruskah aku melibatkan Nona Youra, bagaimana, apa yang harus aku lakukan?” gumam Jung Hyun.


Putra Mahkota yang terus menatapnya, membuat Jung Hyun tak mampu untuk menipunya. Jung Hyun menarik napasnya, dan melepaskannya pelan.


“Gadis itu, bernama Lee Youra. Benar, dia adalah putri mendiang penasehat negara. Dia adik kandung Lee Young, siswa militer terbaik, yang seharusnya menjadi pengawal anda saat ini,” jelas Jung Hyun dengan wajah cemasnya.


Putra Mahkota tersenyum dari balik penutup wajahnya itu.


“Dugaanku benar. Gadis cantik yang angkuh itu, benar-benar putri seorang bangsawan. Berani-beraninya dia menghina bangsawan lain, sementara dia juga seorang bangsawan,” jawab Putra Mahkota kembali membaca bukunya. 


Jung Hyun segera menatap wajah Putra Mahkota.


“Mm-maaf Yy-yang Mulia,” panggilnya terbata-bata.


“Apa anda benar-benar ingin gadis itu menjadi permaisuri anda?” tanya Jung Hyun khawatir.


“Bukankah seorang yang angkuh lebih pantas bersanding dengan wanita yang angkuh juga?”.


Jawaban Putra Mahkota membuat jantung Jung Hyun berdebar sangat kencang, karena ketakutan yang melanda pikirannya.


“Yang Mulia, apa yang akan anda lakukan? Haruskah anda melibatkan orang yang tidak bersalah?” batin Jung Hyun.


Putra Mahkota berdiri.


“Aku akan menemui ratu, dan mengatakan padanya, aku hanya akan menikah dengan wanita pilihanku,” tambah Putra Mahkota yang membuat Jung Hyun semakin khawatir.


Jung Hyun akhirnya mengikuti langkah Putra Mahkota yang bergegas menuju kediaman ratu dengan rasa bersalahnya. 


**


Di istana ratu, tampaknya ratu sedang kedatangan seorang tamu. Seorang dayang menatap Jung Hyun langsung mengalihkan pandangannya, sesaat setelah Jung Hyun berhenti di depan kediaman ratu. Jung Hyun dan Putra Mahkota kemudian masuk melewati pintu utama istana ratu. Tak lama kemudian, tamu itu keluar dari kediaman ratu. Segera setelah itu, Putra Mahkota masuk. 


Saat itu, akhirnya Putri Shin yang baru saja keluar secara langsung berselisih dengan Jung Hyun yang sedang menunggu Putra Mahkota di depan kediaman ratu.


Tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka, selain tatapan hampa milik Putri Shin yang terhenti menoleh ke wajah pria pujaannya itu. Jung Hyun kemudian membungkuk hormat padanya tanpa memandang wajahnya sama sekali. 


Putri Shin bergerak menuju Jung Hyun. Para dayang yang melihat tindakan Putri Shin spontan menoleh karena itu sangat bertentangan dengan norma dan etika yang ada di istana. 


“Mulai sekarang ini milikku, pria kusut,” ledek Putri Shin yang dengan lancang menarik sabuk merah milik Jung Hyun. 


Jung Hyun yang terkejut langsung berdiri dari hormatnya. Seluruh mata tertuju pada mereka saat itu. 


“Maaf tuan putri, itu..”.


“Ini milikku. Aku tidak mendapatkan yang itu, jadi biarkan ini menjadi milikku,” kata Putri Shin sambil melirik ke dada Jung Hyun.


Jung Hyun yang melihat tatapan Putri Shin saat itu spontan menelan ludahnya sendiri. Putri Shin melangkah maju sedikit lebih dekat dengan Jung Hyun, membuat seluruh dayang yang berjaga melotot ke arahnya.

__ADS_1


“Jangan menolakku lagi,” bisiknya pada Jung Hyun.


Dengan tatapan menghanyutkan Putri Shin yang tersenyum genit padanya, napas sang putri berhembus lembut diantara tengkuknya. Dia benar-benar sangat terkejut. 


Jung Hyun yang menyadari Putri Shin sedang menggodanya segera memalingkan wajah.  


“Jangan pernah berpikir, untuk menghindariku lagi”.


Segera setelah itu Putri Shin melangkah pergi dengan raut wajah yang berubah sedih. Hal itu, membuat jantung Jung Hyun berdebar tak karuan. 


**


“Selamat datang, putraku,” sapa ratu pada Putra Mahkota.


Putra Mahkota datang dengan senyum ramahnya.


“Apa yang membawamu kemari?” tanya ratu.


“Aku tahu anda ingin aku menikah dengan wanita yang berada di pihak anda”.


Perkataan Putra Mahkota membuat raut wajah ratu berubah datar.


“Apa maksudmu?” tanya ratu.


“Tolong berikan aku hak istimewa, untuk membawa gadis yang aku rekomendasikan menjadi salah satu kandidat terpilih,” kata Putra Mahkota mantap di hadapan ratu.


“Apa kau ini sudah tidak waras? Seorang Putra Mahkota tidak punya hak untuk menentukan siapa yang akan menjadi istrinya. Selama ini dalam sejarah negeri kita, tak ada satu orang pun Putra Mahkota yang ikut campur dengan urusan pemilihan wanita,” terang sang ratu padanya.


“Kalau begitu, aku yang pertama,” jawab cepat Putra Mahkota. 


Putra Mahkota segera membungkuk pada ratu.


Segera setelah itu Putra Mahkota meninggalkan kediaman ratu. Ratu meremas gaunnya dan membanting cangkir teh yang ada di hadapannya setelah Putra Mahkota keluar.


“Dasar anak tidak tahu diri!” teriaknya geram.


**


Jun tertunduk sedih di halaman rumahnya.


“Seharusnya aku mengakuinya sejak awal,” katanya pada sang ibu dengan wajah sedih yang malah tampak sangat khawatir.


Nyonya Han mendekati Jun dan duduk di sebelahnya.


“Ibu tidak akan memaksamu untuk bicara. Apapun yang sedang terjadi, jika kau mencintainya, datang dan temuilah dia. Katakan dan terbukalah dengannya. Seorang wanita, terkadang hanya ingin dipercaya. Saat seorang pria tampak menyembunyikan sesuatu, itu akan sangat melukai hatinya. Apalagi jika pria itu adalah orang yang dia cintai. Ibu dan ayahmu, kami tak pernah saling bicara.  Dia selalu melakukan sesuatu tanpa persetujuan ibu. Dia mengabaikan, menganggap ibu tidak berarti dalam setiap keputusannya. Bukankah lebih baik jika jujur. Meski dia akan marah, itu akan jauh lebih baik daripada dia baru mengetahuinya dari mulut orang lain,”  kata sang ibu sambil merapikan rambut putranya yang sangat kusut.


“Malam ini, biarkan dia tenang dulu. Besok, datanglah ke rumahnya, dan ajak dia bicara,” tambah Nyonya Han menenangkan putranya yang bersedih.


Malam itu, berlalu dengan bersedihnya dua hati yang saling mencintai. Jun menyesal karena sudah berbohong, sementara Youra masih dengan rasa sedihnya. Pelan-pelan rasa sedih Youra berganti menjadi khawatir setelah mengingat kejadian tadi siang yang membuatnya tambah tak tenang. 


**


Keesokan harinya, dengan tidak sabar Jun bergegas menuju kediaman Youra untuk segera berbicara dengannya. Tapi,


“Maaf tuan muda, Nona Youra baru saja di jemput dengan tandu istana”.


Jun terkejut dengan kenyataan yang baru saja disampaikan Nana. Dia berlari menuju kediaman sang ayah terburu-buru.

__ADS_1


Di kediaman perdana menteri, seluruh pelayan membungkuk hormat padanya. Tanpa memperdulikan yang lain, Jun masuk begitu saja mendobrak kediaman sang ayah. 


“Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak Jun sambil menarik kerah jubah ayahnya.


Perdana Menteri Han tersenyum melihat tingkah putranya.


“Apa maksudmu, putraku?” jawabnya santai. 


“Kemana kau membawanya?!” kata Jun sekali lagi berteriak. 


Perdana Menteri Han mengerutkan dahinya.


“Jika yang kau maksud adalah gadis itu, aku tidak mengetahuinya,” jawab Perdana Menteri Han keheranan.


Jun langsung melepaskan genggamannya. Baik-baik ia menatap wajah sang ayah yang tampaknya berbicara jujur. 


“Apa yang terjadi? Apa istana sudah mengetahui, bahwa dia masih hidup?” batinnya.  


**


Youra duduk di dalam tandu itu dengan dendam yang ia kepal di tangannya erat-erat. Saat mengetahui istana memanggilnya, Youra sama sekali tidak takut. Dendam yang ada dalam dirinya membuatnya sangat ingin masuk ke istana, menghancurkan para petinggi yang ada disana, terutama Putra Mahkota. 


Tandu itu berhenti membuyarkan pemikiran Youra yang terus saja berkeinginan untuk membalaskan dendamnya. 


“Silakan, keluarlah nona,” sambut para pengangkat tandu dan para pengawal padanya sambil membungkuk hormat.


Youra kebingungan dengan sikap hormat berlebihan para pengawal itu padanya. Saat dia melangkah keluar dari tandu itu, ia melihat seorang pria bertubuh tinggi yang membungkuk padanya.


“Selamat datang, Nona Youra,” sapa pemuda itu setelah kembali bangkit dari hormatnya.


“Kak Jung Hyun?” tanyanya.


“Benar, aku Jung Hyun. Maafkan kami yang telah lancang membawa anda kemari,” kata Jung Hyun padanya.


Jung Hyun menyerahkan sebuah dokumen kepada Youra.


“Pemilihan istri? A-apa maksudnya?” tanya Youra kebingungan setelah membuka dokumen itu.


“Perintah ini, datang langsung dari Putra Mahkota. Mohon, persiapkan diri anda,” jelas Jung Hyun tanpa memandang wajahnya.


“Istri Putra Mahkota?” tanya Youra kembali karena sangat terkejut.


“Benar, nona. Perintah ini datang langsung dari Putra Mahkota. Mohon untuk mematuhinya. Melanggar perintah Putra Mahkota sama artinya menentang perintah raja,” jelas Jung Hyun hati-hati.


Napas Youra sesak karena sangat marah. 


“Aku tidak mau,” bantah Youra cepat.


“Maaf nona, mau tidak mau, perintah dari raja atau Putra Mahkota adalah hal yang harus dipatuhi,” kata Jung Hyun.


“Orang-orang ini akan melayani anda mulai sekarang,” tambah Jung Hyun yang diikuti bungkuk hormat para pelayan.


Youra menoleh ke seluruh orang itu, dan kembali pada Jung Hyun.


“Apa semua orang harus mematuhi mereka?” tanya Youra penuh amarah.   


“Aku mohon, bersikap baik dan patuhlah pada Putra Mahkota”.

__ADS_1


Jung Hyun menjawab pertanyaan itu singkat  dan pergi begitu saja meninggalkan Youra.


Putra Mahkota yang terkutuk! Setelah membunuh kakakku, apalagi yang kau inginkan?


__ADS_2