Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Keputusan


__ADS_3

Setelah beberapa hari, akhirnya keputusan itu akan segera diumumkan. Kembali, seluruh rakyat dan pejabat berbondong-bondong ke istana untuk mendengarkan hasil keputusan raja.


Sebelum masuk ke lapangan, Youra datang menemui suaminya di istana raja dengan wajah cemberut. "Mengapa Anda tidak memberikan kabar padaku? Katanya, ingin tidur bersamaku. Tapi kenapa Anda malah menghindar bertemu denganku?" Youra melemparkan kekecewaan pada sang suami. "Apa Anda marah padaku?" tambah Youra.


Raja bersimpuh di kaki sang istri, memegang kedua tangannya. "Sayangku, aku sangat malu bertemu denganmu setelah apa yang terjadi. Aku tidak menyangka ... Ayahku ... mendiang raja ..."


Youra menundukkan wajahnya, mencium kening suaminya. "Tidak masalah, Suamiku. Aku sudah tenang. Dan sekarang semua keputusan aku serahkan kepada Anda." Youra menguatkan raja berkali-kali.


***


Selang beberapa waktu kemudian, akhirnya raja kembali menapaki kakinya di lapangan istana. Semuanya tampak hadir tak sabar mendengarkan keputusan raja. Youra tak ikut mendampingi sang suami di singgasana. Dia duduk di bawah atap bersama para pelayan.


Jantung raja berdebar sangat hebat. Keputusan ini, juga akan mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai seorang raja. Semua tersangka yang dalam penahanan diseret masuk ke istana. Mereka semua menggunakan pakaian putih polos tak bercorak.


Saat seluruh tersangka itu di bawa masuk ke lapangan, mereka semua terkejut lantaran Pangeran Yul ikut berbaris di antara para tahanan. Padahal, pada sidang sebelumnya beliau tak terlihat sama sekali.


***


"Kenapa ada Pangeran Yul?" bisik mereka.


"Beliau menyerahkan diri kepada raja, beberapa waktu yang lalu," jawab yang lainnya.


***


Sementara itu, Ara tengah membereskan seluruh barang-barang di kediamannya. Mengemas barang itu bersama deraian air mata para pelayan. Saat itu, para pelayannya semua duduk bersimpuh di dekatnya. "Nyonya, jangan tinggalkan kami."


Ara memandangi satu persatu para pelayan yang selama ini sudah setia kepadanya. Dia tersenyum manis. "Pergilah. Carilah tempat yang baik. Aku mendoakan kalian agar bertemu dengan majikan yang jauh lebih baik dariku." Ara memegang tangan sang pelayan pribadi. "Terimakasih. Terimakasih sudah menemaniku sejauh ini." Dia menyeka air matanya yang terjatuh. "Semuanya sudah berakhir. Setelah raja mengeluarkan keputusannya, hidup atau mati ... statusku tetap akan dicabut." Ara memberikan beberapa koin kepada para pelayan. Dia menghabiskan seluruh hartanya yang tersisa untuk mereka semua.


***

__ADS_1


Di istana, seluruh tersangka telah dikumpulkan. Keributan sontak berubah lepas bak kuburan sunyi. Mereka bersiap mendengar keputusan raja kepada para pendosa-pendosa terberat sepanjang sejarah.


Saat itu, Sekretaris Negara adalah yang bertugas membacakan hasil keputusan raja. Sementara, raja duduk dengan wibawa di singgasana. Beliau sangat khawatir, tetapi sangat yakin pula atas keputusannya.


"Hari ini, keputusan raja akan segera dibacakan!"


Semua orang tertunduk cemas, lantaran putra putri raja masuk dalam daftar tahanan. Saat itu, ratu yang menjadi tersangka duduk diam dengan pakaian putih di kediamannya. Aneh sekali, dia menyantap seluruh hidangan yang tersedia sampai habis. Dia sama sekali tidak melepas seluruh perangkat dan aksesorisnya sebagai ratu, meski kenyataan mungkin akan segera mengakhiri kisah hidupnya.


Semua orang terisak, betapa menyedihkannya hari-hari yang telah berlalu. Setelah satu persatu pengumuman itu dibacakan, akhirnya sampailah pada keputusan terbesar.


"Seluruh menteri yang terlibat dalam penyelundupan ilegal, pencemaran nama baik Yang Mulia Raja, melakukan manipulasi politik pada daerah perbatasan kawasan genjatan senjata, dijatuhkan hukuman kurungan selama paling sedikit 53 tahun! Pelepasan status bangsawan, pencabutan jabatan secara tidak terhormat, dan pemasokan beras resmi dihentikan! Tidak ada pesangon dan waktu bagi keluarga yang ingin berkunjung!"


"Berikutnya untuk terdakwa pelaku korupsi dan suap yang dipimpin oleh Kepala Menteri Keuangan dan Perpajakan, telah terbukti dituntut atas tanggung jawab untuk mengembalikan seluruh harta benda bukan hak yang telah digunakan selama ini! Jumlah dihitung berdasarkan seluruh kekayaan yang telah terpakai tanpa izin, berikutnya dikali gaji selama setahun! Selain itu, pencabutan hak dan kekuasaan, pelepasan status dan jabatan, akan segera dilaksanakan dengan ditetapkannya hukuman kurungan maksimal seumur hidup! Pelaku yang terlibat dalam pemberontakan, dijatuhkan hukuman gantung yang dilaksanakan secara terbuka!"


Pecah seluruh isak tangis sanak keluarga orang-orang yang menjadi terdakwa dan tersangka. Sekretaris Negara kembali mengambil kertas berikutnya.


"Kepala Menteri Perang yang telah melakukan pembunuhan berencana yang melibatkan putranya sendiri serta pengkhianatan tinggi yang telah ia lakukan, menurut hukum dan undang-undang yang berlaku maka hukuman mati adalah satu-satunya. Namun, kesaksian yang beliau berikan sangat akurat dengan peninjauan matang antara raja dan para pejabat lainnya, pengadilan secara resmi meringankan hukuman. Pengasingan seumur hidup yang dikawal ketat oleh prajurit istana selamanya, pemberhentian dan pencabutan hak dan status bangsawan untuk seluruh anggota keluarga selamanya. Tidak ada satu anggota keluargapun yang memiliki hak untuk mendapatkan posisi di istana! Kepala Menteri Perang akan diasingkan jauh dari negeri ini sendirian, dan dilarang untuk bertemu dengan keluarga selama 7 tahun berturut-turut! Hukuman masih bisa dipertimbangkan secara bersyarat, mengingat kontribusi beliau dalam pelepasan tawanan yang terjadi di desa Timur. Untuk itu secara paten, mulai hari ini ... gelar Kepala Menteri Perang resmi dicabut!"


Pria itu menjatuhkan air mata setelah mendengar keputusan pengadilan untuknya. Penyesalan yang membuat hidupnya dan sang ayah berakhir malang, membuatnya tak akan bisa lagi menikmati sisa hidup. Berakhir sudah kesempatan untuk memiliki hidup bahagia. Won Bin berkali-kali menarik masuk cairan yang keluar dari hidungnya karena menangis.


"Namun, dengan kerendahan hati Yang Mulia raja, secara langsung raja memutuskan untuk mengizinkan Won Bin menikah dan memiliki keluarga, mengingat kontribusi Won Bin selama menjadi jenderal yang tidak melenceng dari aturan dan ketentuan yang berlaku. Kemudian ...." Sekretaris Negara membalikkan kertas itu. "Dan! Boleh diizinkan untuk dijenguk oleh sanak keluarga, tetapi tidak diizinkan untuk bertemu lagi dengan sang ayah."


Won Bin semakin terisak. Ada perasaan syukur dan ada pula perasaan hancur. Ia menoleh pada sang ayah yang sedang bersimpuh di sudut sana. Mereka berdua akan segera berpisah.


"Sementara itu untuk Ara, putri bungsu Kepala Menteri Perang yang merupakan menantu istana--istri sah Pangeran Yul--yang merupakan keturunan kandung, menurut undang-undang yang berlaku, putra putri seorang pengkhianat akan dihukum bersamaan dengan sang ayah. Namun, mengingat beliau tidak terlibat sama sekali dan hanya menjalani kehidupan sebagai istri yang baik, untuk itu hukuman dipertimbangkan. Ara diizinkan untuk hidup secara bebas, tetapi seluruh gelar, fasilitas baik rumah, kekayaan, dan pelayan, serta status bangsawan resmi dicabut! Mengenai hukuman lanjutan, Ara secara hukum diminta untuk segera bercerai dengan Pangeran Yul, tetapi perceraian beliau dengan Pangeran Yul akan segera dipertimbangkan mengingat Pangeran Yul merupakan satu dari sekian banyak tersangka yang terlibat!"


Saat itu Won Bin langsung berteriak kepada raja. "Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih!" Mereka semua yang menonton menangis haru. Pangeran Yul mencoba tenang. Sangat bersyukur karena raja benar-benar melepaskan istri dan anaknya.


"Berikutnya mengenai pengakuan Pangeran Yul ...."

__ADS_1


"Sebentar!" teriak raja dari singgasana. Ia turun dari singgasana dan berjalan menuju Pangeran Yul yang saat itu tertunduk pasrah dengan tangan terikat.


"Pangeran Yul, apa ada yang ingin kau katakan?" tanya raja memandang pilu saudaranya.


Pangeran Yul menggeleng pelan. "Apapun keputusannya, aku akan menerimanya dengan lapang ... asal Anda benar-benar membiarkan istri dan anakku hidup tenang."


Raja menitikkan air mata. Tak pernah menyangka bahwa dia harus menjatuhkan hukuman untuk hampir semua anggota keluarganya.


"Baik, mari kita lanjutkan. Mengenai pengakuan Pangeran Yul beberapa waktu yang lalu, tentang terlibatnya beliau dalam pemberontakan terselubung soal niat awal untuk merebut tahta menjadi pertimbangan terbesar dalam hukuman mati yang akan menjadi putusan akhir!"


Ini pertama kalinya, Pangeran Yul yang tak pernah menangis seumur hidup akhirnya tersedu-sedu di kaki raja.


"Namun, pengakuan beliau berikut dengan kesaksian beliau dalam beberapa kasus dan status beliau sebagai putra kandung mendiang raja ... raja secara resmi memutuskan untuk melepaskan kehidupan Pangeran Yul! Pencabutan gelar pangeran dan status bangsawan, serta memberikan waktu selama satu bulan untuknya pergi dari negeri ini dan hidup lebih layak di tempat lain! Masih diizinkan untuk bertemu dengan keluarga melalui ketentuan bersyarat! Mengenai perceraian beliau dengan Ara secara sah diserahkan ke tangan Ara. Ara berhak memutuskan untuk memilih berpisah atau ikut pergi bersama Pangeran Yul!"


Kepala Menteri Perang, Won Bin, dan Pangeran Yul mereka semua menghela napas. Sangat bersyukur karena Ara dibebaskan dengan kemurahan hati Yang Mulia Raja. Dan hukuman untuk mereka diringankan.


Pangeran Yul langsung mendongak menatap raja. "Mengapa ... mengapa kau masih mengasihani aku?" kata Pangeran Yul. "Padahal, aku telah menghabiskan sebagian hidupku untuk membencimu," tambah Pangeran Yul. "Kau membenciku? Jika kau memang membenciku, kenapa kau tidak pernah benar-benar membunuhku? Kenapa kau datang ke kamarku dan memaksaku untuk menghormati Ayah? Kau hanya tidak sadar, saat itu kau menaruh cemas padaku." Raja memegang kedua pundak sang pangeran dan membawanya berdiri.


Tak lama setelah mereka saling berpandangan, mereka pun berpelukan untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.


Menangis haru keduanya di dalam peluk. "Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu," kata raja. "Terimakasih. Terimakasih," isak Pangeran Yul. Raja mengusap-usap punggung saudaranya itu. "Hiduplah lebih bahagia lagi dari sebelumnya. Hiduplah lebih baik lagi dari sebelumnya. Kirimkan lah surat untukku jika nanti kau sudah pergi. Karena sampai kapanpun, kita semua masih saudara." Semakin erat kedua pangeran itu berpelukan. Pangeran Hon yang saat itu menangis haru akhirnya berlari mendekat, ikut berpelukan dengan kedua kakak laki-lakinya.


Para rakyat dan pejabat yang sangat tahu betapa menyedihkannya hubungan persaudaraan mereka terisak-isak bahagia. Akhirnya ketiga pangeran itu hidup rukun meski tak akan lagi bersama.


***


Tak lama setelah pembacaan hasil keputusan, persidangan kembali dilanjutkan.


Saat itu semua tangan memucat dan dingin. Sebentar lagi mereka akan mendengarkan hukuman yang akan jatuh kepada empat orang tersangka yang paling berat kasusnya, yakni Putri Shin, Jun, Perdana Menteri Han, dan Yang Mulia Ibu Suri serta seluruh pengikutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2