
Dengan wajah datarnya, air mata itu tak henti-hentinya mengalir di pipi Youra. Deras, membuatnya tak dapat melihat dengan jelas. Youra terus saja mengemas seluruh pakaian dan pernak-perniknya. Rasa sakit itu, membuatnya tak dapat menunjukkan raut wajah apapun, selain air mata yang berbicara.
“Berikan surat ini pada Kak Jun, jika dia datang”.
Sementara itu, Nana terisak meraih surat titipan Youra untuk Jun dengan tangan kanannya. Paman Nana berdiri di ujung sana, menyambut para petugas istana yang datang untuk menjemput Youra dengan tandu mewah.
“Nona,” panggil Nana dengan suara serak.
Youra terus saja menyusun lembar pakaiannya untuk segera dibawa.
“Kumohon, tetaplah sehat dan panjang umur. Aku akan selalu mendoakan Nona,” tambah Nana.
Youra tersenyum. Dengan air mata itu, ia menoleh pada Nana.
“Jangan mengatakan apapun, seolah-olah kita akan berpisah,” sangat yakin, dia menatap Nana setelahnya.
“Semua wanita yang sudah masuk ke istana, tak akan bisa lagi keluar dari sana. Mereka akan tetap tinggal disana selamanya. Anda tidak akan diberikan izin untuk keluar. Jadi, aku mohon, jangan lakukan apapun juga yang membahayakan diri Anda. Kumohon, terimalah semuanya dengan ikhlas,” tambah Nana.
Nana mendekat, meraih kedua tangan Youra dan mendekapnya.
“Nona, kumohon, berjanjilah padaku. Jangan melakukan apapun, jangan membahayakan diri Anda. Ini adalah perintah raja. Kuharap Nona dapat menerimanya”.
Youra diam saja, terus meneteskan air mata. Ia menarik tangannya, kembali mengemas seluruh pakaiannya.
“Akan kupastikan aku akan keluar dari sana, setelah keadilan itu aku dapatkan,” balas Youra.
Sambil menangis, dengan wajah paniknya Nana kembali menarik tangan Youra dan menggenggamnya erat.
“Aku tahu, ini sangat tidak adil bagi Anda. Tapi tolong, tolong jangan membahayakan diri Anda, bersikaplah patuh pada mereka. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Anda,” mohon Nana.
Youra tersenyum ringan. Pandangan matanya bukan lagi soal kesedihan. Ini dendam, yang akan segera dia balaskan. Dengan kebencian itu, dia mengambil belati milik kakaknya. Membungkusnya rapi dan menyimpan ke dalam tas miliknya.
“Jika ada sesuatu yang buruk terjadi di istana, aku pastikan itu tidak akan terjadi padaku”.
Dengan percaya diri, dia berdiri menghela napas dengan kasar, mendekatkan tubuhnya pada Nana.
“Aku akan membalaskan ketidakadilan ini secepatnya,” bisiknya pada Nana.
Youra segera menuruni anak tangga, berpamitan dengan seluruh penghuni kediamannya. Saat itu, semua mata tertuju padanya. Wajah-wajah penasaran itu menemani langkahnya menuju tandu mewah kerajaan. Sebelum akhirnya ia menutup wajahnya, kembali ia berbalik memandang Nana dan pamannya yang tersedu-sedu mengantar kepergiannya.
Terimakasih, karena sudah menjagaku selama ini.
Youra segera melangkah masuk menuju tandu. Dia terus menatap paman dan Nana sebagai ucapan selamat tinggal.
Setelah aku membayar semua dendamku, aku akan segera kembali membalas kebaikan kalian.
__ADS_1
Tandu itu segera bergerak, diangkat oleh para petugas istana dengan penuh hormat, meninggalkan Nana dan pamannya bersama rasa kehilangan yang begitu dalam.
Hidup atau mati, asal semuanya terbalas, aku ikhlas.
Nana terus saja menatap ke jalanan yang kosong, meski tandu mewah itu tak lagi terlihat. Saat ia hendak memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah untuk melampiaskan seluruh kesedihannya, seorang pria yang ia kenal datang dengan napas yang tersenggal-senggal.
“Dimana Youra?”.
Jun tampak kelelahan, dengan seluruh tubuh yang basah bermandikan keringat.
“Mereka sudah membawanya,” jawab Nana putus asa.
Jun membatu di tempat. Menyadari sisa harapan itu tak lagi ada, membuatnya tampak sangat lemah. Dia merancang taktik untuk segera mengejar, menghentikan langkah mereka dan menculik kekasihnya. Namun, pemikiran itu seolah terbaca oleh Nana yang sedang tertunduk pasrah di hadapannya.
“Anda tak boleh mengejarnya”.
Nana memberikan sebuah amplop indah padanya. Surat yang telah ditulis Youra semalaman itu dia beri bersama genangan air mata.
“Nona memintaku untuk memberikan surat ini pada Anda, Tuan”.
Jun cepat-cepat menarik surat itu dari tangan Nana. Segera setelah itu dia membukanya. Apa yang tergores di atas kertas itu, benar-benar melukai hatinya. Memaksanya untuk tetap diam membuatnya tak mampu untuk berkata-kata.
Kak Jun,
Maafkan aku. Aku tidak punya keberanian untuk menemuimu. Entah apa yang harus aku lakukan jika kita harus bertemu, setelah semua yang terjadi padaku. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi, untuk semua masalah yang terjadi dalam hidupku. Kali ini, biarkan aku mengatasinya seorang diri. Aku berjanji padamu, aku akan kembali setelah mendapatkan keadilan itu. Aku akan kembali menemuimu.
Jadi aku mohon, jagalah dirimu dengan baik. Tanpamu, aku tak punya lagi tujuan untuk kembali.
Kekasihmu, Lee Youra.
Jun meremuk kertas itu sekuat mungkin. Menjatuhkannya ke tanah dengan rasa sakit. Lelaki mana, yang rela kekasihnya diambil paksa oleh orang lain. Pikirnya, andai saja Youra lebih awal mengatakannya, mungkin dia akan membawanya kabur secepatnya. Namun, kesadaran itu datang setelah dia kembali menatap kertas yang sudah diremuknya. Mungkin saja, Youra terpaksa tak mengatakannya, karena takut Jun terkena masalah. Benar, tak ada lagi yang perlu diragukan. Bersabarlah sedikit, tunggu dia kembali, itu saja dulu.
”Putra Mahkota, kau mencari masalah dengan orang yang salah,” gumamnya.
**
Youra tak lagi menitikkan air mata. Kebencian kini sudah mendarah daging di dalam jiwanya. Membalaskan dendam kepada ketidakadilan adalah tujuan utama. Di dalam tandu itu dia bergumul dengan sumpah serapah. Tentang kebahagiaan yang sudah lenyap oleh para penghuni istana, membuatnya semangat untuk secepatnya menyingkirkan mereka.
Akan kutunjukkan tentang penderitaan,
Pintu tandu itu dibukakan oleh petugas istana.
Yang jauh lebih menyakitkan dari sekedar balas dendam.
Dengan pakaian mewah berhiaskan pernak-pernik mahal berlapis emas, kaki cantik Youra yang sudah beralaskan sepatu mewah mengantarnya turun dari tandu itu.
__ADS_1
Untuk kalian yang sudah merenggut kebahagiaanku,
Dia berdiri tegap, membuka selendang penutup wajahnya. Gerbang itu dibuka untuknya, menghadiahkan banyak pelayan dan petugas yang membungkuk hormat padanya. Youra mulai melangkahkan kakinya untuk segera menemui sang ratu, calon ibu mertua.
Segeralah terima hukuman dari langit.
Dia lewat di antara puluhan orang yang membungkuk hormat padanya, tersenyum ringan menghasilkan seringai menakutkan. Berpura-pura bodoh saja dulu sampai mereka tertipu olehnya. Youra membalas hormat mereka semua dengan menundukkan sedikit kepalanya.
Hingga saat itu, sampailah dia di depan bilik sang ratu. Para pelayan membuka bilik itu, memperlihatkan ratu yang sedang menatap lurus pintu bilik itu, tampak sedang menunggunya. Di depannya sudah tersedia seluruh hidangan lezat yang tak pernah ia temukan di desa.
”Mendekatlah kemari calon menantuku,” sapa ratu.
Wanita munafik.
Youra membungkuk hormat padanya, berusaha tersenyum semanis mungkin lalu duduk bersimpuh di depannya. Seluruh pelayan menutup pintu bilik itu, bergegas keluar meninggalkan Youra bersama ratu dan dua pelayan setianya.
Mencurigakan.
Sesaat setelah pintu itu tertutup, ratu yang tadinya duduk lekas berdiri merapikan gaunnya. Dia maju beberapa langkah hingga berada tepat di depan Youra.
“Singkirkan seluruh makanan ini,” perintahnya.
Sontak salah seorang pelayan menarik meja penuh hidangan itu sedikit menjauh. Ratu tetap berdiri di tempatnya, sedangkan Youra masih duduk di tempat itu bersimpuh manis. Youra terus menundukkan pandangannya, berlaku hormat pada calon mertuanya, ratu negeri ini.
“Cepat, cium kaki ratu,” kata salah seorang pelayan.
Mengagetkan, Youra langsung mengangkat wajahnya, menoleh pada sang pelayan dengan rasa tak percaya.
“Apa yang kau tunggu? Cepat! Cium kaki ratu!” tambah sang pelayan.
Hampir saja air mata menetes dari matanya, Youra membawa seluruh kesabarannya masuk dalam genggamannya. Dia meremuk gaun itu, mencoba menahan rasa amarahnya. Dia menarik kembali napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menerima takdir ini lebih lapang.
Demi keluargaku, demi dendam yang harus kubalaskan,
Youra mendekat, menggeser tubuhnya yang sedang bersimpuh mendekat hingga sampai di kaki ratu. Segera setelahnya, ia menundukkan setengah tubuhnya itu. Menyusuri lebih dalam soal kebencian ini, menciptakan lautan di pelupuk matanya.
Pelan-pelan, hidung dan bibirnya menempel pada kaki sang ratu, membuatnya menitikkan air mata tak kuasa. Cukup lama, hingga hampir saja puas ia menangis di kaki sang ratu. Ratu tersenyum hina, merasakan ada genangan air di ujung-ujung jari kakinya, membuatnya merasa senang dan puas.
Ratu membungkukkan badannya, meletakkan tangan kirinya di dagu Youra. Segera ia mengangkat wajah gadis malang yang sedang menangis itu dengan kasar.
“Jangan mengotori kakiku dengan air matamu yang menjijikkan itu”.
Ratu segera mendorong sedikit tangannya, sebelum akhirnya melepaskan genggaman itu dari dagu Youra.
"Jangan kira kau punya tempat disini," tambah ratu dengan angkuh.
__ADS_1
Seketika air mata Youra berhenti, menyisakan kebencian yang lebih dalam dari sebelumnya.
Sekarang aku mengikuti permainan busuk kalian. Berpuas-puaslah kalian menghinaku, sebelum aku memulai permainanku sendiri.