Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Putra Mahkota Marah


__ADS_3

Jung Hyun tiba di istana, terhenti saat memandang langit yang gelap. "Ada apa ini?" gumamnya takjub sedikit meringis takut.


Jung Hyun cepat-cepat menemui Putra Mahkota, melihat para pelayan yang sedang tertunduk ketakutan di depan bilik Putra Mahkota. Sangat ramai, memperlihatkan wajah Kasim Cho direnggut cemas. Jung Hyun bergegas membuka pintu bilik Putra Mahkota, mendapati Putra Mahkota sedang menyandarkan tubuhnya yang putus asa, meremuk sebuah surat.


Surat itu akhirnya lepas dari genggaman Putra Mahkota, melayang terpampang nyata di depan mata Jung Hyun.


Maafkan aku, karena hampir saja mengkhianati diri sendiri. Setelah aku menyelesaikan semuanya, secepatnya aku akan bercerai dan mencari cara untuk keluar dari istana ini.


Salam cinta, Lee Youra.


Jung Hyun tak kuasa, melihat bagaimana reaksi Putra Mahkota setelah membaca surat kiriman sang istri untuk pemuda lain. Kediamannya sangat berantakan, mungkin sudah hancur oleh kemurkaan Putra Mahkota. Ingin sekali dia menyapa untuk menenangkan, tetapi Putra Mahkota tampaknya sangat tertekan.


"Yang Mulia.."


Putra Mahkota lantas berdiri, menarik langkahnya untuk bergegas menemui sang istri.


***


Matahari sudah terbenam, sambil termenung, Youra menggeraikan rambut lebat hitam sepinggangnya yang indah. Perlahan-lahan para pelayan membantunya membuka pakaian. Mereka membuka gaun luaran Youra. Menyisakan gaun tipis sedada, bawahan membelah sampai ke paha.


Brukk!


Youra terkejut, segera berbalik menghadap pintu biliknya yang di dobrak masuk Putra Mahkota. Para pelayan bergegas keluar, cepat-cepat meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Putra Mahkota?"


Tak perlu pikir panjang, Putra Mahkota membuka penutup wajahnya. Menarik tubuh Youra mendekat kepadanya, "Minta maaflah kepadaku!" Putra Mahkota membentak. Menggelegar hingga para pelayan di luar sana ketakutan.


"Aa-apa maksud.."


Putra Mahkota mendorong tubuh istrinya, hingga Youra terjatuh ke atas ranjang. "Katakan padaku, siapa pemuda itu?" tanya Putra Mahkota putus asa. Air itu mengalir keluar dari kedua sudut matanya. "Putra Mahkota..." Youra bergeming.


Tak peduli, Youra akan menolak atau tidak, Putra Mahkota menindih tubuh sang istri di bawahnya. Dada Youra naik turun karena sesak. Pakaian yang sangat terbuka, memperlihatkan separuh atas bagian dadanya. Entah kenapa, Youra tak lagi ketakutan seperti malam pertama mereka. Kali ini, hatinya tersentuh melihat bagaimana sang suami menangis di atas tubuhnya.


"Kita tidak akan pernah bercerai, kau mengerti?" Putra Mahkota mulai membuka jubahnya penuh emosi. "Yang Mulia, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Youra cemas.


Putra Mahkota menempelkan kedua tangannya di atas ranjang, tepat di sisi kiri dan kanan Youra. Menatap lekat sepasang mata yang berada di bawah tubuhnya, "Akan kutunjukkan, siapa yang memilikimu," bisiknya pelan dengan suara khas yang sangat jantan.


Putra Mahkota kembali berdiri, membuka satu persatu pakaiannya, menyisakan celana panjang. Naik kembali ke atas ranjang, mengepung sang istri di bawah tubuhnya yang wangi. Ia meraih pengikat gaun dalaman Youra, menarik tali itu hingga terlepas semuanya. Membuka baju Youra pelan, dengan cara yang manis sekali. Hingga memperlihatkan keindahan alami tubuh wanita yang sesungguhnya. Youra ingin memberontak, tetapi..


"Katakan padaku, apa aku lelaki pertama yang melihatnya?" tanya Putra Mahkota dengan wajah memerahnya yang penuh amarah, sedang menatap tubuh indah Youra. Youra mengangguk, sangat cepat. "Ya, Anda yang pertama."


Putra Mahkota menghela napas, setelah memperlihatkan betapa hancur hatinya saat itu. "Katakan padaku siapa nama pemuda itu? Aku akan membunuhnya, agar kau bisa mencintaiku."


Youra terbelalak, sesuatu menghantam keras pikirannya. "Yang Mulia, kurasa Anda sangat tidak sehat." Youra mencoba menenangkan didihan emosi yang meluap-luap pada suaminya. Anehnya, jantungnya berdebar sangat kencang. Kali ini entah kenapa ingin sekali menenangkan suaminya, tak peduli apa yang dikatakan Putra Mahkota setelahnya. Dia menggapai wajah sang suami, menghapus darah itu dengan tangan indahnya yang mungil.


Putra Mahkota langsung menarik tangan yang menyentuh wajahnya. Menahannya lama dalam genggaman. Dia mengamati wajah Youra sendu, menandangnya mesra penuh kasih. "Mengapa, kau tidak pernah berhenti menyakitiku?" tanyanya dengan wajah kecewa yang menyedihkan.

__ADS_1


Kembali Putra Mahkota menurunkan pandangannya ke tubuh Youra, cukup lama dia memperhatikan. Hingga akhirnya dia menarik selimut, menutupi tubuh sang istri kembali. "Kita tidak akan pernah berpisah, kecuali jika aku mati." Putra Mahkota kembali berdiri, memasang bajunya, menutup wajahnya. Lalu beranjak dari sana menyeret jubah mewah itu dengan raut kekecewaan yang dalam.


Youra membatu di atas ranjang, kali ini benar-benar bingung akan perasaannya.


Dayang Nari melihat Putra Mahkota dengan bercak darah pada penutup wajahnya keluar dari bilik Youra begitu khawatir, hanya bisa mengutarakan harapannya di dalam hati. Berharap Youra memeluk suaminya dan menghentikan langkahnya sesegera mungkin. Namun, Youra sama sekali tak melakukan apa-apa. Malah berdiam diri di sudut ranjang menutupi tubuhnya dengan selimut sedang tercengang.


Dayang Nari cepat-cepat mendekat, membaca apa yang terjadi pada Youra. "Yang Mulia, mengapa Anda tidak menghentikan Putra Mahkota?" tanya Dayang Nari antusias.


Dayang Nari merapikan selimut untuk menutupi rapat tubuh Youra yang masih tersingkap. "Mengapa Anda tidak menghentikan Putra Mahkota? Beliau sangat marah, karena surat Anda ada padanya." Kembali Dayang Nari bertanya, kali ini dengan suara yang pelan.


"Dayang Nari, apa yang harus aku lakukan? Mengapa hidungnya mengeluarkan darah?" tanya Youra cekatan, coba menyadarkan dirinya yang merasa sangat tertekan. Entah kenapa, Youra sangat khawatir pada suaminya, Putra Mahkota.


Gemuruh langit bersahut-sahutan, langit yang sudah gelap, menghitamkan malam yang semakin menakutkan. Sesaat setelah Putra Mahkota keluar dari bilik Youra, angin tak lagi damai berhembus. Puing-puing potongan seng dan gulungan kertas bertebaran cukup tinggi. Raja yang terbaring lemah bahkan sampai memaksa diri untuk mengintip langit dari jendela. "Apa akan terjadi badai?" tanya raja pada pelayannya. Sang pelayan menggeleng pelan, "Ini terjadi mendadak, Yang Mulia."


Raja tumbang di tempat, "Pertanda buruk. Ini pertanda buruk."


**


Benar, malam itu terjadi badai sekejap. Hujan dan gemuruh bersahut-sahutan, menciptakan melodi menyeramkan hingga semua orang ketakutan. Para warga berbondong-bondong pulang ke rumah, menutup pintu dan membawa seluruh kendi-kendi masuk.


Putri Shin sendirian, Ha Sun sang suami belum pulang. Sedang di tempat lain Ara menangis dalam gelapnya malam sendirian, sementara Pangeran Yul malah sedang bersenang-senang di rumah bordil tak berniat pulang.


Saat bersamaan, Perdana Menteri Han dibuat terkejut karena surat resmi sepihak yang dituliskan Putra Mahkota bertanda tangan raja, meminta Guru Jun dipromosikan sebagai Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. "Mengapa, ini terjadi secara tiba-tiba?" gumam Perdana Menteri Han.

__ADS_1


Jun yang saat itu sedang dipikirkan, sedang duduk di kediamannya, menikmati malam yang mengerikan. Memikirkan cara untuk melawan takdir dan hidup damai sesuai keinginannya.


***


__ADS_2