
Sebelum menunjukkan wujudnya, mentari yang mengintip di sela-sela awan menemani langkah para gadis yang tersenyum bangga masuk ke dalam istana untuk mengikuti seleksi pemilihan istri Putra Mahkota. Tidak sedikit diantara mereka menunjukkan wajah kalut dan risau. Mereka yang telah lama mendengar rumor tentang Putra Mahkota merinding takut seandainya mereka terpilih.
Para gadis yang berkumpul itu tak saling menyapa. Mereka hanya saling melirik saja, dan tampak angkuh dengan gaun mewah mereka. Youra yang dengan istimewa diantar oleh pengawal istana membuat seluruh mata tertuju padanya. Dengan gaun indah berbalut sutra bermotif bunga-bunga yang berkilau, Youra melangkah menuju perkumpulan gadis itu membawa sumpah serapahnya pada Putra Mahkota. Hatinya berkecamuk dan terus saja mengutuk.
Tak lama setelah itu, seorang gadis berwajah sangat cantik datang dari tengah gerbang istana, membawa senyum manis dan ceria di wajahnya. Hong Jin-Yi, gadis paling cantik di negeri itu, datang sebagai salah satu kandidat istri Putra Mahkota membuahkan tatapan kekaguman orang-orang padanya. “Sangat cantik” itulah kata pertama yang pantas ditujukan padanya.
Mereka yang berkumpul dikejutkan dengan pemandangan luar biasa yang lewat jauh di depan mereka. Putra Mahkota dengan tubuh gagahnya tampak sedang berjalan bersama seluruh pelayannya seolah meluluhlantakkan segala rasa khawatir para gadis muda. Para gadis itu sangat terkejut, lantaran Putra Mahkota ternyata memiliki tubuh yang mengagumkan. Padanan pakaian latihan memanah berwarna merah gelap kehitam-hitaman dengan garis-garis emas menjalar di pakaiannya, benar-benar menambah pesona Putra Mahkota meski sekilas dan hanya tampak badannya saja.
Para gadis itu terpelongo tak menyangka, terhadap apa yang baru saja mereka lihat. Sementara itu, Jin-Yi tersenyum semangat melihat Putra Mahkota dari kejauhan. Youra yang tak peduli, akhirnya menoleh ke arah tatapan para gadis. Dan alangkah terkejutnya dia, ternyata pemuda yang selama ini menciptakan keributan di pasar, tak lain adalah Putra Mahkota yang sedang menyamar.
“Pria bren*sek itu, Putra Mahkota yang hina?” gumamnya membawa dendam yang semakin menyelimut.
“Tundukkan pandangan kalian! Jangan sampai mata kalian dicabut keluar oleh aturan istana!” bentak kepala dayang mengusik lamunan mereka.
Gadis-gadis itu diiring mendekat menuju gerbang istana ratu.
“Berikan hormat kalian, pada Yang Mulia Ratu,” teriak opsir sambil membuka gerbang utama istana ratu.
Spontan, seluruh gadis itu berbaris rapi dan membungkuk hormat pada ratu. Ratu Kim dengan angkuhnya berjalan melewati para gadis tanpa tersenyum sama sekali. Ratu Kim memperhatikan wajah seluruh gadis dengan seksama. Beberapa saat kemudian, Ibu Suri datang bersama para pelayannya, ikut duduk menemani ratu dalam melakukan seleksi.
“Baiklah, adapun ketentuan khusus selain ketentuan utama yang telah disampaikan adalah larangan bagi seorang kandidat untuk memperkenalkan diri sebelum terpilih menjadi 3 besar. Mohon diperhatikan sekali lagi, ketentuan ini adalah aturan khusus yang diberikan Ibu Suri, selain ketentuan umum yang ditulis langsung oleh ratu,” jelas kepala dayang.
Youra sama sekali tak peduli terhadap ocehan dayang itu, dia hanya terus menatap tajam ratu dan Ibu Suri. Ratu yang menyadari tatapan itu, segera membalas tatapannya. Tetapi, Youra dengan cepat menundukkan wajahnya.
“Adapun tahapan seleksi yang harus kalian ikuti diantaranya adalah ujian akademik, ujian keterampilan, tes kesehatan, tes kecakapan dan kesehatan mental, dan yang terakhir adalah ujian langsung bersama ratu dan Ibu Suri,” tambah kepala dayang.
Aku tak peduli apa yang sedang mereka cari dan apa yang sedang mereka katakan. Bagiku, berdiri diam di dalam istana ini sama seperti menginjakkan kaki di neraka. Wajah para iblis wanita yang kukira cantik dan baik hati seperti yang dikatakan ibuku, nyatanya sangat angkuh dan sombong. Wajah cantik mereka seolah tak berguna, mengingat bagaimana orang-orang ini hidup tenang disini, berlimpahan harta, tanpa memikirkan nasib orang lain.
“Aku tahu, kalian semua pasti sangat ingin menjadi istri Putra Mahkota”.
Cih, sangat ingin? Tidak sama sekali, pikirku saat itu.
“Tapi pesanku pada kalian, bersainglah secara sehat dan tidak ada yang saling menjatuhkan”.
Aku tidak peduli. Jika ada yang berusaha menjatuhkanku, silakan saja. Aku bahkan sangat ingin cepat-cepat tersingkir keluar dari neraka ini.
“Mereka yang terpilih tentunya akan menjadi keluarga besar istana ini”.
Menyedihkan, orang-orang ini hanya mementingkan martabat dan pangkat. Mereka tidak mengenal cinta sama sekali.
__ADS_1
“Maka tunjukkan loyalitas dan kemampuan kalian semaksimal mungkin”.
Menjijikkan.
Selesai sudah Ibu Suri memberi pengantar untuk para gadis, tapi Youra masih saja bercengkrama dengan kepalanya. Keterpaksaan yang membuatnya menjadi semakin gila dan bertengkar dengan hatinya sendiri. Dendam yang sudah membayang-bayangi hidupnya membuatnya tak pelik untuk menyelam lebih dalam soal perencanaan untuk membalaskan segala kebencian.
Benar-benar bodoh.
“Bagaimana, apa kalian mengerti?” tanya Ibu Suri beramah-tamah.
Serentak seluruh gadis mengangguk setuju dan tampak bersemangat. Youra dengan wajah datarnya, hanya tersenyum kecil.
Ratu Kim turun dari singgasananya, berjalan maju beberapa langkah. Dia tersenyum saat berdiri di atas anak tangga kemudian memandangi wajah gadis-gadis itu.
“Sangat menyenangkan, bisa melihat wajah calon-calon menantuku yang cantik dan berbakat,” puji Ratu Kim.
Dasar, munafik.
Ratu mengakhiri senyumnya tepat setelah dia menoleh pada Youra yang terus saja menunduk. Ratu berbalik dan kembali duduk bersama Ibu Suri.
**
(Di sisi lain istana)
Raja yang saat itu sedang sangat kusut menyipitkan matanya dan segera bangun dari lamunannya.
“Putra Mahkota apa yang kau lakukan disini?” tanyanya tak percaya.
“Sudah kukatakan, aku tidak akan menikah. Kenapa anda masih membiarkan istana ratu tetap melakukan pemilihan?” tanya Putra Mahkota tanpa membungkuk hormat pada sang ayah.
“Hahaha! Kau datang kesini untuk membicarakan ini lagi? Pernikahan itu tetap akan dilaksanakan tanpa harus menunggu persetujuan darimu,” kata sang ayah berusaha menahan emosinya.
“Apa gunanya aku menikah, jika aku tidak menginginkan wanitanya?” jawab Putra Mahkota tanpa rasa takut.
Raja Baek Sam mengambil sebuah buku dan melemparkannya tepat di wajah sang anak yang tertutup kain itu. Putra Mahkota diam saja dan malah tersenyum. Raja berjalan cepat membawa genggaman emosi untuk segera mencampakkannya. Tiba-tiba,
“Aku akan menikah, hanya dengan satu syarat”.
Perkataan Putra Mahkota menghentikan langkah raja. Dada sang ayah sesak menahan kekesalan yang mengerubungi jiwanya yang mulai gelap mata.
__ADS_1
“Apa kau ini ingin mati ha?” tanya sang ayah merendahkan suaranya.
“Bukankah itu lebih baik?” jawab putranya percaya diri.
“Kau! Kau..”.
“Aku hanya ingin menikah dengan gadis pilihanku, itu saja”.
Bantah cepat Putra Mahkota melepaskan asa sang raja yang meluap-luap. Raja menaruh kemarahan itu dalam genggamannya. Ia membulatkan seluruh kemarahan dalam jiwanya menjadi satu kesatuan. Pikirnya, mungkin mengikuti keinginan sang anak adalah jalan keluar satu-satunya untuk mengakhiri pertengkaran mereka selama ini.
Raja menarik napasnya dalam-dalam, memutar tubuhnya membelakangi Putra Mahkota, dan segera menyandarkan kedua telapak tangannya di meja.
“Katakan, siapa gadis itu, dari keluarga mana, dan apa pangkat ayahnya,” kata raja yang terus saja mengatur isi kepalanya.
“Berjanjilah terlebih dahulu untuk memberikan izinmu,” tanpa ragu Putra Mahkota terus saja bernegosiasi dengan raja yang sedang sangat murka.
Raja berbalik, berusaha melepaskan api yang mengikat kuat kemarahannya. Dia menatap lekat sang anak dengan tatapan kebencian yang amat sangat dalam. Namun, saat dia menyelam lebih dalam menuju tatapan Putra Mahkota, tiba-tiba rasa benci itu berubah iba. Menjadi sesuatu yang menyakitkan membuatnya tak kuasa untuk menolak.
“Baiklah,” jawab raja pasrah setelah mengarungi tatapan sang anak yang rupanya sangat dalam.
Putra Mahkota tersenyum, kemudian membungkuk hormat pada sang ayah. Tampak begitu bahagia. Meski dengan wajah yang ditutupi kain, aura kebahagiaan itu mencuat tinggi membuat sang ayah semakin tak berdaya untuk melarangnya.
“Katakan padaku, siapa gadis itu?” tanya raja dengan nada yang berbeda, membuat Putra Mahkota semakin yakin.
“Gadis itu, bernama Lee Youra. Dia adalah putri mendiang penasehat negara, Tuan Lee Tae Hwon,” jawab putranya mantap.
Raja membatu, terpaku pada kenyataan yang mendesaknya untuk segera sadar.
“Aa-apa maksudmu?”.
Raja membulatkan matanya, terkejut sangat tak percaya.
“Putri mendiang penasehat negara, hidup menyamar selama bertahun-tahun di kaki gunung, dan akhirnya kembali ke desa beberapa tahun belakangan. Dia benar-benar masih hidup. Meski kedua orang tua dan kakaknya tewas akibat perampokan, bukan berarti gelar bangsawan yang mengalir dalam darahnya menjadi lenyap. Menurut aturan yang berlaku, pencabutan gelar bangsawan untuk keluarga yang ditinggal hanya berlaku bagi pelaku terpidana. Dalam kasus ini, penasehat negara dan keluarganya adalah korban. Jadi, secara sah, dia memiliki hak untuk menjadi istriku,” jelas Putra Mahkota.
“Bagaimanapun caranya, aku hanya ingin gadis itu yang terpilih menjadi istriku,” tambah Putra Mahkota.
Raja yang masih terpelongo, tak menyangka terhadap kenyataan yang baru saja menghampirinya. Hati dan pikirannya saling bertentangan, namun keadaan mencoba menengahi. Mengingat rumor buruk Putra Mahkota yang beredar, ditambah kepercayaan rakyat yang perlahan lenyap terhadap pemerintahannya, membuat raja akhirnya menyetujui keinginan Putra Mahkota. Asalkan putranya menikah, itu saja.
“Baiklah,” jawab raja singkat tanpa memandang wajah putranya.
__ADS_1
**
Kekuasaan dan pangkat, adalah dua yang tak dapat terbantahkan saat itu.