
Dayang Nari mendekat, "Hamba tahu, Anda sangat ingin mendengar kabar tentang beliau, kan?" tanya Dayang Nari tersenyum tipis penuh harap.
Youra memalingkan wajahnya, "Sudah kukatakan, aku tidak peduli," tegasnya.
Dayang Nari menatap wajah Youra, sekali lagi tersenyum. "Selama Anda menginginkannya hidup, beliau akan bertahan untuk Anda."
"Pergilah dari sini, aku sudah muak mendengarnya." Youra mengusir sang dayang dengan angkuh.
Dayang Nari menarik panjang napasnya, segera berdiri dan membungkuk hormat pada Youra. "Kalau begitu, hamba permisi."
Sebelum dia menutup kembali pintu utama, Dayang Nari terus menatap Youra.
"Semakin Anda membencinya, semakin Anda akan menyesalinya."
Bahkan saat ada dipenjara pun, Youra sama sekali tak mengalah pada egonya. Berpaling dari perasaannya sendiri. Dia tak bisa tidur, bahkan untuk sekedar menyuap nasi saja tak bisa. Setelah dayangnya pergi, dia tertegun cukup lama di sudut ruangan itu dalam kegelapan. Ada perasaan takut, tak tahu kenapa. Itu bukan ketakutan karena sendirian di tempat mengerikan, tapi itu ketakutan yang berbeda. Bayangan Putra Mahkota terus saja menghantui otaknya, sementara dia selalu saja mengusir wajah sang suami dari benaknya.
***
Akhirnya, kabar tentang istri Putra Mahkota masuk kurungan tercium oleh publik. Memberikan gambaran betapa hebohnya topik ini. Seseorang yang meracuni Putra Mahkota di duga adalah istrinya sendiri, benar-benar membuat rakyat tercengang. Dalam sejarah, ini pertama kalinya rakyat meminta seorang terdakwa pembunuhan segera bebas. Berbondong-bondong mereka menuju gerbang utama istana untuk melayangkan dukungan pada Youra, berharap Youra dapat dibebaskan dengan mudah. Meminta raja untuk meresmikan pembebasan Youra sang Putri Mahkota, menjadi salah satu topik hangat yang tersebar, mereka benar-benar mengharap Putra Mahkota meninggal.
"Terkutuklah Putra Mahkota. Dia benar-benar membawa masalah bagi semua orang. Bahkan melibatkan istrinya dalam kasus kematiannya," cetus para rakyat.
Nana terjatuh lemah diantara kerumunan orang. Melihat betapa gentingnya situasi yang menjerat Youra, membuatnya menangis dan terluka. "Nona, Anda benar-benar melakukannya?" gumamnya tak percaya.
**
Di istana, raja bersama para menteri sibuk memikirkan cara untuk mengalihkan isu. Saling tumpang tindih, kasus itu tak kunjung selesai. Di sisi lain, para menteri mendukung Youra untuk segera bebas, sebagian lainnya percaya bahwa Youra benar-benar pelakunya. Kasus ini benar-benar membuat raja sakit kepala. Belum lagi, keadaan Putra Mahkota yang belum juga mengalami kemajuan.
Hingga pada akhirnya, diskusi itu berakhir dengan diputuskannya sebuah perkara yang mengejutkan.
__ADS_1
"Pernikahan Pangeran Yul dengan putri Kepala Menteri Perang akan dipercepat. Pengalihan isu akan membantu kita mengulur waktu untuk menemukan solusi yang baik. Biro Investigasi masih akan melakukan pemeriksaan. Permaisuri Putra Mahkota tak bisa menerima hukuman sebelum penyelidikan ini tuntas. Saat ini, mereka akan melibatkan ratu dalam kesaksian."
Selesai sudah sekretaris negara membacakan hasil keputusan raja. Para menteri saling berpandangan, tidak menerima semua keputusan itu dengan baik. Mereka ingin segera melayangkan protes, tetapi mengingat raja tak dapat hadir dalam persidangan, membuat mereka yakin bahwa saat ini raja sedang tertekan.
Sementara itu, ratu dengan perasaan cemasnya berputar kecil dalam biliknya. Bolak-balik, mengepal kedua tangannya. Takut, kesaksiannya akan membawanya terseret ke rumah aman.
**
Jun mendobrak pintu Biro Investigasi. Menerobos masuk dengan raut wajah yang penuh emosi. "Bagaimana bisa kalian menetapkan Putri Mahkota sebagai tersangka?" pungkas Jun tanpa aba-aba, menghentikan suara ribut di dalam sana.
Mereka saling berpandangan, memandang Jun heran. "Guru Jun, kenapa Anda disini?"
Jun berjalan cepat menyusuri meja-meja kasus itu, menatapnya satu persatu. "Racun itu jelas-jelas ada di cangkir Putri Mahkota, mengapa kalian malah menjadikannya tersangka? Bukankah seharusnya kalian mencari kebenaran? Pada awalnya, ada yang berusaha meracuni permaisuri, bukan Putra Mahkota."
Beberapa opsir datang, mencoba membawa paksa Jun keluar dari sana. "Maaf Tuan Muda Jun, Anda tidak punya hak untuk mencampuri urusan penyelidikan."
Jun tak terima, ia mendekatkan wajahnya pada kepala penyidik, "Kau lupa siapa aku? Aku sangat benci pada kecurangan."
"Jun!"
Suara teriakan yang amat sangat di kenal. Perdana Menteri Han datang, meletakkan kedua tangannya di kerah Jun. Dia menarik putranya itu keluar dari sana. "Apa kau ini bodoh? Jangan mempermalukan diri sendiri hanya karena cintamu yang konyol ini," bisik perdana menteri.
Senyuman itu mencuat dari sudut bibir Jun, menampakkan betapa kesalnya dia saat itu. "Kau tahu aku sangat benci pada ketidakadilan? Jangankan untuk gadis yang kucintai, bahkan seekor semut pun tidak akan kubiarkan dicurangi," balas Jun melotot pada ayahnya.
Plak!
Telapak tangan itu mendarat keras di pipi Jun. Hingga Jun terdiam di tempat, disaksikan banyak orang yang mengintip keluar.
"Jika mereka tahu kau mencintai Putri Mahkota, bukan hanya kau, aku dan ibumu juga akan mati karena ini. Ingat ... dunia ini bukan hanya tentang cinta. Terkadang, kau butuh kekuatan dan kesabaran untuk bertahan di tempat kau berdiri," tambah Perdana Menteri Han kembali berbisik.
__ADS_1
Jun meraih pipinya yang perih, mengangguk kecil dan tersenyum manis setelahnya. Dia mendekatkan tubuhnya pada sang ayah, mendongak memandang langit. "Aku akan membawa dia pergi dari sini. Pada dasarnya, Youra adalah milikku. Bukan milik istana, apa lagi Putra Mahkota hina itu. Penghuni istana ini penuh kepalsuan, kalian merenggut kebahagiaan banyak orang. Terutama kau, Perdana Menteri Han."
Jun meninggalkan ayahnya di tempat itu sendirian. Kalimat putranya sama sekali tak membuat Perdana Menteri Han mengernyitkan dahi. Perdana Menteri Han malah tersenyum melihat langkah sang putra pergi. "Anak yang keras kepala.Terkadang, kau sangat berguna," gumam perdana menteri.
**
Saat yang bersamaan, Jung Hyun masuk ke dalam bilik Putra Mahkota, mendekat dan menatap sosok yang terbaring lemah itu dengan hati yang terluka. Dia menangis, membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
"Pengkhianat."
Perkataan Putri Shin terus saja menggerayangi pikirannya. Kenyataan sangat pahit yang harus dia akui.
"Ya, aku seorang pengkhianat. Mengapa Anda selalu mempercayai aku?" getir Jung Hyun menangis menatap Putra Mahkota. Jung Hyun terduduk, memegangi ranjang tempat berbaringnya Putra Mahkota, berlinangan air mata.
**
Setelah selesai mendengar keputusan dari rapat di istana, Kepala Menteri Perang tersenyum lebar membawa langkahnya pulang. Dia terus saja merapikan jubah kebangsawanan itu dengan bangga. Turun dari tandu terburu-buru. Tak sabar ingin segera menyampaikan keputusan raja yang menguntungkan baginya.
"Putriku!" teriak Kepala Menteri Perang dari halaman muka. Mengejutkan para penghuni kediamannya.
Ara yang saat itu sedang bersandar pada dipan biliknya langsung menoleh, keluar dari biliknya menyusul sumber suara itu. "Ayah?"
Semua orang kebingungan, lantaran sikap Kepala Menteri Perang sangat berlebihan, mengundang tanda tanya di pikiran mereka semua.
"Ada apa suamiku?" tanya sang istri setelah berlari kecil dari dapurnya.
"Putri kita akan segera menikah dengan Pangeran Yul!"
Ara membatu setelah mendengar teriakan kebahagiaan itu. Ada perasaan sedih dan senang dalam hati dan pikirannya. Soal Lee Young, cinta pertamanya tak mungkin lagi menjadi nyata, membuatnya sedih jika harus melupakannya. Namun, kenyataan bahwa Pangeran Yul yang akan mengisi hati dan harinya, setidaknya mengobati luka dihatinya itu. Dia menyukainya, pemuda yang akan menjadi suaminya adalah seorang pangeran. Pangeran yang bahkan lebih terkenal dan dipuja daripada Putra Mahkota.
__ADS_1
.