
Pagi sekali, Nana memanggil Young yang berada di kamarnya. Pemuda itu tak juga menjawab. Dia tak juga keluar dari biliknya sejak subuh. Biasanya, Young akan bangun lebih dahulu, tapi hari itu tidak. Mungkin saja, dia lelah karena semalaman tak pulang.
Pintu bilik itu terbuka saat Nana tak sengaja mendorongnya. Memperlihatkan seorang pemuda yang tengah tertidur pulas dengan pakaian yang dia kenakan semalam. Young belum mandi, dan masih dengan ikat kepalanya yang belum sempat dia lepaskan.
Nana melirik segala sisi, tersenyum senang saat sadar tidak ada siapapun disana selain mereka berdua.
"Tuan Muda, maaf aku telah berdosa karena jatuh cinta kepada bintang yang tinggi seperti Anda."
Nana melangkah pelan, menapaki satu persatu lantai kayu itu sedikit menjinjit. Dia masuk ke bilik Young. Sangat senang, bisa melihat wajah yang telah lama dia simpan di hatinya itu dengan puas.
Young tidur dengan barang-barang yang masih berantakan di sisinya. Nana diam-diam merapikan barang-barang itu sembari tersenyum-senyum. Sudah lama, dia sangat ingin menyentuh benda-benda kesayangan Young. Tangan itu menyentuh lama jubah Young yang tergeletak di atas ranjang.
"Selamat pagi, Suamiku." Nana tertawa riang, saat khayal genit itu merasuk pikiran. "Andai saja, langit memang menakdirkan aku menjadi seorang bangsawan yang bisa memiliki Anda."
Nana meraih ikat kepala Young yang masih sedikit menggantung. Namun, tangan itu tergoda untuk menyentuh wajah sang tuan.
Nana menoleh kembali keluar bilik, meyakinkan situasi bahwa tak ada orang selain mereka berdua.
Pelan-pelan tangan itu meraih wajah Young. Nana ragu menjejaki tangannya di atas wajah elok dan rupawan itu. Sedikit saja, ujung jarinya menyentuh hidung mancung Young yang sedang terlelap, sudah membuatnya bergetar hingga menangis bahagia.
"Tidak masalah jika aku memang harus terus menjadi pelayan Anda, Tuan Muda. Tapi, akankah Anda masih membawaku untuk bekerja sebagai pelayan di kediaman Anda dan istri Anda nanti? Selain paman, aku tidak punya siapapun."
Young mulai bergerak, tampaknya dia akan segera terjaga. Nana panik, sebelum keluar dia menyempatkan diri untuk menyediakan pakaian ganti untuk Young pakai nanti. Secepatnya dia keluar dari bilik itu setelahnya.
Dia berlari ke dapur, menyentuh ujung jarinya yang baru saja menyentuh hidung mancung Young. Dia tersenyum sendiri, tiada henti. Mendekap tangannya sendiri hingga wajahnya memerah. Ini pertama kalinya dia bisa menyentuh wajah sang tuan yang selalu dia mimpikan.
__ADS_1
Dia merapikan dirinya agar terlihat sedikit menarik, meski hanya bermodalkan pakaian lusuh. Dia menyediakan hidangan sarapan pagi untuk Young. Pagi sekali, dia selalu masak untuk sang tuan. Menyediakan masakan terbaik yang pernah dia buat di atas kenap kecil dan segera mengangkatnya ke ruang tengah.
Nana terus saja memperhatikan ujung jari itu dengan riang. Tak sadar, Young yang baru saja selesai mandi keluar dari biliknya bertelanjang dada, hendak memasang satu persatu pengait bajunya yang masih terbuka.
"Nana? Kau sudah sehat?"
Suara berat Young membangunkan Nana dari mimpinya. Dia segera menoleh kepada sang tuan canggung. "Se-selamat, selamat pagi, Tuan Muda. Aku ... aku sudah sehat."
Nana memberanikan diri melirik sekali lagi. Young sedang memakai pakaian yang tadi dia sediakan, hal itu membuatnya sangat bahagia. Meski hanya khayal, setidaknya dia bisa merasakan sedikit kebahagiaan.
"Syukurlah." Young tersenyum, lalu duduk di sebelah meja kecil berisi penuh hidangan masakan Nana. Dia mulai mengambil nasi dan lauk untuk segera disantapnya. Namun, sebelum menyendok sesuap nasi, Young menoleh pada Nana.
"Apa kau sudah makan?" tanya Young. Nana menggeleng pelan, "Be-belum Tuan. Nanti aku akan makan setelah Tuan Muda selesai."
"Kemarilah, makan bersamaku. Hidangan ini terlalu banyak untukku makan sendiri." Young menyendokkan nasi dalam sebuah mangkuk kecil, mengambilkan beberapa potong lauk dan meletakkannya tepat di hadapannya. "Duduklah disini."
Karena Nana diam saja, Young menggeser meja itu ke hadapannya. "Apa aku pernah melarangmu untuk makan bersamaku?" Young meletakkan semangkuk nasi di hadapan Nana. "Makanlah yang lahap. Masakanmu lezat sekali."
Nana menggenggam mangkuk itu dengan kedua tangannya sangat erat. Dia terpaku oleh pesona cinta pertamanya. Young menyantap makanan itu dengan lahap, bahkan memuji masakan Nana dengan tulus. Dia asik menikmati makanan itu hingga tidak sadar Nana hanya terus tersenyum memandanginya.
"Bahkan saat makanpun, Anda benar-benar terlihat luar biasa, Tuan Muda."
Young terdiam, tiba-tiba memandang Nana, menangkap basah gadis yang telah lama memendam rasa padanya itu. Nana gelagapan, segera menggigit sepotong lauk terburu-buru, menundukkan wajahnya yang memerah. Young menggeleng pelan, menyembunyikan tawa yang hampir saja keluar. Dia kembali menyantap hidangannya.
"Pakailah pakaian yang bagus, aku akan mengajakmu untuk membeli beberapa pakaian baru." Young segera berdiri, meninggalkan Nana yang dari tadi ingin berteriak bahagia.
__ADS_1
***
Ha Sun selalu meninggalkan istrinya di rumah. Dia tak tidur di rumah, dan lebih sering menghabiskan waktu bersama para wanita penghibur di rumah bordil. Hal ini dimanfaatkan Putri Shin. Putri Shin diam-diam membayar beberapa orang opsir untuk membantunya bertemu dengan Jung Hyun yang sedang dikurung dalam rumah tahanan. Dia menutupi seluruh kepala dan wajahnya agar tak ada seorangpun yang melihat.
Putri Shin langsung terhenyak tepat di depan sel Jung Hyun. Tubuh lelakinya penuh luka penyiksaan. Dia tidak makan dan tidur dengan layak. Putri Shin menangis tersedu-sedu. "Jung Hyun ... " panggilannya sangat lembut dan menenangkan.
Jung Hyun mendengar suara itu. Suara yang amat sangat dikenalnya. Dia langsung duduk, segera mendekat pada celah-celah tiang yang menghambat pertemuan mereka. "Putri Shin?"
Putri Shin mengulurkan tangannya, meraih wajah ayah dari anaknya dengan cinta. "Aku akan membebaskanmu, bagaimanapun caranya."
"Putri Shin, apa yang Anda lakukan disini? Pergilah dari sini. Jangan membahayakan diri Anda." Jung Hyun melepaskan tangan Putri Shin dari wajahnya.
"Tolong ... tolong sekali saja jangan menolak kedatanganku lagi. Aku sangat tersiksa seperti ini." Putri Shin mengenggam tangan lebar Jung Hyun dengan kedua tangannya. Jung Hyun malah kembali melepas paksa tangannya.
"Putri, Anda sudah tidak waras? Tolong kembalilah ke kediaman Anda. Bagaimana jika suami Anda mencari?" Jung Hyun terus saja menolak jika Putri Shin menemuinya.
"Jangan berkata seperti itu, aku datang kemari karena sangat merindukanmu. Tolong jangan menyakiti hatiku." Putri Shin menangis pilu di hadapan pria yang sangat dicintainya itu.
"Putri, sudah kubilang ... jangan pernah menemui aku lagi. Saat ini Anda adalah istri orang lain. Tolong lupakan aku. Aku tidak membutuhkan bantuan Anda." Jung Hyun tetap bersikeras mengusir Putri Shin. Dia malah menggeser tubuhnya menjauh dari Putri Shin yang jauh-jauh datang mengorbankan diri untuk menemuinya.
"Jung Hyun aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sedang ... "
"Pergi dari sini. Cintaku kepada Anda telah berakhir sejak lama. Apapun yang terjadi pada kita setelah Anda menikah, itu hanyalah sebuah kesalahan. Aku tidak ingin terseret dalam masalah yang menyusahkan. Anda sudah lihat bagaimana aku tersiksa, kan? Tolong jangan membuatku terkena masalah lagi." Jung Hyun memotong kalimat Putri Shin. Menghancurkan hati wanita itu menjadi butiran debu yang tak terbentuk lagi.
"Kau benar-benar tidak mencintai aku lagi?" Air mata itu tumpah sangat deras. Wajah Putri Shin sangat putus asa.
__ADS_1
"Apakah yang kukatakan tadi belum cukup? Tolong jangan mempermalukan diri Anda. Pergilah dari sini. Anda hanya akan menyusahkanku."
"Jung Hyun tega sekali ... " Belum selesai Putri Shin berkata, seorang opsir datang menghampirinya. "Tuan Putri, Anda harus pergi dari sini. Seseorang sedang menuju kemari." Opsir itu menarik paksa Putri Shin keluar dari rumah tahanan. Putri Shin merasa sangat putus asa, hingga perutnya menjadi sakit tiba-tiba.