Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Aku tidak butuh bantuanmu!


__ADS_3

Youra sangat terkejut. Jantungnya berdetak sangat kencang, menciptakan keringat dingin yang langsung saja mencuat dari sudut keningnya. Tangannya bergetar, ia berusaha bersikap tenang dan menjajaki langkah demi langkah yang menakutkan itu. Benar, saat itu, ketika ia membuka pintu biliknya, Youra mendapati ratu sedang duduk di atas ranjang. Dia sedang melotot tajam ke arahnya.


“Istri Putra Mahkota, kau tahu, kesalahan apa yang baru saja kau perbuat?” 


Youra mengepal keras tangan di sisinya. Dia berusaha tersenyum di depan ratu, seolah tak melakukan kesalahan. “Apa maksudmu?” tanya Youra bersandiwara.


Ratu lekas berdiri, mendekatkan tubuhnya pada Youra. Tatapan itu kini sedang mengarungi pikiran Youra. 


“Adalah dosa besar bagi seorang istri, meninggalkan kediaman tanpa izin suaminya. Adalah kesalahan besar, bagi seorang wanita istana, meninggalkan kediamannya tanpa izin dari pemilik istana. Dan adalah hukuman besar, bagi seorang wanita yang sudah menjadi istri Putra Mahkota, melakukan penyamaran dan melanggar adat dan hukum yang berlaku di istana,” bisik ratu, tepat di telinga Youra seolah memberi sebuah ancaman.


Youra menarik napas, melepaskannya perlahan-lahan. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum kemudian.


“Adalah tindakan tidak terpuji, seorang ratu seperti Anda, masuk ke kamar orang lain, tanpa izin dari pemiliknya,” jawab Youra tersenyum tipis. 


Ratu terbelalak, kini emosi itu sedang meraup-raup di benaknya. Dia tidak menyangka, gadis yang dia pikir bodoh seperti Youra, berani membantah dan berani menudingnya.


Ratu yang geram lantas menarik rambut Youra kencang, menggenggamnya kuat hingga tampak menyakitkan. Namun, Youra sama sekali tak mengeluh, dia malah tetap tersenyum kegirangan. Ratu menatap lekat mata Youra, ingin segera melemparkan semua amarah yang hampir saja meledak, tetapi ia teringat akan satu hal. 


Sikap Youra yang kurang ajar akan menjadi sangat menarik bagi ratu. Ini adalah salah satu cara untuk mempermalukan Putra Mahkota. Menurut sang ratu, sikap istri Putra Mahkota adalah tanggung jawab Putra Mahkota. Maka dari itu, Putra Mahkota akan segera dipermalukan, oleh istrinya sendiri.


“Aku, ratu negeri ini, memerintahkan wanita ****** ini untuk segera diberikan hukuman!” teriak ratu yang dengan sigap ditanggapi para pelayannya. Mereka menyergap Youra dan menyeretnya ikut bersama ratu.


Mereka terus saja menyeret Youra dengan paksa. Namun, Youra sama sekali tak memberikan perlawanan. Dengan sekuat tenaga, Youra menahan diri untuk tidak bertindak kasar. Sebentar saja, setidaknya agar tak dilihat banyak orang. Membalaskan dendam adalah tujuan utama. Maka dengan mengikuti seluruh alur permainan orang-orang akan membantunya untuk secepatnya mengembalikan keadilan. 


Setelah sekian lama bergulat dengan emosinya sendiri, Youra dengan perasaan kacaunya diseret ratu ke tempat yang benar-benar sangat mengerikan. Youra ditarik naik ke atas meja. 


Tempat penyiksaan itu tak membuat Youra kalah. Dia malah melotot tajam kepada ratu.


“Bukannya memohon maaf, kau malah melotot kepadaku! Pelayan, cepat bawakan cambuknya!” perintah ratu menggelegar hingga mencuri perhatian para dayang dan opsir yang ada di sekitarnya. Para pelayan ratu mendekat pada Youra, untuk menahan tangannya. Dan dua orang pelayan lainnya segera mengangkat gaun Youra. 


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Youra tak terima, anggota tubuhnya disingkap para pelayan. Gaun itu mereka angkat sampai ke lutut, hingga tampaklah seluruh betisnya. 


Segera ratu menarik gagang cambuk itu, dan mendaratkan pukulan pertama tepat di betis indahnya. “Minta maaflah kepadaku, maka aku akan mengurangi hukumanmu,” tawar ratu setelahnya. 


Youra tak gentar, dia malah tertawa seolah tak mau kalah. “Tidak akan,” jawab Youra lancang. Jawaban Youra menggetarkan ketakutan para pelayan yang sudah sangat khawatir. 


Dayang Nari yang baru saja tiba langsung bersimpuh di kaki sang ratu, “Yang Mulia, hambalah yang seharusnya dihukum. Hamba mohon, hukum saja hamba,” Dayang Nari mengemis di tempat itu. Ratu yang melihatnya tertawa geli, “Kau yang menemani perjalanannya kan? Katakan padaku, kemana saja dia, dan bertemu dengan siapa?” tanya ratu.


Dayang Nari terpaku di tempat, tak dapat berkata-kata. Ratu melotot padanya, memaksanya untuk angkat bicara. Namun, tampaknya Dayang Nari bersikukuh untuk tetap diam. Setelah sekian lama menunggu, Dayang Nari tetap saja menutup mulut, hingga ratu menjadi murka.


“Dasar bodoh! Ikat gadis ini dan siram kakinya dengan air panas!” perintah ratu setelahnya. Para pelayan berlarian, mengikat Dayang Nari di atas kursi kayu yang penuh bercak darah sisa penyiksaan. 


Saat air itu hendak disiramkan ke kaki Dayang Nari, Youra tertawa terbahak-bahak mengagetkan banyak orang. Spontan, ratu langsung menoleh geram kepadanya. 

__ADS_1


“Gadis itu tidak bersalah. Aku telah menipunya. Aku meminta dia untuk menemaniku jalan-jalan di sekitar istana, tapi aku malah kabur tanpa membawanya. Anda pikir, aku takut pada Anda?” jawab Youra setelah berhenti tertawa. Ratu yang sangat murka kembali mendaratkan cambuk itu di betis Youra. Kali ini, tanpa ampun. Hingga bekas cambukan itu sedikit berlebihan mengeluarkan darah. Youra tidak tampak ketakutan, sambil menahan rasa sakit dia hanya terus tersenyum dengan air mata yang berlimpahan. 


Dayang Nari ada disana, sedang mengemis ampun di kaki ratu yang terus saja menendangnya. Tiba-tiba…


“Hentikan!” suara Kasim Cho sontak membuat semua aktivitas penyiksaan itu dihentikan. Para dayang dan pelayan bersama ratu menoleh pada sumber suara. Menyaksikan pintu gerbang itu dibuka dengan hormat. 


"Berikan hormat kalian pada Putra Mahkota!" 


Dengan jubah mewah yang dibiarkan terbuka, tampak seolah memakai cardigan panjang yang mewah. Lapisan pakaian dalam yang kancingnya dibiarkan sedikit terbuka, memperlihatkan dada bidang yang membuat semua wanita melotot ke arahnya. 


Para pelayan segera menyadarkan diri, berbalik untuk tak melihat ke arahnya. Dengan wajah yang ditutupi, Putra Mahkota dengan pakaian yang tidak formal itu, melangkah angkuh membawa seluruh emosinya. Ia berjalan hingga berhenti tepat di depan ratu.


“Apa yang kau lakukan, pada wanitaku?” tanya Putra Mahkota dengan nada rendah yang menakutkan. Ratu terperanjat, tak percaya bahwa Putra Mahkota yang dalam keadaan pemulihan, bisa datang ke tempat penyiksaan yang cukup jauh dari istananya.


“Aku bertanya padamu, apa yang kau lakukan pada istriku?!” teriakan Putra Mahkota membuat ratu terkejut ketakutan. 


Ratu menarik napasnya yang berat. “Gadis yang kau sebut wanitamu ini, dia pergi meninggalkan istana. Hukuman ringan apalagi yang bisa aku berikan, selain 70 kali cambukan berduri?” jawab ratu angkuh.


Jawaban sang ratu, sontak membuat Putra Mahkota langsung menoleh pada sang istri. Ia melangkah cepat ke arah istrinya. Youra cepat-cepat memalingkan wajahnya, saat sang suami berjalan ke arahnya. 


“Katakan padaku, apakah yang dikatakan ratu itu benar?” tanya Putra Mahkota pada Youra. 


“Bagaimana kau bisa bertanya padanya? Sudah jelas dia keluar istana tanpa seizinmu..”


“Aku tidak bertanya padamu,” bantah Putra Mahkota mematahkan kalimat ratu. Kembali ia menoleh pada Youra, tetapi kini menundukkan tubuhnya. “Jawab,” tambah Putra Mahkota tepat di depan wajah istrinya. 


“Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?” batin Dayang Nari ketakutan. 


Putra Mahkota kembali berdiri tegap, tampak sedang mengolah napasnya dengan baik. “Bawa istriku kembali ke biliknya. Bawa dia dengan rasa hormat kalian,” perintah Putra Mahkota yang dengan sigap dilaksanakan para pelayan.


Akhirnya, Youra segera dibawa oleh para dayang kembali ke kediaman. Sementara, Putra Mahkota masih disana bersama ratu. 


“Berapa kali, Anda memukulnya?” tanya Putra Mahkota dengan nada penekanan. “Sudah 27 kali,” jawab ratu bergetar ketakutan. 


Putra Mahkota kembali berbalik hendak meninggalkan tempat penyiksaan. “Berikan cambukan 27 kali, pada para pelayan yang sudah menyeret istriku dengan kasar!” sontak, perintah Putra Mahkota membuat ratu terkejut tak terima.


“Anak kurang ajar! Lihat saja, kau akan dipermalukan oleh istrimu sendiri,” batin ratu tertawa puas. 


**


Putra Mahkota melangkah cepat menuju kediaman sang istri. Ia menerobos masuk bilik sang istri tanpa izin darinya. Saat itu, Youra duduk di atas ranjang sedang kesakitan. Dibantu para pelayan membersihkan darah di betisnya. 


“Menyingkir,” perintah Putra Mahkota membuat para pelayan bergidik. Segera para pelayan keluar dari bilik Youra meninggalkan mereka berdua. 

__ADS_1


Melihat sang suami ada di dalam, Youra segera menurunkan gaunnya, agar betisnya tak dapat dilihat. Putra Mahkota masih berdiri di dalam sana, sedang menatap tajam ke arahnya. Segera Putra Mahkota mendekat. Dia berjongkok di depan Youra yang bersusah payah menahan gaunnya agar betisnya tak terlihat. 


Namun, Putra Mahkota mengangkat paksa gaun Youra agar betis sang istri dapat dilihatnya dengan mudah. Youra yang sudah sekuat tenaga menutupinya, akhirnya kalah. “Kenapa kau menutupinya dariku?!” tanya Putra Mahkota marah. 


“Pergi dari sini,” jawab Youra seketika. Putra Mahkota tampak tak terima. Saking tidak terimanya, ia bahkan mengangkat gaun itu lebih tinggi lagi. 


“Apa yang Anda lakukan?!” bentak Youra. Putra Mahkota terus menatapnya, menahan tangannya untuk tidak kembali menurunkan gaun itu. 


“Tidak hanya betismu, aku berhak melihat apa saja yang ada di tubuhmu,” jawab Putra Mahkota segera melepaskan genggamannya dari tangan sang istri. 


Ia mengangkat kaki Youra dan memangku kaki itu di atas pahanya. Segera Putra Mahkota meraih kain yang sudah direndam dengan air hangat, lalu membersihkan luka sang istri dengan hati-hati. 


Youra terpaku diam. Ingin sekali rasanya dia menendang suaminya untuk segera keluar. 


Bren*sek! Berani-beraninya dia menyentuhku! Menjijikkan!


Youra yang merasa jijik menjadi sangat canggung, karena betis hingga sedikit pahanya tersingkap di depan pria yang sangat dibencinya. 


Mata Putra Mahkota menjadi liar. Bagaimanapun juga, wanita yang saat ini sedang memperlihatkan kebencian, adalah istri sah yang berhak disentuhnya. Dia menatap sedikit paha yang tersingkap itu cukup lama. Saat sedang melirik paha Youra yang sedikit terlihat, Putra Mahkota mengepal keras tangannya, segera menarik gaun Youra dan kembali menutupnya. 


“Mengapa, kau pergi meninggalkan istana?!” tanya Putra Mahkota padanya. Youra diam saja, dia bahkan tak menoleh sama sekali. 


Kau mau tahu? Aku membeli racun, untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini.


Youra menarik kakinya dari pangkuan Putra Mahkota, “Jangan pernah membantuku, aku tidak butuh bantuanmu!”


Jawaban Youra, melemahkan hati Putra Mahkota. Dengan seluruh kemarahan itu, ia mendorong tubuh istrinya, hingga Youra terbaring di atas ranjang dengan napas yang sesak. Putra Mahkota yang ada di atas tubuhnya, membuatnya cepat-cepat memalingkan wajah. 


“Jangan pernah berpikir, untuk pergi dari sini lagi! Aku tidak akan membiarkanmu,” kata Putra Mahkota dengan nada yang sedikit aneh. Entah kenapa, suara itu sedikit bergetar. 


Silakan saja! Karena sebelum itu, aku akan segera menyingkirkanmu!


Putra Mahkota kembali berdiri, dan melangkah keluar dari kediaman Youra. “Panggilkan tabib! Segera obati istriku! Jika kalian membiarkannya keluar lagi, nyawa kalian akan aku habisi!”


Putra Mahkota berteriak saat meninggalkan kediaman Youra. Dengan sempoyongan, Putra Mahkota diiring para pelayan kembali ke biliknya. 


"Yang Mulia, mohon jaga emosi Anda dengan baik," pinta Kasim Cho dengan wajah sedihnya.


Putra Mahkota sedikit tertawa, lalu tiba-tiba saja kembali lemah. Jung Hyun segera mengejarnya yang hampir saja rubuh ke tanah.


"Yang Mulia, tampaknya Anda belum terlalu pulih. Mohon untuk berikan perintah saja, dan jangan meninggalkan kediaman Anda," pinta Jung Hyun sambil membantu Putra Mahkota berdiri.


"Aku bahkan ingin tahu, kapan tanggal kematianku," jawab Putra Mahkota sambil tertawa. Sangat aneh. Lelucon itu, tampak mengandung makna yang menyedihkan.

__ADS_1


Para pelayan termasuk Jung Hyun menjadi iba. Tampaknya, Putra Mahkota benar-benar mulai putus asa.


**


__ADS_2