
"Yang Mulia ... apa kita harus pergi dari sini?"
Pertanyaan Youra menarik tubuh Putra Mahkota untuk kembali memeluknya. Semuanya akan jadi serba salah. Pergi dari tempat juga akan membuat mereka dalam keadaan yang berbahaya. Young sudah berjanji akan datang setelah seluruh urusannya selesai untuk mengawal Putra Mahkota dan Youra kembali ke istana. Karena itu, akan sulit bagi Young untuk mencari mereka jika harus pergi. Lagipula, pergi dari tempat itu juga tidak akan aman. Orang-orang sedang berlomba-lomba menemukan Youra.
Putra Mahkota tiba-tiba menggendong istrinya masuk kembali ke dalam gubuk. Duduk membawa istrinya bersemayam dalam pangkuan. "Seharusnya aku mengajak istriku berbulan madu ditempat yang indah. Sayang sekali, aku malah membuatmu terjebak di hutan belantara yang menakutkan. Malam pertama kita bahkan dilakukan di gubuk tua yang kecil." Putra Mahkota menggenggam tangan Youra, menciumnya cukup lama. Perlakuan manisnya, selalu berhasil menenangkan Youra.
Youra menatap wajah itu sendu. "Dimanapun kita berada, mau di gunung atau di lembah ... bersama Anda, semuanya terasa nikmat dan indah." Youra yang dari dulu hanya terus berkata kasar, saat ini benar-benar telah berubah. Selalu saja membuat cinta Putra Mahkota bergelora.
"Youra ... jangan menggodaku. Aku tidak bisa menahannya."
"A-apa? Yang Mulia ... aku sedang serius."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi. Hari ini sudah berapa kali kau memanggilku seperti itu?" keluh Putra Mahkota menatap permaisurinya tajam.
Dari menegangkan sampai romantis, suasana itu selalu saja berubah, bahkan saat ini menjadi sangat menyebalkan bagi Youra. "Suamiku tersayang, kenapa Anda sangat menyebalkan. Aku mau keluar. Aku ingin memanggil pemburu bodoh yang buta itu. Enak saja dia hampir membunuh Suamiku." Youra berdiri dari pangkuan suaminya, tapi kekuatan Putra Mahkota menarik tangannya membuatnya kembali terduduk di pangkuan hangat itu.
"Apa aku mengizinkanmu? Lupakan soal pemburu tadi. Pikirkan aku saja." Setiap kali berbicara, wajah Putra Mahkota selalu saja serius. Dia mendorong kepala Youra bersandar di dadanya.
"Ss-suamiku ... " panggil Youra setelah berlama-lama bermanja.
"Hm?"
"Kalau begini terus ... kapan aku masaknya?" Youra mengangkat kepalanya dari dada sang suami. Dia beranjak dari pangkuan itu cepat sekali. Melesat begitu saja berlari sambil tertawa keluar dari gubuk.
Putra Mahkota mengikuti langkah sang istri. Dia menatap ke atas sana, tempat dimana anak panah itu berasal. Ada yang aneh. Menurutnya, pemanah itu bukanlah utusan istana. Karena jika itu utusan istana, pastilah mereka sudah menangkapnya dan Youra. Sangat jelas, ada dalang yang lebih busuk dari ratu. Ada orang yang bermain licik dengan mereka.
"Bodoh." Putra Mahkota menyeringai tipis ke atas sana. Dia sangat pintar dan terpelajar. Dia bisa membaca semua gerak-gerik mencurigakan, termasuk tentang siapa dalang yang telah berani menganggu ketenangannya.
"Ah!"
Suara teriakan Youra menampar keras lamunan Putra Mahkota. Dia langsung berlari ke arah dapur untuk mengejar istrinya.
"Ada apa, Permaisuriku?" tanya Putra Mahkota cemas. Dia melihat kendi besar berisi air yang tertumpah. Putra Mahkota mengambil kendi besar itu, dan meletakkannya kembali ke tempat. "Apa kehadiranku tidak ada gunanya bagimu?" tanya Putra Mahkota. "Kenapa mengangkat kendi sebesar itu sendirian?" sambungnya.
"Bukan, bukan begitu Suamiku. Perut Anda masih terluka. Harusnya, Anda tidak mengangkat beban," jawab Youra.
"Youra, jangan membuat aku merasa tidak berguna. Untuk apa air ini?" tanya Putra Mahkota sekali lagi.
__ADS_1
"Aku ingin membuatkan Anda air mandi hangat," jawab Youra.
"Minta maaf."
"Apa? Kenapa aku harus minta maaf?" tanya Youra kebingungan.
"Kau membantah Suamimu?" Tatapan Putra Mahkota membuatnya gugup.
Youra ternganga sangat lama.
"Huh! Menyebalkan. Iya, aku minta maaf, Suamiku tersayang. Aku minta maaf." Youra menghela kesal.
"Yang tulus."
"Huft ... maafkan aku, Suamiku." Youra tersenyum manis pada suaminya.
"Mendekat."
Terus menerus Putra Mahkota melayangkan perintah. Youra merengut mendekat pada suaminya. Hap! Sekali lagi Youra terbungkam. Putra Mahkota mengecup bibirnya.
...****************...
Pangeran Yul menikmati pagi dengan suguhan teh hangat yang disiapkan Ara bersama bara api yang menghangatkan. Saat ini, perasaannya pada Ara sangat menggebu-gebu. Dia tak mengatakan apapun pada sang istri tentang surat persetujuan peralihan tahta yang dikirim oleh ratu beberapa waktu yang lalu, karena takut Ara akan marah padanya. Sejak awal, Ara tidak pernah setuju sang suami memimpin tahta.
"Yang Mulia Pangeranku, bagaimana kabar Putri Shin?" Ara duduk di sebelah suaminya, menyandarkan kepala.
"Dia belum sadarkan diri, tapi tabib mengatakan bahwa dia akan segera pulih."
"Apa Ratu Lee belum kembali?" Pertanyaan Ara membuat Pangeran Yul mematung.
"Aku harap, Ratu Lee segera ditemukan. Semoga dia kembali untuk memimpin tahta. Dia itu gadis yang baik dan lugu. Dia pintar dan ceria. Dia pasti akan jadi pemimpin yang baik untuk negeri ini. Malang sekali, sejak kecil dia harus menderita dan sengsara." Ara memperbaiki posisinya di tubuh hangat sang suami.
"Aku kasihan padanya. Dia tidak memiliki siapapun juga. Aku sahabatnya ... aku sahabat yang sudah mengusirnya. Padahal, dia selalu saja baik kepadaku," lanjutnya.
__ADS_1
Pangeran Yul tersentak. Mengingat kembali soal Putra Mahkota yang hidup sangat malang sejak kecil. Sendirian, kesepian, dibenci dan dihina oleh banyak orang. Akan tetapi, dia tak pernah membenci Pangeran Yul. Dia selalu menghormatinya.
***
Di sisi lain, Pangeran Hon sedang sibuk menulis banyak laporan di kediamannya. Tak lama setelah itu, seorang pengawal datang tergesa-gesa.
"Yang Mulia Pangeran, aku menemukan sesuatu yang aneh."
Ucapan pengawal itu menghentikan kegiatan Pangeran Hon. "Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Pangeran Hon terbelalak.
"Benar, Yang Mulia."
Pangeran Hon berdiri dari duduknya, mendekat pada sang pengawal. "Apa ini tentang penyelidikan kita?" tanya Pangeran Hon memelankan suara. Sang pengawal mengangguk.
"Anda masih ingat dengan putra sulung mendiang penasehat negara yang terkenal itu?" tanya sang pengawal.
"Iya. Aku masih sangat mengingatnya."
"Yang Mulia, baru saja aku melihat orang-orang berpakaian serba hitam mengikuti sepasang langkah di desa Timur." Wajah pengawal itu menunjukkan sebuah ketakutan.
"Sangat aneh karena jumlah mereka sangat banyak, jadi aku menaruh curiga," sambung sang pengawal.
Pangeran Hon melirik segala sisi, segera menarik sang pengawal masuk ke dalam kediamannya. "Lalu?" tanyanya khawatir.
"Saat aku mencari tahu siapa yang mereka ikuti, aku melihat seorang pria dan wanita masuk ke dalam sebuah kios menjahit yang cukup terkenal."
Belum selesai pengawal itu bercerita, Pangeran Hon seolah tahu apa yang akan segera dikatakan oleh sang pengawal. "Apa ... "
"Benar Pangeran, lelaki itu ... adalah Tuan Muda Young, putra sulung mendiang penasehat negara masih hidup. Dia bersama seorang wanita. Dan wanita itu adalah pelayan pribadi Ratu Lee. Yang Mulia, mereka sedang terancam. Kita harus melakukan sesuatu."
Pangeran Hon terkesiap. "Kita harus menemui Pengawal Jung Hyun. Dia pasti tahu sesuatu. Saat ini, aku sangat percaya kakakku Putra Mahkota masih hidup. Mereka sedang melakukan taktik licik untuk mencari dan membunuh kakakku dan permaisurinya. Mereka pasti sedang menyusun siasat yang lebih keji."
Pangeran Hon meraih sebuah kertas dari atas meja pribadinya. "Tolong kirimkan ini pada Kasim Cho yang ada di penjara. Aku akan ke desa sekarang juga. Tugasmu adalah menjaga Putri Shin. Jangan sampai Ha Sun membawanya pulang. Aku mencurigai pemuda itu."
"Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Pangeran Hon akhirnya pergi terburu-buru.