Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Kakakku yang Malang


__ADS_3

Young membawa adiknya jauh dari tempat tinggal mereka. Youra tidak sadarkan diri terkulai lemas di punggung sang kakak. Young tidak tahu langkahnya harus berhenti dimana. 


Ayah…


Ia terus saja berlari karena orang-orang bertopeng itu masih mengejar mereka.


Ibu…


Hingga akhirnya dia sadar telah membawa sang adik berlari sangat jauh hingga ke kaki gunung.


Selamat tinggal..


Young yang kelelahan hampir kehabisan napas. Ia melihat ada sebuah gundukan kecil tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia yang sadar sudah tak lagi diikuti menurunkan sang adik yang tak sadarkan diri.


“Youra, bangunlah".


Young yang sejak tadi berusaha tegar di depan sang adik akhirnya menangis sejadi-jadinya dan berteriak memandang langit sambil memeluk sang adik. 


Aku pergi, membawa cinta kalian yang tertinggal..


**


Beberapa saat kemudian, Youra yang pingsan akhirnya sadarkan diri. Ia terbangun di tengah hutan yang gelap ditemani kehangatan api yang dinyalakan dekat dengannya. Dia yang ketakutan mencoba bangun dan berjalan. Dia sadar, dia sedang berselimut dengan jubah sang kakak.


Kakakku yang malang..


Youra melihat kakaknya sedang duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang sambil mengobati lukanya sendiri. Young tampak sangat kesakitan. Youra yang melihat sang kakak mendekati kakaknya. Namun, langkahnya terhenti saat mendekat karena ia melihat ada banyak bekas luka di tubuh sang kakak.


Aku tak pernah tahu, seberapa lama dia menderita. 


“Kakak?” panggil Youra.


Young yang menyadari kehadiran adiknya, dengan cepat memakai bajunya kembali.


“Youra, kau sudah bangun?” Young bergegas berdiri.


“Ini, makanlah ini,” Young memberikan sang adik sebuah ubi yang sudah dibakarnya.


Yang diperlihatkannya padaku, adalah dia yang baik-baik saja.


Sambil menahan tangisnya, Youra mengambil ubi itu dari tangan sang kakak.


“Apa kakak sudah makan?” tanya Youra yang menyembunyikan tangis sedihnya.


Hanya satu yang bisa aku lakukan untuknya.


“Tentu saja. Aku sudah makan lebih dulu,” jawab sang kakak.


Youra memakan ubi itu sambil menitikkan air mata. Young duduk, mendekat pada sang adik.


“Youra, kau baik-baik saja?” tanya Young.


Youra yang mendengar itu kembali terisak.


“Aku baik-baik saja asal Kakak bersamaku".


Aku tidak boleh menangis terus di depannya.


“Aku tidak seperti ayah dan ibu. Aku tidak akan meninggalkan adik kecilku yang bodoh ini,” jawab Young.

__ADS_1


Apapun, asalkan kakak tetap bersamaku.


”Berjanjilah?”. 


“Aku berjanji. Ayo makanlah cepat, kita harus cari tempat untuk istirahat,” jawab Young.


Aku kehilangan segalanya dalam sehari. 


Ayah, ibu, temanku Ara..


Mereka pergi mengingkari janji yang mereka buat sendiri.


Haruskah aku percaya, pada kakak juga?


Saat itu yang aku pikirkan, aku tak boleh lagi menangis di depannya. Aku tidak boleh menyusahkannya. Aku harus kuat agar dia tidak khawatir. Sudah banyak luka yang dia bawa selama ini, aku tidak boleh menambahnya.


Pikirku, semua yang baik-baik saja ternyata kebohongan. Aku tak lagi percaya pada siapapun. Kakakku yang malang dia selalu berbohong padaku. Aku tidak mau tertipu lagi oleh kebodohanku.


**


Beberapa waktu kemudian di istana.


“Apa yang terjadi?! Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi!” teriak raja dari singgasananya.


“Yang Mulia tenangkan diri Anda,” perdana menteri coba menenangkan raja.


“Apa yang terjadi pada penasehatku?” raja menyandarkan tubuhnya, tampak lemah hingga menangis di singgasananya.


Raja tampak tidak mampu menahan sedihnya. Kemudian para kasim dan pengawal datang untuk membawa raja agar raja istirahat. Melihat raja yang terlalu sedih, para menteri yang sedang memandangnya, jadi ikut bersedih. 


”Apa yang sebenarnya terjadi? Penyebaran rumor buruk Putra Mahkota bahkan belum selesai, sekarang kabar kematian pejabat kesayangan raja. Raja pasti sangat terluka,” kata salah seorang menteri pada yang lain.


“Kawasan tempat tinggal penasehat negara diserang orang-orang tak di kenal. Menurut saksi mata, mereka memakai topeng untuk menutupi identitas mereka,” jelas yang lain.


“Tunggu dulu, bukankah sangat aneh?” jawab kepala menteri perang.


Para menteri kemudian saling berpandangan dan mendekat satu sama lain.


“Jasad mereka ditemukan di halaman rumah mereka. Tapi sampai sekarang jasad kedua anaknya tidak ditemukan,” tambah kepala menteri perang.


”Apa itu artinya, kedua anaknya masih hidup?” tanya menteri yang lainnya.


“Bisa jadi. Putra penasehat negara akan menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota. Kita tunggu saja kabar dari istana Putra Mahkota, apakah Lee Young itu masih hidup atau tidak?” jelas kepala menteri perang.


Perdana menteri yang mendengar itu tampak tidak terima, lalu datang mendekat.


”Tidak ada yang perlu diperhitungkan. Yang penting, jasad penasehat negara dan istrinya sudah dimakamkan dengan layak oleh istana sebagai tanda jasa. Jika memang anak-anaknya masih hidup, itu bukan lagi urusan kita. Sekarang ini yang perlu kita pikirkan adalah cara untuk menghentikan penyebaran rumor buruk Putra Mahkota. Kemudian baru kita pikirkan siapa yang pantas mengisi posisi kosong ini," kata perdana menteri. 


Mendengar perkataan perdana menteri, salah seorang menteri kemudian angkat bicara.


”Perdana Menteri Han, bukankah ini sangat menguntungkanmu? Kau adalah ayah dari siswa akademik terbaik di negeri ini. Aku juga dengar putramu itu pemilik nilai tertinggi ujian negara. Siapa sangka, ternyata selama ini kau telah menyembunyikan senjata pamungkas. Tidak ada yang tahu bahwa selama ini kau punya putra bukan? Atau jangan-jangan, kaulah yang sudah menyingkirkan penasehat negara, agar anakmu mendapatkan posisi itu?” kata salah seorang menteri. 


Kemudian para menteri yang lain saling berpandangan dan mulai menaruh curiga. Perdana menteri tersenyum manis pada orang-orang itu.


“Bukankah seharusnya ini kabar yang baik untuk kalian? Kalian kira aku tidak tahu bahwa selama ini kalian sangat membenci penasehat negara? Setelah berhasil menyingkirkan penasehat negara, bukankah seharusnya kalian juga mencari cara untuk menyingkirkanku? Aku tidak sebodoh mendiang Tuan Lee Tae Hwon. Aku adalah perdana menteri. Kekuasaanku tidak setara dengan posisi kalian. Daripada mencoba menyingkirkanku, lebih baik kalian pikirkan cara supaya bertahan di istana ini lebih lama,” kata perdana menteri memandang tajam mereka, lalu pergi dari sana meninggalkan para menteri yang terdiam.


**


Suatu hari di kediaman kepala menteri perang.

__ADS_1


Ara yang mendapatkan kabar menyedihkan itu merasa bersalah dan mengurung diri di kamarnya.


“Ara keluarlah! Kau belum makan seharian!” teriak ibunya.


Kepala menteri perang yang melihat tingkah putrinya menjadi geram.


“Ara! Keluar atau..”.


Ara akhirnya keluar dari kamar dengan wajahnya yang sedih.


“Aku tidak mau makan,” ucapnya sambil menangis.


“Kau ini kenapa hah?!” bentak ayahnya.


“Apa Youra dan kakaknya selamat?” tanya lirih Ara yang terisak.


“Bukankah sudah kuperingatkan padamu, jangan pernah ikut campur dengan urusan mereka. Jika kau masih terus seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu bermain lagi keluar!” tambah ayahnya.


“Apa Ayah yang sudah melakukannya? Apa Ayah yang sudah membunuh keluarganya?! Bukankah aku sudah berjanji tidak akan lagi bermain dengannya? Kenapa Ayah malah menambah penderitaan dia yang tidak berdosa?!” teriak Ara.


Sang ayah yang geram mendaratkan telapak tangan di pipi putrinya.


“Kau pikir ayahmu ini orang yang bodoh?! Aku memang sangat membenci penasehat negara, tetapi aku tidak pernah berpikir licik untuk menyingkirkannya dengan cara yang memalukan seperti itu,” kata sang ayah.


”Dengar, apapun yang terjadi pada mereka, itu bukan salah kita. Aku juga tidak tahu siapa pelakunya. Namun, melihat banyaknya warga yang tewas, serta banyak barang berharga yang hilang sudah pasti perampok adalah pelakunya,” tambah sang ayah.


Ara terdiam, ia mencoba mengumpulkan seluruh kepercayaan itu dalam hatinya. Perlahan saja, asal semua baik-baik saja.


“Maafkan aku Ayah,” Ara menangis dipelukan ayahnya.


“Tenanglah Putriku, semuanya akan baik-baik saja".


**


Sementara itu, di kaki gunung.


“Kakak, kenapa kita tidak kembali saja ke rumah? Aku tidak tahu bagaimana kabar Nana. Apa dia selamat dalam insiden itu?” tanya Youra.


“Untuk sementara ini, kita harus tetap disini,” jelas Young yang sedang membuatkan makanan untuk sang adik.


“Apa Ayah dan Ibu sudah dimakamkan dengan baik?” tanya Youra sedih.


Sang kakak yang mendengar itu, hatinya lemah. Ia yang dari tadi sibuk memasak akhirnya berhenti sejenak memandang adiknya.


“Pasti. Raja pasti sudah memakamkan mereka dengan baik,” jawab sang kakak.


Aku tahu, kakak terluka dengan pertanyaanku.


“Makanlah ini. Kakak harus pergi ke istana menemui Putra Mahkota,” Young kemudian berdiri.


“Apa aku tidak boleh pergi juga?” tanya Youra.


“Aku akan mengajarkanmu. Mulai sekarang, kita tidak lagi pergi ke biro pendidikan,” jelas kakaknya.


“Bermainlah di sekitar sini saja. Aku akan kembali segera,” tambah Young. 


Young bergegas pergi meninggalkan adiknya.


Saat itu, aku hanya percaya saja, tanpa tahu kebenarannya.

__ADS_1


Aku tidak pernah bertanya apa-apa.


__ADS_2