
Cahaya mentari, mulai berani mengusik tidur Putri Shin yang lelap. Hari ini, dia bangun kesiangan, tak seperti biasanya. Menyipitkan mata, melihat cahaya yang masuk melalui celah kediamannya membuatnya sadar, itu terlalu siang untuk bangun. Segera ia membangkitkan tubuhnya untuk bergegas berdiri, memperhatikan bagaimana wajahnya yang bengkak melalui cermin. Ia menoleh ke segala sisi, cepat-cepat mengintip ke bawah ranjang. Suaminya tak lagi ada disana.
"Selamat pagi, Putri. Senang, melihat Anda tidur sangat nyenyak."
Para pelayan menyambut Putri Shin dengan wajah bahagia mereka. Putri Shin melangkah kecil menuruni tangga kediamannya, memperhatikan sekeliling, tampak mencari sesuatu. Pelayan pribadinya datang, membawakan beberapa hidangan di atas meja kecil.
"Tuan Putri, makanlah terlebih dahulu, sebelum makanan ini dingin. Tuan Ha Sun, bangun pagi sekali untuk memasak ini semua."
Pernyataan sang pelayan meruntuhkan lamunan Putri Shin yang mulai panjang. Ia segera memperhatikan hidangan yang kini berada di depannya.
"Dia yang memasak semua ini?" tanya Putri Shin tak percaya. Para pelayan saling berpandangan, tersenyum genit sedikit menggoda. Mereka mengangguk bersamaan, sebagai jawaban atas pertanyaan Putri Shin.
Putri Shin berkedip beberapa kali, menyadari statusnya yang saat ini sebagai istri. Sebagai seorang putri raja yang menjunjung tinggi adab dan moral, akan sangat memalukan baginya untuk tidak berlaku baik pada suaminya. Ia duduk rapi, bersila untuk segera menyantap hidangan itu.
Setelah beberapa suap, Putri Shin menitikkan air mata. Berusaha keras untuk tak terlihat putus asa, hingga wajahnya memerah. "Bagaimana, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak menyukai pria ini, lantas bagaimana caranya aku membalas kebaikannya?" tanya Putri Shin tersedu-sedu.
Pelayan pribadinya mendekat, meraih pipi cantik itu untuk segera menghapus hujan yang membasahinya. "Tuan Putri, saat ini Tuan Ha Sun adalah suami Anda. Anda masih punya banyak kesempatan untuk berbuat baik kepadanya. Hamba harap, Anda dapat menerimanya dengan baik," bujuk sang pelayan.
"Dia bangun pagi sekali, memasak makanan ini lalu berangkat untuk bekerja. Dia meminta kami untuk tidak membangunkan Anda. Pria seperti apa lagi yang Anda butuhkan? Putri, mulai sekarang, lupakan semua tentang Jung Hyun. Pandanglah masa depan dengan baik," tambah sang pelayan.
Hati Putri Shin memang tersentuh, tetapi, cinta tak bisa berpindah begitu mudah. Ada proses dan tahap penyesuaian yang harus dia lewati. Terlebih, suaminya adalah putra seorang menteri yang tidak dia sukai, akan menggoreskan cerita panjang diantara mereka.
**
**
"Bagaimana keadaan Putra Mahkota?" tanya raja pada seorang tabib yang bertugas di kediamannya. "Yang Mulia Putra Mahkota harus banyak istirahat. Tidak boleh tertekan dan banyak masalah. Kami sudah memberikan herbal terbaik untuk Beliau, agar menjaga staminanya untuk segera pulih."
Penjelasan sang tabib membuat raja menjadi lega, setidaknya untuk saat ini dia bisa beristirahat dengan baik tanpa harus memikirkan lebih banyak masalah.
Sementara itu, Putra Mahkota sedang duduk di atas ranjangnya, menyandarkan tubuh yang lemah itu. Tanpa penutup wajah, dia terus saja memperhatikan keramik cantik yang selama ini selalu disimpannya. Memainkan dan memutar kendi keramik itu dengan tangannya, sambil menunjukkan senyuman tipis di sudut bibir indahnya.
Kasih Cho segera masuk untuk memeriksa keadaan tuannya, membawakan obat herbal untuk Putra Mahkota. Namun, belum lagi langkah itu sampai lebih dekat dengan Putra Mahkota, seluruh langkah dan napasnya seolah terhenti. Di depan pintu bilik Putra Mahkota, Kasim Cho terpaku tak bisa bergerak.
Putra Mahkota menoleh, "Mengapa kau diam saja di tempat itu?" tanya Putra Mahkota keheranan. Kasim Cho segera menundukkan pandangannya secepat kilat, lalu berlutut di tempat. "Sungguh indahnya apapun yang ada pada diri Anda, Yang Mulia. Aku merasa begitu beruntung, menjadi pelayan pribadi Anda. Sangat disayangkan, jika Anda terus dalam keadaan yang seperti ini. Hamba harap, Anda bisa segera pulih," jawab sang kasim terharu.
Putra Mahkota meletakkan keramik cantik itu di sisinya, tertawa lepas seolah dalam keadaan sehat. "Apa yang indah pada diriku? Aku sangat hina dan memalukan," jawab Putra Mahkota santai saja.
__ADS_1
"Tidak Yang Mulia, semua orang sudah salah menilai Anda. Tidak hanya baik dan ramah, Anda sangat tampan dan berbakat."
Jawaban sang kasim malah membuat Putra Mahkota tertawa lebih keras lagi, tak lama setelahnya dia terdiam, lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
"Jika aku memang seperti itu, seharusnya istri dan ayahku tidak membenciku."
Entah kenapa, kalimat itu menghancurkan hati Kasim Cho yang sudah sangat iba. Wajahnya berubah lebih menyedihkan.
"Yang Mulia, Anda tidak boleh berkata seperti itu. Mereka tidak membenci Anda. Ayo, minumlah herbal ini agar segera pulih."
"Aku tidak suka minum obat. Bawa semua obat itu pergi, dan jangan mengasihani aku lagi."
Kasim Cho tak bisa berbuat apapun selain mengikuti perintah Putra Mahkota. Namun, saat langkah itu segera ia bawa keluar dari kediaman Putra Mahkota, alangkah terkejutnya dia, melihat gerbang utama istana Putra Mahkota, dibuka lebar, menampilkan sosok yang mengejutkan. Ratu, bersama Youra sang permaisuri sedang melangkah anggun bersama para pelayan.
Wajah murung Kasim Cho berubah ceria. Dia berlalu kembali ke dalam bilik Putra Mahkota.
"Yang Mulia, Ibu Ratu bersama permaisuri Anda, datang untuk berkunjung."
Mendengarnya, Putra Mahkota langsung duduk keheranan. Ia terus menatap sang kasim tak percaya. Hingga akhirnya, pelayan penjaga pintu memberikan pengumuman.
"Yang Mulia Putra Mahkota, ratu dan permaisuri ada disini."
"Biarkan mereka masuk," perintah itu dengan sigap dilaksanakan para pelayan. Menghadirkan ratu dan Youra setelahnya.
Youra membungkukkan tubuhnya memberikan salam kehormatan pada sang suami. Wajah cemberutnya memperlihatkan bagaimana dia terpaksa datang atas perintah ratu.
"Bagaimana keadaanmu, Putraku?" tanya ratu. Putra Mahkota tak memberikan reaksi bahkan untuk sekedar melihat ratu. Matanya terus saja menatap Youra yang sama sekali tak mengangkat wajahnya.
"Angkat wajahmu," perintah Putra Mahkota pada Youra, mencuri perhatian ratu yang ada diantara mereka. Youra tak bisa membantah di depan ratu. Untuk sementara, bersikaplah baik dan patuh. Pelan-pelan ia mengangkat wajahnya, tapi tetap saja matanya tak menatap suaminya.
Melihat hal itu, ratu tersenyum. "Aku datang kemari karena mendengar kabar Anda jatuh sakit lagi. Istri Anda tidak pernah berkunjung dan menemui Anda, membuatku berinisiatif membawanya datang kemari untuk berkunjung. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi aku sangat senang bisa melihat putra dan menantuku bersamaan seperti ini. Bukankah ibumu ini sangat baik padamu, Yang Mulia?" tanya ratu sangat angkuh.
Putra Mahkota tak peduli, ia sibuk memperhatikan sang istri. "Bagaimana keadaan kakimu?" tanya Putra Mahkota pada Youra tanpa menanggapi perkataan ratu.
"Permaisuri Anda ini baik-baik saja. Sepertinya kemarin ada sedikit kesalahpahaman diantara kita. Namun, tenang saja, semuanya sudah kembali membaik," tambah ratu setelahnya.
"Angkat gaunmu." Sontak, perintah Putra Mahkota ini memperoleh perhatian mengejutkan dari ratu dan para pelayan. Mereka tidak menyangka Putra Mahkota memerintahkan sesuatu yang tak seharusnya dia perintahkan. Ratu melirik Youra yang tampaknya sangat tertekan. Wajah Youra yang penuh keterpaksaan membangkitkan rasa penasaran yang lebih dalam pada diri ratu.
__ADS_1
"Mohon maaf Yang Mulia, tidak seharusnya Anda memerintahkan hal semacam itu di hadapan banyak orang," bantah Youra.
Tampilan dan kalimat mereka membuat ratu tersenyum licik. Menyadari ada hal menarik di antara mereka berdua.
"Aku suamimu. Aku berhak, meminta apa saja dirimu."
Mereka yang ada di dalam terbelalak bahkan tak mampu untuk sekedar berkedip. Putra Mahkota benar-benar menunjukkan posisinya sebagai seorang suami. Sementara itu, ratu diam di tempat mencoba menikmati pertunjukan menarik itu. Hingga akhirnya,
"Selain istriku, keluar dari sini," perintah Putra Mahkota yang terakhir benar-benar sangat mengejutkan. Para pelayan saling berpandangan, hingga ratu pun tak dapat berkata-kata.
Kasim Cho mendekat pada tuannya, "Yang Mulia, ini masih siang, bisakah Anda menunggu hingga malam tiba? Anda masih sangat lemah, Anda harus istirahat dengan baik," bujuk Kasim Cho. Dia khawatir, Putra Mahkota akan membangkitkan naluri kejantanannya di siang hari, mengingat betapa kesepiannya dia selama ini menunggu sang istri datang ke kamarnya.
Ratu tertawa cekikikan, menciptakan melodi apik menakutkan di dalam bilik Putra Mahkota.
"Tentu, tentu saja kami akan meninggalkan kalian berdua. Pengantin baru memang sangat menyenangkan, bahkan bagi seorang Putra Mahkota seperti Anda. Cepatlah pulih, dan milikilah seorang putra."
Entah kenapa, perkataan ratu membuat Youra merinding. Langkah demi langkah perlahan pergi meninggalkan mereka berdua. Youra yang tak bisa melawan karena ada ratu disana hanya bisa mengalah sedikit pada egonya. Sementara itu, ratu tersenyum senang keluar dari bilik itu, karena apa yang dilakukan Putra Mahkota itu adalah tindakan yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
Sesaat setelah semua orang keluar dari kediamannya, Putra Mahkota melangkah mendekati sang istri yang terduduk lemas.
"Mengapa, kau tidak pernah mengunjungiku?" tanya Putra Mahkota sambil menuangkan teh bunga ke dalam cangkir istrinya, lalu memberikan porselin cantik itu dengan tangannya kanannya.
Aku ingin sekali membunuhnya saat itu juga.
Youra yang hendak menjawab, terdiam iba saat melirik pada tangan pucat yang penuh luka itu.
"Jika tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, aku pamit undur diri," jawab Youra bersamaan dengan bangkitnya ia untuk berdiri.
Tapi,
Dengan sigap tangan dingin Putra Mahkota meraih dan menarik tangan Youra. Hingga tubuh mungil Youra, terduduk tepat di pangkuan sang suami.
Saat itulah, Youra menatap mata suaminya, untuk yang pertama kalinya.
"Temani aku malam ini."
Matanya sangat indah dan menusuk, hingga hampir saja mengalahkan kebencianku yang ingin segera melenyapkannya.
__ADS_1
**