
Naik turun, napas itu berbenturan dengan pikiran buruk Youra yang menyeruak. Ini pertama kalinya Putra Mahkota tak mengeluarkan sepatah katapun padanya. Youra hanya bisa mengelus dada, dan apa pedulinya dia pada pria hina itu.
Youra terus menoleh pada langkah sang suami yang pergi meninggalkannya begitu saja. Terus saja memandangnya, hingga Putra Mahkota tak lagi terlihat di sudut mata.
"Yang Mulia, mari kembali ke kediaman," ujar Dayang Nari yang selalu mendampinginya. Youra melengos, berjalan angkuh seolah tak peduli.
Dayang Nari terus saja memperhatikan wajah cemberut itu seksama. Ada garis-garis kekecewaan yang terlukis di wajah cantik Youra. Sesampai di dalam biliknya, Youra merebahkan tubuh ramping itu ke atas ranjang. Melamun lama, bahkan tak ingat untuk berganti pakaian.
"Yang Mulia," panggil sang dayang. Youra tak bergeming. Dia hanya terus memperluas imajinasi itu entah kemana. "Yang Mulia?" Panggilan kedua Dayang Nari akhirnya berhasil menggugurkan lamunan itu. Youra lekas duduk setelahnya.
"Apa perkataan ratu tadi telah menganggu Anda, Yang Mulia?" tanya Dayang Nari. Youra cepat-cepat menggelengkan kepala, menuturkan secara tak langsung bahwa itu tidak benar. Dayang Nari tersenyum, duduk di sebelah Youra untuk memberi masukan. "Yang Mulia, jika Anda ingin sekali bertemu dengan Putra Mahkota, istananya masih terbuka untuk Anda."
"Jangan berbicara konyol. Aku hanya muak melihat semua orang di istana ini, terutama pria hina itu. Dia sok sekali sampai mengabaikan aku, aneh." Youra menggerutu di depan para pelayannya. Menciptakan kegaduhan yang saling melayangkan pandangan. Mereka tersenyum genit. "Jadi, Anda sangat kesal karena Putra Mahkota tidak seperti biasanya, Yang Mulia?" tanya Dayang Nari sedikit menggoda.
"Jangan memancing kemarahanku!" bentak Youra tak terima. Mana mungkin dia bisa memikirkan hal konyol seperti itu. Dayang lain yang ada di dalam bilik ikut tersipu. Ada rona merah di wajah cantik Youra. Ini pertama kalinya, mereka melihat Putri Mahkota menggerutu kesal karena diabaikan.
"Yang Mulia, ini ada surat dari Tuan Muda Jun," salah seorang dayang menawarkan kebahagiaan. Youra menarik cepat surat itu, tetapi sama sekali tak membukanya. Dia membanting surat itu ke atas ranjang, dan masih merenungi hal yang tak dapat di tebak.
"Yang Mulia, Anda tidak perlu sungkan untuk datang ke istana Putra Mahkota. Anda bisa bertemu beliau kapanpun Anda inginkan," kembali Dayang Nari membujuk.
"Aku sedang memikirkan hal lain! Bukan memikirkan suami bodoh itu!" Teriakan Youra malah menghasilkan tawa bagi seluruh pelayan. Mereka berusaha keras untuk menyembunyikan tawa itu agar Youra tidak murka.
Youra berusaha mengolah pikiran warasnya. Meraih surat yang dikirim Jun dan mulai membacanya. Surat itu berisi tentang perasaan Jun yang sangat bahagia karena dia dipromosikan menjadi Kepala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat membaca surat itu, Youra ikut tersenyum. Namun, setelah selesai membacanya dia kembali merengut.
Suami menyebalkan! Bisa-bisanya dia mengabaikan aku seperti tadi!
***
__ADS_1
Suara kicauan burung menemani hari senja yang kemilau. Bias kuning memerah mencuat dari sela-sela awan cantik. Belum terlalu sore, Youra yang bosan dengan kesendirian berjalan di sekitar istana dengan para pelayan. Sejak kemarin bertemu ratu, dia selalu dengan wajah cemberutnya.
Mereka berbaris rapi mengiringi langkah ringan Youra yang anggun. Tak ada sedikitpun tawa yang muncul di wajah Youra, hingga akhirnya sesuatu malah membuat jantungnya kembali berdegup hebat. "Yang Mulia, itu Putra Mahkota dan para pelayannya keluar dari lapangan," ucap Dayang Nari sedikit berbisik.
Youra yang sangat canggung membalikkan tubuhnya untuk membungkuk hormat seperti seluruh pelayannya. "Selamat sore, Yang Mulia," sapa para pelayan Youra.
"Hm," jawab Putra Mahkota abai. Beliau terus saja berjalan melewati Youra yang sudah membungkuk cukup lama. Baru saja Youra ingin menyapa, tetapi sang suami malah berpaling wajah.
Youra segera menegakkan kembali tubuhnya, terdiam tak dapat berkedip. "Apa baru saja, dia melewatiku lagi?" tanya Youra pelan seakan tak percaya.
Seluruh pelayan mengangguk pelan. Youra semakin tidak terima. Dia berjalan cepat kembali ke biliknya. Di dalam bilik itu, dia cepat-cepat berganti pakaian. "Dia sudah melihat tubuhku, dan mengabaikan aku setelahnya! Dasar pria kurang ajar!" teriak Youra di dalam biliknya.
Dayang Nari hampir saja tertawa tetapi berusaha keras untuk menahannya. "Yang Mulia, tenangkan diri Anda." Youra menoleh kepada para pelayan yang sedang tersenyum genit. "Apa yang kalian pikirkan? Ha?!"
Mereka mendekat pada Youra, mengucapkan rasa syukur sangat bahagia. "Kami sangat senang, melihat Anda mulai memperhatikan Putra Mahkota, Yang Mulia." Sambil tersenyum, mereka memperlihatkan rasa bahagia itu lebih nyata.
"Ingat! Jangan memikirkan yang aneh-aneh! Aku tidak sudi bersuamikan pria hina seperti dirinya!" Youra melempar tubuhnya ke atas ranjang, langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Para pelayan hanya bisa saling berpandangan. Satu persatu mereka keluar dari bilik Youra, meninggalkan Dayang Nari disana.
"Yang Mulia, Putra Mahkota seperti itu pasti karena beliau sangat terluka membaca surat yang Anda kirim untuk pemuda lain. Beliau saat ini mungkin sedang merajuk karena cemburu." Dayang Nari seolah tahu apa yang Youra pikirkan.
"Anda bisa membujuknya, jika Anda merindukan beliau, Yang Mulia." Mendengar perkataan sang dayang, Youra langsung membuka selimutnya.
"Keluar dari sini!" bentak Youra memerintah. Karenanya, Dayang Nari akhirnya keluar dari sana dengan wajah bahagianya.
***
Putra Mahkota sedang berganti pakaian di dalam biliknya. Dia mengintip sedikit ke istana sang permaisuri, lalu kembali memasang wajah bersedih.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda ingin mengunjungi istana Putri Mahkota?" tanya Kasim Cho. Putra Mahkota tersenyum ringan, "Dia tidak menginginkan kehadiranku. Untuk apa aku terus melakukannya," jawab Putra Mahkota sembari melepaskan baju dalamannya.
"Anda masih sangat terluka karena surat itu, Yang Mulia?" tanya Kasim Cho. Putra Mahkota menyentuh dadanya, memperlihatkan rasa kecewa itu lebih dalam lagi. "Aku akan selalu memaafkannya, meski dia sudah berkali-kali menyakiti hati suaminya yang mahal ini, tetapi dia sama sekali tidak ingin meminta maaf, atau sekedar menemuiku untuk menyampaikan maaf. Dia pasti sangat mencintai pria itu."
Wajah sedih Putra Mahkota membuat Kasim Cho ikut bersedih. "Yang Mulia, tetapi kata Dayang Nari, Putri Mahkota selalu berdiri di balkon istananya, untuk melihat Anda dari sana." Kasim Cho mencoba menghibur, meski dia sendiri tidak yakin dengan info itu.
"Dia tidak menginginkanku. Tidak mungkin hal itu dia lakukan. Sudah jelas dia mencintai pria lain." Dari suaranya saja, sangat jelas Putra Mahkota terlalu sakit. Dia bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan baik. Padahal, pekerjaan istana untuk menggantikan raja membuatnya harus selalu begadang sepanjang malam. Tak ada hiburan, atau sesuatu yang menyenangkan hatinya.
Malam itu, dia kembali ke perpustakaan untuk kembali mengerjakan urusan negara. Sementara Youra yang sedang di dalam bilik menikmati hidup mewahnya malah tak bisa memejamkan mata. Terus saja gelisah di atas ranjang.
"Jika tidak bisa mencintaiku, tidak bisakah kau mengasihani aku?"
"Aku mencintaimu."
"Lee Youra. Tentang cinta, hanya kau yang aku ketahui."
"Mengapa kau tidak pernah berhenti menyakitiku?"
Semua perkataan itu kini sedang melayang-layang dalam pikirannya. "Menyebalkan!" teriak Youra di tengah malam, terus menghentakkan kaki dan tangannya di atas ranjang karena kesal.
Dayang Nari yang selalu sigap melayaninya, langsung datang menghampiri. "Yang Mulia, apa yang menganggu tidur Anda seperti ini?"
Youra duduk dari tidurnya, memangku wajahnya di atas kedua lututnya yang tegak. "Apa dia mengabaikanku karena dia akan memiliki istri baru? Tidak akan kubiarkan!" gerutu Youra semakin menjadi-jadi.
Dayang Nari menarik napas menahan tawanya, "Yang Mulia, bukankah Anda sangat membencinya? Jika Anda tidak bisa membalas cinta Putra Mahkota, bukankah seharusnya Anda membiarkan dia kembali menikah dan punya keturunan?"
Kalimat-kalimat Dayang Nari memukul perasaan Youra. Lantas Youra spontan mengangkat wajahnya, melotot pada Dayang Nari seolah ingin menerkamnya.
__ADS_1
"Tidak akan! Tidak ada yang boleh memilikinya!"