
Cinta. Saat hati telah jatuh, bersarang pada satu hati yang beku, akankah semuanya dapat berubah? Pangeran Yul tak pernah menangis seumur hidupnya. Tak pula pernah merasa sedih. Dia hanya terus tertawa, bersandar pada keinginannya untuk terus berkuasa. Tapi Ara, dia tak pernah lupa pada suaminya. Dan terus saja percaya soal takdir yang bisa berubah. Sangat berharap, cintanya dapat mengubah segalanya.
***
Putri Shin berlari ke istana, sesaat setelah mendengar kematian sang ayah. Tak peduli seberapa gentingnya situasi agar dia tak boleh keluar dari kediaman, Putri Shin tetap berlari sekuat tenaga.
"Ayah!" Putri Shin berlutut di depan kediaman sang ayah, setelah menyaksikan ratu yang jatuh pingsan diantar kembali ke kediaman. Ada banyak orang asing di dalam sana yang sedang mengepung istana.
"Dimana Putra Mahkota?" tanya Putri Shin berlutut di kaki seorang opsir. "Aku tanya dimana adikku?!" Putri Shin berteriak penuh emosi. Tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaan itu.
"Adikku ... adikku melakukan pertemuan itu?" Derai air mata yang telah tertumpah itu tak kuat lagi menopang tubuhnya. Putri Shin hampir terkulai lemah, tetapi dia tetap berusaha keras untuk berlari keluar dari istana. Berharap dapat mencegah adiknya yang malang.
***
Pria bertubuh jangkung, dengan otot-otot luar biasa yang melekat pada tubuh gagahnya keluar dari sudut kastil mendekat kepada Putra Mahkota yang sedang berduel dengan rasa sakit. Di hari kematian sang ayah, tak dapat baginya untuk melihat wajah itu yang terakhir kalinya. Dia tak pernah tahu, sampai dimana napas itu akan terus bersamanya. Dia mengangkat wajah tampan itu, memandangi pria paruh baya yang duduk angkuh di depannya. Sedang menawarkan kekalahan. Putra Mahkota tak akan menang.
"Orang hina seperti Anda memang pantas dibenci oleh semua orang!"
"Anda tidak tahu apapun soal cinta."
"Menyedihkan. Anda menggunakan kekuasaan yang Anda miliki, untuk mendapatkan segala yang Anda inginkan."
"Mengapa aku harus mencegah Anda?"
"Secepatnya aku akan bercerai."
Seluruh ingatan itu kembali. Meninggalkan luka di hatinya yang begitu dalam. Putra Mahkota menarik sebuah kertas yang ada di atas meja.
"Boleh aku berpesan?" Suaranya terdengar lirih dan menyedihkan. Pria paruh baya itu menyipitkan mata, "Tentu saja, Yang Mulia." Putra Mahkota menarik napasnya sangat dalam. Dia mengerjapkan mata berkali-kali, mungkin menahan agar gumpalan air itu tidak tumpah. Tak boleh terlihat lemah di depan musuh.
Dadanya sudah sangat sakit. Putra Mahkota bahkan bisa merasakan tetesan cairan merah kental segera keluar dari hidung mancungnya. Sudut matanya memperlihatkan wajah tak biasa. Dia berlaku sangat sopan di depan pria paruh baya, tak dapat lagi bersikap seperti sebelumnya.
"Tuan, sebelum aku melakukan semua ini, berjanjilah padaku untuk satu hal." Putra Mahkota memperlihatkan aura kuat soal keinginannya.
Setelah terpaku beberapa lama, pria paruh baya itu mengangguk setuju. "Baiklah," jawabnya sembari tersenyum ringan.
Putra Mahkota meraih kuas dengan tinta hitam yang tersedia di hadapannya. Mulai menarik kuas itu ke atas kertas putih, membentuk rentetan permohonan paksaan. Putra Mahkota menggoreskan pisau di ujung jempolnya, menempelkan darah itu di sudut bawah kertas yang baru saja dia tulis.
"Jika aku mati dalam pertandingan ini, mohon biarkan istriku tetap hidup. Jangan tangkap istriku. Jangan mengganggu atau mencarinya. Biarkan dia pergi jauh. Kau harus menyetujuinya." Sangat yakin Putra Mahkota mengatakannya. Sorot mata itu memaparkan sebuah keyakinan. Permintaan tulus terdalam yang ada di hatinya.
Pria paruh baya itu menatap lekat Putra Mahkota, kali ini dengan cara yang berbeda. Tak lama setelahnya pria paruh baya itu kembali mengangguk, "Baik." Dia meraih kertas itu dan menyimpannya.
Mereka mengiring Putra Mahkota yang sebenarnya sedang sakit menuju ke sebuah lapangan yang tampak seperti lautan manusia. Para rakyat yang telah ditawan bertekuk lutut di dalam sana, dengan tangan dan kaki yang terikat. Sedang yang lainnya berteriak melemparkan sumpah serapahnya kepada Putra Mahkota. Mereka tak pernah tahu yang sebenarnya. Mereka pikir, Putra Mahkota lah yang sudah mengkhianati rakyatnya.
Putra Mahkota berdiri di tengah-tengah mereka, menandangi satu persatu wajah-wajah malang itu.
__ADS_1
"Kakak!"
Suara itu terdengar sangat familiar. Mengulang kembali seluruh coretan kisah singkat yang pernah terjadi. Pangeran Hon sedang ditahan oleh pria-pria berpakaian serba hitam. Tak diizinkan mendekat ke lapangan. Putra Mahkota menoleh pada adik kecilnya yang dulu selalu datang mengantarkan kue beras padanya. Saat ini sang adik sedang menangis berteriak memanggil namanya.
"Kak Hyeon!"
"Lepaskan kakakku!"
Tak peduli seberapa remuk wajah itu dipukuli, Pangeran Hon tetap berupaya untuk masuk ke lapangan.
Tiba-tiba, seorang pengawal dari pihak musuh memberikan sebuah laporan.
"Tuan, seorang gadis bangsawan bernama Hong Jin-Yi, putri tunggal Sekretaris Negara menawarkan 10 tandu berisi batangan emas, untuk melepaskan para tawanan." Laporan itu berhasil mencuri perhatian seluruh orang, termasuk Putra Mahkota.
"Meminta Anda untuk melepaskan Putra Mahkota kembali ke istana. Dengan catatan akan menambahkan 10 tandu berisi emas lagi setelahnya."
Tawaran itu membuat pria paruh baya itu tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Tampaknya gadis itu tergila-gila pada Putra Mahkota. Cukup menarik." Pria itu mendekat pada salah seorang tawanan.
JLEB!
Sebuah pedang menembus perut salah seorang rakyat, hingga mereka semua berteriak. Putra Mahkota yang geram mendekat pada pria paruh baya itu dan menarik kerahnya. "Apa yang kau lakukan pada rakyatku?!"
"Jika tidak begitu, Anda akan sangat lemah dan mudah mati di tangan muridku. Aku ingin pertarungan panjang." Santai sekali pria itu mengatakannya.
"Sebelum memulai, biar kuberitahu kalian semua soal siapa sebenarnya pemimpin yang kalian benci ini. Dia adalah Putra Mahkota yang hina, yang tak pernah memakan gajinya karena selalu menukarkan beras untuk kalian setiap bulan. Sayang sekali, kalian mengetahui itu sudah sangat terlambat! Hahahaha!"
Putra Mahkota menitikkan air mata, setelah menundukkan tubuhnya mengambil pedang itu. Tangannya yang penuh luka jadi saksi terakhir hidupnya. Dia menoleh pada rakyat yang terkesan sangat terkejut, sebelum akhirnya berbicara untuk yang pertama kalinya. "Aku akan membebaskan kalian. Tetaplah jadi rakyat yang setia untuk negeri ini." Putra Mahkota membuka sarung pedang itu, menariknya keluar dari sana.
Para rakyat yang tercengang akan hal itu, tak menyangka ternyata Putra Mahkota benar-benar akan mempertaruhkan nyawanya untuk mereka. Hingga para rakyat menitikkan air mata. Fakta ini membuat mereka sangat menyesal.
Putra Mahkota menjatuhkan sarung penutup pedang itu, isyarat siap memulai peperangan.
"Yang Mulia?!" teriak hampir seluruhnya.
"Tidak! Tidak! Kak Hyeon! Tidaaaaak!!!" Pangeran Hon menarik tubuhnya untuk segera lepas, tetapi orang-orang itu semakin menahannya.
Putri Shin yang baru saja tiba menerobos kerumunan rakyat yang sedang menangis. Rambutnya kusut, tanpa penutup kepala yang seharusnya dia gunakan sebagai seorang putri raja.
"Iblis terkutuk! Sedikit saja kalian mengkhianati Putra Mahkota, atas nama langit aku bersumpah! Napas pun akan membakar kalian seperti di neraka!" Putri Shin terus saja berteriak seperti orang gila. Meraup wajah para pengawal yang menahannya dengan cakaran yang tak beraturan.
Putra Mahkota tak menoleh pada suara itu, sangat tahu itu suara sang kakak yang sedang menangis putus asa. Putra Mahkota menatap lawannya yang sedang tersenyum dengan seriangai kehinaan. Dia melirik pada pedang itu, sudah pasti, satu sayatan saja akan membunuhnya.
Dua kali hentakan kaki oleh lawan, tandanya dia sudah siap menyerang. Berlarilah dia kepada Putra Mahkota, mengarahkan pedang itu melaju pada sang pewaris tahta.
Dezing..!
__ADS_1
Dua buah pedang itu saling mengikis satu sama lain, bertahan lebih keras dari sebelumnya. Hingga pria paruh baya itu terbelalak, tak menyangka Putra Mahkota punya kemampuan berpedang diluar dugaan. Sangat gesit dan terampil. Mereka, orang-orang yang berkhianat sangat tahu, Putra Mahkota tak akan selamat. Mereka sibuk meneguk arak sambil tertawa. Sangat menghina sang pewaris tahta.
Putra Mahkota semakin merasakan sesak di dadanya. Dia yang sedang sakit seharusnya tak bisa banyak bergerak. Penutup wajahnya sudah basah oleh darah yang mengalir bebas dari hidungnya. Putra Mahkota berusaha keras menahan diri agar tak ketahuan lemah, tetapi lawan tampaknya membaca situasi. Melihat tangan Putra Mahkota penuh luka, dengan sedikit noda merah yang menetes di jubah mewahnya. Ini saat yang tepat untuk menancapkan pedang ke sang pewaris tahta, ini kesempatan bagus untuk membunuhnya.
"Matilah kau Putra Mahkota yang hina!"
SET! JLEB!
"Tidak! Tidak!" Pangeran Hon menangis histeris, terjatuh lemah ke atas tanah. Dia melihat bagaimana darah menyucur bebas dari tubuh Putra Mahkota. Pedang itu menciptakan luka dalam di perut kirinya.
Racun berbahaya itu semakin memperlemah Putra Mahkota. Seluruh pandangannya sudah menghitam, menggelap bersama mendungnya awan. Putra Mahkota yang dadanya sesak akhirnya terjatuh, menongkatkan diri pada pedang yang menancap di tanah. Namun, dia tak mau kalah. Sayup-sayup wajah rakyatnya menempel keras di kepalanya. Meski tahu tak akan selamat, dia tetap berusaha bangkit untuk memberikan ketulusan terakhir itu pada mereka.
"Lee Youra, permaisuriku ... apakah jika aku mati, kau akan merindukanku?"
Putra Mahkota memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tidak, ini tidak sakit. Dibenci Youra lah yang membuatnya menjadi lebih sakit dan menderita.
"Hyeon!!" Putri Shin berlutut, tatkala melihat tubuh lemah itu sedang tertunduk di tanah. Dia tak lagi bisa menopang tubuhnya yang lemah. Hingga sang suami, Ha Sun datang menyeret tubuhnya menjauh dari sana. "Biarkan dia mati, Tuan Putri." Ha Sun menunjukkan siapa dirinya. Pengkhianat yang sudah mencuri informasi dari Lee Young untuk Putra Mahkota adalah Ha Sun, suami Putri Shin.
"Tidak, tidak. Lepaskan aku, Suamiku. Adikku ada disana ... " Suara itu terdengar sangat lirih dan memohon. Namun, Ha Sun tak peduli. Dia terus saja bersama para pelayannya menyeret tubuh lemah itu pergi.
***
"Aku akan menghitung. Sebelum hitungan terakhir, jika kau tidak bangun, aku akan membunuhmu!"
Pria paruh baya itu tertawa cekikikan melihat bagaimana Putra Mahkota yang sekarat itu terus saja mencoba bangkit meski terjatuh berkali-kali. "Sudahlah! Dia juga akan mati pelan-pelan! Biarkan dia merasakan sakit itu lebih lama!" teriak pria tua itu sembari menyantap kue gingseng.
Namun, siapa sangka? Putra Mahkota benar-benar berdiri. Menunjukkan rasa cinta itu terakhir kalinya. Dia berhasil, menembuskan pedang itu ke dada musuhnya, sebelum akhirnya ikut rubuh ke tanah.
***
Aku berlari sejauh mungkin, membawa langkahku entah kemana. Aku mencari dia ke seluruh tempat, tapi aku tak juga bertemu dengannya. Aku tak tahu dia dimana.
Aku ingin menyelamatkan suamiku. Ingin memeluknya. Ingin kuceritakan tentang cinta, tapi mengapa ...
"Putra Mahkota telah tewas!"
Aku kehilangan ... lagi.
Langkah penuh luka itu terhenti. Youra yang berlari tanpa alas kaki termangu di tengah jalanan yang penuh banjir air mata para tawanan yang kembali di bebaskan. Mereka menangis tersedu-sedu sangat menyesal. Hujan turun setelahnya, tetapi Youra tak juga beranjak dari sana. Penutup kepalanya tersingkap, dia biarkan terbuka. Di bawah guyuran hujan, di bawah langit hitam dengan petir yang menggelegar air mata itu jatuh sekali lagi.
Yang Mulia, tega sekali Anda meninggalkan aku?
Youra menengadah ke langit. Membiarkan tetes hujan yang lebat itu membasahi wajah cantiknya.
"Lee Youra. Aku mencintaimu." Rasanya, dia ingin kembali mendengar suara suaminya.
__ADS_1