
Putra Mahkota melangkah cepat, membawa seluruh amarahnya kembali ke kediaman. Seluruh pelayannya tergesa-gesa mengikuti langkah arogannya. Jung Hyun yang sedang menunggu di depan kediaman Putra Mahkota, mengernyitkan dahi kebingungan. Segera dia melangkah untuk mendekati Putra Mahkota, lalu membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
“Selamat datang, Yang Mulia,” sapa Jung Hyun. Namun, Putra Mahkota tak memberikan respon apapun, dia terus saja berjalan masuk ke kamarnya, bahkan dia tabrak begitu saja tubuh kekar pengawalnya itu. Kasim Cho hanya bisa tertunduk lesu mengikuti tuannya, melirik sedikit pada Jung Hyun seolah memberikan kode yang tidak mengenakkan.
Putra Mahkota masuk ke dalam biliknya, dengan kasar dia menutup pintu itu kembali. Para pelayan terkejut, ketakutan. Sementara, Kasim Cho dan Jung Hyun segera menyusul Putra Mahkota masuk ke dalam bilik. Mendapati tuannya sedang bersanding dengan emosi, menghancurkan ranjang dan pernak-perniknya sendiri.
“Yang Mulia, mohon tenangkan diri Anda,” bujuk Kasim Cho menenangkan tuannya. Jung Hyun di dalam sana, dia tak melakukan apapun. Rasa penasaran yang mengerumuni jiwanya, membuat Jung Hyun terus saja mengolah pikiran itu lebih dalam. Apa yang terjadi, apa yang membuat Putra Mahkota semarah ini.
Putra Mahkota yang mengamuk terus saja merusak hampir seluruh properti. Tiba-tiba dia berhenti, menarik napasnya kembali. Perlahan-lahan menuju ranjang yang kusut itu, duduk tenang dengan murung. Meski wajah itu tertutup, sangat jelas. Raut kekecewaan itu terlihat sangat jelas.
Putra Mahkota menempelkan tangannya ke dada, terlihat kesakitan. Napas naik turun itu semakin cepat. Melihatnya, Kasim Cho yang khawatir menjadi lebih panik. Berlarilah ia menuju Putra Mahkota, untuk memastikan keadaan tuannya.
“Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Kasim Cho dengan wajah cemasnya. Putra Mahkota diam saja, hingga akhirnya dia melepaskan genggaman itu dari dadanya.
“Berani-beraninya, dia menolakku.” Suara rendah itu menggema hingga sampai ke telinga Jung Hyun yang hanya bisa diam saja. Spontan, pengawal pribadinya itu menoleh. Sementara, Kasim Cho yang mendengar rasa kecewa itu, membungkam mulutnya. Dia tidak ingin Putra Mahkota tersinggung.
“Apa yang terjadi Yang Mulia?” tanya Kasim Cho ragu-ragu. Putra Mahkota tampak sedang berusaha keras mengatur ritme napasnya. Namun, tarikan napas itu tampak semakin membuatnya sesak.
“Siapkan air hangat untukku,” perintah Putra Mahkota sembari menatap dirinya yang berada di dalam cermin. Putra Mahkota langsung saja berdiri, di depan cermin membuka penutup wajahnya. Menyandarkan kedua telapak tangannya di depan cermin tegak berukuran besar itu. Tak lama, ia mengepal tangannya, membulat, membentuk sebuah kumpulan amarah. Kepalan tangan ia tarik ke belakang, lalu setelahnya langsung saja ia daratkan di depan cermin.
“Berani-beraninya dia menghinaku!”
Crack!!
Cermin mewah itu pecah berhamburan, menciptakan nada nyaring yang menakutkan. Bahkan suara itu terdengar sampai ke depan gerbang utama istana Putra Mahkota. Segera Putra Mahkota membuka jubah mewahnya, menarik pakaiannya dengan kasar.
Melihat tangan Putra Mahkota yang terus saja meneteskan darah, Kasim Cho memberanikan diri mendekat meski terus menundukkan pandangannya untuk membantu, tetapi sang Putra Mahkota tampak sangat tertekan.
__ADS_1
“Menyingkir! Jangan menyentuhku!” bentaknya. Sontak seluruh pelayan, termasuk Jung Hyun pengawal pribadinya merasa iba. Sepertinya, malam pertama itu, tidak berjalan dengan semestinya.
“Yang Mulia Anda terluka ... tenanglah, tenanglah Yang Mulia.” Kasim Cho memohon di kaki sang tuan. Bukan karena ketakutan dia meminta Putra Mahkota tenang. Kasim Cho yang sudah sangat mengenal tuannya itu hanya merasa iba dan kasihan.
Jung Hyun yang ada di dalam sana, terus saja menundukkan wajahnya. Berulang kali menahan diri untuk tak melirik wajah Putra Mahkota, tetapi egonya kalah. Sedikit saja, ia melihat wajah sang Putra Mahkota dari sisa cermin yang pecah. Pemandangan yang ia peroleh itu seolah menghentikan waktu. Jari jemarinya seolah tak bisa digerakkan. Cepat-cepat Jung Hyun memalingkan wajah. Pesona itu, harus terus dirahasiakan.
Sementara itu, dengan tangan yang terluka, Putra Mahkota menerobos masuk kamar pemandiannya. Segera ia membuka lapisan baju terakhirnya dengan kasar, memperlihatkan susunan otot yang berjejer rapi di bagian perutnya. Merendam diri cukup lama, bahkan membuat Kasim Cho yang menunggunya di luar ketakutan, takut terjadi sesuatu pada Putra Mahkota di dalam sana.
“Yang Mulia, apa Anda sudah selesai?” panggil sang pelayan di balik pintu kamar pemandian itu. Namun, tak ada jawaban sama sekali.
“Yang Mulia?” panggilnya sekali lagi untuk memastikan, tetapi tetap tidak ada jawaban. Karena tak lagi tahan, segera sang kasim masuk untuk memeriksa. Ia mendapati Putra Mahkota tampaknya sedang tertidur di bak pemandian itu dengan wajah yang tak dilapisi apapun. Tragisnya, dengan darah yang masih saja mengalir dari tangannya.
Kasim Cho yang tak pernah bisa melihat wajah Putra Mahkota akhirnya memberanikan diri untuk memeriksa. Dia yang terbelalak saat menyusuri wajah itu, seketika menitikkan air mata. Putra Mahkota, meninggalkan jejak-jejak air mata di pipi indahnya.
“Yang Mulia, kasihan sekali Anda.” Tatap sang pelayan iba.
Matahari masih malu memperlihatkan diri. Namun, Youra masih terus terjaga. Semalaman, dia tak bisa tidur. Entah mengapa perasaannya merasa tak nyaman. Ia turun dari ranjangnya, bergerak untuk menatap mentari. Belum lagi ia sampai pada tujuannya, seorang pelayan sudah datang untuk menyapa.
“Selamat pagi Yang Mulia. Hari ini, adalah kunjungan pertama Anda sebagai menantu untuk menemui Yang Mulia Ratu.” Mendengarnya, Youra merasa sangat jengkel, tetapi secepatnya dia berdiri merapikan pakaiannya. Dayang Nari membantunya merias wajah. Senyum ceria Dayang Nari membuat Youra ikut tersenyum karenanya.
“Dulu, aku punya seorang teman. Dia sangat mirip denganmu,” kata Youra sambil menatap Dayang Nari yang sedang memoleskan serbuk merah di pipinya. Dayang Nari berhenti sejenak. Ia membalas tatapan itu, dan membungkuk hormat setelahnya.
“Terimakasih atas pujian Anda Yang Mulia,” balasnya tersenyum gundah. Hatinya kalut, sesuatu yang terasa menyakitkan hadir di antara mereka. Namun, Dayang Nari tak ingin gegabah. Penglihatan kelam soal masa depan Youra yang terlintas dalam pikirannya, memaksanya untuk terus saja menutup mulut. Tak lama setelah merias wajah Youra, Dayang Nari bersama seluruh pelayan mengiring Youra menemui Yang Mulia Ratu.
Di perjalanan menuju kediaman ratu, Youra terus saja menguatkan diri. Bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Tanpa ia sadari, kini langkah anggun itu telah mengantarkannya sampai di depan bilik ratu. Seluruh pelayan membungkukkan tubuh mereka, memberikan penghormatan untuk kedatangan Youra, untuk istri Putra Mahkota.
“Masuklah menantuku,” sapa ratu setelah pintu itu terbuka.
__ADS_1
Munafik.
“Duduk dan mendekatlah,” tambah ratu setelah pintu itu ditutup.
Dia tersenyum padaku, di depan banyak orang.
Youra menghampiri sang ratu, duduk bersimpuh di depannya setelah memberikan salam kerhormatan. Anehnya, ratu sama sekali tak bertindak buruk padanya. Itu jelas berbeda dari perlakuan sebelumnya. Ratu terus saja menatap pintu bilik kediamannya, sambil menuangkan teh bunga ke dalam porselin cantik yang terhidang untuk Youra.
“Yang Mulia, sepertinya Putra Mahkota tidak bisa datang kemari.” Salah seorang dayang datang membawa kabar baik itu. Ratu tersenyum karenanya.
“Putra yang benar-benar tidak berbakti. Seharusnya hari ini dia datang menggandeng istrinya untuk memberikan hormat dan meminta berkat. Tapi lihat, dia bahkan tetap keras kepala setelah menikahi gadis pilihannya. Sifat itu sepertinya sudah mendarah daging. Itu tidak akan pernah bisa berubah,” gerutu ratu sebelum menyantap sepotong cemilan manis.
Youra tertegun mendengarnya. Sesuatu yang aneh baginya. Perkataan ratu seolah menunjukkan bahwa Putra Mahkota tidak pernah berkunjung. Itu artinya, hubungan Putra Mahkota dan ratu tidak baik. Hal ini menambah rencana jahat Youra untuk segera menyingkirkan sang suami. Ada ide yang lebih baik, daripada rencana yang disusunnya sebelum menginjakkan kaki di istana.
Saat sedang asik berbincang panjang dengan hati dan isi otaknya, Youra dibuat terkejut karena ratu tiba-tiba saja menggeser meja penuh hidangan itu sedikit, duduk di sebelahnya. Pelan-pelan ratu menggeser tubuhnya, benar-benar di samping Youra. Tidak nyaman, Youra berusaha menggeser tubuhnya menjauh.
Ratu menggerakkan tangannya, segera meraih porselin berisi teh hangat. Saat hendak mengangkat cangkir mewah itu, mendadak ratu menyenggolkan tangannya pada Youra.
“Ahh, panas, panas!” Teh panas itu tumpah, membasahi gaun indah Youra, mengenai kulit tangannya.
Tetapi terus menyakitiku, ketika hanya ada kami berdua.
Ratu tertawa lepas setelah melihat ekspersi kesakitan itu.
"Jadilah menantu yang patuh dan tunduk padaku, kau mengerti?" tanya ratu dengan wajah angkuh.
Dengan ekspresi kesakitan itu, Youra seakan tak mampu berkedip. Kebencian yang bersarang di jiwanya membuatnya ingin sekali untuk melawan. Namun, tiba-tiba …
__ADS_1
"Selamat datang Yang Mulia Putra Mahkota." Pelayan penjaga pintu kamar utama ratu mengagetkan Youra dan ratu.