Bisakah Aku Melihatmu Lagi

Bisakah Aku Melihatmu Lagi
Sekarang, Aku Bisa Mencintainya Sepuasku


__ADS_3

SET!


Youra terhempas ke tanah. Di atas tubuhnya melayang-layang anak panah yang saling bertabrakan. Untung saja dengan cepat tangannya ditarik jatuh.


"Ratu Lee? Anda baik-baik saja?" Suara tergesa-gesa itu menyadarkan Youra segera. "Pangeran Hon?" Suara Youra bahkan seperti orang yang putus asa. Tak perlu pikir panjang bagi Pangeran Hon untuk membawa Youra pergi dari sana. Atas bantuan para pelayan Pangeran Hon, mereka berhasil keluar dari kaki gunung berlari ke arah berlawanan. Sedang para pengawal Pangeran Hon menembakkan kembali panah-panah ke arah mereka.


"Pangeran Hon, Putra Mahkota ada disana ... tolong ... tolong selamatkan dia." Pangeran Hon memandang wajah mengiba yang sedang menangis terisak-isak.


"Kakakku ... Kakak masih hidup?" kejut Pangeran Hon. Youra mengangguk. Pangeran Hon langsung memutar tatapnya ke arah sana. "Pengawal! Selamatkan Raja negeri ini. Aku akan membawa Kakak Ipar pergi!"


"Tidak, tidak. Aku tidak bisa pergi ... aku harus menyelamatkan Suamiku." Tubuh Youra melemah, bahkan dia tak sanggup berdiri lagi. Pangeran Hon memapahnya bangkit. "Aku pasti akan menyelamatkan Kak Hyeon, Anda ikutlah dulu untuk menyelamatkan diri. Saat ini, istana sedang mencari Anda untuk dijatuhkan hukuman mati."


Pangeran Hon ikut panik, matanya memerah lantaran ketakutan menyelimuti. Gelapnya hutan dan langit menambah ketegangan suasana mengerikan ini. Dia terus menghunuskan matanya ke segala sisi. Memandangi satu persatu langkah misterius yang masih terdengar berbisik. "Mereka masih mengintai kita. Ayo pergi dari sini."


Mengendap-endap seluruh pengawal bersama Pangeran Hon. Mereka membawa serta Youra yang pucat dan kehilangan arah. Raganya terbawa, tetapi pikirannya tinggal disana. Tertinggal di antara reruntuhan langit yang merebut kebahagiaannya yang singkat. "Pangeran ... aku tidak bisa. Aku tidak bisa pergi dari sini. Suamiku ... mereka membawa suamiku." Terisak Youra seolah mulai menggila.


Baru saja tadi dia bercanda dengan suaminya. Baru saja tadi Putra Mahkota berwajah muram lantaran kecewa. Baru saja tadi Putra Mahkota memintanya untuk mandi bersama. Baru saja tadi ... tapi semuanya kandas begitu saja.


Pangeran Hon tak menggubris kalimat itu. Dia tetap menarik tubuh Youra pergi menjauh, tanpa memandangnya sama sekali. Air matanya jatuh meski wajah itu tidak berekspresi.


***


Jauh di sudut persembunyian Young, mereka sedang berbincang bertiga. Young, Nana, dan Ran.


Young dan Ran terlihat sangat serasi. Bahkan mereka lebih akrab dari siapapun. Young selama ini selalu bersikap dingin dan cuek pada seorang wanita, tapi kali ini dia tertawa karena Ran. Nana hanya bisa menghela napas panjang. Mengumpulkan kembali kesadarannya yang mulai menyakiti.


"Nana? Apa ada masalah?" tanya Ran sesaat setelah mendapati Nana hanya termangu sendiri.


"Tidak, tidak apa-apa, Nona. Aku hanya ingat pada pamanku." Nana berdalih, takut dicurigai bahwa dia sedang cemburu.


"Kalau begitu, mari kita kembali sekarang." Young berdiri cekatan, sembari merapikan jubahnya.


"Pulang? Yaaah ... padahal Kakak baru sebentar tinggal." Ran merengut sedih. "Ah benar kata Nona Ran, Tuan Muda. Anda tetaplah disini. Aku akan pulang lebih dahulu," Nana menimpali.


"Kita bisa kembali lagi nanti. Ran, aku balik dulu." Young menarik tangan Nana keluar dari kedai kecil itu. Mereka berjalan lamban karena Nana terlihat sangat canggung. Hening, tak ada yang terjadi selama mereka berdua. Namun, Young tiba-tiba saja bersuara. Tidak seperti biasanya.


"Nana ... " panggil Young. "Boleh aku tanya sesuatu?" sambungnya.


Nana melirik sedikit sang rupawan. "Tentu saja, Tuan Muda."


"Kenapa kau merobek gaunmu waktu itu untuk membalut luka di lenganku? Padahal, itu gaunmu satu-satunya yang paling layak." Young berjalan santai, tanpa memandang gadis di sebelahnya yang sedang tercengang.


"Aku tidak mengerti maksud Anda, Tuan Muda." Nana berusaha mengelak, takut perasaan senangnya mendahului kenyataan.

__ADS_1


"8 tahun yang lalu, saat aku keluar dari istana dengan tangan yang terluka. Kau menarik tanganku bersembunyi di belakang batu besar guna menghindari kerumunan wanita. Saat itu, kau tak pikir panjang untuk merobek gaunmu dan membalut lukaku."


"Anda ... "


"8 tahun yang lalu, kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Kau berdiri di depan gerbang kediaman kami hampir setiap hari, lalu datang menawarkan diri untuk menjadi pelayan. Apa itu karena aku?" tanya Young.


Kini dia membalikkan tubuhnya menatap Nana. "Jika aku memerintahkan untukmu agar berkata jujur, maka katakan satu kejujuran kepadaku," tambah Young.


Nana tercekat. Mulutnya bungkam lantaran takut ketahuan. Bagaimana mungkin dia mengatakan kejujuran, sedang hati dan kenyataan akan membunuhnya pelan-pelan. "Tuan Muda, aku ... "


Hati Nana memberontak parah. Dia ingin sekali mengakui perasaannya yang telah terpendam lama. Selain itu, dia tidak tahu jawaban apa yang tepat dilayangkan pada tuannya. Namun, jika dia melakukannya ... dia takut Young akan membenci dan jijik kepadanya.


"Kau ingin balas budi, karena aku sudah menolongmu 10 tahun yang lalu?" sambung Young pada kalimatnya.


Senang, karena Anda mengingatku, Tuan Muda. Sakit, karena bukan itu saja kenyataannya.


"Tuan Muda, terimakasih sudah mengingatku. Aku benar-benar sangat terharu." Nana menitikkan air mata.


Young menyeka air mata Nana, membalasnya tersenyum. "Jangan menangis begitu, kau jadi terlihat jelek seperti Youra."


DEG DEG DEG


Tangan itu merayap lembut di pipi bulatnya, menghapus air mata yang mengalir disana. Tangan wangi milik sang pujaan, benar-benar menyentuh wajahnya. Nana terpana dalam kebahagiaan. Matanya melotot tajam ke pelupuk milik Young. Pemuda itu tersenyum manis menunjukkan keramah tamahan.


"Tangkap pengkhianat itu!"


Suara mengejutkan yang datang tiba-tiba, diikuti oleh langkah orang yang mengepung mereka berdua. Saat itu Young berdiri tanpa pedang. Di kelilingi puluhan pria berseragam prajurit istana. "Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya Young berusaha tenang. Dia menarik tubuh Nana bersembunyi di balik tubuhnya.


"Tangkap!" Mereka menyergap Young. Namun, keahlian Young dalam bela diri membantunya untuk bertahan dan menyelamatkan Nana sementara waktu.


Tiba-tiba suara derapan langkah entah darimana datang seperti malaikat penolong. Pasukan kiriman Pangeran Hon membantu Young, meski jumlah mereka tak seberapa.


***


Karena banyaknya orang yang harus dilawannya, Young akhirnya lengah. Tak sadar sebuah pedang hendak menembusnya dan ...


"Arggh!" Suara rintihan lembut khas seorang wanita disertai suara dalamnya tusukan menembus tubuh gadis malang yang telah lama memendam perasaan. "Nana?!"


Aku tidak pernah menyesal ...


"Nana? Nana ... " Young meringkuk di atas pasir. Menyeret tubuhnya untuk bisa meraih Nana yang telah rapuh bersimbah darah.


Bukankah sudah aku katakan kepada langit ...

__ADS_1


"Nana ... Nana ... bertahanlah. Bertahanlah, aku akan membawamu pergi dari sini." Meski dalam keadaan genting, Young menyempatkan diri untuk mendekap tangan gadis malang itu.


... aku siap menjadi tameng pelindung untuknya, meski harus mati berkali-kali.


"Tuan Muda ... " suara rintihan itu tersenggal-senggal.


Meski tak seberapa lama ... terimakasih sudah membuat aku merasakan arti hidup yang sesungguhnya.


"Tu-tuan ... Tuan Muda ... " Nana tak memperlihatkan raut kesakitan saat tangan itu mendekapnya. Darah segar menyucur deras dari mulutnya.


Saat ini ... tidak ada lagi yang aku inginkan ...


"Nana, diamlah. Bertahanlah." Young membawa Nana tidur di pangkuannya.


" ... maafkan aku ... Tuan Muda. Aku ... telah berdosa." Tubuh Nana sudah bergetar, suaranya merintih pelan. Matanya kosong dengan pupil yang membesar.


Setelah semua hutang itu lepas ...


"Aku ... aku ... telah berdosa, karena sudah lancang ... meletakkan Anda di hatiku se-sejak ... sejak lama." Terpenggal kalimat itu berusaha. Tak lagi terdengar jelas apa yang dikatakan Nana.


... aku tak perlu dihukum karena sudah jatuh cinta padanya.


Young kehujanan air mata. Satu persatu butiran bening itu menetes di wajah gadis yang baru saja tersenyum kepadanya.


"Nana, jangan berisik. Tunggulah disini sebentar."


Sekarang, aku bisa mencintainya sepuasku tanpa takut lagi berdosa.


"Aku se-senang ... karena meng-menghabiskan sisa hidupku ... " Nana menelan ludahnya karena susah berbicara. "Sisa hidup ... di pangkuan Anda," sambungnya.


Sekarang...


Tangan penuh darah bergetar itu meraih wajah tampan Young yang sedang menangis. "Tuanku ... aku ..." Mengalir air mata wanita sekarat itu sambil tersenyum. "Aku lelah sekali. Jagalah ... jagalah diri Anda, dan Nona dengan ba-baik," lanjutnya terputus.


... sekarang aku bisa pergi ... dengan tenang.


Nana menutup pelan-pelan matanya. Tiba-tiba tangan yang menyentuh wajah Young terjatuh lemah. "Tidak, tidak! Nana!"


Young terus saja berteriak, kekuatannya jadi melemah. Seluruh pasukan Pangeran Hon telah kalah. Mereka akhirnya menyeret Young beranjak dari sana. Young yang diseret terus saja memberontak sembari menatap tubuh kaku yang telah tergeletak.


"Nana!" Tak peduli seberapa keras suara itu memberontak, mereka tetap membawa Young cepat beranjak.


***

__ADS_1


__ADS_2