
"Lihatlah, kau membuat kita terlambat." Sena buru-buru merias ulang wajahnya di depan cermin.
"Bagaimana lagi, kau sangat cantik dan itu membuat aku tidak tahan." Albert memperlihatkan senyum smirknya lewat pantulan cermin di depan Sena.
Satu jam sebelumnya,
"Aku siap, bagaimana? Apakah aku sudah cantik?" Sena memutar tubuh dan menyibakkan gaunnya. Membuat Sena terlihat sangat sensual.
Albert berdiri tanpa aba-aba dan menyerang Sena begitu saja. Ditangkupnya wajah Sena dengan kedua tangannya yang besar. Ia sambar dengan cepat bibir ranum yang selalu saja menggoda birahinya. Albert mengecup, ******* dan mengecap manisnya bibir sang istri, benar-benar memabukkan demikian pikir Albert.
Sena tak bisa mengimbangi Albert yang tiba-tiba saja menyerangnya. Ia hanya pasrah dan mengikuti ritme yang telah dimulai sang suami.
Albert menghentikan aksinya, ia hirup oksigen dalam-dalam sembari mengerang kecil merasakan adik kecilnya yang sudah bangun di bawah sana menyesakkan bagian celana yang berada di antara kedua pahanya. Dan sekali lagi, tanpa aba-aba Albert membopong tubuh Sena dan membawanya ke atas ranjang. Di kurungnya badan sintal Sena di bawah badannya yang besar. Selanjutnya, biarkan mereka berdua saja yang tahu dan merasakannya.
__ADS_1
***
Sena menggerutu di sepanjang jalan karena terpaksa harus mengganti gaun yang sudah di pilihnya dengan gaun yang sama sekali tidak ia lirik sebelumnya karena gaun yang semula sudah dikenakan oleh Sena sudah terlanjur kusut sebab ulah Albert. Dan Albert sendiri hanya tersenyum jahil merespon kekesalan istrinya.
Marina Bay Sands Hotel adalah Hotel terbesar dan termewah di Negeri Singa, bagi mereka yang sudah pernah menapakkan kakinya di negara ini pasti tahu walau hanya sekedar kemegahan yang terpampang dari luarnya saja.
Albert menggandeng tangan Sena dengan mesra dan kembawanya masuk ke dalam kerumunan manusia berotak bisnis. Yakinlah, malam ini setidaknya 90% yang hadir adalah mereka para pembisnis yang datang dengan niat membangun relasi. Seperti Albert sendiri misalnya. Ada seseorang yang benar-benar ingin temui di acara jamuan malam ini.
Di tempat yang sama, Antonio tampak sibuk berbincang dengan beberapa pembisnis senior. Di antara mereka sesekali melontarkan kalimat pujian pada Antoni yang dinilai sebagai pembisnis muda berbakat. Sebab di tangannya, perusahaan yang stuck selama beberapa tahun tanpa mengalami peningkatan bisa sedikit demi sedikit melambung dan mencengangkan para senior di dunia bisnis.
"Terima kasih, tuan. Tapi sungguh pujian anda sangatlah berlebihan bagi saya." Antonio berusaha menyembunyikan sifat sombonya dan menonjolkan sikap rendah diri di hadapan orang-orang. Malam ini Antonio memang sudah bertekad untuk bermain drama, memberikan kesan terbaik di depan para rekan bisnis yang lain.
"Oh iya, kudengar kau masih lajang? Bagaimana jika kuperkenalkan putriku padamu? Putriku baru saja pulang dari London setelah mendapatkan gelar masternya." suara berat seorang pria paruh baya menarik perhatian Antonio.
__ADS_1
"Ah, saya mungkin tidak pantas. Putri anda pasti sangat berharga dan hebat seperti anda. Sedangkan saya bukanlah apa-apa, Tuan." Antonio lagi-lagi merendah.
"Tidak-tidak. Kau sangat pantas. Cobalah berkenalan dulu. Jangan menolak begitu saja dan melukai perasaanku."
"Em, baiklah." Antonio mengiyakan dengan terpaksa. Ntah bagaimana ia tak tertarik sama sekali dengan Wilson Anderson seorang CEO dari perusahaan besar yang menawarkan putri tersayangnya untuk ia miliki. Di mata, otak serta hatinya masih mencari-cari sosok wanita yang telah menolongnya disaat-saat genting beberapa hari yang lalu. Antonio masih menunggu dan berusaha mencari keberadaan wanita yang sudah menawannya.
"Kau lapar?" bisik Albert langsung di telinga Sena.
"Sedikit,"
"Carilah makanan yang kau sukai, aku akan pergi menghampiri rekan bisnis sebentar. Kemudian aku akan menyusulmu."
"Emm, baiklah."
__ADS_1
"Hati-hati," Albert mengecup singkat kening Sena sebelum akhirnya ia pergi menghampiri para rekan dan kolega bisnisnya.