
Pagi ini Aurelie berangkat dengan sangat bersemangat. Semalam ia sudah memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan dermawannya itu. Hari ini ia akan menemui Jason, menceritakan semua hal yang ia terima dari sang dermawan dan meminta bantuannya.
Sudah dua jam Aurelie menunggu kedatangan Jason, bolak balik ia melirik ke ruangan sang atasan namun tak juga ia lihat batang hidungnya.
"BBBBbbbbaaah"
Aurelie terperanjat kaget karena seseorang mengejutkannya dari belakang.
"Ya Tuhan, kak Vino kau sangat mengagetkanku."
"Hahahaha, sorry. Kau sedang apa Aurelie? Ku perhatikan sejak tadi kau bolak balik kemari dan diam-diam memperhatikan ruangan pak wakil."
"Oh, bukan apa-apa. A aku mau kembali bekerja dulu. Kamar mandi ujung belum aku bersihkan." ucap Aurelie berjalan menjauh dari Vino.
Vino masih berdiri di tempatnya memandang punggung Aurelie yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
"Apa kau tidak berniat untuk kembali ke kantormu dan bekerja?"
"Kenapa kau suka sekali mengusirku."
"Hari ini aku memiliki banyak sekali pekerjaan, dan keberadaanmu disini menggangguku."
"Hei, aku hanya duduk manis disini sambil memainkan HP ku. Apanya yang mengganggumu. Kau itu menyebalkan sekali."
"Terserah."
"Ehem, Toni?"
"Hemmm,"
"Aku masih penasaran tentang hubunganmu dengan gadis kecil staff kebersihan di kantorku itu."
"Lalu?"
"Dasar bodoh, kau ini tidak juga mengerti maksudku. Aku lelah menghadapimu, aku mau pergi dari sini."
"Ya, hati-hati di jalan."
"Sialan, ku do'akan kau jomblo seumur hidup." Kata Jason sebal kemudian pergi dari ruangan Antonio. Sedangkan Antonio hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jason yang kekanak-kanakan.
***
Dengan sangat malas Jason kembali ke kantornya. Ia membawa mobilnya ke basement dan memarkirkannya di parkiran khusus yang memang sudah di sediakan untuknya.
__ADS_1
"Siang, pak."
"Hemm, oh iya bawakan aku kopi seperti yang kemarin."
"Baik, pak."
Aurelie berjalan tak jauh dari meja si sekretaris.
"Eh, kau yang disana."
"Saya?"
"Iya, sini."
"Maaf, namamu siapa?"
"Aurelie,"
"Aurelie, kemarin kau yang mengantarkan kopi pada pak wakil direktur kan?"
"Iya, saya."
"Tolong bawakan kopi yang sama dengan kemarin ya, ke ruangan direktur satu cangkir saja."
Aurelie masuk ke dalam pantry dan membuat secangkir kopi untuk Jason. Ia sangat bersemangat karena merasa bahwa ini bisa menjadi kesempatan untuknya mencari informasi tentang dermawannya.
Aurelie membawa nampan berisikan secangkir kopi tersebut ke ruangan Jason. Setelah mengetuk pintu ia pun masuk ke dalam dengan berhati-hati.
"Pak, silakan ini kopinya."
"Oh, kau? Bagaimana, apakah betah kerja disini?"
"Iya, pak."
"Syukurlah,"
"Pak, apakah boleh saya bertanya tentang teman anda?"
"Teman? Oh maksudmu Antonio? Ada apa?"
"Ah, namanya Antonio. Saya hanya ingin membalas kebaikan Tuan Antonio. Dia adalah dermawan saya."
"Dermawan?"
Aurelie menceritakan semua hal mulai dari pertemuan pertamanya dengan Antonio sampai biaya rumah sakit yang di bayarkan oleh Antonio tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Apakah yang kau ceritakan itu sungguhan?" tanya Jason tak percaya dengan apa yang di ceritakan Aurelie tentang sahabatnya.
"Iya, pak. Apakah ada yang aneh?" tanya Aurelie heran.
"Jadi malam itu kau di bawa ke hotel hanya untuk menemaninya bermain truth or dare?" Jason masih berusaha memastikan dengan memasang wajah penasarannya. Membuat Aurelie bingung menjawabnya.
"Iya. Jadi, tolong bantu saya untuk membalas Budi pada Tuan Antonio pak." mohon Aurelie sekali lagi pada Jason.
Jason terdiam kemudian teringat akan sesuatu dan berusaha mencarinya di laci mejanya.
"Sebentar, sepertinya aku masih menyimpannya. Dimana ya?"
"Ini dia," Jason menyodorkan selembar kartu nama pada Aurelie.
"Ini.......?"
"Kartu nama Antonio, kau bisa menghubunginya lewat telepon atau mencarinya langsung ke perusahaannya." kata Jason ramah.
"Terima kasih, pak."
"Ya, namamu?"
"Aurelie Daneliya, panggil saja Aurelie."
"Baiklah kalau begitu, Aurelie. Kembalilah bekerja."
"Baik, pak. Saya permisi dan sekali lagi terima kasih."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1