Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 169 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Sepasang ayah dan anak itu kembali dengan wajah yang berbeda. Senyuman di wajah mereka begitu lembut, mereka bahkan terlihat sangat akrab seperti teman. Aurelie yang melihatnya pun tersenyum.


"Maaf karena sudah merepotkan mu menjaga mama." kata Antonio.


"Tidak apa-apa, ini bukan hal yang merepotkan."


"Nak, kau antarkanlah asistenmu pulang. Ini sudah mulai petang." perintah presdir pada Antonio.


Aurelie sontak kaget dan dengan secepat kilat menolak.


"Tidak perlu, pak. Saya bisa pulang sendiri. Akan sangat merepotkan jika pak Antonio harus mengantar saya dan kembali lagi kesini."


"Tidak apa-apa, ayo ku antar kau pulang." kata Antonio.


Akhirnya Aurelie pun menurut, ia mengambil tas kecilnya dan pamit pada Presdir kemudian melangkah keluar ruangan bersama Antonio.


Antonio dan Aurelie menelusuri lorong rumah sakit yang mulai tampak sepi karena jam besuk telah habis. Tak ada sepatah katapun yang menemani langkah panjang mereka. Aurelie bingung bagaimana ia harus mengatakan jika tadi siang dengan lancang ia masuk ke unit apartemen Antonio dan mengacak-acaknya. Tak hanya itu, ia bahkan sampai menumpang mandi disana tanpa ijin si pemilik unit apartemen, yang tak lain adalah Antonio.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Antonio karena melihat Aurelie yang tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi.


Aurelie tersentak, ia tak menyangka jika Antonio memperhatikan gelagatnya.


"Itu, aku mau minta maaf."


"Minta maaf untuk apa?"


"Tadi siang aku pergi ke apartemenmu tanpa ijin. Awalnya aku hanya ingin menaruh kopermu. Tapi kupikir ada baiknya kalau aku membuatkanmu sesuatu karena kau baru saja mendonorkan darahmu. Lalu aku menggunakan dapurmu dan juga menumpang mandi di kamar mandimu."


Antonio menghentikan langkahnya, ia menatap Aurelie yang tampak menunduk karena merasa bersalah atas ketidak sopanannya. Namun sesaat kemudian, Antonio justru kembali melangkahkan kakinya tanpa mengatakan apa-apa pada Aurelie yang malah menjadi kebingungan dengan sikap Antonio.


Di dalam mobil,


"Terima kasih supnya." ucap Antonio tulus.


"Sama-sama. Maafkan soal tadi, aku sungguh tidak sopan karena masuk ke apartemenmu tanpa ijin."


"Tidak apa-apa, inisiatif mu itu justru membantuku kan. Tadi aku hanya merasa tidak enak sudah merepotkanmu. Karena ternyata sejak kembali dari Bangkok kau belum pulang ke rumah dan justru sibuk mengurusku." kata Antonio

__ADS_1


"Sudah tugasku kan sebagai asistenmu. Hehehe.


Oh iya, kira-kira kapan Nyonya akan bangun?"


"Jika semuanya baik, harusnya malam ini atau besok pagi ia akan sadar."


"Syukurlah."


Setelah obrolan sederhana itu, tiba-tiba rasa canggung menghampiri Aurelie. Hingga mau tak mau ia harus memulai sebuah obrolan agar situasi canggung itu menghilang.


"Aku senang melihat hubunganmu dengan orangtuamu yang terlihat begitu harmonis. Mereka terlihat sangat sayang pada putranya yang dingin ini. hehehe."


"Yah, begitulah mereka. Mereka menyayangiku seperti putra mereka sendiri. Kau pasti tidak menyangka kalau aku bukan anak kandung mereka, kau pasti kaget bukan?" kata Antonio tersenyum ke arah Aurelie.


Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Antonio bersamaan dengan senyumannya justru membuat Aurelie menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Bagaimana mungkin, padahal wajahmu sangat mirip dengan Nyonya versi pria."


"Hahaha, benarkah? saat aku kecil memang banyak sih yang bilang begitu. Sebenarnya mereka adalah paman dan bibiku. Ibuku adalah kakak kandung dari mamaku. Aku dibesarkan oleh mereka semenjak kedua orangtuaku meninggal karena sebuah kecelakaan dan saat itu usiaku masih sangat muda." cerita Antonio tanpa sungkan sedikitpun.


"Ya Tuhan," Aurelie masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar, wajahnya pun tampak sedih.


"Hei, jangan memasang wajah seperti itu di depanku. Oke!"


"Emm, maaf. Tapi kau tetap beruntung karena pak Presdir dan Nyonya sangat menyayangimu." kata Aurelie berusaha menghibur.


"Ya, aku beruntung. Kau sendiri bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Selama ini aku hanya tahu tentang ibumu. Dimana ayahmu?" tanya Antonio hanya untuk basa basi. Karena kebenarannya, Antonio sudah tahu semua tentang Aurelie begitupun mengenai ayahnya yang sudah meninggal sejak lama.


"Aku seorang yatim, ibuku membesarkanku sendiri sejak ayahku meninggal."


"Ibumu pasti wanita yang luar biasa." puji Antonio.


"Tentu saja."

__ADS_1


Antonio menepikan mobilnya,


"Sudah sampai,"


"Ah, cepat sekali!" kata Aurelie refleks,


"Kenapa? Kau masih ingin ngobrol denganku?" goda Antonio dengan cengiran nakal.


"Tidak. Kalau begitu terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan." ucap Aurelie sebelum keluar dari mobil Antonio. Aurelie masih berdiri di tempatnya, melambaikan tangan dan menunggu mobil Antonio pergi hingga tak terlihat lagi olehnya.


***


Sementara itu di Amerika,


Dengan tegar Sena melangkah mendekati peti sang ayah. Di sampingnya turut Albert dan Alnorld mendampinginya. Mereka memberikan salam perpisahan pada sosok yang sudah terbujur kaku namun tampak tersenyum bahagia.


Sena berusaha tetap kuat dan tegar namun pada akhirnya, Ia tak bisa lagi menahan air mata yang membendung. Ia berbalik dan membenamkan wajahnya dalam dekapan Albert suaminya. Mencari tempat ternyaman untuk menumpahkan segala kesedihannya. Melihat Sena yang begitu sedih, dalam hati Albert merutuki kebodohannya yang terlalu posesif hingga menyisakan sebuah penyesalan seperti ini.Dan Alnorld pun ikut memeluk pinggang Sena, membantu menguatkan mommynya.


.


.


.


.


.


.


.


.


AUTHOR UP 1 CHAPTER AJA YA MALAM INI.


LANJUT BESOK,

__ADS_1


SEE YOU 🤗


__ADS_2