
SEBULAN KEMUDIAN,
"Apakah sudah bisa dilihat? Ah, aku tidak berani melihatnya. Bagaimana kalau hasilnya negatif?"
Sedang mata menyipit Aurelie memberanikan diri untuk melihat hasil testpack di tangannya. Hatinya begitu berdebar, takut jikalau hasil yang ia dapatkan justru membuatnya kecewa.
"Habbbbbb"
Aurelie kaget dan seketika membungkam mulutnya. Dua garis merah yang tampak jelas membuatnya tak percaya. Hatinya seketika menghangat hingga tanpa sadar air mata lolos dari sudut matanya. Ia sangat bahagia, karena tak menyangka jika di rahimnya kini bersemayam janin kecil yang siap tumbuh setiap waktu.
tok
tok
tok
"Sayang? Apakah terjadi sesuatu? Kenapa di dalam kamar mandi begitu lama? Kau tidak apa-apa kan?" teriak Antonio dari luar kamar mandi.
Aurelie segera menghapus air mata bahagianya dan mencuci muka. Setelah merasa siap, ia pun membuka pintu kamar mandi.
Di depan kamar mandi, tampak Antonio yang masih berdiri menunggu dengan wajah khawatirnya. Melihat Aurelie sudah membuka pintu kamar mandi, Antonio langsung berhambur mendekati istrinya.
"Ada apa?" tanya Antonio lembut.
Aurelie tidak menjawab pertanyaan Antonio dan memilih untuk langsung menyodorkan testpack yang ada di tangannya. Antonio menerimanya dengan ragu, dan melihat hasil dari testpack itu.
Beberapa detik reaksi yang di tunjukkan Antonio sangat tidak terduga. Ia seperti bingung menatap dua garis merah pada testpack yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Ini, sungguhan?" tanya Antonio pelan tanpa melepaskan pandangannya pada testpack itu.
"Iya,"
"Aku akan menjadi seorang ayah?"
"Iya,"
"Kita akan punya bayi?"
"Emm, kau tidak senang ya?"
"Mana mungkin? Aku sangat senang hingga tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Terima kasih, sayang. Aku sangat bahagia, sangat sangat sangat bahagia. Terima kasih, sayang." ucap Antonio yang langsung mengecup seluruh wajah Aurelie tanpa henti.
"Cukup, sayang. Kita harus bersiap berangkat bekerja."
"Kenapa?"
"Ada hal penting yang harus kita lakukan. Ayo bersiap dan pergi ke rumah sakit memeriksakannya kandunganmu."
"Oke,"
***
"Selamat ya, Nyonya benar-benar hamil. Ini sudah ada kantong kehamilannya, dan yang kecil seperti kacang ini adalah janinnya. Berdasarkan hasil USG ini usia kehamilan sudah memasuki Minggu ke 6."
Tangan Aurelie menggenggam erat tangan Antonio, matanya berkaca-kaca merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia duga. Begitupun dengan Antonio, pancaran mata kebahagiaannya tidak bisa dibendung lagi. Calon ayah itu kini merasakan bahwa hidupnya semakin sempurna karena kehadiran Aurelie beserta calon bayinya.
__ADS_1
Setelah memeriksakan kandungan, Antonio mengantarkan kembali Aurelie ke mansion. Karena mulai hari ini Antonio akan memberhentikan Aurelie sebagai sekretarisnya agar Aurelie bisa beristirahat dengan cukup.
"Aku masih bisa bekerja,"
"Tidak, sayang. Kau harus beristirahat di rumah. Aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu padamu dan calon bayi kita kalau kau masih bekerja."
"Lalu bagaimana denganmu? Ini terlalu mendadak untuk kau mencari sekretaris baru. Biarkan aku bekerja sampai kau menemukan sekretaris baru, bagaimana?"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, sayang. Sudah ya, aku berangkat ke kantor sekarang. I love you, baik-baik di rumah ya baby." pamit Antonio sambil mengelus perut Aurelie yang masih rata.
Setelah Antonio pergi, Aurelie kembali ke kamarnya. Ia bingung harus melakukan apa, karena biasanya ia selalu mengikuti kemana pun Antonio pergi hingga di jadwal kesehariannya hanya ada 24 jam bersama Antonio.
.
.
.
.
.
.
.
LANJUT LAGI,
__ADS_1