
"Apakah ini cukup?" tanya Sena pada dirinya sendiri sembari menatap pantulan dirinya di cermin.
"Huuuuuffft, kenapa aku jadi berdebar-debar?"
"Ya Tuhan, sudah waktunya aku harus berangkat. Tunggu, aku tidak mungkin menyetir sendiri saat memakai pakaian seperti ini. Aku akan naik taksi saja." kata Sena segera memesan taksi melalui aplikasi online.
Sepanjang jalan keluar apartemen Sena tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Dirinya begitu bahagia menerima kejutan dari Albert. Bahkan jantungnya tak henti-hentinya berdebar membayangkan apa yang telah dipersiapkan Albert.
Di depan apartemen, taksi yang dipesannya pun sudah menunggu.
"Kita jalan sekarang, mbak."
"Iya, pak. Lokasinya sesuai aplikasi, ya." kata Sena dengan tersenyum.
---------------------"-------------------
"Apakah daddy gugup?" tanya Alnorld saat melihat Albert beberapa kali menarik nafasnya dalam.
"Sedikit." jawab Albert kikuk.
"Sayang, ayo kita ke tempat lain. Nanti setelah mommy mu menerima lamaran daddy, kita akan kemari lagi memberikan selamat." ajak sang oma, Jesica.
"Baiklah, oma. Daddy, SEMANGAT." kata Alnorld penuh penekanan dengan mengepalkan tangan kanannya ke atas.
"Semoga berhasil, son." kata Jeremy menepuk pundak Albert menyemangati.
"Terima kasih, dad." kata Albert tersenyum.
"Aku tak sabar untuk memilikimu, Sena." bathin Albert.
-------------------------"-----------------------
"Pak, agak cepat ya. Soalnya saya sudah telat." pinta Sena pada supir taksi setelah mengecek jam di handphonenya.
"Baik, mbak."
__ADS_1
Supir taksi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalan yang di lalui juga tidak terlalu padat dan cenderung lengang. Sehingga dengan mudah sang supir menyalip beberapa mobil di depannya.
"Astagfirullah, ya Allah." teriak sang supir tiba-tiba.
"Ada apa pak?" tanya Sena cemas.
"R remnya blong mbak." jawab sang supir cemas dengan terus mencoba menginjak pedal rem.
"Ya Tuhan." kata Sena dengan tubuh yang sudah bergetar.
tiiiiiiinnnn
ttiiiiiiiinnnn
ttiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn
Sang supir tak henti-hentinya membunyikan klakson untuk memberi peringatan pada pengemudi lain agar menghindar dari taksinya.
Hingga di sebuah perempatan terjadilah hal yang tidak terduga.
Duaaaarrr
-------------------*"----------------
"Kenapa Sena belum juga sampai? Aku harus menelponnya." gumam Albert merogoh handphone di saku kemejanya.
Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.
"Kenapa tidak aktif? Sena sayang, kau ada dimana?" tanya Albert dengan hatinya yang gundah.
--------------------"-----------------
"Cepat-cepat, di belakang sini masih ada korban." teriak salah satu petugas kemudian beberapa petugas pun menghampiri untuk membantu.
Dengan susah payah, para petugas mengeluarkan salah satu korban yang terbilang sangat mengenaskan, karena banyak darah yang mengalir dari kepala dan kakinya terjepit di antara kedua jok mobil.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang dokter yang juga berada di lokasi.
"Sepertinya kritis, dok." jawab seorang perawat.
"Baiklah, segera pindahkan ke ambulance. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Bawa barang-barang korban untuk mengecek identitasnya." kata dokter itu lagi.
-------------------"-----------------
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Albert duduk menunggu dengan frustasi.
"Son, ayo kita pulang." ajak Jeremy.
"Daddy, pasti ada yang terjadi dengan mommy. Mommy tidak mungkin mengacuhkan daddy. Jangan benci mommy." kata Alnorld dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo, kita pulang. Besok kau bisa menanyakan pada Sena tentang alasan ketidakhadirannya. Jadi tenanglah, karena mom yakin Sena pasti punya alasan. Malam ini, kita bawa Alnorld untuk tinggal di mansion ya." ajak Jesica menguatkan putranya.
######################
Selamat malam, readers...
maaf yaa...
Mulai chapter depan kita bakal ketemu yang SAD SAD dulu.
Jangan marah sama author.
Karena ceritanya tidak sesuai ekspektasi.
😙ðŸ˜
Soalnya kalau langsung bahagia kayak kurang greget gitu.
hehehe
See you
__ADS_1