Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 153 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

FLASHBACK


Setelah mengantar Aurelie pulang dengan selamat, Antonio segera melajukan mobilnya ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Antonio masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan hal memalukan yang ia lakukan di perjamuan tadi. Dan ia menjadi tontonan banyak orang penting yang hadir disana.


"Waaaah, aku pasti sudah gila. Bagaimana aku akan bertatap muka dengan mereka lagi ke depannya? Ya Tuhan." gerutu Antonio.


Di tengah kecemasannya itu, bayangan bibir Aurlie justru mengganggunya. Rasa lembut dan manis bibir Aurelie yang berada di mulutnya membuatnya mabuk sesaat. Dan wajah Antonio pun menjadi panas.


"Gadis kecil itu, berani sekali dia. Dia yang salah, ya benar dia yang salah. Karena dia duluan yang menciumku sembarangan." kata Antonio mencoba mengafirmasi dirinya sendiri.


FLASHBACK OFF


Di depan pintu kantor Antonio, Aurelie berdiri dengan secangkir kopi di tangannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa groginya. Setelah lebih tenang, ia pun mengetuk pintu itu.


tok


tok


tok


"Masuk!"


ceklek,


Aurelie berjalan perlahan mendekati meja Antonio. Dan dengan hati-hati ia meletakkan cangkir kopi yang dibawanya.


Aurelie masih berdiri di tempatnya. Ia sedang berusaha untuk mengucapkan kalimat yang ia ulang-ulang di otaknya sejak pagi.


Sadar jika Aurelie tak kunjung pergi, Antonio pun menghentikan pekerjaannya dan menatap Aurelie yang tampak gelisah.

__ADS_1


"Kenapa masih disini?"


Aurelie terhenyak,


"I itu, pak."


"Cepat katakan, lalu keluarlah."


"Saya minta maaf soal semalam. Saya tidak bermaksud melakukan itu. Dan juga, bapak tidak perlu membayar bonus yang bapak janjikan. Tapi tolong maafkan saya, jangan pecat saya." kata Aurelie memohon.


Antonio terdiam, mengalihkan pandangannya. Karena Aurelie membahas hal itu lagi, Antonio pun ikut menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak? semalam ia pun bersalah karena malah menikmati ciuman itu. Wajah Antonio memerah, lagi-lagi bayangan kenikmatan bibir Aurelie hadir di kepalanya.


Tidak mendapatkan tanggapan, Aurelie mengangkat wajahnya dan menatap Antonio yang tengah mengalihkan pandangannya. Kulit putih Antonio, terlihat kemerahan. Dan Aurelie justru khawatir dengan itu.


"PAK, KENAPA WAJAH ANDA MERAH? APA ANDA SAKIT?" teriak Aurelie karena khawatir.


Aurelie menangkup wajah Antonio dan memeriksa dahinya dengan punggung tangannya.


Aurelie berbalik dengan panik hendak keluar dari kantor Antonio. Namun, tangan Antonio lebih cepat mencegahnya.


"A aku tidak apa-apa. Aku hanya kegerahan."


"Kegerahan?" tanya Aurelie dengan wajah bingung.


Aurelie mencari remote AC dan mengecek suhu AC yang di gunakan. Aurelie melotot heran, karena jelas AC berada di suhu 17. Ia juga merasakan dinginnya kantor Antonio di kulitnya. Tapi bagaimana bisa bosnya itu kepanasan?


Antonio berdiri dari duduknya dan membalik badan Aurelie. Antonio mendorong punggung Aurelie agar keluar dari kantornya.


"Sudah, keluarlah. Aku masih banyak pekerjaan, jadi jangan menggangguku."

__ADS_1


"Tapi, pak. Apa benar anda baik-baik saja?" Aurelie berusaha membalikkan badannya.


"Tidak apa-apa. Cepat keluar dan bantu Renee."


Setelah berhasil mendorong keluar Aurelie, Antonio segera menutup pintu kantornya kembali. Ia bersandar di pintu dan menangkup pipinya sendiri dengan kedua tangannya.


"Ini pertama kalinya, setelah sekian lama aku membenci kulit putih ini. Hah, menyebalkan. Membuat malu saja."


.


.


.


.


.


.


.


.


Mas Antonio, malu. Malu-malu tapi mau. Pengen ngerasain bibir Aurelie lagi nih kayaknya.


🤣🤣🤣


LANJUT?

__ADS_1


BESOK YAH.


__ADS_2