Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 54


__ADS_3

"K kau bisa memakai baju sendiri, kan?" tanya Albert terbata.


"Tentu saja. Kemarikan bajunya." pinta Sena dan Albert memberikan baju ganti yang sudah ia siapkan.


"Aku ke kamar mandi sebentar, aku harus mandi." kata Albert buru-buru.


"Ku kira kau sudah mandi tadi pagi." kata Sena membuat Albert mendecih.


Tak ada cara lain bagi Albert untuk menuntaskan hasratnya selain bermain solo sembari membayangkan wanita tercintanya, Sena. Dengan cepat dan pasti Albert memasuki kamar mandi dan memulai permainannya. Meninggalkan Sena dengan berjuta pertanyaan.


"Dia terlihat aneh sekali." gumam Sena.


Beberapa saat kemudian,


"Sebenarnya apa yang kau lakukan di kamar mandi? Kenapa lama sekali?" tanya Sena dengan cemberut.


"Anu itu..."


"Anu anu apa sih, Al. Ayo cepat, tadi suster sudah kemari mengingatkan untuk segera ke ruang treatment." kata Sena tak sabar.


Tanpa berkata lagi, Albert pun menggendong Sena dan mendudukkannya di kursi roda. Kemudian membawanya menuju tempat treatment.


Sesampainya di tempat treatment,


"Selamat siang," sapa Albert.


"Ya, selamat siang. Ini nona Sena yang akan memulai treatment hari ini?" tanya Raphael, terapist yang akan membantu Sena.


"Iya, saya. Maaf kami telat." kata Sena dengan sopan.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa. Perkenalkan saya dr. Raphael yang akan membantu treatment nona Sena." kata dr. Raphael menjulurkan tangannya dan diterima oleh Sena.


"Ehem,"


"Oh iya, dok. Perkenalkan ini Albert." kata Sena memperkenalkan Albert.


"Calon suami Sena Laurenchia. Salam kenal." kata Albert menyalami tangan dr. Raphael.


"Oh iya, tuan. Salam kenal." kata dr. Raphael canggung karena tatapan tajam seorang Albert.


"Bisa kita mulai treatmentnya?" tanya dr. Raphael.


"Bisa dok." kata Sena.


"Suster, tolong bantu persiapannya. Oh iya, tuan. Maaf kami tidak bisa memperkenankan tuan untuk menunggu disini. Tuan bisa menunggu dan melihat dari luar jendela." kata dr. Raphael.


"Sayang, ingatlah. Jangan memaksakan diri. Semangat ya, aku menunggumu di luar." kata Albert menyemangati.


cup


"Ya" jawab Sena singkat tersenyum menerima kecupan Albert di keningnya.


Setelah sedikit menunggu, treatment pertama pun dimulai. Albert dengan setia menunggu dan memantau dari balik jendela.


Sena berteriak kesakitan, saat pertama kali sang dokter berusaha memaksakan kaki Sena untuk menopang tubuhnya.


Dari luar, Albert memandang keadaan Sena dengan cemas dan sedikit gemetar. Tidak tega melihat wanita tercintanya kesakitan sedemikian rupa.


Albert tetap dengan posisi berdiri melihat perjuangan Sena yang berusaha berdiri di bantu oleh dr. Raphael walau akhirnya jatuh berkali-kali ke lantai. Sena meringis menahan rasa sakitnya namun dari matanya tidak terlihat sorot menyerah sama sekali.

__ADS_1


"Kau pasti bisa, sayang." kata Albert lirih dengan mata berkaca-kaca.


Sekali lagi Sena berusaha berdiri dengan di bantu dr. Raphael dan seorang suster yang menopangnya. Sena mengedarkan pandangan ke arah jendela dimana sosok Albert terlihat. Sena menyunggingkan senyumnya sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja, agar pria yang ia cintai itu tidak terlalu khawatir.


Setelah dua jam akhirnya sesi pertama treatment Sena pun berakhir. Albert segera memasuki ruangan dan menghampiri wanitanya. Mengusap peluh di kening dan leher Sena dengan handuk kecil yang sudah di siapkan oleh suster.


"Kau hebat sekali, aku bangga padamu." kata Albert membuat Sena tersenyum.


"Apakah Sena sudah boleh kembali ke ruangan?" tanya Albert pada dr. Raphael.


"Ya, tentu saja. Untuk sesi selanjutnya mari kita lakukan lusa saja. Karena sesi treatment hari ini sudah sangat berat. Jadi istirahatkanlah badanmu nona Sena. Oh iya, hari ini adalah awal yang baik dari rangkaian treatment yang akan anda jalani. Terus semangat ya." kata dr. Raphael menjelaskan dan memberi semangat.


"Baik, dok. Terima kasih. Suster, terima kasih." kata Sena mengedarkan senyumnya.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu." pamit Albert kemudian mendorong kursi roda Sena meninggalkan tempat treatment.


############


Uluh-uluh,


dari dua episode kelihatan kan, kenapa sebelumnya Albert ngotot pengen nikah duluan. Menurut readers kenapa nih?


A. Biar ada yang nemenin bobok.


B. Biar tenang dan bebas menemani Sena.


C. Biar gak perlu lagi menahan hasratnya dan memiliki Sena sepenuhnya.


Happy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2