Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 161 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

HAPPY READING, ALL.


________________________


Aurelie berusaha duduk di samping Antonio dengan santai, sebenarnya ia merasa tidak enak menumpang pulang dengan bosnya itu. Tapi lebih tak enak lagi bila ia harus menolak setelah lebih dari satu kali di tawari.


"Pak, apakah rumah Anda lewat sini? Kebetulan sekali berarti sejalan dengan rumah saya."


"Hmm,"


Antonio menepikan mobilnya tepat di depan rumah Aurelie. Aurelie dengan cepat keluar dari dalam mobil dan berterima kasih pada bosnya itu.


Bukannya melanjutkan perjalanan, Antonio justru ikut keluar dari dalam mobil dan mengambil kembali paper bag yang sebelumnya ia letakkan di bagasi. Dan tanpa Aurelie sadari, Antonio sudah berada di belakangnya.


ceklek,


"Ibu! Aku pulang."


Mendengar teriakan Aurelie, Ny. Daneila pun menghampirinya. Dan betapa kagetnya Ny. Daneila mendapati Antonio yang datang lagi ke rumahnya dengan membawa banyak paper bag yang tampak familiar untuknya. Apalagi jika bukan paper bag yang berisi barang-barang dari Ny. Stevanie.


"Tuan Antonio?" Ny. Daneila menatap Antonio dengan kaget.


Aurelie mengerutkan dahinya, mendengar sang ibu menyebut nama Antonio. Ia pun menoleh yang ikut kaget seperti ibunya.


"Pak, kenapa anda tidak pulang? dan kenapa barangnya di bawa lagi kesini?" Rentetan pertanyaan di keluarkan oleh Aurelie dengan wajah herannya. Sedangkan Antonio hanya diam tak bersuara.


"Aurelie, persilakan tuan Antonio untuk masuk dulu." kata Ny. Daneila mengingatkan.


"Ah, maaf. Silakan masuk, pak."


Antonio membawa masuk barang-barang di tangannya dan meletakkannya di atas meja tamu.


"Tante, ini adalah hadiah yang diberikan mama saya untuk anda dan Aurelie. Saya takut, mama saya akan merasa sedih jika tahu kalian tidak mau menerimanya dan malah mengembalikannya seperti ini."


"Tapi, tuan......" Ny. Daneila hendak berbicara namun disela oleh Antonio.

__ADS_1


"Panggil saja Antonio, saya lebih muda dari anda Tante." kata Antonio ramah.


Aurelie menghela nafasnya, kemudian mendekati Antonio dan ibunya.


"Yasudah kalau begitu. Saya dan ibu akan menerima barang-barang ini. Maafkan sikap saya dan ibu saya ya, pak. Kami bodoh, karena tidak berpikir panjang dan malah ingin mengembalikan barang-barang ini."


"Tidak apa-apa. Kalau begitu saya pamit pulang, Tante. Selamat malam."


"Hati-hati di jalan, pak!" kata Aurelie sedikit berteriak.


Antonio terus berjalan sambil melambaikan tangannya ke belakang. Setelah melihat Antonio melajukan mobilnya, Aurelie dan ibunya pun saling beradu pandang.


Ny. Daneila mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sambil menatap nanar barang-barang bermerk di depannya.


"Ibu merasa tidak enak,"


"Aurelie juga merasa demikian, bu. Tapi benar kata pak Antonio, bagaimana jika Ny. Stevanie menjadi sedih dan merasa tersinggung? Untuk kali ini saja, kita terima kebaikan hati Ny. Stevanie."


"Iya," kata Ny. Daneila dengan menampakkan senyumnya pada Aurelie.


***


Renee terlihat sibuk bolak-balik ke kantor Antonio dengan membawa berbagai berkas. Ia juga sangat sibuk menelpon seseorang yang entah siapa Aurelie pun tidak tahu. Yang Aurelie tahu hanya tentang salah satu proyek perusahaan di luar negeri yang mengalami masalah.


Di kantor Antonio, Renee menjelaskan pokok permasalahan yang ada pada proyek perusahaan yang di tangani Antonio. Antonio begitu tenang mendengarkan penjelasan Renee. Sedangkan Renee sudah terlihat sangat frustasi memikirkan permasalahan yang sedang terjadi.


"Aku akan meninjau secara langsung proyek di Bangkok itu. Segera pesankan penerbangan tercepat." perintah Antonio.


"Baik, pak. Tapi, pak mungkin saya tidak bisa ikut dalam perjalanan kali ini."


"Kalau begitu, biarkan Aurelie yang pergi denganku. Agar dia bisa belajar dan menambah pengalaman." ucap Antonio santai.


"Baik, pak. Kalau begitu saya akan segera memesankan tiketnya."


Renee kembali ke mejanya dan segera memesan penerbangan tercepat ke Bangkok dan juga hotel tempat Antonio dan Aurelie akan menginap. Setelah semuanya beres, ia pun memberitahu Aurelie agar segera bersiap.

__ADS_1


"Pulanglah sekarang dan berkemas. Kau harus ikut Antonio meninjau proyek ini secara langsung. Akomodasi sudah diproses semua."


"Aku? Kenapa bisa aku kak?" Aurelie tampak kaget mendengar kalimat yang diucapkan Renee.


"Karena aku tidak bisa ikut kesana, Aurelie. Banyak sekali pekerjaan yang harus di handle disini. Anggaplah ini sebagai kesempatan belajar dan mencari pengalaman. Semua dokumen yang diperlukan sudah aku siapkan di dalam flashdisk dan laptop. Selanjutnya kau hanya tinggal menunggu instruksi dari Antonio."


"Aku tidak punya paspor, bagaimana aku bisa keluar negeri?" tanya Aurelie polos.


"Ini?" Renee menunjukkan sebuah paspor.


Aurelie menyambar paspor di tangan Renee yang ternyata adalah miliknya. Yang tidak Aurelie ketahui bahwa ternyata perusahaan sudah membuatkan paspor untuk para karyawan penting di perusahaan seperti dirinya yang berdiri di belakang wakil direktur.


"Jadi, sekarang pulang dan berkemas lah. Setelah itu ini," Renee menyerahkan notebook kecil pada Aurelie yang berisi daftar barang yang perlu Antonio bawa.


Aurelie menerimanya dan membaca isi dari notebook tersebut dengan teliti.


"Mampirlah ke apartemen Antonio dan siapkan barang-barang yang ada di daftar itu. Kau akan pulang diantar dengan mobil perusahaan. Jadi jangan takut kerepotan." lanjut Renee begitu Aurelie selesai membaca daftar tersebut.


"Tapi, kak......"


"Pulang dan berkemas lah. Mobil yang akan mengantarmu sudah menunggu di depan."


.


.


.


.


.


.


GAK KERASA UDAH HARI JUM'AT LAGI, YA. 😅

__ADS_1


JANGAN LUPA TETAP JAGA KESEHATAN DAN BERBAHAGIA.


TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH VOTE NOVEL INI. 🤗


__ADS_2