Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 103


__ADS_3

Bruukk,


"Aahh. Kenapa, al? Ada apa?" teriak Sena karena Albert mendorongnya hingga terjatuh ke atas ranjang.


Belum sempat Sena mendudukkan dirinya, Albert sudah lebih dulu mengekang tubuh Sena di bawahnya.


Tanpa aba-aba, Albert mencium bibir Sena dengan brutal. Ada luapan emosi yang di rasakan oleh Sena dari ciuman yang diberikan Albert. Sena memukul keras dada Albert, tanda bahwa ia tak suka. Namun Albert tak melepaskannya.


Setelah hampir kehabisan nafas, akhirnya Albert menghentikan ciuman itu. Dan dengan kasar merobek gaun yang dikenakan oleh Sena.


"Albert!!!"


Albert tak menyahut teriakan Sena yang memanggil namanya. Ia daratkan ciuman di leher jenjang Sena. Ia gigit dan hisap sehingga tampak kemerahan sebagai tanda kepemilikan. Ciuman dan hisapan Albert tak berhenti disitu saja, ia kembali melucuti sisa kain yang menempel di tubuh istrinya kemudian ia berikan ciuman dan hisapan hampir di setiap jengkal.


Sena merintih merasakan perih di tubuhnya akibat tanda yang diberikan oleh Albert. Ia sadar bahwa Albert sekarang telah berada di emosi yang memuncak. Sena hanya bisa menerima perlakukan Albert, ia tak bisa menolak ataupun marah. Biarlah Albert melampiaskan emosinya itu pada tubuhnya. Tak apa bagi Sena.


Albert menghentikan kegiatannya sejenak. Melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya. Dan menampakkan Jacknya yang sudah tegap, siap masuk ke dalam rumahnya.


Albert mengarahkan Jacknya tepat di depan rumah yang sudah sangat dikenalnya. Dengan sekali hentakan Jack pun masuk sepenuhnya. Tidak ada kelembutan dipermainan ini, Albert menghentakkan Jack dengan begitu kerasnya membuat Sena meringis berkali-kali menahan sakit dan perih.


Sena hanya diam mengikuti alur yang dijalani Albert, tanpa protes tanpa menolak. Hingga puncaknya, Albert membiarkan Jack mengeluarkan semua cairannya. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di badan Sena.

__ADS_1


"Maaf," Albert berbisik tepat di telinga Sena.


"Tidak apa-apa," ucap Sena seraya membelai rambut Albert yang sudah basah dengan keringat.


Setelah itu pasangan suami istri ini pun terlelap dengan saling berpelukan.


***


Prraaaannggg,


Antonio membanting handphonenya tepat di depan cermin.


"Aaaaaarrrrg,"


Sepulang dari jamuan makan malam, Antonio langsung melempar barang di apartemennya ke segala arah. Tidak ada yang tahu dan mau mengerti betapa frustasinya Antonio saat ini. Disaat ia mulai menemukan sosok yang ia cari, disaat ia mulai berani membuka hati kembali. Justru takdir seolah mengisyaratkannya untuk berhenti.


"Haruskah aku merebutnya darimu? Seperti dulu kau merebut cinta pertamaku?"


"Haruskah aku menjadi sejahat kau?"


Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di otak Antonio saat ini. Betapa malangnya Antonio yang mungkin sekali lagi akan merasakan kembali patah hati.

__ADS_1


***


Cahaya matahari muncul melalui celah-celah jendela. Sena mengerjapkan matanya, merasakan sebuah tangan membelai pipinya dengan lembut.


"Maafkan aku," ucap Albert dengan wajah yang terlihat sangat bersalah.


Sena hanya tersenyum mendengarnya sembari menyesuaikan cahaya yang masuk di matanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semalam tiba-tiba kau seperti itu?" Sena menyentuh pipi Albert membuat pola abstrak dengan hari telunjuknya.


"Itu karena aku cemburu, aku takut kehilanganmu."


Jawaban yang diberikan oleh Albert tidaklah sebuah kebohongan. Memang benar ia cemburu dan takut kehilangan Sena. Hanya saja, Albert sengaja menutupi poin penting dalam rasa cemburu dan ketakutannya. Apalagi kalau bukan tentang keberadaan Antonio?


Masing segar di ingatan Albert bagaimana cara Antonio menatap Sena. Ia tahu betul apa makna di balik tatapan itu. Mengingat hal itu lagi, membuat hati Albert bergemuruh.


"Kau ini aneh-aneh saja. Kau seperti meragukanku." Sena mengerucutkan bibirnya sebal.


"Maafkan aku, sayang." ucap Albert sekali lagi.


"Apakah ini sakit?" tanya Albert dengan wajah sendu sembari mengelus pergelangan tangan Sena yang tampak sedikit membiru.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku akan mandi dulu." ujar Sena mendudukkan tubuhnya hendak berlalu ke kamar mandi.


"Tunggu, aku akan membantumu. Kita mandi bersama." paksa Albert yang langsung menggendong Sena ala bridal style dengan keadaan keduanya yang masih telanjang.


__ADS_2