
Tak lama kemudian ambulance pun datang dan dengan cepat memberi pertolongan pertama pada William dan membawanya ke rumah sakit.
"Al, bagaimana dengan Will?" tanya Sena dengan wajah resah.
"Dia akan baik-baik saja, sayang." jawab Albert menenangkan kemudian memberikan kecupan di kening Sena.
Albert menuntun Sena keluar dari gedung tua, dan membawanya ke mobil.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." kata Albert.
"Iya, aku juga ingin melihat kondisi William." kata Sena tanpa menatap Albert.
"Bukan hanya untuk melihat kondisi William, tapi untuk mengobatimu juga. Lihatlah, tubuhmu banyak sekali memar. Apa ini sakit?" tanya Albert sedikit menekan ujung bibir Sena yang robek karena tamparan dari Renata.
"Auch,"
"Aku ingin menciummu, tapi karena bibirmu sakit aku jadi tidak tega." kata Albert tersenyum menggoda.
"Hentikan omong kosongmu. Ayo cepat kita pergi dari sini." pinta Sena.
"Baiklah Nyonya Nero." kata Albert kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan gedung tua.
Sena hanya memutar matanya jengah dengan kalimat yang di ucapkan Albert.
Renata dan komplotannya kini berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan perihal penculikan dan penyekapan yang dilakukan.
Sepanjang sesi introgasi Renata hanya diam membisu tanpa menjawab satu pertanyaan pun dari penyidik. Wajahnya terlihat pucat, tangannya gemetar ketakutan dengan apa yang ia alami sekarang.
"Selamat siang, saya Anton pengacara yang dikirim untuk Nona Renata." kata seorang pria yang tiba-tiba datang.
Rania menoleh seketika, melihat sosok yang mengaku sebagai pengacaranya. Ternyata kabar tentang dirinya yang di seret ke kantor polisi begitu cepat sampai ke telinga kedua orangtuanya yang berada di luar negeri. Hingga dengan cepat kedua orangtuanya itu mengirimkan pengacara untuknya.
"Bolehkah saya berbicara dulu dengan Nona Renata?" pinta Anton yang kemudian disetujui oleh penyidik.
__ADS_1
Penyidik pun meninggalkan ruang penyidikan memberikan waktu bagi Anton untuk berbincang dengan Renata.
"Apakah papi dan mami yang mengirimmu kemari?" tanya Renata datar.
"Tidak, aku kemari atas keinginganku sendiri. Mungkin sekarang orangtuamu belum tahu mengenai hal ini. Jadi, Renata bekerjasamalah. Aku akan berusaha untuk mengeluarkanmu dari sini." jawab Anton menjelaskan.
"Kenapa kau peduli?" tanya Renata menatap datar Anton.
"Kau sudah tahu jawabannya. Sekarang, ceritakan padaku dengan detail apa yang sebenarnya terjadi." kata Anton.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku akan mencari pengacaraku sendiri. Jadi, pergilah." tolak Renata angkuh.
"Jangan keras kepala, Renata. Apakah kau mau kasus ini sampai keluar ke telinga wartawan? Kau jangan bodoh, sekarang banyak sekali pengacara yang justru membocorkan kasus kliennya untuk memperoleh keuntungan. Kau hanya akan aman bila bersamaku, Renata." Kata Anton dengan menatap tajam pada Renata.
Renata hanya diam, tak mampu membayangkan apa jadinya bila wartawan mengetahui kabar tentang dirinya yang diseret ke penjara atas kasus penculikan, penyekapan dan penganiayaan.
Anton menarik nafasnya panjang, kemudian menggenggam erat tangan Renata di atas meja.
Anton menatap Renata dengan sendu, tak tega melihat wanita tercintanya terpuruk seperti ini. Baginya, tak penting lagi bila Renata kembali menolak perasaannya. Hanya saja kali ini ia sangat berharap bila Renata akan mengijinkannya untuk membantu dan berada disisi wanita itu.
Albert menepikan mobilnya di depan sebuah butik ternama.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Sena.
"Kau harus ganti baju. Lihatlah, bajumu sudah tidak layak dikenakan." kata Albert membuat Sena meneliti baju yang kini sudah kotor dan tidak berbentuk lagi.
"Ayo." ajak Albert.
Tak perlu waktu lama bagi Sena menemukan pakaian yang pas di badannya karena Sena bukanlah wanita yang rewel dalam hal berpakaian. Cukup yang nyaman, hanya itu syarat berpakaian bagi seorang Sena Laurenchia.
Sesampainya di rumah sakit, Albert membawa Sena ke salah satu ruangan dokter yang merupakan temannya. Siapa lagi kalau bukan Dave.
Ceklek,
__ADS_1
Dave yang sedang fokus menatap handphonenya pun terperanjat kaget karena pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.
"Sialan kau, Al. Tidak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk." kata Dave dengan tampang jengkelnya.
"Hemm, lagi pula kenapa juga kau sekaget itu. Kau sedang menonton mature content, ya?" tanya Albert tersenyum menggoda membuat Dave semakin jengkel.
"Ehem." Sena berinterupsi, memberi tanda akan keberadaan dirinya di ruangan itu.
"Eh, ada orang lain ternyata." kata Dave mencairkan suasana.
"Ini Sena, dia baru saja terkena musibah. Cobalah periksa, apakah dia baik-baik saja atau tidak." kata Albert mengenalkan Sena.
"Oh, jadi ini wanita yang membuat Albert tergila-gila?" goda Dave.
"Diamlah, dan segera lakukan tugasmu." kata Albert sedikit membentak.
"Galak sekali." gerutu Dave.
"Nyonya Nero, silakan rebahkan tubuh anda disini." kata Dave menepuk sebuah bed pasien.
Sena pun menurut kemudian merebahkan tubuhnya tanpa melakukan protes tentang panggilan "Nyonya Nero" yang disebutkan oleh Dave.
"Apa yang sekarang anda rasakan?" tanya Dave.
"Kepalaku sedikit terasa pening dan nafasku pun terasa berat, dok." jawab Sena.
Dave mulai membuka kancing teratas Sena untuk memeriksa pernafasannya dengan stetoskop. Baru saja tangan Dave mulai memeriksa, dengan cepat Albert mencekal tangan Dave untuk menjauh dari bagian polos tubuh Sena.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Dave heran.
"Emm, tidak bisakah memeriksanya di luar baju saja?" tanya Albert polos.
Dave dan Sena saling memandang heran tak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan seorang Albert.
__ADS_1