Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 110


__ADS_3

Aurelie menumpahkan seluruh tangisannya, ia bahkan tidak menyadari bahwa kemeja bagian punggung Antonio sudah basah oleh air mata yang bercampur dengan ingus. Rasa basah di punggung Antonio membuatnya sedikit risih namun ia berusaha untuk tetap membiarkan Aurelie menangis disana. Hingga beberapa menit.


"Sudah menangisnya." Antonio berkata tanpa berbalik.


Dengan masih sedikit sesenggukan Aurelie melepaskan pelukannya. Setelah itu barulah Antonio berbalik menghadap Aurelie. Tahu bila Antonio berbalik secara reflek Aurelie pun menunduk malu.


"Kenapa kau ada disana? Kau dijual lagi? Apakah sebegitu butuh uang dirimu sampai kembali kesini. Kalau kau ingin uang, carilah pekerjaan yang lebih baik. Diri sendiri tidak berbakat untuk menjadi ******. Tapi masih saja kembali ke tempat seperti ini." nasehat Antonio yang terdengar seperti suara bariton di telinga Aurelie.


"A aku memang sangat membutuhkan uang. Uang yang sangat banyak. Dan hanya ini yang terfikirkan untuk bisa mendapatkannya." buliran air mata kembali lolos di pipi Aurelie begitu mengatakan hal tersebut pada Antonio.


"Hei, sudah cukup menangisnya."


Kemudian, tanpa Antonio minta Aurelie pun menjelaskan tentang alasannya membutuhkan uang yang cukup banyak tersebut.


***


"Kalau semuanya berjalan lancar, Minggu depan kita sudah bisa kembali." kata Albert pada Sena.


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, aku punya sesuatu untuk memberitahumu."


"Apa itu? Apakah suatu hal yang cukup bisa membuatku berguling kegirangan?" Albert bertanya dengan tangan yang mulai bergerilya masuk ke dalam dress tidur yang di pakai Sena.

__ADS_1


Sena yang tampak terganggu kemudian memukul lengan Albert yang mencuri-curi kesempatan. Membuat Albert mau tak mau mengurungkan aksinya.


"Jangan seperti ini. Aku sedang serius."


"Emm, baiklah. Hal apa yang begitu penting hingga kau sangat serius?"


"Ini tentang Abigail."


"Abigail? Kau mencarinya? Jadi, yang kau maksud dengan membantuku meluruskan kesalahpahaman antara aku dan Antonio adalah dengan mencarinya?"


"Iya,"


"Dia sudah meninggal."


deg


"Sayang, kau bercanda." Albert menatap Sena dengan tatapan tak percaya.


"Abigail sudah meninggal tiga tahun yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas di London."


"Bagaimana bisa," Albert menunduk, tangannya menjambak rambutnya mencoba untuk menelaah kata-kata Sena.

__ADS_1


"Aku juga sangat kaget begitu tahu kenyataan ini. Aku meminta bantuan papi untuk melacaknya. Karena papi memiliki koneksi yang bagus dengan pengusaha berpengaruh di London. Sehingga bisa dengan cepat mendapatkan informasi ini." jelas Sena.


"Aku harus menemui si brengsek Antonio. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Abigail tidak boleh mati dengan rasa bersalah seperti ini."


"Besok saja, Al. Ini sudah malam. Besok aku akan menemanimu untuk bertemu dengannya. Sekarang, ayo kita istirahat."


***


Antonio mengantar Aurelie pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan tak ada satu pun yang bersuara, membuat keheningan malam sangat terasa mencekam hingga sampai di tempat yang dituju. Rumah Aurelie.


"T terima kasih,"


"Ya. Ku sarankan padamu untuk tidak kembali ke tempat seperti itu lagi. Kau itu terlalu polos untuk terjun di dunia kotor. Masuklah ke rumah, sudah malam. Aku juga butuh istirahat."


Aurelie melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil Antonio. Tanpa menunggu mobil Antonio pergi, Aurelie sudah masuk ke dalam rumahnya.


Antonio memperhatikan dengan seksama bangunan sederhana yang tampak tak ada keistimewaannya sama sekali. Mungkin hanya taman kecil yang tampak indah karena dihiasi berbagai macam bunga yang tengah mekar.


Antonio merogoh, mengambil ponsel di sakunya. Dan membuat sebuah panggilan.


"Cari tahu informasi tentang Aurelie Daneliya yang tinggal di Kampung Lorong Buangkok segera. Paling lambat besok siang kau harus memberiku informasi itu."

__ADS_1


__ADS_2