
Aurelie terdiam sejenak mendengar pertanyaan tak masuk akal dari Antonio. Ia seperti bercanda, tapi wajahnya menunjukkan sebuah keseriusan. Kalimat singkat padat dan belum jelas itu tiba-tiba membuat jantung Aurelie berdebar sesaat. Namun kewarasannya segera membuatnya sadar jika yang dikatakan Antonio pasti adalah sebuah candaan. Pria itu pasti mau menjahili dirinya lagi.
Aurelie menegakkan posisi duduknya menghadap Antonio, dengan senyum manis dia pun berkata,
"Aku mau,........... tapi dalam mimpimu. Wkwkkwkw. Kau pikir kau bisa menjahiliku lagi, dasar bos gila. Bye! Hati-hati di jalan."
Setelah mengatakan itu Aurelie keluar dari mobil Antonio sambil tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Antonio hanya diam dan mengerutkan dahinya sambil melihat punggung Aurelie yang semakin menjauh.
"Dia kira aku bercanda." gumam Antonio kesal.
***
Hari ini, Ny. Stevanie sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Keadaannya sudah sangat membaik, namun dokter tetap memintanya untuk melakukan check up Minggu depan.
Dengan hanya di dampingi Antonio, Ny. Stevanie meninggalkan rumah sakit. Karena Tn. Lefrand sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri.
"Kau seperti sedang ada masalah," tebak Ny. Stevanie karena putranya terlihat sangat pendiam.
"Tidak ada apa-apa, ma. Ayo kita pulang, para maid pasti sudah menyiapkan banyak hidangan lezat untuk mama."
Sementara itu, Aurelie sedang membantu para maid menyajikan makanan. Antonio menyuruhnya untuk datang ke rumah besar dan melakukan hal ini.
"Nona, anda jadi ikut repot seperti ini."
"Tidak, bi. Apanya yang merepotkan, aku kan hanya membantu sedikit. Lagi pula, bosku juga yang menyuruhku untuk kemari. hehehe."
"Anda wanita pertama yang di bawa Tuan muda pulang ke rumah besar."
"Emm, benarkah? Bagaimana dengan kekasih-kekasihnya dulu?"
"Setahu bibi, Tuan muda tidak pernah punya kekasih. Bahkan dulu beredar kabar kalau Tuan muda itu Gay."
"Hahahaha, mana mungkin orang sepertinya tidak pernah punya kekasih. Bibi jangan berbohong. Lagi pula, aku kesini sendiri. Bukannya di bawa olehnya."
"Eh, itu suara pintu depan. Pasti Nyonya dan Tuan muda sudah sampai. Ayo nona, kita kesana."
Aurelie tersenyum dan berjalan mengikuti bi Saras. Bi Saras segera menghampiri majikannya dan mengambil tas besar yang dibawa Antonio setelah sebelumnya, menyambut kepulangan Ny. Stevanie.
Aurelie juga ikut menghampiri dua tuan rumah, dan memberikan selamat atas kesembuhan ibu dari bosnya itu.
"Selamat, karena sudah kembali ke rumah Nyonya. Semoga nyonya selalu sehat dan bahagia."
"Terima kasih, sayang. Aku senang melihatmu disini begitu aku pulang."
"Ehem, ayo kita ke ruang makan." Antonio menyela obrolan mereka dan mengajak ke ruang makan.
__ADS_1
Antonio menarik sebuah kursi untuk mamanya kemudian mengambil duduk tepat di sebelahnya. Aurelie masuk ke dalam dapur, membantu bi Saras yang sudah berada disana setelah membawa masuk tas besar tadi.
"Biar aku yang membawanya keluar, ya bi."
Aurelie membawa dua mangkuk sup yang masih hangat ke meja makan. Dan menyajikannya tepat di depan Nyonya Stevanie dan Antonio dengan hati-hati.
Antonio memperhatikan Aurelie yang berdiri di dekatnya tanpa berkedip. Membuat Aurelie menjadi salah tingkah. Setelah menyajikan supnya, ia pun bergegas untuk kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan. Namun baru juga setengah jalan, suara Ny. Stevanie menghentikannya.
"Aurelie, kemarilah dan ikut makan bersama kami."
"Tidak usah, Nyonya. Saya sudah makan sebelum datang kesini."
"Duduk dan makanlah walau sedikit." kata Antonio tegas tanpa menatap orang yang di maksud.
Aurelie bergegas ke dapur dan meletakkan nampan yang ia bawa lalu kembali ke meja makan. Dengan canggung, ia menarik sebuah kursi yang berada tepat di depan Ny. Stevanie.
Di tengah-tengah suasana makan, Ny. Stevanie mengajak Aurelie mengobrol agar gadis itu tidak merasa canggung.
"Apakah saat di kantor Antonio sering menyulitkanmu, Aurelie?"
Aurelie tidak langsung menjawab, ia melirik Antonio yang masih santai menikmati makanannya.
"Tidak, Nyonya."
Aurelie tersenyum dan memberi tanda OKE pada Ny. Stevanie dan mereka berdua pun berakhir dengan tertawa bersama. Sedangkan Antonio, tidak mempedulikan keriuhan dua wanita berbeda usia itu.
***
Hari berikutnya, Antonio kembali bekerja dengan normal. Namun ada yang berbeda dengan sikapnya. Pria itu terlihat lebih dingin dari yang sebelumnya. Bahkan, Renee pun merasakan perbedaan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi selama dua Minggu ini? Kenapa dia jadi semakin dingin." gerutu Renee begitu kembali dari ruangan Antonio.
"Aurelie, kau belum membuatkan bosmu kopi. Mungkin dengan panasnya kopi, es yang ada pada dirinya akan sedikit meleleh."
"Emm, baiklah."
Aurelie pun segera beranjak dari meja kerjanya menuju pantry dan membuat sendiri kopi untuk Antonio.
Aurelie membawa masuk kopi yang ia buat ke ruangan Antonio tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat si empunya ruangan menegakkan pandangannya ke arah pintu.
Melihat Aurelie yang datang dengan sebuah cangkir, Antonio kembali memfokuskan diri dengan dokumen yang ada di depannya.
"Saya membawakan kopi untuk anda."
"Terima kasih,"
__ADS_1
"Boleh aku berbicara santai sebentar? Kau itu kenapa? Sejak kemarin kau menjadi aneh sekali, walau sebelum-sebelumnya kau memang sudah aneh."
"Tidak apa-apa."
Aurelie menarik nafasnya dalam-dalam, untuk mengontrol emosinya.
"Kau, apa ada masalah dengan ku? Apa aku membuatmu kesal?"
Antonio menghentikan pekerjaannya dan menatap tajam Aurelie.
"Iya, aku sedang kesal."
"Kenapa?"
Antonio menunduk dan menjawab dengan sangat pelan. Hingga hampir tak terdengar oleh Aurelie.
"Itu karena........ Kau menganggap ucapanku sebagai candaan."
"Ucapan yang mana?" tanya Aurelie lagi. Karena ia benar-benar tidak menyadari kesalahannya.
"Tentang menikah denganku!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
SIAPA KEMARIN YANG NGIRA ANTONIO CUMA NGEPRANK ALIAS BERCANDA? SERIUS INI SI ANTONIO.
PENGEN TAHU GIMANA REAKSI AURELIE SETELAH TAHU KESERIUSAN UCAPAN ANTONIO?
TUNGGU, YA. BESOK BAKAL AUTHOR KASIH TAHU.
🤣🤣🤣
SEE YOU 👋🏻
__ADS_1