
"Kak, pantry ada dimana?"
"Kau memanggilku apa tadi?"
"Kak,"
"Kau fikir aku kakakmu?"
"Emm, apa mau ku panggil TANTE saja?"
"Haaaah, sudah sana. Pantry ada di sebelah lift."
"Oke, terima kasih."
"Dasar bocah sialan."
Setelah Aurelie pergi, tiba-tiba telepon di atas meja Renee berdering dan ia pun segera mengangkatnya.
Renee : Halo, dengan kantor wakil direktur
Antonio : Ini aku,
Renee : Iya, pak. Apa ada yang harus saya lakukan?"
Antonio : Minta bagian GA untuk menyiapkan satu set meja kerja di samping mejamu.
Renee : Untuk siapa, pak? Apakah akan ada sekretaris baru?
Antonio: Bukan sekretaris, tapi asisten baruku. Tolong segera urus permintaanku tadi.
Renee: Oh, baik.
Renee mendengus kesal karena teleponnya terputus begitu saja setelah Antonio selesai menyuruhnya menyiapkan meja kerja baru di sampingnya.
__ADS_1
***
Aurelie kembali dengan secangkir kopi dan ia lekas membawanya ke meja Antonio.
"Ini kopi anda."
"Terima kasih."
Aurelie berbalik dan mulai membereskan tumpukan dokumen di ruangan Antonio. Ia menyusun berdasarkan tanggalnya. Kemudian menempatkannya dengan rapi ke dalam rak yang memang sudah di sediakan.
Antonio menegakkan kepalanya, dan tidak sengaja melihat Aurelie yang sedang sibuk merapikan dokumen yang ia minta. Aurelie terlihat begitu cekatan dan semangat. Membuat Antonio memperhatikannya dan mengabaikan pekerjaannya.
Aurelie merasakan dingin di leher belakangnya. Biasanya, ia merasa demikian saat ada orang yang memperhatikannya. Ia berhenti menyusun dokumen itu dan mengelus leher belakangnya kemudian berbalik. Dan benar saja, di meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Antonio menatapnya dengan wajah datar.
"Pak, apakah perlu sesuatu?"
"Tidak." jawab Antonio kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada dokumen di meja yang perlu ia periksa. Dan Aurelie pun kembali dengan pekerjaannya tanpa berfikir yang tidak-tidak pada atasan barunya itu.
"Jika sudah selesai, kau bisa istirahat. Mejamu di samping Renee."
"Baik,"
***
"Ah, lelah sekali mataku. Karena melototi setiap tanggal yang tertera di dokumen itu agar tidak salah tempat." gerutu Aurelie.
Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan setelah mendapat ijin dari Antonio, ia pun keluar ruangan untuk beristirahat di meja kerja yang sudah di siapkan untuknya.
Ia berjalan melewati Renee yang duduk di meja kerjanya begitu saja. Kemudian duduk di meja kerjanya.
"Heh, siapa kau duduk disana."
"Jadi, dimana lagi aku harus duduk. Aku lelah. Kata pak Antonio, ini meja kerjaku." kata Aurelie memasang wajah cemberut.
__ADS_1
Renee melotot tak percaya mendengar apa yang dikatakan Aurelie.
"Kau asisten baru itu?"
Aurelie hanya mengangguk polos. Anggukan Aurelie membuat Renee panas hati, ia mengepalkan tangannya erat menahan emosi. Melihat ekspresi yang tidak mengenakan dari Renee, Aurelie pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Renee.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Kenalkan, namaku Aurelie Daneliya. Kakak bisa memanggilku Aurelie." kata Aurelie mengulurkan tangannya.
"Belum juga aku berhasil mendekati Antonio, malah sudah kedatangan saingan. Bocah ini pasti sudah menggoda Antonio lebih dulu. Sialan." umpat Renee dalam hati.
Karena tidak mendapatkan respon, Aurelie pun menarik kembali tangannya.
"Renee, apakah di dalam sedang ada tamu?" tanya kepala HRD yang tiba-tiba sudah berada di depan meja Renee.
"Oh, tidak. Silakan anda masuk saja." kata Renee seketika merubah ekspresinya.
"Baiklah," sebelum pergi, kepala HRD itu menatap Aurelie dan tersenyum seolah menyapanya kemudian Aurelie pun juga membalas dengan senyuman.
"Nama kakak, Renee kan. Mohon bantuannya ya, kak." kata Aurelie tersenyum tulus kemudian kembali ke meja kerjanya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut?