Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 143 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

Seperti perintah Antonio semalam, sore sepulang kerja Aurelie bergegas untuk menemui Antonio di perusahaannya. Ia begitu bersemangat sampai ia lupa berpamitan pada rekan-rekannya yang masih berkumpul di ruang staff.


Tidak seperti sebelumnya, saat tiba di perusahaan Antonio seorang resepsionis langsung mempersilakannya masuk.


"Permisi,"


"Akhirnya kau datang. Wakil direktur sudah menunggumu. Masuk saja sana." Renee berkata dengan ketus dan menatap tidak suka pada Aurelie.


Aurelie tak menanggapi perkataan Renee, ia pun bergegas mengetuk pintu besar yang kini ada di hadapannya.


tok


tok


tok


"Masuk," teriak Antonio dari dalam kantornya.


ceklek,


"Selamat sore, tuan."


"Emm. Duduklah."


"Baik,"


Antonio beranjak dari meja kerjanya dan mengikuti Aurelie untuk duduk di sofa. Ia meletakkan beberapa lembar kertas yang di bawanya ke atas meja.


"Sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau benar-benar ingin membalas Budi?"


"Iya, tuan. Saya akan merasa sangat tak tahu malu bila tidak membalas kebaikan anda. Jadi katakan apapun yang anda ingin saya lakukan untuk membalas Budi anda." Aurelie tersenyum, karena merasa mendapat kesempatan.


"Jadilah asistenku." kata Antonio dengan menyodorkan beberapa lembar kertas yang dibawanya tadi.


Seketika Aurelie terkesiap, namun tetap menerima beberapa lembar kertas itu.

__ADS_1


"Asisten? Asisten rumah tangga, yang membersihkan dan membereskan tempat tinggal anda? Wah, itu mudah sekali. Saya akan melakukannya. Anda bisa menentukan jangka waktunya, dan saya akan melakukannya dengan senang hati."


"Bukan asisten rumah tangga. Kau menjadi ASISTEN PRIBADI KU. Mengurus segala keperluan dan kebutuhanku baik di tempat tinggal maupun di kantor. Kau akan bekerja 10 jam setiap harinya. Dan mungkin akan lebih tergantung situasi. Dan untuk lebih jelasnya kau bisa membaca apa yang kau pegang itu."


Aurelie terdiam, berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Antonio.


"Hah, tunggu dulu. Saya menjadi asisten pribadi anda? Bukan asisten rumah tangga?"


"Aku tidak butuh asisten rumah tangga."


"Tapi,......"


"Aku akan memberimu gaji dua kali lipat dari gajimu sekarang. Kau cukup melakukannya selama 6 bulan."


"Tunggu, bagaimana mungkin saya tetap di gaji sementara jangka waktu yang anda minta hanya 6 bulan? Lalu, bagian mana yang termasuk balas Budi dari saya?"


"Tidak perlu banyak protes jika kamu memang ingin membalas Budi." Antonio berdiri dan kembali ke meja kerjanya.


"Tapi......."


"Bekerjalah mulai besok jika kau mau menerima tawaranku. Kau boleh pergi sekarang."


***


Seperti malam-malam biasanya, Aurelie dan ibunya kan makan malam bersama. Suara denting sendok dan piring seolah menjadi irama diantara kesunyian di dalam rumah.


"Ibu,"


"Ya, nak?"


"Sepertinya aku akan pindah kerja."


"Kenapa tiba-tiba? Ada apa?"


"Aku sudah bertemu Tuan Antonio, dia memintaku untuk bekerja di perusahaannya dan membantunya."

__ADS_1


"Kau sudah bertemu dengannya? Kapan nak?"


"Bukan itu masalahnya sekarang, ibu. Aku merasa ini aneh. Aku ingin membalas budinya, tapi permintaannya yang menyuruhku bekerja di perusahaannya justru banyak menguntungkan aku. Seperti dia malah membantuku. Aku jadi merasa hutang Budi lg ibu."


"Sepertinya dia memang orang yang baik, nak. Tidak ada salahnya menuruti permintaannya. Kau bisa membantunya setiap dia membutuhkan bantuan. Dengan demikian secara tidak langsung kau membalas Budi padanya."


"Baiklah, kalau begitu akan menerima tawarannya. Besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diri di tempat kerjaku yang sekarang."


***


Hari ini Aurelie berangkat pagi sekali. Ia berencana untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.


Setelah menyelesaikan beberapa tugasnya, tanpa sepengetahuan staff kebersihan yang lain. Aurelie pergi ke ruang HRD untuk memberikan kan surat pengunduran diri. Dan bagusnya, HRD segera menerimanya tanpa pinalti sedikitpun. Karena memang Aurelie masih dalam masa percobaan sehingga tidak perlu diberlakukan pinalti untuknya.


Setelah urusan dengan HRD beres, Aurelie kembali dengan tugasnya membersihkan beberapa area. Ia berusaha menyelesaikan semuanya dengan baik dan cepat. Karena ia harus segera menemui Antonio sebelum pria itu berubah pikiran.


Di jam istirahat, Bu Julie dan Aurelie memasuki ruangan staff kebersihan bersama. Bu Julie memberitahukan pada seluruh staff jika hari ini adalah hari terakhir Aurelie bergabung bersama para staff kebersihan. Sontak semua orang di ruangan itupun kaget. Tak terkecuali Vino yang sejak awal menaruh perhatian kepada Aurelie. Bu Julie pun menjelaskan alasan pengunduran diri Aurelie. Semuanya mengucapkan selamat mendo'akan yang terbaik untuk Aurelie. Namun tidak dengan Vino. Pemuda itu tampak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Dikit aja, ah. Biar pada penasaran. 😄


__ADS_2