
"Masuklah layani pelanggan dengan baik. Jika beruntung kau bisa mendapatkan banyak uang darinya." perintah si pria besar pada Aurelie.
Aurelie berjalan menuju ruang privat yang di tunjuk bosnya. Ia sudah memantapkan hati untuk semua yang akan terjadi malam ini. Asal bisa mendapatkan uang untuk operasi ibunya, ia rela melakukan apa saja.
"Selamat malam, Tuan."
"Waaaaa, benar-benar cantik."
deg
Ternyata pria yang berada di depannya kini bukanlah pria semalam. Dia pria yang berbeda. Bukan dia, Aurelie harus menyebutnya mereka. Karena tidak hanya ada satu pria disana namun 3.
"Kata bosnya, dia baru di pakai sekali. Pasti masih sangat sempit."
"Cantik, kemarilah. Kenapa berdiri saja." pria pertama menyuruh Aurelie untuk mendekat.
Dengan perasaan takut Aurelie mendekati pria tersebut.
"Benar-benar barang baru, ya. Masih sangat malu-malu. Malam ini, kau ikut bersamaku ya." kata si pria pertama.
"Dan besok, kau bersamaku."
Aurelie ingin menulikan telinganya, mendengar beberapa kata yang melecehkannya membuatnya benar-benar ingin menangis. Ingin ingin berlari keluar, namun nuraninya berkata bahwa ia harus diam disana demi uang. Ya, uang yang sangat Aurelie butuhkan untuk biaya operasi sang ibu.
Masih di dalam ruangan, si pria pertama tanpa tahu mau mencumbu leher Aurelie. Aurelie berusaha mengelak, namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga seorang pria.
__ADS_1
***
"Kenapa kau mengajakku kesini lagi?"
"Aku sedang sedih dan stress, kau harus menemaniku minum dan menghiburku."
"Tapi kenapa musti bar ini lagi."
"Karena aku suka disini. Ayo,"
Seperti de Javu, Jason kembali menarik lengan Antonio memaksanya masuk ke dalam bar.
Jason membawa Antonio untuk duduk tepat di depan meja bar yang panjang agar ia bisa dengan leluasa meminta bartender untuk mengisi ulang gelas nya. Antonio menghela nafas kasar, merasa dibodohi karena mau-maunya dia menemani Jason mabuk-mabukkan.
Suara bising musik memekakkan telinga Antonio. Belum lagi lalu lalang para ****** yang berulang kali mencoba menggodanya. Membuat Antonio sangat jijik.
"Aku mau ke toilet sebentar. Tolong titip jaga temanku ini. Jangan biarkan dia membuat masalah."
Sang bartender menunjukkan jarinya dengan lambang OK.
Antonio menjauh dari tempat bising itu menuju toilet. Karena tidak akrab dengan situasi bar ini Antonio jadi tersesat dan secara tak sengaja justru ke tempat di mana jajaran privat room tempatnya kemarin.
"Mana toiletnya, ya." Antonio meneliti sudut-sudut dinding berharap menemukan papan bertuliskan toilet. Namun tak ia dapatkan juga.
"Jjjangan, saya mohon. Lepaskan saya. Hiks hiks." tangis Aurelie semakin menjadi. Kini tinggal dirinya dan si pria pertama yang berada di privat room tersebut. Yang membuatnya semakin takut adalah karena si pria dengan berani mencumbunya dengan rakus tanpa permisi. Mungkin sebelumnya Aurelie sudah bertekad untuk pasrah dengan yang akan terjadi malam ini. Tapi setelah mendapatkan perlakuan demikian ia menjadi ragu, tak siap dan ingin pergi melarikan diri.
__ADS_1
"Lepaskan? Aku sudah membayar mahal, kenapa harus ku lepaskan. Jangan sok suci, cantik." setelah mengatakan hal itu si pria kembali mencumbu leher dan menelusup kan satu tangannya ke dalam dress Aurelie.
"Tolong, saya tidak mau." Aurelie terus meronta hingga membuat si pria pertama naik pitam dan membanting gelas didekatnya.
Pprraaaanggg,
Wajah Aurelie memucat karena takut. Apakah ia benar-benar harus tunduk. Dan ikhlas melayani pria hidup belang di sampingnya. Aurelie sudah tak bernyali lagi.
"Sekali lagi kau berontak, akan ku tampar dan kulucuti sekarang juga baju yang menempel di tubuhmu. ****** sialan."
Brrakkk,
Antonio membuka paksa pintu privat room tersebut.
"Lepaskan dia." kata Antonio tanpa basa basi.
"Kurang ajar sekali kau berani menerobos masuk." si pria berdiri menantang.
"Ku bilang lepaskan dia, brengsek."
Bbuuukkk,
Antonio melayangkan tinjunya di wajah si pria kemudian menarik tangan Aurelie.
"Ayo pergi dari sini."
__ADS_1
Antonio menggenggam tangan kecil Aurelie dan membawanya keluar, tidak hanya dari ruangan tersebut tapi juga dari bar dan tanpa sadar meninggalkan Jason yang sudah mabuk di meja bar.
Setelah sampai di parkiran Antonio melepaskan tangan Aurelie. Sedangkan Aurelie dengan refleks langsung memeluk punggung Antonio dan menangis sejadi-jadinya.