
Sesuai rencana, hari ini Sena menemani Albert untuk bertemu dengan Antonio. Albert memilih untuk mendatangi perusahaan, dimana ia yakin bila Antonio berada disana.
"Ingat, jangan emosi. Katakan semuanya dengan tenang. Oke." Sena mengingatkan suaminya begitu keluar dari lift dan berjalan ke ruangan Antonio.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" tanya sekretaris Antonio.
"Aku ingin bertemu bosmu. Katakan padanya bahwa Albert disini."
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Si sekretaris membuat panggilan ke kantor Antonio, setelah berbicara singkat dan mendapat jawaban. Sekretaris itupun mendekat kembali ke tempat Albert dan Sena menunggu.
"Maaf, tapi pak direktur sibuk dan tidak ingin di ganggu."
"Kau sudah menyebut namaku?" tanya Albert mengintimidasi.
"Sudah, tuan. Silakan tuan dan nyonya meninggalkan tempat ini."
"Persetan," setelah mengeluarkan kata kasar tersebut Albert menerobos masuk ke dalam kantor Antonio begitu saja.
Sekretaris itupun menyusul hendak mencegah namun sudah sangat terlambat. Kini Albert sudah berdiri tepat di depan meja kerja Antonio.
"P pak direktur, mohon maaf tapi tuan ini....."
"Tidak apa-apa, kau keluarlah." kata Antonio tenang.
__ADS_1
Setelah sekretarisnya keluar dan menutup pintu, Antonio pun kembali membuka suaranya.
"Aku baru tahu jika tuan Albert sangat tidak memiliki sopan santun." cemooh Antonio.
"Aku kemari tidak untuk bertengkar denganmu." kata Albert berusaha untuk berkata lembut.
"Oh, tapi bagaimana ya. Melihatmu saja rasanya aku jengkel sekali."
Kata-kata Antonio membuat emosi Albert menumpuk, terlihat tangannya mengepal erat menahan ledakan amarah yang mungkin akan tumpah.
"Tolong jangan membuat kesabaranku habis."
ceklek,
"Al, hentikan. Kita kemari untuk berbicara baik-baik dan meluruskan kesalahpahaman." kata Sena begitu menyusul Albert memasuki ruangan setelah meminta maaf pada sekretaris Antonio sebelumnya.
"Emm, silakan kalian duduk dulu." kata Antonio mempersilakan.
"Sial, kepadaku dia begitu ketus. Tapi pada istriku dia sangat luluh." gerutu Albert dalam hati.
Sena menyeret Albert untuk duduk di sofa yang di tunjuk oleh Antonio. Sedangkan Antonio segera membuat panggilan, meminta sekretarisnya untuk menyiapkan teh untuk tamunya.
Antonio mengambil duduk di sofa single. Dan mulai membuka suara.
"Ada urusan apa?"
__ADS_1
"Aku ingin meluruskan lagi kesalahpahaman diantara kita, Toni." jawab Albert dan memanggil Antonio dengan panggilan yang akrab seperti saat mereka masih bersahabat dulu.
"Tidak ada yang perlu diluruskan. Karena semuanya sudah jelas. Kau dan dia mengkhianatiku." suara Antonio sedikit mengeras.
"Pernahkah kau bertanya kenapa dia seperti itu? Dan pernahkah kau bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kau terlalu kekanak-kanakan, Toni." Albert tetap berusaha berkata lembut .
"Berhentilah bersikap sok akrab denganku, tuan Albert." Emosi Antonio meledak begitu Albert yang baginya dengan tidak tahu malu memanggil dengan panggilan akrabnya.
"Cukup, aku sudah mencoba berbicara lembut padamu. Aku akan bicara dan kau dengarkan saja kata-kata yang aku ucapkan." Tak tahan akhirnya Albert pun meninggikan suaranya.
"Tolong dengarkan dulu, tuan." bujuk Sena setelah menyaksikan sendiri kondiri mereka yang sudah mulai terbawa emosi.
Setelah suasana sudah sedikit lebih tenang, Albert pun melanjutkan niatnya.
"Abigail, sudah meninggal. Oleh karenanya aku ingin segera meluruskan kesalahpahaman ini agar mendiang Abigail bisa pergi dengan tenang. Setidaknya aku akan membantunya untuk terakhir kali." Albert menghela nafas dalam dan melanjutkan kata-katanya.
"Abigail mencintaimu, dan karena itu dia meminta bantuan ku untuk menyakitimu. Kalau kau ingin tahu alasannya, kau bisa bertanya pada ayahmu."
Hati Antonio teriris mendengar setiap kata yang dilontarkan Albert. Apalagi dengan mendapat kenyataan tentang cinta pertamanya yang sudah meninggal. Mungkin Antonio sudah mengikhlaskannya sejak lama, namun perasaan untuk cinta pertama tentu tidak pernah hilang. Ditambah dengan kalimat terakhir Albert yang membawa-bawa ayahnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkin itu yang ada di fikiran Antonio.
"Apa maksudmu?" tanya Antonio dengan suara bergetar.
"Aku sudah selesai bicara. Untuk lebih jelasnya, bertanyalah pada ayahmu." Albert berdiri dari duduknya kemudian mengajak Sena untuk keluar dari ruangan Antonio agar ia bisa berfikir sendiri.
"Sayang, ayo kita pergi."
__ADS_1
"Kami pamit, tuan Antonio."
Akhirnya tinggal Antonio sendiri, yang duduk mematung dengan nafas yang mulai tersengal. Masih berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh seorang Albert Robert Nero.